Cerpen Barokatus Jeh (Medan Pos, 12 Januari 2020)

Guse ilustrasi Medan Pos-1
Guse ilustrasi Medan Pos

Suara sayup-sayup santri menggema memenuhi surau. Lantunannya menentramkan jiwaku dan meneteskan peluh bening yang mengalir begitu saja. Deras. Aku tak pernah menyangka bisa betah di pondok Al Ihsan tiga tahunan ini. Aku berdiri di bibir musala dengan tangan memegang Al-Quran di dada. Memakai mukenah terusan yang kucincing sampai ke pundak.

Tidak ada yang akan percaya dan menyangka. Bahwa Vi jebolan SMA yang terkenal urakan dan biang bolos betah tinggal di pondok. Setiap harinya bergelut dengan ngaji, lalaran, hapalan bahkan taat peraturan.

Bahkan aku sendiri geleng-geleng kepala ketika aku sadar bahwa tinggal di pondok sangatlah menyenangkan. Dengan segala peraturan yang luar biasa. Tinggal satu atap bersama teman-teman berbagai kota, bahkan beda provinsi. Khususnya pak Kyai dan bu Nyai yang selalu mengajari kami untuk tidak membedakan latar belakang santrinya. Termasuk aku anak broken home.

Beliau ternyata adalah jembatan kebahagiaan yang kucari selama ini. Beliau dengan sabar menuntun, membimbingku hingga bisa membaca Al-Quran dan sampai bisa ikut membantu mbak-mbak ndalem menyimak hapalan adik-adik lalaran. Padahal aku sendiri tidak terlalu mumpuni dalam hal itu.

Disuruh apapun aku mau. Asal yang mengutus beliau. Padahal dulu sebelum dipindahkan di pondok. Tidak ada peraturan yang kupatuhi kecuali nenek. Segala larangan pernah kulanggar. Dari bolos lewat pagar sampai baju mini digunakan. Berulang kali sekolah memberi hukuman. Tak membuatku jera.  Malah tambah nakal. Itu adalah bentuk suara hatiku dengan rasa sakit ditinggalkan.

Meskipun begitu, tak ayal nenek selalu menasehatiku dengan lembut tanpa bentakan. Hingga akhirnya beliau menyuruhku mondok. Awalnya aku keberatan. Tetapi karena nenek selalu membujukku dengan dongengnya. Akhirnya aku mau.

Di pondok jika akan ada tamu datang, atau tamu penting. Seharian kami disuruh beres-beres. Mengelap meja-meja  dan kursi-kursi agar terhindar dari debu. Sarung bantal diganti dengan yang baru dan bau ruangan wangi. Walaupun biasanya bersih. Tapi jikalau ada tamu lebih bersih dan wangi. Bu Nyai pernah ngendikan “rumatono tamumu, sebab tamu iku membuang dosa dan membawa rezeki, juga suguhono tamumu dengan suguhan yang baik” pesan itu selalu terngiang di telingaku sampai kapan pun.

Satu pesan masuk dari seseorang. Posisiku tidak tepat. Aku sedang beres-beres di ndalem. Aku harus cepat keluar. Sebab hape berdering beberapa kali. Nomor baru gumamku. Tapi siapa.

Aku menjauh dari rumah Bu Nyai. Berlari ke pinggir dapur. Menghitung angka mundur antara mengangkat dan tidak. Sebab satu tahun lalu aku dikenalkan dengan seseorang. Kita tidak pernah bertukar kabar atau hanya sekadar chattingan. Kita hanya saling menyimpan nomor dengan nama masing-masing. Itu pun diberitahu oleh yang mengenalkan kita.

Dan aneh rasanya jika tiba-tiba. Seorang asing itu menelepon berulang-ulang. Kuberanikan mengangkat dengan tangan gemetar dan degup jantung tak karuan. Kubaca basmalah berulang-ulang. Baru kuangkat satu menit. Suara tidak asing memanggil namanya. Sontak aku reflek menoleh. Hape jatuh dari genggaman. Bu Nyai tersenyum pada lelaki yang meneleponku. Mungkinkah lelaki yang meneleponku adalah … Guse.

Duniaku gelap dan suram. Aku takut telah melangkahi aturan dengan menyimpan degup yang tiba-tiba rindu dalam dadaku. Aku takut telah menyukainya.

 

Ponorogo, 2019

 

*ngendikan: berkata

*ndalem: orang yang bantu-bantu di rumah pak Kyai dan bu Nyai

 

Barokatus Jeh atau akrab disapa Barjeh adalah nama pena dari gadis kelahiran kota Mangga/Indramayu. Karyanya masuk dalam antologi puisi bersama. Sedang belajar puisi di Competer (Community Pena Terbang) Indonesia dan Papyrus (Pujangga Titik Nol), serta Ayo Menulis Indonesia. Barjeh sedang mencari ilmu di kota Reyog.