Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Koran Tempo, 11-12 Januari 2020)

Percakapan di Ruang Tunggu  ilustrasi Nandira P -  Koran Tempow.jpg
Percakapan di Ruang Tunggu ilustrasi Nandira P/Koran Tempo

Saya sakit gigi. Dunia berdentam-dentam. Maka terpuruklah saya di kursi plastik ruang tunggu klinik gigi ini. Di antara dentam-dentam sialan saya dengar percakapan itu.

“Eeeh, Jeng Sakince, apa kabar? Sakit gigi ya?”

“Aaahh enggak, mau reparasi gigi palsu, enggak enak dipakainya, mengsla-mengsle; ke sana-sini. Gimana kabarnya Bu Lakidri? Eh, Ibu yang rumahnya sederetan itu ke mana sih? Dia kan juga bikin gigi di sini, belum jadi giginya kok terus ngilang…”

“Ibu Plekisit? Lho kan sudah meninggal! Masa’ nggak denger?”

“Haaa? Meninggal? Innalillahi! Sakit apa? Pantes nggak pernah ketemu waktu jalan pagi.”

“Belum denger ya? Kejadiannya kan begini…”

Hmm. Masing-masing bertanya apa kabar dan masing-masing tidak perlu jawaban. Ini memang klinik di dalam kompleks perumahan. Dokternya warga kompleks. Pasien-pasiennya juga warga kompleks. Bagi manusia lanjut usia yang sudah tidak bekerja, dan hampir setiap hari bisa ketemu, kejadian apa pula dalam hidup mereka yang kurang menarik itu perlu dikabarkan?

Namun inilah kejadian yang kemudian kudengar ketika terpuruk di kursi plastik dengan kepala berdentam-dentam.

“Jadi Ibu Plekisit itu kalau ketemu ceritanya kan kadang-kadang tidak bisa dipercaya…”

“Ah, tidak bisa dipercaya bagaimana?”

“Ya sulitlah dipercaya gitu lho Jeng, masa’ dia bilang kepalanya suka dipukuli sama anak perempuannya…”

“Hah? Masya Allah! Kepalanya dipukuli? Pakai apa?”

“Pakai alat masak katanya, sotil kali ya?”

“Bisa sotil, bisa ulekan.”

“Huss! Sekalian aja alu besi! Bisa mati dong kalau ulekan…”

“Lha, mati atau nggak Ibu itu kepalanya dipukuli? Katanya Ibu itu meninggal tadi! Apa penyebabnya? Jangan bilang memang sudah tiba waktunya ya!”

“Nah, itu dia soalnya Jeng, mula-mula ceritanya begini…”

Jadi menurut Ibu Lakidri, tetangga sebelahnya mengendus bau yang aneh dari rumah sebelah. Itu setelah Ibu Plekisit tidak pernah kelihatan, mungkin sampai sebulan atau dua bulan. Tak jelas persisnya.

“Bau? Bau apa? Saya nggak bau apa-apa!”

Ini jawaban anak perempuan yang katanya suka memukuli kepala ibunya dengan alat masak itu, entah sotil entah ulekan.

“Ada kok di atas!”

Kalau ini jawaban setelah ditanya ke mana saja ibunya kok tidak pernah kelihatan. Di rumahnya sendiri, peninggalan almarhum Bapak Plekisit, suaminya yang menjadi pegawai perusahaan Badan Usaha Milik Negara, Ibu Plekisit tinggal di lantai atas. Lantai bawah ditempati keluarga anak perempuannya itu, anak pertama yang kawin dengan seorang Aparatur Negeri Sipil. Tidak jelas persisnya, mereka sudah punya anak atau belum, yang jelas suaminya disebut sering bertugas ke luar kota.

“Tapi mau seberapa lama sih perginya? Ya kan? Semakin lama bau itu kan semakin tajam. Masa… nggak ngebauin apa-apa. Iya kan?”

“Iya ya! Aneh!” Ibu Sakince yang gigi palsunya mengsla-mengsle; itu menimpali.

“Nhaaa, untungnya dateng anak kedua, perempuan, yang belum kawin. Tinggalnya jauh, di Cikarang, jadi jarang nengok juga, tetapi selalu kontak lewat we-a. Makanya dia dateng, takut ibunya kenapa-kenapa, karena sudah terlalu lama pesan di we-a enggak dibalas, sedangkan mengontak kakak dan iparnya pun sama saja. Telepon rumah tidak bernada sambung, kontak ke telepon genggam tidak pernah diangkat, pesan we-a meskipun tandanya diterima tidaklah dibaca.

“Waktu dia datang, juga nggak ada orang sebetulnya,” lanjut Ibu Lakidri, “untungnya punya kunci pagar maupun pintu masuk rumah. Pas dia baru buka-buka kunci pagar, ibu tetangga yang mengendus bau aneh tahu-tahu muncul dan langsung ngomongin soal bau itu.”

“Terus?”

“Ya mereka berdua terus masuk.”

“Terus?”

“Ya terus lihat.”

“Lihat apa?”

“Ya ibunya itulah….”

“Ibu Plekisit?”

“Iyalah.”

“Jadi dari situ bau aneh itu?”

“Bukan aneh lagi.”

“Apa dong.”

“Namanya juga udah meninggal lama, apa saya harus bilang baunya seperti apa.”

Kepala saya masih berdentam-dentam, tetapi sekarang bertambah dengan suatu gerakan dari dalam perut. Namun saya masih bisa menahannya. Ibu Sakince langsung berdiri dan bergegas ke toilet sambil memegangi perutnya. Sambil melihatnya Ibu Lakidri menghela napas. Toh begitu keluar toilet Ibu Sakince masih bertanya lagi.

“Artinya memang mati karena kepalanya selalu dipukuli?”

“Itulah …”

“Itulah bagaimana?”

“Saya pikir mesti lapor polisi, tapi katanya keluarga tidak setuju.”

“Walah, memangnya setelah ketahuan Ibu Plekisit sudah lama meninggal terus bagaimana?”

“Saya bilang, kalau denger cerita Ibu Plekisit kepalanya selalu dipukuli Aning pakai alat masak, entah sotil entah ulekan itu, ya harus lapor polisi. Apalagi ….”

Ibu Lakidri berhenti. Ibu Sakince mendesak.

“Apalagi apa?”

“Selain bercerita kepalanya sering dipukuli, Ibu Plekisit juga bercerita kalau Aning, anak perempuannya yang serumah itu, selalu mendesak-desak agar warisannya segera dibagi ….”

“Hah? Ibunya masih hidup sudah minta-minta warisan? Apa dia banyak utang?”

“Bukan begitu, Ibu Plekisit sendiri pernah bilang suaminya Aning itu di Yogya punya pacar.”

“Oooh, kalau tugas keluar kota pasti mampir ke Yogya, terus sekarang lama-lama mau kawin, terus Aning takut masa depannya tidak jelas, begitu?”

“Wah ya belum sampai ke situ ceritanya, yang jelas kemauan Nurul, anak keduanya tadi, didukung Pak RT. Kata Pak RT kalau keluarga tidak merasa perlu lapor polisi ya tidak usah lapor polisi.”

“Aning sendiri bagaimana?”

“Waktu Aning pulang, Nurul langsung mendamprat. Mereka bertengkar di depan jenazah ibu mereka.”

“Hah? Bertengkar di depan jenazah? Seperti apa?”

Rupa-rupanya Ibu Lakidri memiliki bakat terpendam untuk menjadi pemain monolog. Ibu Lakidri bercerita sambil menirukan suara Nurul dan Aning. Meski kepala saya berdentam-dentam, tetap terdengar juga monolog Ibu Lakidri.

“Kamu keterlaluan, masa… Ibu meninggal sampai lama sekali kamu diam saja,” kata Nurul.

“Mana aku tahu Ibu meninggal? Kami kan memang tidak ngomong …”

“Itu bukan alasan, meskipun tetap keterlaluan, sadar enggak sih kamu dan suamimu itu numpang? Masa… Ibu tidak turun dari atas sampai berhari-hari kamu tidak peduli? Dan bau seperti ini? Kok bisa sih tidak menengok ke atas sama sekali?”

“Bau apa? Setiap hari juga seperti ini baunya! Tidak ada yang aneh …”

Sampai di sini Ibu Sakince menyela.

“Nurul sama sekali tidak tahu kalau Aning suka memukuli kepala ibunya, entah pakai sotil atau ulekan itu? Tidak tahu kalau Aning suka mendesak-desak ibunya supaya warisan segera dibagi?”

Ibu Lakidri menggeleng.

“Apa hanya dua itu anaknya? Sampai perlu menunggu Nurul datang dari Cikarang, apakah anak-anak lainnya tidak pernah kontak?”

Ibu Lakidri mengangkat bahu.

“Kata Ibu Plekisit, anaknya yang ketiga, laki-laki, sudah lama tidak pulang karena berlayar …”

“Oya? Ke mana?”

Ibu Lakidri mengangkat bahu lagi.

“… anak keempat, perempuan, kawin sama orang asing, ikut suaminya ke luar negeri.”

Ibu Sakince hanya ternganga.

“Anak kelima, laki-laki, suka menggelandang di kompleks, kalau istirahat di depan Nglabamart …”

“Ooohh yang itu? Yang gila? Yang selalu ngomong sendiri itu? Kok bisa begitu sih …”

Orang yang disebut gila itu saya juga tahu. Ia mengenakan tutup kepala plastik yang tinggi, busananya seperti rancangan Rei Kawakubo yang tidak pernah dicuci, duduk di pojok Nglabamart. Maksud saya tentu di luarnya, di lantai semen tempat parkir sepedamotor, bicara sendiri dengan nada rendah. Konon Bapak Plekisit dulu punya kedudukan. Bagaimana kalau dia tahu keadaan keluarganya sekarang?

Saya pernah memarkir sepedamotor di dekatnya ketika mau ke ATM yang ada di dalam. Waktu mengambilnya lagi saya sengaja berlama-lama, karena ingin mendengar kalimat-kalimatnya dengan tepat, siapa tahu sebanding dengan Tractatus Logico-Philosophicus. Namun yang saya dengar kok seperti mantra yang maknanya sengaja disembunyikan supaya kepalsuannya tidak terbongkar.

Pasien lain mengeraskan suara televisi, sehingga percakapan Ibu Sakince dan Ibu Lakidri tidak bisa saya dengar lagi. Agaknya pasien ini penasaran untuk mengikuti suatu berita kriminal yang pembunuhnya belum tertangkap. Memang belum tentu Ibu Plekisit meninggal karena dibunuh—yang saya ingat justru kehidupannya. Entah kenapa kepala saya semakin keras berdentam-dentam. 

 

Pondok Ranji,

Jumat, 27 Desember 2019. 17:10.

Seno Gumira Ajidarma, Wartawan.