Cerpen Irul S Budianto (Minggu Pagi No 40 Th 72 Minggu II Januari 2020)

Perempuan yang Setiap Pagi Memandang Gunung ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi-1
Perempuan yang Setiap Pagi Memandang Gunung ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

PEREMPUAN itu menatap buah hatinya yang masih tidur pulas di dekatnya. Menatap bocah usia empat tahun itu dadanya mendadak bergetar. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tapi tertahan di tenggorokan. Perempuan itu lalu menarik napas, sesaat kemudian mengangkat pelan kakinya dan sebelum keluar dari kamar matanya masih sempat memandang anak semata wayangnya.

“Mbok Nem, tolong jaga Mawar,” ucap perempuan itu sambil mengenakan sepatu kepada wanita setengah baya yang berada tak jauh darinya.

“Iya, Mbak,” jawabnya pelan. Mbok Nem memang sudah terbiasa memanggil perempuan itu dengan panggilan mbak, sejak ia ikut orangtua perempuan itu.

Perempuan itu lalu melangkah pelan keluar rumah. Setelah sampai di jalan depan rumah, kakinya diangkat dan kemudian berlari pelan. Ketika melintasi jalan di tengah perumahan elit yang ditinggali, entah berapa kali ia harus menjawab dan menyapa warga penghuni perumahan yang kebetulan dijumpai.

Tak terasa langkah perempuan itu kini sudah sampai di sebuah tempat yang di sekelilingnya terhampar pesawahan yang begitu luas. Di tempat yang sudah beberapa hari ini menjadi persinggahannya saat olahraga di pagi hari, perempuan itu menghentikan langkahnya. Beberapa saat kemudian tangannya sibuk menyeka keringat di wajahnya.

Seperti pagi-pagi sebelumnya, ketika berada di tempat biasa disinggahi perempuan itu beristirahat sejenak, duduk-duduk santai. Matanya lalu manatap ke arah gunung yang berada jauh di sebelah barat sana yang bisa dilihat dengan jelas dari tempat duduknya sekarang. Memandang gunung itu lagi-lagi di dadanya muncul perasaan lain.

Tak hanya itu, ketika memandang gunung meski hanya dari kejauhan seperti yang biasa dilakukan beberapa hari belakangan ini, angannya pun melompat-lompat sendiri. Selalu muncul keinginan mengurai makna gunung yang dianggap sebagai lambang kehidupan. Kehidupan yang selalu menyuguhkan pilihan yang tak bisa ditawar. Hitam dan putih, suka dan duka, atau yang lainnya.

Perempuan itu sekarang tersenyum lebar setelah sekian waktu memandang gunung dari kejauhan. Lagi-lagi hatinya berkata, gunung merupakan guru yang paling bijaksana. Selalu mengajari kepada siapa saja untuk berani menapaki kehidupan dengan apa adanya. Gunung memberikan gambaran nyata, kadang memberikan keindahan dan hawa sejuk, tapi ada saatnya pula memberikan ujian yang tak bisa diduga sebelumnya.

“Murni, mengapa belakangan ini setiap pagi kamu selalu memandangi gunung itu?”

Perempuan yang dipanggil Murni itu terkejut ketika tiba-tiba ada suara di dekatnya dan memanggil namanya. Ketika menoleh, Sari, tetangga di perumahan sudah berdiri di belakangnya.

“Hanya sekadar….”

“Selain setiap pagi kamu olahraga lari-lari kecil, tapi setelah aku perhatikan beberapa hari ini seperti ada yang aneh darimu. Di waktu-waktu seperti ini kamu selalu memandang dan menikmati gunung itu,” potong Sari sebelum Murni melanjutkan perkataannya.

Murni menghela napas sebentar. “Apa yang kau katakan memang tidak salah. Begitulah kenyataannya,” katanya kemudian sambil matanya kembali tertuju pada gunung yang berada di kejauhan.

“Apa untungnya memandang gunung setiap pagi?”

“Jujur saja jika pagi hari memandang gunung itu hati dan pikiranku seakan merasa tenang dan tenteram.”

Sari agak terkejut mendengar perkataan seperti itu. Tak pernah dibayangkan sebelumnya jika alasan seperti itu yang membuat Murni selalu memandang gunung setiap pagi.

“Gunung menyuguhkan pemandangan indah kepada siapa saja yang mau menikmati, lebih-lebih pada waktu pagi seperti ini. Selain itu, sebenarnya gunung juga memberikan lambang tentang kehidupan. Kehidupan dengan segala cerita yang bergulir apa adanya. Kadang menyenangkan hati dan membuat kita tersenyum, atau sebaliknya.”

Sari masih terdiam. Angannya masih berkecamuk sendiri memikirkan perkataan Murni yang baru saja didengarnya.

“Sebenarnya gunung memberikan contoh nyata. Ketika gunung erupsi akan membuat keprihatinan dan menjadikan orang-orang harus berhati-hati dan waspada. Tapi setelah itu akan memberikan kemakmuran yang tiada terkira. Seperti halnya kita, jika mampu menghadapi segala cobaan hidup tentu akan mendapatkan kebahagiaan.”

“Sejak kapan kamu punya pandangan seperti itu?” tanya Sari yang masih merasa penasaran dengan apa yang diucapkan Murni sekarang.

“Belajar tentang hidup dan kehidupan bisa dari mana saja. Ya, dari mana saja. Yang jelas, belajar dari gunung rasanya lebih bijaksana. Gunung tak pernah berbohong, gunung menunjukkan apa adanya. Tak pernah dibuat-buat.”

Sinar matahari dari arah timur semakin menyengat kulit. Kedua perempuan itu pun bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah pelan dengan angannya masing-masing.

***

SETELAH melewati jalan berkelok-kelok dan naik turun, mobil yang dikendarai Murni sudah sampai di tempat yang dituju. Padepokan Eyang Jati yang berada di lereng gunung yang setiap pagi selalu dipandangi dari kejauhan. Tapi alangkah terkejutnya perempuan itu begitu sudah berhadapan dengan Eyang Jati. Raut wajah lelaki tua itu terlihat tak seperti biasanya. Dingin dan berbeda dari biasanya setiap kali menerima kedatangannya.

“Mandilah dulu di Grojogan Pitu. Setelah itu kamu akan mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi,” kata Eyang Jati dengan nada agak berat lalu bergegas meninggalkan Murni.

Murni yang sekarang sendirian di pendapa padepokan hanya diam. Hatinya bertanya-tanya sendiri. Tak paham dengan apa yang baru saja dikatakan Eyang Jati. Tapi ia lekas sadar, apa yang dikatakan Eyang Jati tentu punya maksud dan makna lain. Tak lama kemudian Murni pun bergegas meninggalkan pendapa padepokan.

Setelah menyusuri jalan setapak di lereng gunung, langkah Murni sampai di tempat yang dituju. Tapi ia agak terkejut begitu matanya menatap Grojojan Pitu yang kini terpampang di depannya. Air yang mengalir dari atas terlihat keruh. Tidak bening dan memancarkan warna tujuh rupa sebagaimana biasanya.

Dengan setumpuk rasa aneh yang berkecamuk di dada, Murni pun kemudian mandi di bawah Grojogan Pitu. Perintah Eyang Jati bagimana pun harus dilaksanakan. Lagi pula Grojogan Pitu itu dulu yang selalu setia menemani dirinya selama merangkai mimpi dan cita-cita hingga bisa menjadi seorang perempuan seperti sekarang, punya jabatan dan tak kekurangan apapun.

“Yang namanya hidup dan kehidupan setiap waktu bisa berubah. Tapi tidak setiap orang bisa menyadari adanya perubahan itu,” kata Eyang Jati terdengar pelan setelah Murni kembali dari mandi di Grojogan Pitu dan sekarang duduk menghadap di pendapa.

“Maksudnya bagaimana, Eyang?”

“Meskipun kamu setiap pagi memandang gunung dan mencoba memaknai bahwa gunung memberikan lambang atau pelajaran tentang hidup dan kehidupan, tapi sebenarnya ada yang telah kau lupakan. Kamu sudah lupa dengan keberadaanmu sendiri. Lupa dengan kodratmu sebagai seorang perempuan.”

Murni hanya diam. Eyang Jati yang berada di hadapannya kini ditatap lekat-lekat.

“Tak ada gunanya kamu memandang gunung setiap pagi dan mencoba menangkap maknanya jika hatimu tetap seperti batu dan kamu tetap lupa dengan kodratmu sebagai seorang perempuan. Sudahlah, sekarang kamu cepat pulang, carilah sesuatu yang sebenarnya telah kau lupakan.”

Mobil melaju pelan-pelan menuruni padepokan. Hati Murni sekarang seperti mendapatkan suluh yang terang benderang. Ia menyadari apa yang dilakukan selama ini ternyata salah. Tak sepantasnya sebagai seorang perempuan selalu menancapkan keinginan yang harus dipatuhi suaminya. Meremehkan suami yang semestinya menjadi kepala rumah tangga.

“Maafkan aku, Mas Pramudya. Aku yang salah. Aku yang egois dan selalu memaksakan kehendak.”

Mobil melaju semakin cepat. Murni hanya ingin cepat-cepat bisa menemui Pramudya, suaminya yang sekarang berada di rumah orangtuanya.

 

Irul S Budianto: lahir di Boyolali, 22 Juli. Tinggal di Boyolali Jawa Tengah.