Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 Januari 2020)

 

Kita bisa bicara apa saja, di mana saja, sekaligus melakukan debat paling panas sekalipun, tapi semua hanya akan menguap dan menjadi polusi udara, apabila tidak dijalani dengan metode yang akuntabel. Menangkap isu dan memerangkap retorika dalam teks adalah sesuatu yang kerap terlupakan sebuah ajang diskusi.

***

Langit Ahad, 5 Januari 2020 itu, tampak terlalu mendung sehingga saya lebih tertarik menyeruput kopi seraya menyunting draf novel di laptop. Konsekuensinya, saya pun tiba di lereng Bukit Sulap yang menjadi lokasi kopi darat Majelis Lingkaran pukul 17.15. Sedikit beruntungnya saya, acara yang seyogianya dimulai pukul 16.00 itu sendiri belum memulai sesi diskusi ketika saya mengambil tempat duduk di antara yang lain. Pemantik yang membentangkan kertas kerja tentang kemungkinan amandemen ke-5 UUD 1945 itu menyelesaikan paparannya lima menit setelah saya bergabung.

Saya sebenarnya tak harus merasa rugi karena datang telat sebab biasanya eskalasi diskusi bisa saya prediksi dari kertas kerja yang bisa saya baca versi digitalnya terlebih dahulu. Namun tidak dengan kopi darat sore itu. Ya, tulisan si pemantik tidak mampu menjelaskan judul dan menguraikan abstraknya sendiri.

Karena celah itu, saya memutuskan menjadi penyimak saja.

Lakonhidup.Com 08 Januari 2020 Kertas Kerja Omong Kosong-Lampiran 2

Di sesi diskusi, semua mengetengahkan kecakapan beretorika. Ini kabar gembira dalam rangka menyambut bonus demografi yang “seharusnya” Indonesia “nikmati” pada 2035; para pemuda yang berwawasan dan memiliki kemampuan menciptakan narasi dengan ilmu berbahasa alias retorika yang mumpuni. Ya, yang leluasa bergerak dan menggerakkan, meminjam istilah Yuval Noah Harari dalam Sapiens (2011) adalah mereka yang mahir dalam menciptakan imaginary-order atau tatanan khayalan, bukan mereka yang hebat fisiknya, sekadar banyak uang, atau pintar matematika. Oleh karena itu, perang retorika sore itu, bagi saya, adalah sesuatu yang layak dicatat.

Baca juga: Liburan Balik Badan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Januari 2020)

Namun, ketika beberapa pemuda mulai menunjukkan apatisme pada para ahli retorika yang saat ini tengah berada di ranah kekuasaan yang, alih-alih memberikan sumbangsih bagi perbaikan kehidupan berbangsa, malah menjadi bagian dari peletus kekacauan, kegembiraan itu berubah menjadi kekhawatiran.

Bohlam di kepala saya menyala serta-merta.

Ada yang “salah” dengan majelis retorika, ada yang “salah” dengan kultur yang di/terbangun olehnya selama ini.

***

Majelis Lingkaran kali pertama diinisiasi untuk menghadirkan forum diskusi yang akuntabel. Saya perlu menambahkan diksi “akuntabel” untuk menghindarkan forum itu dari menjadi ajang kongkow tanpa juntrungan.

Akuntabilitas itu direpresentasikan oleh keberadaan kertas kerja atau makalah atau paper. Pemantik diskusi harus bertanggungjawab dengan isu yang ia lempar dengan mengemukakan latar belakang, pembahasan, hingga simpulannya, secara tertulis.

Dan pemantik diskusi hari itu abai dengan urusan substansial ini.

Ia mungkin berpikir kertas kerjanya adalah lampiran dari wacana oralnya. Ia mengandalkan pemaparan yang “tidak akuntabel”: bicara mengungkapkan kontennya yang tak ada dalam pertanggungjawaban teksnya. Ia hadir dalam forum ilmu, tapi menafikan peranti bahasa tertulis sebagai pegangan khalayak diskusi.

Di tempat lain, itu hal lumrah. Di Lingkaran, itu jadi masalah.

Baca juga: Melepas Bingkai – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Desember 2019)

Bagaimanapun, kertas kerja, selain sebagai teks yang bisa terus ditinjau-ulang (reviewable), juga dapat mengonfirmasi hipotesis, mengontrol retorika agar diberdayagunakan dengan benar—bukan untuk sekadar berdalih dan berapologi.

Bayangkan apa yang terjadi kalau buah pikiran pemantik diskusi tidak bisa dibaca dan ditinjau ulang oleh peserta diskusi yang lain?  Ia akan dengan leluasa bilang begini pada menit ke-2, menggunakan terminologi lain pada menit-12, atau memakai metafora baru pada menit ke-60, demi mempertahankan paparan yang mulai kelihatan rapuh, sementara di sisi lain, pendengarnya tak punya pegangan untuk memastikan kalau ia sedang berkhidmat dengan narasi atau sekadar bersilat lidah!

Fungsi utama forum diskusi dan semacamnya adalah bukan untuk mengadu pikiran, sebab debat dalam sejumlah urusan sungguh tak menghasilkan apa pun selain ketakpuasan dan dendam tanpa titik. Forum diskusi memberikan amanah kepada para peserta agar kuasa menjaga kesadaran masing-masing. Ya, diksi “kesadaran” menjadi mahal di dunia yang dilingkupi penyakit mengerikan bernama Krisis Kepercayaan seperti sekarang ini.

Lakonhidup.Com 08 Januari 2020 Kertas Kerja Omong Kosong-Lampiran 3

Ketika “sadar”, seseorang akan menghitung ucapan, tulisan, dan tindakan. Tapi “sadar” sendiri tak bisa dimaknai sesederhana itu. “Sadar” bagi seseorang yang tak berpendidikan dan kurang wawasan serta tinggal di tempat yang jauh dari akses informasi dan ilmu pengetahuan, adalah makan ketika lapar, mandi ketika pagi, atau tidur ketika langit sudah gelap.

Majelis Lingkaran atau forum sejenis selayaknya memegang peranan lebih jauh, yaitu memberikan “kesadaran” itu konten dan konteks. Memberi kesadaran itu muatan, volume, dan nilainya sendiri. Bukan sekadar makan ketika lapar, tapi mencari tahu mengapa di negara agraris ini beras yang beredar justru berasal dari Tiongkok.

Keadaan sadar yang dikayakan oleh pelbagai pemikiran, referensi, pengalaman, dan ilmu pengetahuan, akan membuat seseorang paham peta kalau ia warga dunia, menguasai otoritas imajinernya dalam kehidupan, dan meletakkan narasi di ruang yang meriapkan kebermanfaatan, bukan sekadar letupan euforia.

Baca juga: Berkarya = Kedaulatan Bersuara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Desember 2019)

Kita bisa bicara apa saja, di mana saja, sekaligus melakukan debat paling panas sekalipun, tapi semuanya hanya akan menguap dan menjadi polusi udara, apabila tidak dijalani dengan metode yang akuntabel. Menangkap isu dan memerangkap retorika dalam teks adalah sesuatu yang kerap terlupakan sebuah ajang diskusi.

Padahal, dengannya diskusi akan memiliki titik tengah, kesadaran akan tumbuh-rimbun oleh ilmu dan pendapat yang mengerucut—apalagi dilakoni dengan adab yang berterima.

Oh alangkah rumitnya kongkow-kongkow yang berfaedah itu, sebagaimana tak ada pil semanis gula aren untuk kehidupan yang telanjur sakit seperti hari ini. ***

 

Lubuklinggau, 7 Januari 2020