Cerpen Rosni Lim (Analisa, 08 Januari 2020)

Ayah, di Manakah Ibu ilustrasi Alwie - Analisa-1
Ayah, di Manakah Ibu? ilustrasi Alwie/Analisa

Kasim terbangun tengah malam oleh suara tangisan Mita, putri kecilnya yang berusia 3 tahun. Dengan mata berat menahan kantuk, Kasim berusaha berdiri dan berjalan menuju tempat tidur Mita.

“Ssst…ssst… ssst…,” ditepuk-tepuknya lengan Mita, berusaha menghentikan tangisan putri kecilnya itu. Diliriknya jam dinding, pukul 01.00 WIB, saatnya Mita minum susu.

Setelah ditepuk-tepuk, tangis Mita agak mereda. Kasim berjalan keluar kamar, menuju  dapur untuk membuatkan susu bagi Mita. Diambilnya botol susu, dituangkannya sedikit air panas dari termos ke dalam botol, lalu diambilnya beberapa sendok bubuk susu formula dari dalam kotak susu yang bertuliskan sebuah merk susu yang biasa dikonsumsi anak-anak balita, tapi dari merk yang harganya cukup terjangkau.

Setelah mengocok-ngocok air panas dengan bubuk susu formula itu selama beberapa detik, Kasim membuka kembali tutup botol dan menuangkan air dari dalam teko ke dalam botol susu hingga kini susu itu telah menunjukkan angka 200 ml, siap diminum si kecil Mita.

Agak tergesa, Kasim berjalan balik ke kamar karena tangisan Mita mulai terdengar lagi. “Ssst… ssst… ssst…,” Kasim masuk sambil berbisik perlahan, menenangkan Mita kecilnya. “Sini, Sayang, sini, Ayah sudah buatkan susu untukmu,” katanya lembut. Digendongnya Mita ke dalam pelukannya, diayun-ayunkannya sebentar lalu diminumkannya susu yang di botol itu ke mulut putri kecilnya itu.

Mita menyedot susu yang di botol itu dengan rakusnya. Tampaknya, dia memang sudah kehausan. Sebentar saja susu itu sudah habis disedot Mita. Kini, putri kecilnya pun kenyang dan tertidur lelap.

Kasim meletakkan kembali Mita ke atas ranjang. Baru saja dia hendak berjalan ke dapur untuk mencuci botol susu yang telah kosong itu, Miko, putranya yang berusia 6 tahun terjaga

“Ayah…,” panggil Miko dengan mata setengah terpejam. “Ayah… aku lapar…,” katanya. “Hiks…,” dia mulai menangis. Suara tangisan Miko terdengar sangat sedih, apalagi ketika dia menyebut sebuah nama dengan ekspresi wajah seperti mengigau, “Ibu… Ibu… hu… hu…”

“Ssst… ssst… ssst…,” kali ini giliran Miko yang harus ditenangkan Kasim. “Jangan menangis, Sayang, sudah malam. Ayo tidur lagi, besok Ayah bawa kamu jalan-jalan dengan becak Ayah ya. Kita ke taman bunga,” janji Kasim.

Miko pun memejamkan matanya kembali, berusaha tidur dengan airmata menetes di pipinya.

Kasim berjalan keluar dari kamar, menuju dapur. Keadaan dapur sangat berantakan. Piring-piring berserakan di tempat cuci piring. Baju-baju berserakan di samping mesin cuci, dan berbagai jenis sampah berserakan di atas lantai.

Kasim menarik nafas berat, mengembuskannya kuat-kuat. Kepalanya pusing seperti  mau pecah melihat keadaan rumah yang berantakan. Seharian tadi sudah capek menarik becak mesin, mengantar jemput anak-anak sekolah langganannya, setelah itu mencari sewa lain supaya biaya keperluan sehari-harinya dengan kedua anaknya bisa terpenuhi.

Berharap pulang ke rumah, disambut istri dan anak-anak tercinta dengan senyum dan tawa bahagia, makanan yang disajikan hangat-hangat, juga keadaan rumah yang bersih dan nyaman. Semua itu terasa sempurna dan bahagia walaupun keluarga mereka sangat sederhana. Tapi semua itu tinggal kenangan. Hidupnya dan hidup kedua anaknya tidak lagi sempurna. Terasa ada yang sangat kurang semenjak kepergian Sinta, istri Kasim.

Merasa kantuknya sudah hilang dan akan sulit tidur sekarang, Kasim menggunakan waktunya untuk membereskan dapur. Dimasukkannya pakaian-pakaian kotor yang berserakan ke dalam mesin cuci lalu distelnya mesin cuci itu supaya mulai bekera. Piring-piring kotor di tempat cuci piring dicucinya satu per satu dan ditelungkupkannya ke samping. Setelah itu, diambilnya sapu dan mulai menyapu lantai yang kotor.

Sambil bekerja, pikiran Kasim melayang pada Sinta, istrinya yang terpaut 16 tahun darinya. Sinta masih begitu muda, berusia 20-an, cantik dan mungil. Perkenalan Kasim dengan Sinta terjadi di luar kota, di sebuah kafe tempat Sinta bekerja. Saat itu, Kasim yang juga anak perantauan dan bekerja di sebuah pabrik sering berkunjung ke kafe Sinta. Rasa tertariknya seketika muncul, dan itu membuatnya jadi sering berkunjung ke kafe. Perkenalan mereka kemudian berlanjut menjadi tahap pendekatan dan penjajakan. Setelah setengah tahun, Kasim merasa Sinta adalah wanita yang dicarinya selama ini, wanita yang pantas dipersuntingnya menjadi istri.

Sinta yang masih belia pun menerima pinangan Kasim. Mereka menikah di luar kota dengan acara yang sederhana. Tak lama setelah menikah, Sinta berhenti kerja di kafe karena hendak mengikuti Kasim pulang ke kampung halamannya sesuai permintaan orangtua Kasim.

Pulang ke kampung halaman sendiri yang merupakan kota kecil, Kasim kelimpungan mencari kerja. Apalagi setelah orangtuanya meninggal dan rumah mereka dijual, Kasim pun terpaksa menyewa  rumah kecil dan hidup bersama Sinta yang saat itu mulai hamil tua.

Apa boleh buat, sebagai seorang suami, Kasim harus bekerja demi menghidupi istrinya Sinta dan calon bayi yang ada di dalam kandungan Sinta. Pekerjaan sebagai penarik becak mesin pun dilakoninya saat itu hingga sekarang dan ternyata memang itu sanggup menghidupi Sinta dengan kedua anaknya walaupun pas-pasan. Tapi mereka selalu bahagia dengan keluarga mereka yang sederhana.

Sampai suatu hari, sebulan lalu, Sinta tiba-tiba berkata dia bosan hidup pas-pasan. Dia ingin hidup senang, capek mengurusi rumah dan kedua anaknya yang rewel.

Kasim masih ingat, Sinta berkata demikian setelah Kasim sering memergokinya asyik dengan hp-nya sambil ketawa-ketawa senang sehabis mengetik-ngetik di hp-nya itu. Kasim curiga, Sinta sedang ber-chatting ria dengan cowok di media sosial. Ternyata benar, cowok itu merayu Sinta hingga Sinta pun terlena, melupakan suami dan dua anaknya.

Seminggu lalu, saat Kasim pulang kerja menjelang malam, rumah dalam keadaan berantakan, Sinta tidak ada, hanya ada Miko dan Mita yang sedang menangis menahan lapar.

“Miko, Mita, di mana ibu kalian?” tanya Kasim sambil mengitari seisi rumah tapi tak menemukan sosok Sinta di situ.

“Huhuhu…, Ibu sudah pergi, Ayah,” jawab Miko terpatah-patah. “Ibu pergi  membawa tas besar. Ibu bilang, tak akan kembali lagi. Ibu tak mau bersama Ayah yang susah,” cerita Miko.

Kasim jatuh terduduk di lantai. Pakaiannya lusuh dan bau keringat sehabis mengantar banyak sewa. Wajahnya kusam, matanya lelah, dan bibirnya kering karena tak sempat minum air barang seteguk pun. Kasim tak memikirkan perutnya yang sedang keroncongan menahan lapar, bahkan dia seolah tak mendengar rengekan Miko dan tangisan Mita.

“Ayah, di mana Ibu? Ayah, Ibu pergi ke mana? Ayah, Miko lapar, Yah. Miko mau makan… Huhuhu…”

Mita menangis sekuat-kuatnya ketika melihat abangnya merengek-rengek dan terisak.

Kasim benar-benar bingung. Dia hanya duduk di lantai dengan wajah kecewa dan putus asa, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan, Kasim tak ingin berbuat apapun. Tapi, suara rengekan Miko dan tangisan Mita yang terus-menerus menyadarkannya.

Iya, dia harus bangkit! Dia tak boleh terpukul, apalagi terpuruk! Anak-anak ini telah ditinggalkan ibunya. Ditinggalkan seorang ibu yang seharusnya memiliki belas kasih untuk merawat anak-anaknya yang masih kecil, tapi dia lebih memilih pergi untuk mencari kesenangan pribadi. Barangkali, kemudaan usia Sinta masih belum mendewasakan hatinya hingga membuatnya lupa akan tugas dan tanggung jawabnya.

Seminggu telah berlalu semenjak kepergian Sinta. Kasim sadar, dia harus bangkit demi kedua anaknya, demi dirinya sendiri. Tidak ada yang berakhir dengan kepergian Sinta karena kepergian Sinta hanyalah satu cobaan yang harus dilalui walaupun dengan berat.

Bagaimanapun beratnya itu, roda kehidupan tetap harus dikayuh.

Kasim meletakkan gagang sapunya di dekat pintu, mencuci tangannya dan bersiap-siap masuk kamar untuk memeluk kedua buah hatinya yang kelak diharapkannya akan menjadi masa depannya. ***