Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 05 Januari 2020)

Tahun-Tahun Kemacetan ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia (1)
Tahun-Tahun Kemacetan ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

SUDAH 2 jam berlalu sejak aku meninggalkan rumah untuk merayakan Tahun Baru di tepi pantai. Biji-biji waktu pun seakan berjatuhan dari jam tanganku, lantas membuatku semakin gelisah. Siang ini, matahari sangat menyengat. Aku terjebak macet bersama ratusan mobil lain yang menciptakan sampah genangan panjang di jalan raya serupa sungai hitam disesaki besi berasap. Namun, aku beruntung tidak terjebak seorang diri. Ada kekasihku, Louisa Heathcote–meski ia jelas terlihat bosan. Untuk membuang kebosanannya, Louisa membaca buku tipis karya Hemingway berjudul The Old Man and the Sea, sampai akhirnya tertidur.

Mobil-mobil yang terjebak macet terus mengumpat dengan lengking klakson nyaring. Apa mereka tak dapat menunggu dengan sabar? Gumamku dalam hati. Akan tetapi, memang sudah berjam-jam lamanya aku terjabak bersama kekasihku di dalam mobil. Musik jazz yang kami putar pun menjadi hambar karena sudah berulang kali menggema di dalam mobil.

“Apakah kita bisa melihat senja dari tepi pantai, sayang?” tanya Louisa yang tiba-tiba terbangun.

“Tidurlah, sayang. Aku akan membangunkanmu bila nanti kita telah sampai di pantai.”

Waktu menjelma menjadi arus air yang deras; silih berganti saling meninggalkan. Mobil beranjak sedikit demi sedikit. Ini seperti sedang mengantre sesuatu yang entah apa, batinku. Aku merasa terjebak dalam kotak-kotak kebosanan yang itu-itu saja. Dari raungan klakson; kata-kata kasar para pengemudi; musik jazz yang lelah memutar dirinya sendiri.

“Kita sudah sampai, sayang?” kekasihku kembali terbangun. Ia memandangku samar, kemudian melemparkan tatapannya ke luar. Ia memperhatikan keadaan sekitar.

Kutenangkan, “Belum. Kita masih di tempat yang sama, Louisa.”

“Sebenarnya, apa yang membuat macet jalan ini?” kekasihku menjulurkan kepalanya keluar jendela. Matanya yang jernih menyipit; menajamkan, memburu jawaban. Akan tetapi, ujung dari kemacetan ini tidak juga tampak. Ia menyimpan kembali kepalanya seperti kura-kura yang sembunyi, kemudian kembali memandangku di depan kemudi mobil. Aku menggeleng.

“Tidak tahu.”

“Apa kita masih bisa lihat senja hari ini, sayang?”

“Tidurlah, ya. Nanti, kalau kita sudah sampai di pantai, aku bangunkan kamu.”

“Aku sudah tidak sabar.”

Ia menurut. Louisa memejamkan mata. Namun, gerak tubuhnya terus saja gelisah. Sudah 4 jam lebih kami terjebak macet sialan ini. Sayup-sayup, aku malah mulai dengar suara-suara baru dari sekitar jalanan: para pedagang asongan. Aku tercengang melihat penjual asongan itu. Mereka adalah anak-anak di bawah umur. Mereka memekik menawarkan dagangan agar suaranya menembus kaca mobil, sampai ke telinga orangorang, dan memancing hasrat.

“Air dingin! Air dingin! Air dingin!”

“Rokok! Rokok! Rokok!”

“Permen! Permen! Permen!”

Tanpa canggung, mereka bergerilya di sela-sela belantara kemacetan. Kupikir, mereka menjual juga masa kecilnya. Mereka harusnya belajar di rumah atau tidur siang di kamarnya yang penuh mainan. Aku tak habis pikir: Apa orangtua mereka manusia pemalas yang tega memperkerjakan darah dagingnya sendiri?

Waktu ikut macet. Roda mobil tidur kehilangan gerak. Langit mulai kemerahmerahan. Itu yang kami tunggu. Kami ingin menikmati senja di tepi pantai pada penghujung tahun ini. Duh, senja yang selalu sendu dan menggelisahkan; yang tak bertahan lama dan cepat tersungkur, tapi selalu meninggalkan keindahan.

“Kita sudah sampai di pantai, sayang?” Louisa kembali terbangun.

“Tidurlah, kita masih di tempat yang sama, belum sampai di manamana.”

“Apakah kita masih bisa melihat senja, sayang?”

“Kita bisa melihat senja dari mana saja, dari dalam mobil ini sekalipun. Kita bisa melihatnya, sayang.”

Huft, aku hanya ingin melihat senja yang bebas terbenam dari tepi pantai.”

Wanita itu melipat wajahnya dalam kekecewaan. Hari ini, kami sudah berencana melihat senja dari tepi pantai. Kami ingin mengabadikan bias cahaya yang tembaga itu sambil bergandengan tangan dan merasakan jilatan lidah ombak di jari-jari kaki. Akan tetapi, kemacetan ini seolah menghancurkan semua rencana itu. Mobil kami hanya menggeliat pelan di tengah kemacetan jalan dan sama sekali tak pernah beranjak ke mana pun.

***

Tidak kusadari, aku telah berada di dalam mobil selama tujuh hari. Tahun Baru yang kami rencanakan gagal. Akan tetapi, kami masih berhasrat untuk pergi ke pantai. Akan tetapi sialnya, kami masih terjebak macet. Yang lebih keparat lagi, waktu seolah mempermainkanku dengan cepat berlalu. Demikianlah selama tujuh hari, kami mulai bertahan hidup dengan memakan bekal yang kami bawa untuk ke pantai. Sebenarnya, aku ingin pulang meninggalkan mobil ini. Akan tetapi, kekasihku masih bersikukuh ingin melihat terbenamnya senja di tepi pantai.

Di dalam mobil—di tengah kebosanan—kami seolah menjadi saksi ketika gedung-gedung pencakar mulai dibangun; ketika pohon-pohon ditebang; tanahtanah lapang digali, kemudian ditanami cakar-cakar besi, seraya dikubur dengan beton-benton yang keras. Anak-anak yang malang itu jumlahnya kini semakin banyak. Mereka juga tidak saja menjual makanan, tetapi menjual bensin karena mobil-mobil yang terjebak masih terus membutuhkan bahan bakar untuk tetap melaju.

“Apakah kita masih bisa melihat senja, sayang?” tanya kekasihku lagi mengulang.

“Kita bisa melihat senja dari mana saja, dari dalam mobil ini sekalipun. Kita tetap bisa melihatnya.”

“Tetapi, aku hanya ingin melihat senja dari tepi pantai saja.”

Aku sudah hafal percakapan ini. Kami mengulang-ulangnya untuk meneguhkan hati. Namun, kenyataannya, kami hanya hidup dalam bayang keyakinan jemu. Kami tidak pernah sampai ke mana pun, bahkan setelah berbulan-bulan kami terjebak kemacetan ini. Kami tidak pernah beranjak!

Bila mataku dapat bercerita, betapa bosan aku harus memandang berbagai macam kemalangan yang bertebaran di jalan. Selain anak-anak, kini mulai bermunculan wanita-wanita muda berparas cantik. Mereka menebar senyum dengan pakaiannya yang ketat-menonjolkan bokong dan payudara–merayu para pengemudi lain.

“Singgahlah sebentar. Aku akan mengantarkanmu pada mimpi yang paling indah, sayang,” kata wanita-wanita itu merayu. Banyak pula para pengemudi yang akhirnya terjerat bibir manis mereka.

Tidak sampai di situ, kemalangan masih saja melahirkan sosok ganjil di tepi jalan. Tiba-tiba mulai bermunculan orang-orang tua yang mengembik-embik meminta sesuatu dengan wajah melas. Mereka begitu saja datang dan merangsek ke jalanan.

Berbulan-bulan, kami hanya termangu di dalam mobil; mengawasi jalan yang masih tetap sama. Akan tetapi, kini, semakin banyak gedung yang berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Gedunggedung itu berdiri begitu cepat. Para wanita perayu semakin banyak jumlahnya. Mereka bertebaran mencari mangsa, menjerat para pengemudi untuk singgah sebentar ke dalam gedunggedung itu.

“Lupakan masalah hidup kalian sejenak. Hiduplah dalam kenyamanan pelukanku,” kata wanita-wanita seksi itu.

Jalanan telah menjelma lautan manusia yang malang, sedangkan kekasihku sepertinya telah menerima kenyataan: Ia tidak dapat melihat senja di tepi pantai. Ia memelukku erat dengan desah napasnya yang berat. Pelukan yang masih membuatku jatuh cinta.

“Betapa beruntung, aku terjebak kebosanan bersama orang yang aku cintai,” bisikku padanya. Kukecup keningnya.

***

Sepuluh tahun lamanya, kami terjebak dalam kemacetan yang sama. Rambut kami pun telah memutih. Betapa kejam waktu merajah wajah kami. Kami tak pernah sampai ke tepi pantai. Mobil ini masih saja terjebak bersama ratusan mobil lain. Satu per satu, pengemudi telah meninggalkan kendaraannya untuk merengkuh kenikmatan besama wanita-wanita perayu itu.

Namun, aku masih berada di belakang setirku, bersama kekasihku yang telah menua.

“Apakah kita masih bisa melihat senja, sayang?” tanya kekasihku yang mungkin sudah keseribu kalinya.

“Tidurlah dahulu, sayang. Nanti, kalau kita sudah sampai di pantai, aku akan membangunkanmu.” Ia tertidur di sampingku. Akan tetapi, aku tidak tahu kapan akan membangunkanya. Aku hanya bisa setia menemaninya di dalam mobil untuk berharap melihat senja bersamanya nanti.

Begitulah tubuh kami terjebak di labirin menjemukan. Namun, hati dan pikiran kami tak ingin ikut terjebak. Kami terus bertahan walau sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang membuat macet jalan ini? Mengapa kemacetan ini begitu abadi? Apakah jalan ini memang buntu sehingga mobil yang kami tunggangi tak akan pernah sampai ke mana pun? Apakah aku masih dapat melihat senja di pantai, seraya berlari dengan bebas, atau aku harus menunggu selama seratus tahun untuk melihat senja yang bebas tergelicir itu bersama kekasihku? (M-2)

 

Risda Nur Widia. Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016), dan Novel Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing. Cerpennya telah tersiar di berbagai media.