Cerpen Komala Sutha (Tanjungpinang Pos, 05 Januari 2020)

Selembut Angin Siang ilustrasi Tanjungpinang Pos-1.jpg
Selembut Angin Siang ilustrasi Tanjungpinang Pos 

PENUH kebencian, ditatapnya dengan tajam cewek di hadapannya. Napasnya turun naik. Dadanya hampir meledak karena marah, tapi berusaha ditahannya.

“Puas kamu telah membuat Andre benci aku?” suara Nadia membahana di dalam kelas yang kosong.

Elma malah menatap cewek di hadapannya. Sahabatnya yang selalu saja tak bisa menahan amarah untuk sesuatu hal yang tak seharusnya marah. Nadia mendelik membuang muka ke samping, merasa tak sudi membalas tatapan mata Elma yang polos. Dalam hati Nadia menggerutu. Huh, pura-pura, seolah tak merasa tak bersalah.

“Kenapa sih, El… kenapa kamu dan Andre menyerangku? Apa salah aku sama kalian berdua?” Nadia tetap teriak memecah heningnya kelas. Sekolah telah bubar satu jam yang lalu. Tak ada murid yang tersisa. Dan sepertinya tinggal mereka berdua di sekolah. Sengaja Nadia menahan Elma untuk tetap tinggal di kelas. Sejak pagi, ia sudah tak sabar untuk memuntahkan semua kebencian yang sudah beberapa hari ini mengendap dalam dadanya.

Elma menghela napas dalam-dalam. Masih menatap cewek di hadapannya. Tak mudah bicara dengan cewek emosional seperti Nadia. Perlu ‘extra hati-hati’, pikirnya.

“Kamu salah paham,” ucap Elma pelan, hampir tak terdengar. Setelah itu, ditinggalkannya. Nadia yang masih dibalut amarah. Elma menuju musholla SMU Bina Darma.

***

Angin pagi meniup wajah ayu Elma yang terbungkus jilbab putih bersih. Ia duduk dengan manis di pinggir kolam, di samping Mesjid megah. Tatapnya kemudian beralih ke samping, mengedarkan pandangan ke lapangan sepakbola yang luas. Di pinggirnya ditumbuhi pepohonan rindang yang setia menyapa dengan menghantarkan angin lembut pada siapa saja yang melintasi.

Elma menghela napas sesaat. Guru mata pelajaran matematika tak datang. Sudah pasti semua teman sekelasnya teriak histeris karena gembira. Suara bising memenuhi ruangan. Ada yang saling melempar dengan kertas, teriak-teriak, bernyanyi, main game di hape, ada juga yang asik menekuni buku pelajaran. Akhirnya Elma memilih keluar kelas dan menemui Andre, lalu mengajaknya berbicara di depan Mesjid sekolah. Kebetulan guru yang mengajar di kelas Andre pun tak hadir, ada rapat di kantor dinas.

“Nadia marah,” Elma memulai percakapan setelah keheningan mewarnai mereka untuk beberapa saat.

“Biar saja,” sahut Andre pelan. Tangannya sibuk membuka buku rumus matematika buat SMU. Beberapa bulan lagi, ia harus mengikuti ujian Nasional. Ia kan kelas duabelas.

“Tapi dia marahnya sama kita, Dre. Kamu juga aku,” jelas Elma. Tangannya memainkan ujung jilbab.

“Nadia marah bukan hanya sama kita. Tapi, semua temanku dia marahi. Temen-temenmu juga kebagean, kan?” Dia marahin semua orang. Hm, ngga jelas juntrungannya. Kaya anak kecil!”

“Dre…”

“Dasar kolokan!” Andre tampak kesal. Ia bangkit lalu memungut kerikil dari tanah. Plung!!! Dilemparkan ke tengah kolam berukuran besar berbentuk lingkaran. Lalu ia kembali lagi menghampiri Elma, dan duduk di sampingnya. Menatap air kolam yang berwarna hijau.

“Nadia ngga mau bicara ama aku, Dre. Maksudku, ngga bisa diajak bicara baik-baik. Emosi terus, jadi ya aku angkat tangan kemarin,” ucap Elma lirih.

“Jelasin sama dia Dre, kalau kita hanya berteman.”

“Ma’af kalau aku telah buat kalian ribut. Tapi sekarang aku udah ngga ada urusan dengan dia. Dia udah mutusin hubungan kami.”

Elma tercengang. “Ngga mungkin…. Kata dia…”

“Kamu lurusin aja masalah kamu dengan dia. Baik-baik lagi dengan dia. Temanin dia, ya….”

“Tapi, Dre…”

“El… aku pun udah mutusin pertemanan. Kami udah sepakat tak akan ada komunikasi lagi.”

“Sangat disayangkan!” desah Elma kecewa. “Dre, kenapa harus memutuskan silaturahmi yang ‘mungkin’ hanya salah paham.”

Andre mendecak, tak berucap lagi. Kepalanya menengadah ke atas, menatap langit di pagi hari. Indah, tapi tak seindah jiwanya yang mendadak suram ketika ingat Nadia, yang telah mengecewakannya. Yah, Nadia sayang Andre, tapi sikap dan sifat cewek itu yang membuat Andre kecewa dan memutuskan pergi meninggalkan hatinya. Cewek itu keras kepala, suka bicara kasar sekarang.

Entah iblis mana yang telah merasuki jiwanya, pikir Andre sedih.  Dirinya telah membenamkan bayangan Nadia, hati dan kenangannya yang manis dengan senyum walau itu senyum pahit. Satu harapan yang masih tersisa, semoga dengan perpisahan ini cewek egois itu mendapat pelajaran yang berharga, agar bisa menjaga persahabatan dengan sahabatnya yang lain. Dan jangan sampai lagi mengorbankan sahabat-sahabatnya yang lain demi mempertahankan keakuan. Selain itu, cewek itu akan menyadari kalau kemarahan tak harus disosialisasikan pada orang-orang yang tak bersalah.

“Aku masuk dulu, ya? Mau sholat dluha…” Elma bediri, melangkahkan kaki-kakinya yang ramping terbungkus rok panjang seragam abu-abunya.

Andre memperhatikan cewek berjilbab itu dengan perasaan kagum.

***

Di kamarnya, air mata tumpah dari kedua matanya yang sayu tanpa dapat tertahankan. Nadia menangis. Ia merasa dikhianati oleh Andre. Yah, sebelumnya dengan angkuh Nadia ingin menyudahi persahabatannya karena cemburu yang selalu menjilati hatinya tiap kali melihat Elma bersama Andre. Ia sedih. Bukan hanya itu, cowok itu pun berusaha memisahkan persahabatan dengan Elma, yang sebelumnya begitu berarti buat Nadia.

Nadia dan Elma berteman sejak lama, hanya mereka sekolah di tempat yang berbeda. Sampai dua bulan yang lalu Elma pindah ke sekolah itu. Sekelas dan sebangku dengan Nadia. Awalnya Nadia merasa bahagia. Tapi kebahagiaan itu terampas ketika Elma mengenal Andre, kakak kelasnya, cowok yang paling dekat dengan Nadia. Cowok yang menduduki posisi istimewa dalam ruang hati Nadia.

Nadia merasa sikap Andre yang sebelumnya manis, berubah sejak Elma hadir di antara mereka berdua. Sebelumnya cowok itu tak pernah bersikap seperti itu. Tak pernah membuat Nadia berburuk sangka.  Sekarang, hari-hari indah di samping Andre tak terasa indah lagi, karena Andre harus membagi waktu anatara menemani Nadia dan juga menemani Elma. Dan waktu Andre lebih tersita untuk Elma, yang walaupun murid baru tapi aktip di beberapa kegiatan ekskul di sekolah, juga kegiatan di luar sekolah. Tak sepeti Nadia, yang setiap pulang sekolah, tak punya kegiatan poisitif apapun selain jalan-jalan, belanja dan nonton. Dan itu cukup membosankan buat Andre.

Air mata mengalir semakin deras. Nadia pun sesenggukan. Tak pernah sebelumnya dirinya sesedih ini. Ia merasa dikhianati bukan hanya oleh Andre, tapi juga Elma.

“Mereka berdua tak pantas menjadi sahabatku,” lirih suara Nadia walaupun dalam hati. Setelah tangis reda, disusut dengan punggung tangannya. Tapi kesedihan tetap menggelayuti hatinya. Apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kesedihannya? Melupakan dua orang yang dicintainya sekaligus dibencinya.

Salat? Nadia menggeleng kepalanya kuat-kuat. Entah sudah berapa lama dirinya tidak sholat. Sebulan, dua bulan… ah, mungkin berbulan-bulan, atau bertahun-tahun… ia pun tak ingat kapan terakhir dirinya mengenakan mukena. Sementara kedua ornagtuanya tak pernah peduli dengan putri semata wayangnya. Papa yang sibuk dengan istri mudanya, dan Mama yang sibuk dengan kekasihnya yang mahasiswa.

Mesjid? Nadia menggeleng kuat-kuat. Tempat itu terasa asing. Di sekolah, ada musholla bahkan Mesjid berukuran cukup besar yang bisa menampung lebih dari seribu murid dan salahsatunya Nadia. Tapi setiap kali Nadia masuk ke sana untuk kegiatan keagamaan di sekolah, dirinya pun merasa asing, dan lebih memilih kabur dengan Andre.

***

“Coba renungkan! Elma ngga ada maksud merebut Andre dari kamu. Kalaupun kemarin Andre sempat ninggalin kamu, itu bentuk kepedulian dia sama kamu. Cerna kalimat-kalimatnya, Nad. Yang dia inginkan, perbaikan diri dari kamu,” Elma meluncurkan kalimat dengan lembut. Dirangkulnya bahu Nadia dengan penuh sayang.

“Jangan sampai,  persahabatan yang kita bina anatara aku, kamu dan juga Andre harus berakhir hanya karena kesalahpahaman. Mari kita jalin silaturahmi. Tuhan pasti merestui karena ini niat baik.”

Perlahan Elma menganggukkan kepala. Ditatapnya wajah Elma yang lembut selembut suaranya. Elma balas menatapnya dengan tulus.

Berjalan berdua, Elma tetap merengkuh bahu Nadia. Mereka berdua menuju ke a rah barat, melewati lapangan sekolah.

Angin siang meniup lembut rambut Nadia yang tergerai. Diliriknya Elma yang begitu cantik dan anggun dengan jilbab yang melilit rapih. Rasa kagum menyelusup dalam hatinya. Kesederhanaan dan penampilan islami mungkin yang membuat Andre sangat mengagumi cewek baik ini.

Malu sekali kaki Nadia menyentuh lantai teras Mesjid yang bersih.

Di depan pintu pertama, Andre berdiri. Sudah rapih dengan baju koko warna putih dan celana hitam. Ia tampak berbeda sekali. Selama dengan Nadia, cowok itu tak pernah kelihatan rapih dengan pakaian agung seperti itu. Mukanya pun kelihatan lebih berseri-seri. Nadia menunduk tak kuasa membalas tatapan takjub dari cowok yang masih sangat disayanginya.

“Kita sholat zuhur berjamaah…” Elma menuntun tangan Nadia yang nyaris tak bergeming. Nadia merasa malu tapi juga bangga mempunyai sahabat sebaik mereka. Hati Nadia terasa lembut, seperti angin siang itu.

Ya Tuhan! Di pintu-Mu… aku mengetuk. Ijinkanlah aku selalu memperbaiki diri! ***