Cerpen A Warits Rovi (Republika, 05 Januari 2020)

Riwayat Seorang Guru ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Riwayat Seorang Guru ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Setelah menempuh jalan dusun yang aspalnya banyak kocar-kacir, akhirnya Muni tiba lagi di gedung sekolah bercat hijau itu—tempatnya mengajar. Tas lusuh yang biasa ia gendong ke sekolah mencuatkan ujung buku yang pojoknya banyak terlipat. Meski honornya hanya Rp 150 ribu per bulan, itu tak menyusutkan niatnya untuk datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Sebagai penebus kekecewaan istrinya yang kadang marah-marah karena uang belanja kurang, sepulang mengajar, ia akan keliling kampung menawarkan jasa sebagai pemetik buah kelapa, melawan cuaca, menaklukkan ketinggian dengan tubuh gemetar, dan menempuh kulit kasar pohon yang siap menggiris betis.

Seperti biasa, setiba di sekolah, ia memarkir sepeda motor tuanya di samping kantornya yang kecil dan rapuh. Beberapa siswa yang mengenakan seragam putih dongker itu menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka berebut mencium tangannya, sedang beberapa siswa yang lain ogah untuk bersalaman. Bahkan, sebagian tetap bergurau, main kejar-kejaran sambil berteriak-teriak dan saling lempar, tak peduli Muni melintas di dekatnya.

Sebelum masuk kelas, sejenak Muni duduk mengipasi wajah dan lehernya dengan selembar kertas. Kerah bajunya dibiarkan agak terbuka, hingga terlihat keringat yang bercucur mengilap. Ia bersyukur, masih bertahan mengabdi di lembaga swasta yang ada di dusun itu meski harus berhadapan dengan banyak hambatan; akses jalan yang sulit, sarana dan prasarana yang kurang memadai, ditambah lagi banyaknya siswa yang nakal. Tapi, tak terasa sudah tujuh tahun ia mengajar di sana. Tak peduli ada imbalan atau tidak, niat utamanya hanya ingin mencerdaskan siswa sekaligus mengarahkannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Bel yang terbuat dari kaleng bekas dipukul berkali-kali oleh seorang petugas. Siswa-siswi berhamburan menuju kelas dengan langkah setengah tergopoh. Beberapa di antaranya, tergesa menghabiskan jajan mereka hingga bibirnya naik-turun. Muni haru melihat siswa-siswinya itu. Meski usianya sudah tingkat tsanawiyah atau setara SMP, tapi mereka masih polos. Dalam arti, tak sepenuhnya tahu tentang kerumitan dan tantangan dalam hidup yang kadang membuat air mata mengucur. Muni hanya berdoa dalam dadanya, semoga anak didiknya itu kelak akan jadi orang beruntung, hidupnya tidak susah, dan bermanfaat bagi orang lain.

Sebelum masuk kelas, sejenak, ia berdiri di depan cermin. Menghapus titik air mata harunya yang sebelumnya tumpah, lalu meraih tas lusuhnya, menuju kelas dengan mengucap basmalah.

Pagi itu, ia mengajar pelajaran bahasa Indonesia di kelas VII. Setelah mengawali pelajaran sesuai RPP *), ia lanjut menerangkan materi. Siswa perempuan yang duduk di deret bangku kanan duduk rapi dengan mata tertuju ke depan. Hanya sebagian yang terlihat bisik-bisik di belakang, sedang siswa laki-laki hanya sebagian yang memerhatikan pembicaraan Muni. Mereka lebih suka bergurau dengan gerakan yang sering menggoyang bangku hingga berderit atau dengan suara nyaring dan gaduh. Bahkan, beberapa di antaranya mencibir penjelasan Muni.

Muni menegur mereka dengan cara halus. Mereka pun tenang sejenak. Tidak sampai lima menit, kegaduhan kembali terdengar. Kelas seperti suasana pasar: Muni berbicara sendiri seperti penjual jamu dengan loudspeaker-nya dan anak didiknya juga berbicara sendiri seperti para pembeli yang terlibat tawar-menawar.

“Anak-anak, coba perhatikan apa yang Bapak jelaskan. Biar kalian paham dan nanti setelah ujian tidak kebingungan. Kamu ingin naik kelas dan ingin nilai yang baik, kan?” Muni kembali mengatur suasana, sembari maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di tengah-tengah siswa.

“Jika menginginkan nilai yang baik, ayo perhatikan! Jangan berbicara sendiri dan bergurau,” imbuhnya sambil kembali maju ke depan kelas.

“Saya tidak ingin nilai baik, Pak!”

“Saya juga ingin nilai buruk, Pak. Tidak apa-apa meski tidak naik kelas.”

“Saya juga begitu, Pak!”

Muni berdiri, memandangi mereka satu per satu. Ia berusaha meredam emosi di dadanya seraya menggeleng dan melafalkan doa.

“Apa kalian tidak ingin ilmu yang bermanfaat? Yang juga bisa berguna bagi orang lain dan kelak bisa menyelamatkanmu dari api neraka?” tanya Muni menggunakan pertanyaan yang mengacu pada prinsip hidup yang lebih dalam.

“Tidaaaak, Pak. Ilmu tidak penting.”

“Iya. Banyak kan orang sekolah jauh-jauh, pulangnya hanya jadi ketua kelompok tani.”

“Hahaha!”

Muni mengelus dada. Meredam emosinya agar ketulusannya tetap bersemi. Ia melanjutkan pelajaran meski kelas tetap layaknya pasar. Ia kasihan kepada siswanya yang tunduk dan sebenarnya ia juga mendoakan agar siswanya yang nakal segera insaf.

Materi terus berlanjut. Kegaduhan juga berlanjut disertai kata-kata yang kadang menyakiti perasaan Muni. Bahkan, kadang ada yang melemparnya diam-diam. Tapi, Muni tetap tulus dan berusaha menyadarkan mereka perlahan meski tak jarang ia pulang dengan rasa pusing. Dan, setiba di rumah, istrinya sering meminta Muni berhenti mengajar dan lebih fokus bekerja.

“Guru seperti Mas Muni tak ada yang peduli. Honornya sedikit. Kalau ada bantuan, persyaratan administrasinya menumpuk. Itu pun belum tentu Mas lolos. Lebih baik bekerja saja seperti tetangga kita itu. Mereka kaya-kaya, Mas,” ucap istrinya suatu waktu.

“Ma! Saya mengajar tidak semata mengharap harta. Mendidik anak-anak adalah pekerjaan mulia. Meski para tetangga kita kaya, itu tidak ada artinya jika anak-anak mereka bodoh. Makanya, aku mengajari anak-anak mereka, Ma.”

“Hmm, anak-anak mereka Mas Muni yang ngajari, orang tuanya enak cari duit. Akhirnya, mereka yang kaya, kita yang miskin.”

“Ma, jangan seperti itu. Jika kita ikhlas, surga jaminannya.”

“Surga? Hahaha.”

***

Siang itu, terik matahari nyaris menyerupai mata jarum yang binal menggores kulit. Pepohonan diam karena angin seperti raib meninggalkan bumi. Muni berjalan gontai, memikul sepasang keranjang yang bertumpu di bahunya. Ia kerap menguap. Matanya suram dan berair, didera kelelahan karena semalam harus tidur pukul 12.00 demi menyelesaikan penilaian ulangan semester ganjil. Sementara, siang itu sepulang sekolah—seperti biasa—ia harus keliling kampung, menawarkan diri sebagai pemetik buah kelapa. Masih ada belasan pohon kelapa yang belum ia panjat.

Ketika ia sedang beristirahat di tepi kebun, melintaslah tiga orang anak didiknya yang kebetulan sedang menempuh jalan setapak ke arah sungai. Mungkin, mereka hendak memancing atau mandi saja. Percakapannya memecah kesunyian. Tak pernah Muni sangka, setelah mereka melihat Muni yang duduk sambil mengipas tubuhnya dengan topi pandan yang ia pakai, ketiga anak didik itu mendekat dengan wajah semringah, dan gerak langkah yang takzim. Muni tahu, mereka termasuk siswa yang baik di dalam kelas.

“Bapak ada di sini?” tanya salah seorang dari mereka.

“Iya, saya di sini. Sedang istirahat sejenak sebelum bekerja kembali memetik buah kelapa milik Tuan Hamid ini,” jawabnya lengkap.

“Jadi, sepulang mengajar, bapak masih bekerja seperti ini?”

“Iya.”

Ketiga siswa itu saling pandang, seolah bertukar ketakpercayaan melihat gurunya harus bekerja seperti itu. Muni terus mengipasi tubuhnya.

“Bapak kan guru?”

“Iya. Kenapa? Apa tidak layak bekerja sampingan seperti ini?”

Tak ada jawaban dari ketiga siswa itu kecuali hanya saling pandang, seperti masih memendam ketakpercayaan jika seorang guru harus bekerja memetik kelapa. Akhirnya, mereka pamit untuk melanjutkan perjalanan, tapi wajahnya masih diliputi perasaan kurang percaya pada apa yang dikatakan Muni.

Sepulang dari sungai, mereka lewat di jalan itu lagi. Mereka tidak sadar jika Muni masih belum pulang. Ia sedang mengobati rasa lelahnya dengan duduk sejenak pada salah satu pelepah di atas pohon kelapa itu, sembari menikmati angin pedusunan yang sejuk.

“Mungkin menjadi guru kampung yang mengajar di sekolah swasta itu gajinya tidak besar ya?”

“Katanya sih bukan gaji. Namanya honor. Yang namanya honor ya ala kadarnya.”

“Kasihan Pak Muni, padahal dia sangat rajin dan telaten.”

“Makanya, kalau kasihan, hargai dia saat menerangkan pelajaran, jangan banyak ngobrol.”

“Ah, siapa yang ngobrol. Bukan aku kok.”

Muni mendengar percakapan anak didiknya itu dari atas pohon kelapa. Ia tersenyum sekaligus berurai air mata. Dari percakapan itu, ia seperti melihat potret dirinya di selembar kertas lusuh; yang kesepian di tengah hutan, tapi ia menggenggam barang yang sangat berharga.

***

Hujan semalam menyisakan gerimis hingga pagi. Jalanan dusun becek dan licin. Di beberapa bagian jalan itu, air menggenang. Sepagi mungkin, Muni berangat ke sekolah sesuai jadwal. Sepeda motor tuanya terseok-seok menempuh jalan dengan bunyi knalpot yang memekik dan menyemburkan asap, mirip orang sedang sekarat.

Jas hujan penuh sobekan yang ia pakai berkibar dikipas angin. Tapi, ia bersyukur. Setelah diomeli istrinya, ia tetap bisa pergi mengajar. Baginya, mengajar sama seperti organ tubuh, sangat sulit dan terasa sakit bila dilepaskan.

Ia terus memacu sepeda motornya, sambil mengenang guru-gurunya dulu semasa dirinya bersekolah. Ia baru sadar, betapa banyak tantangan seorang guru hingga harus menyiapkan dada yang lebih kuat melebihi karang. Tak terasa air matanya menetes. Isaknya menyaingi derai gerimis. Ia merasa kenakalan anak didiknya saat ini adalah tunas dari kenakalan dirinya sendiri di masa lalu.

Gerimis semakin deras, karib dengan angin kencang yang menggoyang keras pepohonan, petir menyentak berkali-kali. Samar-samar, Muni telah melihat bangunan sekolah tempatnya mengajar itu agak kelabu dalam pelukan gerimis.

Perlahan, ia mengatur haluan sepeda motornya ke arah parkir. Sesekali, sebelah kakinya harus diturunkan demi keseimbangan ketika roda kendaraannya berputar dalam likat lumpur. Ketika hampir tiba di area parkir, seketika, “Brakk.”

Muni terjatuh bersama sepeda motornya. Keduanya berguling di atas tanah. Semua basah dan kotor. Anak didiknya menertawakannya di depan kelas. Ramai sekali.

Muni bangkit dan menegakkan sepeda motornya dengan dada yang diupayakan dingin. Ia berusaha sabar meski emosinya nyaris meledak. Dari suasana seperti itu, ia memandang anak didiknya masih dengan perasaan sayang. Sebab, ia telanjur berkomitmen untuk mengajar mereka dengan hati.

 

Gaptim, 7 November 2019

 

Catatan

*) RPM = Rencana pelaksanaan pembelajaran.

 

A Warits Rovi Lahir di Sumenep, Madura, pada 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal. Meraih Juara II Lomba Cipta Puisi tingkat nasional FAM 2015. Buku cerita pendeknya yang telah terbit: Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia mengabdi pada MTs al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jalan Raya Batang-Batang PP al-Huda Gapura Timur, Gapura, Sumenep, Madura 69472.