Cerpen Linda Christanty (Kompas, 05 Januari 2020)

Pengelana Laut ilustrasi Maslihar - Kompas (1)
Pengelana Laut ilustrasi Maslihar/Kompas 

Pengalaman menyelamnya yang paling mengesankan berlangsung pada puncak musim kemarau, di tahun bom bunuh diri meledak di Ibu Kota untuk pertama kali. Di pulau terpencil itu, ia benar-benar terasing. Sinyal teleponnya hilang. Tidak ada televisi di penginapan dan memang tidak perlu.

Ia datang untuk menyelam, bukan untuk menonton televisi. Akibatnya, ia baru mengetahui keadaan Gemala ketika tiba di rumah. Ibunya yang menyampaikan kabar sedih itu. Teman dekatnya nyaris buta karena lewat di muka gedung sasaran bom dalam perjalanan menuju kantor. Seiring waktu penglihatan Gemala berangsur pulih, tetapi hubungan mereka merenggang. Mungkin karena hidupnya sendiri berubah. Ia makin dekat dengan laut.

Ia dan ayahnya pergi menyelam di pagi hari itu. Sebuah perahu kecil membawa mereka ke lokasi penyelaman yang berjarak sekitar tujuh menit dari pantai. Mereka melihat bangkai kapal yang telah berubah menjadi taman bawah laut. Tiba-tiba seekor ikan besar mendekat, mengagetkannya. Ayahnya mengacungkan jempol, tanda aman. Mola-mola, ikan pemakan ubur-ubur, bukanlah ancaman.

Ia ingin lebih lama hilir-mudik di kedalaman, tetapi menggunakan tabung nitrox tidak boleh lebih dari satu jam. Melewati ambang batas akan membuat penyelam menghirup terlalu banyak nitrogen hingga hilang kesadaran. Oksigen juga berbahaya jika dihirup berlebihan karena merusak sistem saraf pusat. Dua hari kemudian, ia dan ayahnya terbang ke kota-kota yang berbeda. Sesudah itu ayahnya hilang.

Baca juga: Tak Ada Makanan untuk Hiu-hiu di Laut – Cerpen Linda Christanty (Kompas, 16 Juni 2019)

Sejak ayahnya hilang, selain menyelam, ia menghabiskan masa-masa liburan dengan berenang di perairan pulau-pulau kecil, mendatangi kampung-kampung pesisir dan berbicara dengan para penghuninya. Siapa tahu di antara mereka ada yang pernah melihat ayahnya. Barangkali ayahnya diselamatkan sekawanan lumba-lumba hidung botol yang cerdas dan ramah, digiring ke tepi laut, di suatu tempat. Barangkali ayahnya diselamatkan ribuan camar laut yang menerbangkan tubuhnya ke pesisir, sebagaimana nenek moyangnya dulu dikisahkan tiba di sebuah pulau.

Ketika ia menunjukkan potret ayahnya, orang-orang kampung menggeleng cepat. Mereka tidak mengenal lelaki dalam potret.

Ibu meramal ayah masih hidup, segar-bugar. Namun, ramalan bukan kepastian, katanya. Tiap selesai shalat ibu mengirim doa untuk ayah, memanggil jiwanya pulang.

Kadang-kadang, ia membayangkan apa yang terjadi pada ayahnya semata-mata perkara teknis. Tabung selamnya pecah. Ayah terpaksa berenang menuju pulau terdekat yang tidak dihuni manusia. Namun, beberapa orang yang bertemu ayahnya terakhir kali bersaksi telah melihat lelaki ini berjalan sendirian ke arah laut untuk berenang, tidak membawa peralatan selam. Seorang saksi bahkan memberi keterangan berbeda kepada polisi. Ayahnya berjalan menuju hutan di belakang penginapan. Lebih dari setengah abad lalu Jim Thompson, pensiunan tentara dan mata-mata yang beralih menjadi pengusaha sutra, mengalami nasib serupa ayahnya. Ia berjalan-jalan di sekitar penginapan, lalu hilang.

Berbeda dengan ayahnya yang selalu berurusan dengan laut, pekerjaan sehari-harinya jauh dari laut. Ia mengurus orang-orang di darat, yang gagal menanggulangi masalah sejak dalam pikiran.

Baca juga: Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat – Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Desember 2019)

Sebagian masalah mereka cukup menarik dan membuktikan kekuatan imajinasi. Namun, imajinasi punya sisi kelam, seperti dampak penggunaan nitrogen dan oksigen yang melampaui batas dalam penyelaman. Salah seorang pasiennya bercerita pernah diculik makhluk luar angkasa. Pengalaman bertemu pleiadians, spesies yang paling indah, membuat hidupnya berubah drastis. Semua manusia di muka bumi terlihat buruk rupa. Ia tertekan melihat manusia. Ia menceraikan istrinya karena merasa terteror oleh wajah dan raga perempuan bumi.

Sebagai dokter, ia harus menyembuhkan trauma pasien ini agar mampu bertahan di dunia manusia dan menghargai perempuan.

Banyak orang meragukan keberadaan makhluk di luar bumi, karena bukti-bukti fisiknya belum pernah ditemukan. Pemerintah membantah secara resmi tentang pesawat luar angkasa yang dulu jatuh di sebuah ladang tebu. Kawasan itu ditutup dengan alasan mengandung racun radioaktif. Sejumlah aktivis hak-hak asasi manusia tidak percaya. Mereka yakin orang-orang komunis telah dikubur hidup-hidup di sana.

Ilmu kedokteran memiliki keterbatasan, sedangkan pengalaman manusia menjangkau wilayah-wilayah yang amat jauh. Meski sekarang ini orang-orang yang memiliki pengalaman bertemu dengan makhluk luar angkasa sering dianggap terkena gangguan mental atau berhalusinasi, kelak cerita-cerita mereka mungkin dianggap bagian dari sejarah alam semesta serta peradaban bumi.

Baca juga: Requiem bagi Ibu – Cerpen Warih Wisatsana (Kompas, 22 Desember 2019)

Dulu, ia pernah membaca sebuah buku tentang drapetomania, penyakit jiwa yang ditemukan seorang dokter di Amerika. Drapetomania hanya diderita orang-orang kulit hitam yang berkeinginan kuat untuk lepas dari perbudakan. Dokter ini mendukung perbudakan. Seratus tahun kemudian gejala penyakit ini menyebar ke benua-benua lain, bermutasi dan dinamai “nasionalisme”, sejenis penyakit yang diidap orang-orang yang ingin bebas dari penjajahan. Kini drapetomania tidak lagi tercantum dalam buku panduan tentang penyakit jiwa, melainkan topik dalam buku sejarah.

Ayahnya tidak tertarik kepada ilmu jiwa, karena menyukai hal-hal yang kasatmata. Sebelum menjadi penyelamat lumba-lumba, ia bckerja di sebuah lembaga yang mendukung konservasi kota kuno di bawah laut. Ia sempat diperiksa polisi ketika dua ilmuwan menjadi korban sindikat pencuri harta karun, diserang dengan harpun. Beberapa benda purbakala dijarah dari situs itu, termasuk alat musik dari batu yang beresonansi. Setelah proyek tadi berakhir, ayahnya menekuni pekerjaan lain yang juga berisiko tinggi. Ibunya cemas, tetapi tidak melarang. Suatu hari ibu menemukan cara mengurangi ketegangan. Ibu belajar meramal dengan kartu-kartu dan akhirnya membuka praktik kecil-kecilan di rumah.

Lumba-lumba, menurut ayahnya, menyantap hewan-hewan laut beracun sehingga membantu keseimbangan dan kelestarian alam. Sebagian ahli yang kurang tertarik pada teori kera Darwin memperkirakan lumba-lumba adalah mata rantai yang hilang dari asal usul manusia, yang pada masa tertentu merupakan makhluk semiakuatik, sedangkan pasiennya percaya bahwa leluhur manusia berasal dari luar angkasa.

Sebelum hilang, ayahnya menghadiri pertemuan antar-negara yang membahas perlindungan satwa-satwa laut. Pencarian ayahnya juga masih dilakukan sekelompok pencinta mamalia laut.

Baca juga: Hari-hari Terakhir – Cerpen Wisnu Suryaning Adji (Kompas, 15 Desember 2019)

Aparat keamanan setempat tidak serius melanjutkan pencarian dari titik-titik terakhir ayahnya pernah terlihat—di pantai, di pasar, di penginapan, di kedai kopi, dan di hutan, karena atasan mereka mungkin terlibat dalam jaringan operasi itu dan pengendali jaringan adalah sekelompok orang yang dapat memengaruhi kehidupan di sebuah pulau, bahkan di sebuah negeri.

Tidak lama sesudah ayahnya dinyatakan hilang, sebuah kapal patroli berisi para ilmuwan yang menjaga lumba-lumba diserang kapal pemburu lumba-lumba. Dalam waktu berdekatan, seorang wartawan digantung sampai mati dengan ikat pinggangnya sendiri oleh orang-orang bayaran, karena ia menulis tentang perdagangan lumba-lumba. Peristiwa yang paling mengenaskan terjadi bulan lalu, seorang perempuan paruh baya yang tengah berjalan-jalan dengan anjingnya ditembak di pantai. Ia memimpin gerakan yang menentang penangkapan lumba-lumba untuk sirkus sejak usia muda. Situs berita yang didanai kartel menyebutkan lumba-lumba tidak terancam punah dan populasi hewan tersebut cukup besar hingga akhir zaman.

Tahun lalu, ia kembali menyelam di lokasi yang cukup dekat dengan kapal karam, yang pernah dikunjunginya bersama ayahnya. Pemandangan dalam air begitu jernih. Perasaannya campur aduk. Senang menyaksikan kehidupan di air. Sedih mengingat masa silam. Ketika memperoleh sertifikat menyelam, ia berusia 12 tahun. Ayahnya yang bangga berkata, “Kamu terhubung dengan laut, seperti bayi terhubung dengan rahim ibu.” Seperti ia terhubung dengan ayah.

Ia melihat tiga tong besar yang dulu tidak ada di situ. Permukaan tong dilas. Mustahil dibuka. Perlahan-lahan ia berenang naik untuk meninggalkan lokasi penyelaman. Jantungnya berdegup kencang. Tiada sepatah kata pun diucapkannya kepada lelaki yang mengemudikan perahu. Setiba di darat, ia bergegas menemui kepala kampung terdekat. Wajah kepala kampung pucat pasi. Dalam tong itu, katanya, kemungkinan tubuh-tubuh manusia. Di masa tentara pemerintah dan tentara pemberontak saling serang, banyak orang hilang.

Baca juga: Ramin Tak Kunjung Pulang – Cerpen Lina PW (Kompas, 08 Desember 2019)

Apakah ayahnya dimasukkan dalam tong dan dibuang ke laut? Sebuah operasi yang rumit. Ia pernah membaca cerita tentang orang yang diculik dan dimasukkan ke mesin penggiling daging di sebuah pabrik untuk dijadikan kornet. Sejak ayahnya hilang, ia menjauhi kornet.

Penyelaman terakhirnya berlangsung kemarin di laut yang terletak dekat kampung terpencil, di sebuah semenanjung. Massa ikan bersisik perak, bigeye jack, berenang mengitarinya saat ia menembus pusat kolom, membentuk arus seperti sungai besar yang mengalir. Di tempat-tempat lain, ikan jenis ini biasanya berenang menjauh ketika penyelam mendekat.

Para nelayan di kampung ini pernah menangkap ikan terlalu banyak sehingga membuat laut nyaris keliabisan ikan. Mereka kemudian meminta pemerintah melindungi ikan-ikan, menjadikan laut mereka sebagai cagar laut. Ayahnya pernah datang ke kampung ini untuk menyelam di lautnya, jauh sebelum masa ikan-ikan nyaris menghilang lalu berkembang biak lagi. John Steinbeck, seorang penulis Amerika, juga pernah datang bersama teman karibnya, Edward Flanders Ricketts, untuk meneliti dan menulis sebuah buku menarik, The Log from the Sea of Cortez. Dalam buku itu, Steinbeck mengurai sedikit tentang damiana, minuman khas setempat. Malam nanti ia akan mencoba damiana, merayakan kenangannya terhadap ayah.

Besok, ia akan berangkat ke bandara untuk terbang pulang. Namun, ia akan terus menyusuri jejak ayahnya, merasakan suasana ataupun keadaan di tempat-tempat yang pernah atau mungkin dikunjungi lelaki itu, membayangkan pengalaman-pengalamannya, yang mengubah hidup mereka.

 

Linda Christanty, lahir di Bangka, 18 Maret 1970. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Indonesia. Pemenang dua penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2004 dan 2010. Cerpennya, “Daun-daun Kering” menjadi Cerpen Terbaik Kompas tahun 1989. Meraih penghargaan SEA Write Award 2013. Karya-karyanya antara lain Kuda Terbang Mario Pinto (kumpulan cerpen), Militerisme dan Kekerasan di Timor Leste (kumpulan esai).

Maslihar, lahir di Blora, 1 Juni 1975. Kini tinggal dan berkarya di Yogyakarta. Menempuh pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menggelar sedikitnya tiga pameran tunggal, aktif berpartisipasi dalam beragam pameran bersama pada periode 2004- 2018.