Cerpen Uto Amrullah Amir (Fajar, 05 Januari 2020)

Pemburu Rusa Terakhir ilustrasi Fajar-1.jpg
Pemburu Rusa Terakhir ilustrasi Fajar

BERTAHUN-tahun selepas perang terakhir melawan Belanda tahun 1906, baru kali ini perhelatan besar perburuan rusa dilakukan di Tanah Makassar. Para bangsawan dan pembesar Belanda hadir bersama dalam keakraban semu. Tak ada lagi pertempuran di antara mereka. Perburuan rusa di ompo atau wilayah perburuan Borong Loe milik Karaeng Bantaeng akan berlangsung selepas tetamu menikmati sarapan pagi. Langkeang atau panggung penonton untuk para tamu terhormat mulai ramai. Tampak hadir Tuan Besar pemerintah Belanda di Makassar diiringi tuan kontrolir yang bertugas di sekitar Bantaeng. Para Karaeng dan Aru dari darah termurni serta tamu terhormat yang di undang Karaeng Bantaeng mulai menempati tempatnya. Ratusan penonton ramai berkerumun pada tempat yang disediakan. Kereta kuda, sepeda, dan mobil terjejer ditonton oleh anak-anak kecil.

Di hutan seberang panggung, ulambi atau ikatan rumbia membentang sepanjang mata menutupi wilayah perburuan. Hari sebelumnya, sanro atau dukun menyiapkan upacara sebelum perburuan. Meminta berkat penguasa hutan dan izin dewa rusa agar perburuan menghasilkan banyak rusa tangkapan.

Borahima, pengikut Karaeng Lolo menyiapkan kuda tuannya. Kuda bernama Ibosi terkenal di seluruh tanah Gowa dalam hal ketangkasan dan kecepatannya mengejar rusa. Reputasi kuda tersebut membuat kagum dan iri para bangsawan muda dan berkali tawaran harga tinggi disampaikan kepada Karaeng Lolo. Namun, pemiliknya dengan perasaan hormat menampik dengan halus dan menyimpan kebanggaannya untuk dirinya sendiri.

Karaeng Lolo bersama ayahnya Karaeng Towa berjalan mendekati Borahima yang sedang mengelus tubuh Ibosi yang berbulu coklat mencoba menenangkan kuda itu sebelum perburuan. Karaeng Lolo memegang jerat yang telah disiapkan oleh seorang pengikutnya. Ia mengenggamnya dan merasakan sisi terbaik batang jerat tersebut. Ia menyerahkan jerat itu kepada Borahima dan kedua tangannya mendekap bagian kepala kudanya. Menenangkannya dengan bahasa batin sambil memandang mata Ibosi. Setelah merasa mendapatkan keyakinan dari Ibosi, Karaeng Lolo menghampiri Karaeng Towa yang bersedekap memandang sekalian para pemburu rusa yang sedang bersiap di samping kuda mereka.

“Berhati-hatilah engkau kepada dua orang pemburu dekat beringin tua itu. Sedari tadi aku perhatikan mereka memandangmu dengan sorot mata kebencian,” kata Karaeng Towa. Borahima mengiyakan perkataan tuan tuanya. Karaeng Towa dan Borahima hampir seumuran menjelang separuh abad merasa khawatir dengan keselamatan Karaeng Lolo. Terkadang pangeran muda ini bertin dak ceroboh karena kebanggaan diri yang terlalu tinggi khas anak muda bangsawan. Sehingga lalai menghiraukan rasa dengki para bangsawan lainnya.

Pesta perburuan rusa ajang paling terhormat para pemburu menampilkan kehebatan dan ketangkasan mereka sebagai laki-laki. Mereka memamerkan ketangkasan mereka menjerat rusa di depan panggung utama. Pemenangnya mendapatkan hadiah besar walau sebenarnya mereka lebih memburu rasa hormat dan kagum di antara para pemburu dan penonton. Keharuman nama adalah hadiah sesungguhnya diperebutkan dalam perburuan rusa.

“Iya, Karaeng… itu Daeng Sila, anak haram Karaeng Tompo. Ibunya perempuan kampung. Bajingan itu pelindung perampok. Satunya lagi seorang aru Bugis yang diusir dari negerinya dan tinggal di keluarga ibunya di selatan. Mereka cocok dalam semua hal buruk,” kata Karaeng Lolo tak gentar sambil memperbaiki letak ikat kepalanya. Matanya menatap tajam ke arah kedua pemburu muda di seberang. Kedua pemburu itu memalingkan wajahnya. Mereka mungkin menaruh rasa dengki kepada Karaeng Lolo namun menantang terbuka pangeran berdarah murni hanya membawa celaka bagi nasibnya yang berdarah sebelah saja. Anak Karaeng berdarah sebelah selalu iri dengan keistimewaan pangeran berdarah murni. Karaeng Lolo  mengenal Daeng Sila di awal masa mudanya. Bersama menikmati tuak dan perempuan kampung. Setelah Daeng Sila mulai melakukan perampokan dan pencurian, Karaeng Lolo memutuskan pertemanan.

Sanro memberi tanda perburuan segera dilaksanakan, anjing pemburu mulai di lepas, bunyibunyian mulai ditaluh, ditingkahi teriakan para pengikut membuat panik rusa-rusa yang tak mampu melewati ulambi. Mereka digiring ke arah tanah lapang di hadapan panggung utama. Kuda berlompatan membawa para pemburu. Mata tertuju kepada rusa buruan berloncatan ke sana kemari. Pemburu waspada menghindari tubrukan antar penunggang.

Daeng Sila mengiring seekor rusa jantan menuju panggung utama. Tiba-tiba seperti angin kencang seekor kuda coklat ditunggangi Karaeng Lolo memotong laju kudanya. Merebut rusa buruannya tepat di depan panggung dan menjatuhkannya dengan ketangkasan luar biasa di hadapan Tuan Besar Belanda dan segenap bangsawan tinggi. Seketika penonton bersorak riuh mengelu-elu nama Karaeng Lolo. Daeng Sila membanting kain penutup kepalanya dengan rasa kesal luar biasa. Harga dirinya terhempas, wajahnya memerah dan napasnya memburu menahan marah. Setelah pulih ia bergegas berkuda menuju Aru sahabatnya.

Beberapa penunggang berhasil menjatuhkan rusa buruannya namun belum ada lagi yang menjatuhkan buruannya di depan panggung. Hingga beberapa saat kemudian Karaeng Lolo mengiring seekor rusa ke arah panggung diiringi salakan riuh anjing pemburu. Kudanya berlari sangat kencang dan tangkas mengalahkan rusa tergesit di padang tersebut. Ujung jerat mendekati kepala rusa ketika sekonyong-konyong dua penunggang kuda menjepit arah laluannya sehingga tabrakan tak terhindarkankan. Bunyi kepala manusia beradu keras membuat para penonton terkesiap ngeri menyaksikan kejadian tersebut. Suasana semula riuh mendadak hening sejenak menyaksikan dua penunggang terlempar ke tanah dan kemudian terkulai. Kuda bertabrakan meringkik dan kemudian berlari meninggalkan tuannya.

Para pengikut tercekat menyaksikan kejadian itu dan kemudian menyadari tuan mereka, Karaeng Lolo dan si Aru terkapar tak bergerak di tanah. Darah mengucur di hidung dan telinga. Daeng Sila terlempar dari kudanya namun tidak mengalami cedera sedikitpun. Para pengikut mengangkut tuannya masing-masing. Perburuan tetap berlangsung hingga tengah hari.

Keesokan harinya, tersiar kabar bahwa nyawa Aru sahabat Daeng Sila tidak terselamatkan akibat kejadian itu. Karaeng Lolo di bawa ke rumah sakit di Makassar, cederanya cukup parah namun masih tertolong. Sedangkan Daeng Sila, hanya menikmati sehari dendamnya karena selepas petang sepulang melayat dari rumah keluarga Aru, ia di hadang oleh Borahima dan beberapa pengikut Karaeng Towa. Ia mati dengan belasan tikaman di tubuhnya. (*)

 

Uto Amrullah Amir. Penulis tinggal di Makassar. Dosen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Menulis buku “Pedagang Melayu di Sulawesi Selatan: Identiti dan Kuasa”