Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam ilustrasi Suara Merdeka (1)
Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam ilustrasi Suara Merdeka 

Mayat Dulahmat dimandikan di atas lincak depan rumahnya. Tetesan air yang jatuh dari tubuh Dulahmat menimpa tubuh kucing. Tubuh  Dulahmat terus diguyur air dan seekor kucing hitam di bawah lincak kuyup sambil berbunyi aneh.

“;p’’’’oiiiiii….”

Setelah mayat Dulahmat dikafani, bunyi kucing itu makin terdengar aneh: makin nyaring, makin pilu, serasa ganjil di telinga.

“;p’’’’oiiiiii….”

Dibungkus kafan, tubuh Dulahmat dibaringkan di atas tikar pandan. Seekor kucing hitam duduk dekat kepalanya. Mata kucing itu sendu, dari mulutnya keluar bunyi aneh. Para pelayat mulai merasa janggal.

Saat mayat Dulahmat dibawa ke pemakaman, kucing hitam itu membuntuti di belakang keranda sambil tak henti-henti bersuara. Ia terus mengamati tubuh Dulahmat yang dikubur. Dan saat pelayat pulang, kucing  itu duduk di dekat gundukan tanah kuburan Dulahmat. Sontak, kucing hitam itu menjadi buah bibir masyarakat kampung. Mereka mengaitngaitkan keberadaan kucing itu dengan kehidupan Dulahmat.

***

Orang-orang kampung Malangare memang biasa melihat kucing di rumah Dulahmat. Di samping karena rumah Dulahmat dekat hutan, juga ia memang sangat menyukai kucing. Jadi masyarakat tidaklah merasa aneh bila melihat banyak kucing di rumah Dulahmat. Namun setelah kematiannya, yang ada banyak bekas cakar kucing di tubuhnya, membuat orang-orang menaruh curiga terhadap kucing di rumah Dulahmat.

Selama hidupnya memang hampir tiap hari orang-orang melihat Dulahmat duduk di depan rumah ditemani banyak kucing. Ada sekitar tiga puluh kucing yang berada di rumah Dulahmat. Dan setelah ia mati, ketiga puluh kucing yang pernah dilihat masyarakat Malangare menghilang. Hanya tinggal satu kucing, yang itu tidak pernah dilihat sebelumnya.

Kehidupan Dulahmat memang sangat misterius. Tidak banyak orang yang tahu tentang kesehariannya. Ia sangat jarang keluar rumah. Jika pun keluar, ia sering keluar malam hari, baik untuk beli makan maupun keperluan lain.

Dulahmat sangat jarang bergaul dengan orang. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan kucing di pekarangan belakang rumahnya. Jika tidak, ia jalan-jalan di dalam hutan ditemani kucing-kucingnya. Nyaris tiap hari masyarakat Kampung Malengare melihat Dulahmat bersama kucing peliharaannya.

Di rumah bambu, dekat  Gunung Sumbalu, Dulahmat hidup sebatang kara. Sejak ditinggal mati oleh ibunya, Nyi Jumenten, Dulahmat hanya hidup dengan seekor kucing. Kucing itu ia dapatkan dari hutan saat ikut Nyi Jumenten mengambil ranting pohon di hutan Sumbalu.

Sejak memelihara kucing, hidup Dulahmat berubah. Ia jarang keluar rumah. Jika keluar, ia terlihat murung dan tak pernah sekali pun tertawa. Padahal semasa kecil Dulahmat suka bermain, tertawa, dan bergaul dengan masyarakat Kampung Malangare. Namun satu tahun setelah ia memelihara kucing, tepatnya saat berusia sepuluh tahun, Dulahmat menjadi pendiam.

Perubahan itu makin terasa setalah kematian Nyi Juminten. Masyarakat Malengare tak pernah sekali pun melihat Dulahmat ke luar rumah. Ia hanya duduk-duduk di teras rumah di temani kucing peliharaan.

Awalnya masyarakat Kampung Malengare hanya melihat satu kucing yang sering menemani Dulahmat. Kucing itu dipelihara semasa Nyi Juminten hidup. Warnanya putih keabuabuan. Tepat di perut samping kanan terdapat bulu hitam bundar. Sorot matanya yang teduh dan suaranya yang lembut membuat masyarakat Kampung Malangare paham, kucing peliharaan Dulahmat betina.

Makin hari kucing peliharaan Dulahmat bertambah. Hampir tiap minggu, saat Dulahmat duduk di teras rumahnya, masyarakat Kampung Malangare melihat kucing peliharannya bertambah.

Saat kucing peliharaan Dulahmat berjumlah tiga puluh, masyarakat Kampung Malangare tak pernah lagi melihatnya duduk di teras rumah. Tak ada yang merasa tergugah untuk menyelidiki keberadaannya. Mereka menganggap Dulahmat sedang berdiam dalam kamar.

Satu minggu setelah masyarakat tidak melihat Dulahmat, tersebar bau bangkai dari dalam rumahnya. Masyarakat Kampung Malangare menduga bau itu berasal kotoran kucing atau jika tidak bangkai kucing. Namun makin hari, bau bangkai itu kian menyengat. Setelah dua minggu tercium bauh bangkai dari rumah Dulahmat, terdengar suara kucing sangat aneh.

“;p’’’’oiiiiii….”

Bunyi kucing itu sangat mengganggu masyarakat Kampung Malangare. Mereka tak bisa nyenyak tidur dan tak bisa fokus bekerja. Masyarakat Kampung Malengare pun berbondong-bondong mendatangai rumah Dulahmat, bermaksud menghentikan bunyi kucing itu.

Di depan pintu rumah Dulahmat, masyarakat Kampung Malengare disambut seekor kucing hitam yang duduk tepat di tengah pintu. Di matanya yang sendu tertampung air mata, berkacakaca. Masyarakat Kampung Malengare ragu untuk masuk. Mereka terhalang kucing hitam yang murung dengan raut wajah siap menerkam.

Lama mereka  menunggu kucing itu bergeser ke sisi kanan pintu. Saat kucing itu bergeser ke sisi kanan pintu, cepat mereka masuk. Di dalam rumah, mereka melihat mayat Dulahmat dengan tubuh tercabik-cabik cakaran kucing. Serentak mereka menatap kucing hitam yang berada di sisi pintu.

***

Satu minggu setelah  pemakaman Dulahmat, terdengar suara kucing itu kembali.

“;p’’’’oiiiiii….”

Bunyinya pilu, mengiris hati, membuat masyarakat Kampung Malengare tak nyenyak tidur, tak fokus bekerja. Berbagai cara telah mereka coba untuk menghentikan kucing itu bersuara. Tak ada hasil. Makin mereka mencoba menghentikan kucing itu berbunyi, kian pilu bunyinya.

“Apakah kucing itu menyesal telah membunuh Dulahmat?”

“Atau jangan-jangan kucing itu ibu kucingkucing peliharan Dulahmat yang marah karena anaknya diambil?”

Bunyi kucing yang memilukan, kesedihan, dan kasak-kusuk tentang kematian Dulahmat terus merundung keseharian masyarakat Malangare. (28)

 

Pincuk, Yogyakarta, 2019

Khairul Fatah, lahir di Sumenep, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan tinggal di PPM Hasyim Asyiari Yogyakarta. Aktif di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Kelas Menulis Cerpen Kutub (KMCK). Cerpennya pernah dimuat berbagai media.