Cerpen Thadeus Edison Putra (Pos Kupang, 05 Januari 2020)

Garis Takdir ilustrasi Istimewa
Garis Takdir ilustrasi Istimewa

Dino terlihat sedih siang itu. Sesekali ia melihat kaki kanannya yang sudah diamputasi. Sehari-hari hidup dalam kesendirian membuat Dino terkadang  gusar dengan keadaan yang dialaminya kini.

Sungguh diluar dugaannya ia harus menerima kenyataan pahit yang mesti dipikulnya. Sesekali ia teringat kejadian yang menimpanya kala itu. Matanya tak sadar menetes air mata tatkala melihat sebuah foto yang dipajang di dinding rumahnya. Terlihat ia bersama ibunya mengumbar senyum bahagia waktu itu meski harus rela menerima situasi tanpa hadirnya sosok ayah yang sudah pergi dengan istri keduanya setelah menjual tanah warisan leluhur dan meninggalkan beban utang yang lumayan banyak.

Tampak dibawah foto itu tertulis nama beserta gelar yang telah disandanginya. Dino masih ingat bagaimana keluarga besarnya hadir bersama siang itu untuk mensyukuri ijazah sarjananya sekaligus sebagai wujud perutusan agar melangkah di dunia kerja.

Kepok. Ai woko too olo anak koe ghoo olo agu lalong bakok. Kolen kali agu rombeng. Ai ghoo ele ghami kepok agu meu ata besena rama tei salan gerak latang le kawe kerja ana koe ghoo.”

Terdengar tetua adat, mengucapkan kepok sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan Dino dalam merantau dan meminta petunjuk leluhur agar memimbing dalam karya selanjutnya, khususnya dalam mendapatkan pekerjaan.

“Dino sudah membawa berkat baru bagi mama dan keluarganya. Untuk itu kami minta agar setelah ini coba hantar itu lamaran ke kantor- kantor. Neka danga oto see beo (Jangan tinggal lama di kampung)”, pesan bapa tuanya.

Malam meninggalkan harapan besar bagi Dino. Kehadiran keluarganya waktu itu membuat dia semakin bersemangat menulis pada beberapa  helai kertas yang baru didapatkan dengan mengutang dari kios om Moses.

Maklum musim panas begini perputaran uang sangat sulit di kampung. Tanaman bumi tak lagi memberikan hasil apa-apa untuk kebutuhan hidup sehari-hari ditambah dengan keperluan adat, kumpul dana sekolah, serta urusan perkawinan yang bertumpuk.

Belum satu urusan satu datang lagi orang yang undang untuk sama-sama ambil bagian dalam acara tersebut yang ujung- ujungnya menguras isi dompet.

Sebagai keluarga yang kurang mampu tentu Dino sangat prihatin dengan situasi ini apalagi ibunya yang adalah penafkah tunggal dalam keluarga. Pernah suatu kali ia meminta restu ibunya untuk merantau tapi tidak mendapatkan restu sebab kesehatan ibunya yang semakin memburuk.

Neka too deu-deu anak e. Kawe kao see  ruis ghoo kaut. Aku mbae rewa ga. Eme beti sepisan mbadung ata jaga (Jangan pergi menjauh, Nak. Cari kerja di dekat sini saja. Saya tidak kuat lagi. Nanti kalau saya sakit tidak ada yang jaga saya).”

Pesan ibunya terus membuntuti pikirannya tatkala tangannya bergerak bersama pena di atas kertas di atas meja tuanya itu. Tak terhitung lagi beberapa kertas yang sudah dicoretnya. Tangannya kaku memegang pulpen semenjak tamat beberapa bulan lalu. Hidup di kampung dengan beraktivitas di sawah dan ladang membuat dia tak terbiasa lagi untuk menulis sebagaimana yang dilakukan sewaktu menjadi mahasiswa. Mulai dari menulis opini, puisi, esai dan dia kirim ke beberapa media cetak atau online  yang tersebar menjamur di provinsinya meskipun yang dilakukan hanya sekedar menyalurkan hobi. Selebihnya, macam honor tulisan begitu tak pernah diterimanya. Justru yang ada hanya situasi tidak enak. Etika mengharga tulisan karya orang lain rupanya kurang begitu peka di daerahnya.

Sudah setengah mati peras ide namun ganjarannya setengah mau mati biar sekedar beli susu sachet satu bungkus sudah bisa pulihkan pikiran. Namun hasilnya nihil.  Terima tulisan, dicetak lalu pergi tanpa permisi. Ah sudah lagu lama itu.

Malam semakin larut,  Dino masih terjaga walaupun dengan mata yang sedikit berat, semakin lama mulai beberapa kali menguap dengan mata yang sudah sedikit sepat. Beberapa kali dirinya melihat kertas yang dipegangnya itu.

“Sudah pas. Tak ada salah lagi,” batinnya.Menjelang pagi.  Ayam berkokok bersahutan. Dino terjaga dari tidurnya. Diawali dengan doa syukur pagi. Ia langsung menuju dapur tuk mencicipi kopi. Dingin yang mencekam tubuh akhirnya hilang juga. Aroma kopi khas tumbukan mamamya itu membuat kepercayaan dirinya bertambah untuk melangkah pada urusan melamar pekerjaannya di instansi di kabupatennya.

Kekesalan merundunginya kala itu ketika kantor yang dia datangi tak mampu menerima lamaran baru. Alasannya karyawan sudah pas, sudah sesuai dengan kebutuhan. Hatinya hancur ditambah  rasa lapar terus mengganjal sementara uang di dompetnya sudah pas membayar ongkos pulang.

Ketika dia hendak melangkah pergi dari kantor tersebut datanglah seseorang mendekatinya.

“Dino ya?, tanya orang itu.

“Ia, Bro,” jawab Dino. Rupanya orang itu adalah Pantor. Temannya waktu masa berseragam abu-abu.

“Kerja di sini ko, Bro,” tanya Dino sambil menerima sebatang Marlboro yang ditawarkan Pantor.

“Itu sudah, Bro. Daripada duduk-duduk kosong e,” jawab Pantor.

“Tamat dimana baru-baru kuliahnya teman,” tanya Dino.

“Aduh teman. Saya hanya tamat SMA saja,” jawab Pantor. “Untuk kerja di sini tak usah pontang panting kejar ijazah sarjana. Cukup ijazah SMA atau SD atau ijazah paket sekalipun, kau akan selamat intinya ada orang dalam. Saya dulu selesai tamat langsung datang langsung ke saya punya om dengan membawa bir dan ayam. Satu minggu kemudian saya langsung kerja tanpa ada wawancara atau seleksi atau persyaratan lain yang bikin pusing kepala itu,” terang Dino.

Seketika mulutnya Dino tak mampu berbicara lagi. Pikirannya kacau dengan  situasi yang dihadapinya. Sudah berkuliah cape-cape dengan biaya yang agak lumayan mahal tapi hasil akhirnya dikalahkan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan orang dalam.

“Baik sudah e, Bro. Saya ke kantin dulu,” kata Pantor.

“Ia, bro,” jawab Dino sambil melihat Pantor bersama beberapa  teman-teman  SMA-nya dulu mendekati sebuah kantin di dekat area perkantoran di situ.

Memang untuk bekerja di kantor saat ini bukanlah pilihan yang tepat. Lulusan kampus harus bisa berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja sendiri.

Kenangnya mengingat pesan dari rektor ketika hari wisuda kala itu. Tapi, untuk membuat hal tersebut Dino membutuhkan modal usaha terlebih dahulu. Pilihan bekerja di kantor waktu itu memang sudah menjadi targetnya dalam menabung untuk membuka usahanya.

Namun, angannya tak kesampaian. Melamar kerja di daerahnya tanpa adanya orang dalam adalah pekerjaan sia-sia bagaikan pungguk merindukan bulan.

Hari-hari berikutnya Dino sudah mulai bersemangat kembali. Ajakan dari bapak Mateus untuk memetik cengkeh semenjak sehari dia pulang dari kantor yang menjengkelkan itu mulai merubah haluan hidupnya.

Mengumpukan modal kecil-kecilan dengan memetik cengkeh milik bapak Mateus. Kebetulan bapak Mateus adalah orang yang memiliki tanaman cengkeh terbanyak di kampungnya dengan luas lahan satu hektar lebih. Tak heran dia dijuluki Bocek “Bos Cengkeh” oleh orang-orang di sekitarnya.

Pada hari pertama Dino dapat melakukan pekerjaanya dengan baik. Hari kedua berjalan dengan baik pula. Namun, nasib sial mendatangi dirinya. Tangga naik yang dibuat dari bambu itu terlepas dari tali yang sudah diikat di pohon cengkeh dan seketika  Dino hilang keseimbangan dan jatuh dari pohon yang tinggi kurang lebih mencapai tujuh meter.

Sesampai di tanah Dino tak sadarkan diri. Segera dia dilarikan ke rumah sakit di ibukota kabupatennya. Sesampai di sana Dino belum sempat sadarkan diri dan sampai keesokan harinya Dino baru bisa membuka matanya. Kaki kanannya tak bisa digerakannya sama sekali dan hasil pemeriksaan dokter bahwa Dino mengalami patah tulang sehingga satu-satunya jalan yang terbaik buat dia adalah harus diamputasi kakinya.

Dino tak kuasa menahan tangisnya mengenang semuanya kejadiannya setahun yang lalu. Hampir seharian dia duduk terdiam dengan kursi rodanya itu setelah dua yang hari lalu dia dan dua pesaing lainnya yang lolos nilai ambang batas  pada tahap pertama pada formasi yang ditujunya yang hanya membutuhkan satu orang.

Hatinya belum merdeka sebab dua hari lagi masih ada satu ujian seleksi yang harus diikutinya. Kekwahtiran bertambah ketika mendengar dua pesaingnya ini adalah tenaga honor di kantor yang menolaknya kala itu mengingat secara pengalaman mereka lebih baik.

Di saat dia merenungi semuanya itu tiba-tiba hpnya berdering nada pesan masuk.

“Selamat, Anda otomatis diterima sebagai Aparatur Sipil Negara pada formasi yang Anda tujukan saat pendaftaran sebab terlibat dalam tindakan nepotisme.”

Hatinya seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia berpikir jangan sampai di sedang bermimpi namun setelah dia cek kembali handphonenya bahwa betul dirinya tak sedang bermimpi.

Dino tersenyum bahagia dan air mata bahagianya  jatuh tatkala  melihat ibunya yang sudah menua  pulang menggarap kebun tetangganya.

“Sudahlah, ibu tak perlu repot-repot sekarang. Semua kepahitan akan dirasakan manisnya. Tak ada jalan mudah untuk mencapai kemerdekaan di mana pun. Banyak dari kita berkali-kali harus melewati lembah dengan bayangan kematian sebelum mencapai puncak cita-cita kita itu. Dan cita-cita itu kita rasakan kini,” kata Anton sambil memeluk ibunya.

Semua sudah berubah kini. Garis takdir telah merubah Dino yang dulu dari seorang pengangguran menjadi orang penting di kantor barunya kini.

Siang itu, dia mengambil penanya dan menulis di buku diarinya: Ikuti alurnya, nikmati prosesnya. Tuhan tahu kapan kita bahagia.

 

Edison Putra. Lelaki yang menikahi sepi. Masih aktif pengangguran dan setia menunggu kartu Pra Kerja. Aktif berceloteh di atas kertas usang dengan pena yang tintanya hampir habis. Beberapa karyanya telah terbit media online dan media cetak.