Oleh Azhari Aiyub (Serambi Indonesia, 05 Januari 2020)

 

DI  penghujung tahun lalu Yayasan Aceh Documentary menyelenggarakan Malam Anugerah Film Dokumenter Aceh Ketujuh di bekas Bioskop Garuda Banda Aceh, kegiatan yang telah berlangsung sejak 2012, menjadikan Banda Aceh—sebuah kota tanpa bioskop komersial—sedikit dari kota di Indonesia yang mempunyai tradisi anugerah dan festival film. Pengunjung disambut karpet merah dan anugerah diberikan untuk kategori Aceh Documentary Competition (ADC) dan Aceh Documentary Junior (ADJ).

Pemenang terbaik kategori ADJ 2019 diberikan untuk Rintih di Tanah Pilu karya Fitra Rizkika dan Rahma Wardani. Film ini menggambarkan dilema pembuatan Jalan Tol Sumatera yang memapas sejumlah kecamatan di Aceh Besar. Pembangunan tol tersebut selain masih terkendala dengan ganti rugi, juga dianggap menghilangkan pekerjaan penduduk setempat yang rata-rata petani. Kategori ADC dimenangkan Minor. Film yang disutradarai Vena Besta Klaudina dan Takziyatun Nufus itu, menceritakan tentang kehidupan pemeluk agama minoritas di Aceh. Gagasan tentang film ini tidak umum, sebuah keberanian memasuki tema sensitif dan melihat masalah dalam diri kita sendiri dengan jernih.

Namun, bukan karena gagasan tersebut Minor unggul dibandingkan film-film lain. Film ini memikat karena pilihan bentuknya yang bertutur tentang diri sendiri, mengikuti kehidupan sehari-hari karakternya, menempel dari dekat sekali, membuat penonton bisa mendengar dan merasakan isi hati sebuah keluarga pemeluk agama Kristiani di Serambi Mekah. Minor juga membawa kabar gembira dari gelanggang Festival Film Indonesia 2019, diunggulkan untuk kategori film dokumenter terbaik.

Melengkapi daftar ini, pada 2019 dua sineas Aceh meluncurkan dua film fiksi. Meutia sutradara Beni Arona dan Ajari Aku Aceh sutradara Davi Abdullah. Tahun ini, pencapaian yang paling mengesankan harus diberikan kepada Aceh Menonton, sebuah kelompok yang memprakarsai dua alternatif: menancapkan layar alternatif untuk menonton film-film alternatif. Sejak Agustus 2018 Aceh Menonton bergerilya membentangkan layar di tempat-tempat tertentu, seperti cafe dan kedai kopi, menawarkan pengalaman menonton film-film yang tidak biasa kepada publik di Aceh. Sepanjang 2019 mereka telah memutar lebih kurang 65 film, sebagian besar nomine atau pemenang festival film internasional, datang dari berbagai penjuru dan bahasa, film-film yang tidak akan kautemukan di layar bioskop komersial di Medan atau Jakarta!

Untuk seterusnya dalam tulisan ini, sekaligus mewakili pendapat pribadi, saya hanya akan menyorot gambaran umum tentang film-film yang menjadi nomine pada Anugerah Film Dokumenter Aceh Ketujuh—sebagai salah seorang penilai untuk anugerah tersebut bersama Adi Warsidi dan Arabiyani Abubakar.

Sejak awal 2019, Yayasan Aceh Documentary menjaring proposal dari peserta, umumnya pelajar dan mahasiswa, untuk mendapatkan ide-ide cemerlang untuk film yang akan mereka produksi. Untuk kategori ADC mereka menerima 23 proposal dan terpilih dua nomine. Adapun untuk kategori ADJ terjaring 44 proposal dan terpilih 3 nomine. Penurunan jumlah film yang diproduksi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menyiratkan adanya peningkatan standar penilaian. Yayasan Aceh Documentary boleh jadi menginginkan film-film dokumenter yang berkualitas.

Dari tahu ke tahun, secara umum tema film Aceh Documentary masih belum banyak berubah, berkutat pada setidaknya dua tema utama. Pertama, kuatnya kecenderungan untuk mempreservasi tradisi nenek moyang yang terancam punah. Para sineas, misalnya, mencari seni atau permainan tradisional yang oleh satu dan lain hal telah lama ditinggalkan masyarakat, menggalinya melalui ingatan kolektif.  Mereka sesungguhnya melakukan kerja pengarsipan digital, yang selama bertahun-tahun tugas ini jarang dilakukan oleh instansi resmi.

Salah satu film dengan basis ide seperti ini, Ale Bak Jok sutradara Ika Kausari dan Refianda Al-Kausari. Ale Bak Jok berangkat dari ingatan masa lalu para petani di Lembah Seulawah, Aceh Besar,  yang menumbuk antan pohon enau pada lesung untuk menciptakan efek suara tertentu pada masa-masa genting, misalnya ketika petani berhadapan dengan hama tanaman, kelaparan dan gagal panen, meneladani anjuran seorang ulama keramat yang kuburannya berada di kemukiman tersebut. Tradisi menumbuk itu sudah lama ditinggalkan penduduk, konon terakhir dimainkan pada masa pendudukan Jepang. Setelah dua generasi, suara-suara yang bisa membuat takut hama dan iblis barangkali sudah tergantikan oleh pestisida atau program swasembada pangan pada masa Orde Baru. Sementara kuburan sang ulama keramat terbengkalai, diselimuti semak belukar, tidak ada lagi yang menziarahi dan meletakkan sesajen, kemungkinan akibat keberhasilan program Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh memerangi bidaah dan kurafat.

Demi menyambung mata rantai yang hilang, film ini mewawancarai seorang nenek dalam keadaan terbaring di tempat tidur, yang dengan terbata-bata menjelaskan bagaimana dulunya—ketika dia masih remaja—memainkan ale bak jok. Si nenek telah berusaha, tapi malangnya dia tidak punya tenaga untuk mengeluarkan suara dan pengetahuannya. Dia cuma mengatakan bahwa ada syarat untuk memainkan ale bak jok, dan kondisi yang sakit dan lemah telah menghalangi kita untuk tahu lebih lanjut apa syarat tersebut. Dia tahu, dia sumber pengetahuan masyarakat, tapi dia tidak punya cukup lagi suara untuk menyampaikannya. Dan apa risiko memainkan ale bak jok kalau tidak cukup syarat? Kerasukan! Generasi sekarang, diwakili oleh sebuah sanggar kesenian, tidak bisa lagi memainkan permainan ini tanpa dibayang-bayangi ketakutan akan kerasukan karena mereka tidak tahu lagi syarat-syaratnya.

Kedua, dominannya tema tentang kehancuran ekologi dalam film dokumenter Aceh. Dalam dua dekade terakhir, kehancuran lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam dalam skala kecil maupun besar terjadi di mana-mana, menyumbang terhadap bencana alam tahunan. Konsistennya tema ini setiap tahun dalam film dokumenter kita, seperti alarm peringatan bahaya kepada siapa pun. Kesadaran terhadap ancaman ini memberi petunjuk, bahwa publik sebenarnya khawatir oleh dampak kerusakan lingkungan yang sedang berlangsung di berbagai penjuru.

Pandangan Umum

Film-film dokumenter yang menjadi nomine dalam festival ini, menangkap kedua tema tersebut dengan jeli. Medium film dipilih dan digunakan untuk membuat pernyataan atas sejumlah masalah yang sedang dihadapi masyarakat. Rata-rata masalah yang disampaikan adalah masalah publik; masalah semua orang. Basis gagasan seperti ini menunjukkan kepedulian besar sineas Aceh terhadap isu-isu sosial dan politik.

Namun demikian, kecenderungan ini bukannya tanpa risiko. Pada akhirnya, tema menjadi segala-segalanya, sineas berusaha menangkap gambar besar, menunjukkan masalah secara bertubi-tubi, tapi pada saat yang sama kehilangan detail. Salah satu detail penting yang paling sering disia-siakan adalah karakter. Hal ini terlihat jelas dalam bagaimana sutradara memperlakukan karakter. Karakter mendapat kesempatan disorot kamera karena dia dianggap mewakili masalah. Tapi masalahnya, masalah tersebut adalah masalah si pembuat film, bukannya ancaman langsung yang sedang dihadapi oleh karakter.

Saya ingin mengatakan, karakter untuk film dokumenter tidak sama dengan  narasumber dalam disiplin jurnalisme, yang diperlukan sebagai syarat untuk menyatakan bahwa sebuah peristiwa benar-benar terjadi, selain kewajiban memenuhi aspek keberimbangan suatu pemberitaan apabila sebuah peristiwa berakibat pada munculnya lebih dari satu sudut pandang. Untuk dua tujuan ini, kau mungkin bisa menemukan seratus narasumber, sekaligus (jika memungkinkan) bisa membuat mereka bertengkar satu sama lain. Tapi untuk sebuah film dokumenter, syarat di atas belumlah dianggap memadai.

Dalam film dokumenter karakter haruslah subyek pilihan, sosok yang harus diyakini berkali-kali kenapa dia layak terlibat dalam film. Dalam sebuah film dokumenter, karakter adalah individu yang kompleks, yang mempunyai latar belakang dan kehidupan sehari-hari yang (mungkin) menarik dan pelik. Bahkan kalau belum ada, seorang sutradara biasanya menunggu! Faktor ini kadangkala yang membuat sebuah film dokumenter dikerjakan dalam rentang waktu belasan hingga puluhan tahun. Untuk kepentingan ini, karakter biasanya mewakili masalahnya sendiri. Melalui prinsip ini pula, karakter membawa kita kepada tema, dan bukan sebaliknya: mencocokkan setiap karakter dengan tema tertentu. Karakter membawa kita kepada sudut pandang, dan bukan sebaliknya, mewakili sudut pandang si pembuat film. Singkat kata, karakter mempunyai sudut pandangnya sendiri, cara melihat dunianya sendiri, sekaligus cara mengatasi masalahnya sendiri. Hanya melalui pengalaman si karakter penonton bisa melihat ancaman (Adi Rukun, The Look of Silence); kepunahan dan harapan (Sebastiao Salgado, The Salt of the Earth); keangkuhan (Timothy Treadwell, Grizzly Man); kegetiran hidup (Saiful, Abrakadabra); bangkrut tapi bermatabat (Big Edie dan Little Edie, Grey Gardens); kebisuan (Darvish Khan, The Garden of Stones); kebuasan (Anwar Congo, The Act of Killing); juga perasaan bersalah (Ari Folman, Waltz with Bashir)

Kecuali pada film Minor, saya tidak menemukan karakter yang mewakili masalahnya sendiri pada Film Dokumenter Aceh Ketujuh. Jarang sekali kamera diarahkan untuk melihat secara tuntas bagaimana karakter bergulat menghadapi masalah, mempertaruhkan dan menguras seluruh emosinya untuk itu. Secara umum karakter masih ditempatkan untuk mewakili pendapat si pembuat film terhadap masalah.

Sebagai sebuah film dokumenter, ‘riset’ sepertinya menjadi semacam keniscayaan, yang oleh Yayasan Aceh Documentary dijadikan sebagai salah satu elemen penilaian. Riset membawa sineas kepada informasi: masalah, latar belakang, dan karakter. Tapi apa yang absen adalah bagaimana mengatur setiap informasi tersebut dengan rapi, terukur, serta menempatkan setiap anasir pendukung di atas secara proporsional. Kata lain untuk itu: komposisi. Komposisi adalah basis dari sebuah penciptaan karya seni, sekaligus membedakannya dengan bentuk-bentuk yang lain dalam menyampaikan pendapat. Sebagai wahana untuk menyampaikan pendapat, karya seni, seperti halnya film, sudah ada sejak lama dan terus dikerjakan, dengan tema dan premis yang mungkin itu-itu saja, tapi apa yang membuatnya tetap saja menarik dan tidak membosankan adalah obsesi sang pencipta terhadap komposisi.

Komposisi biasanya disusun dengan sadar, perpaduan antara teknik dan intelejensia. Dalam film, komposisi akan sangat tergantung pada kemampuan mengorganisasi gambar, menyaring momentum tertentu, yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana sebuah film dituturkan. Menuturkan adalah prinsip bagaimana menceritakan sesuatu, bukan pada apa yang diceritakan.

Saya melihat, komposisi masih menjadi masalah utama film-film dokumenter kita. Hampir belum ada kesadaran untuk mengatur setiap informasi yang sudah didapatkan melalui riset yang melelahkan. Tidak ada pertimbangan dan saringan terhadap momentum yang telah ditangkap oleh cahaya.

Komposisi masih diatur berdasarkan gambar-gambar yang megah, editan yang indah, atau yang teknik pengambilan gambarnya dianggap sulit. Belum terlihat upaya untuk mengatur gambar berdasarkan pengedeganan, dengan sepenuhnya menyadari mengapa sebuah scene layak ditempatkan di awal, tengah, dan akhir. Misalnya, rata-rata film membocorkan semua informasi dalam satu waktu sekaligus, tidak ada upaya untuk menyicil informasi tersebut satu demi satu. Untuk mengatur ini, tentu saja dibutuhkan sebuah rencana yang logis dan terukur. Kata lain untuk rencana ini adalah skenario, script, naskah! Tugas kamera adalah memvisualisasikan setiap rencana tersebut! Mengeksekusinya!

Masalah umum berikutnya, berhubungan dengan sudut pandang. Kamera cenderung diarahkan hanya kepada satu subjek utama. Kamera tidak bergerak secara paralel, di mana masing-masing subjek harusnya disorot  sesuai dengan fungsinya dalam adegan. Bagi yang bukan subjek utama, umumnya harus menunggu bertemu dengan subjek utama agar bisa mendapat kesempatan disorot kamera. Konsekuensinya kita tidak tahu apa yang terjadi dengan subjek yang lain, kalau subjek tersebut tidak mengatakannya kepada, atau berurusan dengan, subjek utama. Kamera terpusat pada subjek utama, sehingga tidak ada persimpangan atau cabang dalam alur cerita.

Dua kata kunci untuk membereskan semua elemen teknis di atas adalah penguasaan atas cahaya dan cerita sekaligus. Tidak bisa hanya salah satu. Film (seni gambar bergerak) memanfaatkan teknologi untuk memaksimalkan apa yang disebut pecahayaan sinematik, terutama dalam mengatur dramaturgi, kedalaman, dan suasana. Kemampuan sineas Aceh dalam berekperimen dengan cahaya bisa dikatakan di atas rata-rata. Akan tetapi, tantangan utama film-film kita, baik fiksi maupun dokumenter, adalah cerita. Pada akhirnya, film bukan hanya gambar. Film yang dewasa ini hampir semua unsur penciptaannya ditopang oleh teknologi modern, seperti kamera, efek digital CGI, audio, bahkan drone, tetap mengamalkan ketrampilan tertua manusia, storytelling; kemampuan mendongeng; kemampuan menceritakan sesuatu. Kau beruntung kalau kau punya cerita bagus, tapi kau akan lebih beruntung kalau bisa menceritakannya dengan bagus!

 

Azhari Aiyub, redaktur halaman budaya Serambi Indonesia.