Cerpen Christian R (Medan Pos, 05 Januari 2020)

Eksistensi Rindu ilustrasi Istimewa.jpg
Eksistensi Rindu ilustrasi Istimewa 

 

Sudah tujuh tahun sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki ke tempat ini. Suasananya masih sama, sejuk dan damai. Hiruk pikuk keramaian ibukota sangat kontras jika dibandingkan langsung dengan keadaan yang ada di sini.

Bahkan, rumah ini masih sama. Seperti tujuh tahun lalu. Pagar putih yang sudah agak lusuh, cat rumah yang mulai pudar. Tetapi, pohon-pohon yang ada masih sama, hanya ukurannya saja yang bertambah. Bahkan ayunan dari ban bekas di pohon rambutan masih saja bergelayutan.

Sedikit-banyak, kenangan demi kenangan seolah terputar. Adegan-adegan dengan latar tempat yang sedang kutatap silih berganti. Mulai dari adikku yang dulu sering menangis di teras rumah, Ibu yang sibuk menyirami tanaman dekat pohon jambu air, serta Ayah yang sedang membaca koran sambil ditemani secangkir teh di dekat adik.

Aku rindu tiap kenangan itu.

Kakiku melangkah ke dalam pekarangan. Pagar besi itu sudah sedikit sulit dibuka. Tetapi dengan dorongan yang agak kuat, pagar itu bisa terbuka. Jalan setapak dari pavingblock, membawaku langsung ke teras rumah. Bahkan, suasana teras masih sama. Hanya sepi dan lengang yang berubah; tak sehangat dulu.

Pintu tua cokelat itu sudah sedikit terlihat rapuh. Layaknya kayu yang dimakan usia. Kuambil kunci di saku celanaku. Mencoba mencocokkan kunci dari lima kunci yang ada di sana. Percobaanku berhasil di kali ke-3.

Sedikit deritan suara khas pintu tua yang lama tidak dibuka mengisi ruangan. Aroma yang sedikit aneh mengisi indra penciumanku; aroma sedikit apek. Namun, ruangan itu masih sama. Di sebelah kanan pintu langsung berhadapan dengan ruang tamu sekaligus ruang televisi. Sedangkan di kiri pintu hanya ruang baca yang biasa aku dan Ayah habiskan ketika Minggu sore, atau hari libur.

Secara refleks, kakiku melangkah ke ruang baca. Buku-buku itu masih sama, letaknya pun masih berurutan seperti dahulu; tipikal perfeksionis dari Ayah. Abjad demi abjad judul buku tersusun rapi. Di sisi kanan lemari, meja baca serta lampu baca dengan warna monokrom mengisi ruangan empat kali empat meter tersebut.

Karpet beludru berwarna hitam yang biasanya mengisi lantai keramik, tampaktergulung di pojok ruangan. Lalu, tak ada yang spesial. Memang, dalam mendesain ruangan, Ayah tidak terlalu ingin ruangan ini terkesan ribet. Ibu sebenarnya sempat berdebat dengan Ayah ketika menentukan konsep ruangan ini.

Ibu ingin ruangan ini seperti taman bacaan yang ekspresif; dengan kertas dinding bertema galaksi, serta pernak-pernik bertema sama. Sangat khas sekali anak-anak. Sedangkan ayah ingin ruangan ini seperti perpustakaan, dengan satu meja baca khusus menghadap taman, karpet beludru di lantai, dan cat dinding berwarna putih polos.

Saat itu umurku tujuh tahun, dan adikku masih berusia tiga bulan dalam kandungan. Setelah melalui debat dan berbagai argumen panjang. Akhirnya, desain Ayah yang menang. Karena Ibu lebih memilih mengalah, agar bisa mendesain kamarku dan adikku saat itu.

Yah, aku agak beruntung sebenarnya di saat itu. Tak bisa kubayangkan betapa membosankannya warna kamarku jika saja Ayah kalah. Membayangkan tema monokrom di kamarku, tentu akan sangat … aneh, menurutku.

Sekelebat kenangan itu kembali terputar. Entah bagaimana, efek rumah ini sangat luar biasa. Seharusnya aku tidak mengikuti nasihat Bibi Zee, untuk mampir ke sini. Aku belum sanggup rasanya diserbu tiap keping-keping kenangan berteman rindu itu. Walau demikian, aku sudah terlanjur berada di sini. Rasanya … aku tak ingin pulang. Ada bagian-bagian diriku yang merasa ingin tetap di sini, dan ada juga yang ingin pergi secepatnya.

Dua langkah dari tempatku berdiri, aku tiba-tiba teringat akan suatu hal. Ada bagian dari rak buku itu yang kosong. Sekitar dua rak dari bawah. Aku lantas jongkok, lalu memasukkan tanganku di sela itu. Masih kurasakan sedikit bagian yang retak. Aku tersenyum mengingatnya.

Kuambil beberapa buku yang menghalangi, lantas meletakkannya di dekat situ. Sebuah tulisan ceker ayam yang berisi: Gery nggak suka Henny.

Aku terkekeh mengingatnya. Saat itu, adalah ketika awalan adikku—Henny—hadir di keluarga kami. Bayangkan saja, seorang anak tujuh tahun yang cemburu karena seluruh perhatian tercurah pada adiknya. Tentu saja rasanya tidak nyaman.

Kuletakkan kembali buku-buku itu di tempatnya, lalu berdiri. Aku kemudian melangkahkan kakiku ke ruang televisi. Walau sedikit berdebu di beberapa bagian, serta letaknya yang agak berantakan—tentu tidak ‘berantakan’ seperti ruangan acak-acakan. Hanya seperti beberapa benda tidak pada tempatnya, atau hanya bergeser beberapa sentimeter—, ruangan ini masih sama.

Televisi tua berlayar cembung yang membelakangi jendela, serta sofa kulit berwarna hitam di depan televisi, adalah hal yang paling mencolok di ruangan ini. Sisanya hanya pernak-pernik biasa. Guci di pojokan ruangan, gantungan jaket di dekat sekat ruangan, juga kursi malas yang ada di hadapan gantungan jaket.

Makin ke sini, ruangan-ruangan itu seolah menertawakan keping kenangan yang berkelebat di dalam benakku. Aku seolah ditarik kembali ke masa lalu lewat benda-benda yang ada di sini. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, hanya saja masih sulit untuk menghilangkan seluruh kenangan itu.

Aku sedikit tertawa ketika duduk di atas sofa itu. Pada bagian ujung sofa, aku menyelipkan tanganku. Sedikit tidak terkejut, aku menemukan salah satu action figure yang terselip di sana. Aku hapal kebiasaan Henny. Walau dia adalah perempuan, sejak kecil dia sangat suka superhero dari Marvel. Lebih suka ketimbang mainan boneka Barbie atau rumah-rumahan dan mainan perempuan lainnya. Salah satunya Hulk. Henny sangat menyukainya. Menurutnya, Hulk adalah salah satu superhero yang keren. Dibalik sifat kasarnya, dia adalah orang yang penyayang.

Sempat dulu, waktu berusia sekitar 7 tahun. Henny berkeliling komplek dan berteriak seperti Hulk. Orang-orang sekitar ada yang takut padanya. Tentu, itu tak bertahan lama. Ibu membawanya pulang, dan menyuruhnya untuk meminta maaf pada semua orang. Dan, di sisa hari, Henny dan Ibu berkeliling komplek untuk meminta maaf.

Ah, kurasa aku bercerita terlalu banyak.

Aku lantas berdiri, dan sejujurnya hendak pulang. Jadwal kerjaku sebentar lagi. Jam makan siang hampir berakhir. Jika saja Bibi Zee tidak memohon padaku, aku tentu tidak akan datang ke sini.

Begitu kakiku hendak melangkah keluar. Ada sedikit bagian dari diriku yang berontak. Lantas seolah berkata: Aku ingin ke kamar. Dan aku malah mengikutinya. Dengan langkah-langkah pendek, aku menyusuri lorong sebelah kiri ruang televisi. Sebenarnya jarak dari ruang televisi ke kamar hanya sekitar enam meter. Tetapi ketika semakin dekat, aku semakin merasakan atmosfer yang aneh. Seperti ditarik oleh mesin waktu.

Kelebat kenangan-kenangan kembali mengisi kepalaku. Di ujung lorong, aku seolah melihat aku dan Henny yang berlari hingga ke ruang televisi. Rasanya, semakin berat aku melangkahkan kaki.

Tepat di ambang pintu, aku ragu. Hendak masuk, atau tidak. Setelah menarik napas sebanyak tiga kali, aku menyentuh gagang pintu; memutarnya perlahan dan mendorong sedikit pintu itu.

Ruangan empat kali empat meter dengan kertas dinding bergambar galaksi terpampang di depanku. Ruangan di sini semakin membawa rindu demi rindu yang dulu sempat bisa dibendung. Hanya saja, kali ini mereka menyerbu; membuatku tak sanggup.

Sayup-sayup aku berjalan ke arah kasur di dekat pinggir ruangan. Masih dengan tema senada dengan kertas dinding. Aku duduk di kasur itu.

Di dekat jendela, meja baca dengan beberapa buku berserakan di sana, serta lampu baca mengisi meja. Di samping kasur, ada nakas dengan foto keluarga, dan jam alarm digital. Sementara di hadapan kasur, televisi dengan tipe yang sama dengan di ruang televisi terletak di atas rak. Serta Play Station dan joystick mengisi rak di bawah televisi.

Aku mengambil foto di atas nakas. Melihat satu demi satu figur yang ada di sana. Ayah, Ibu, aku dan Henny. Dengan latar Danau Beratan yang ada di Bedugul. Aku bahkan masih mengingat ketika di sana. Henny masuk angin ketika baru turun dari pesawat. Tetapi, rasa senangnya lebih dominan dari rasa masuk anginnya. Jadi, Ayah dan Ibu tidak jadi membawa kami kembali ke hotel.

Rasanya, aku rindu momen itu.

Aku menyentuh bagian bingkai tersebut. Satu persatu wajah kutatapi. Gurat bahagia, serta kesukaan terpancar dari foto biasa tersebut. Kelebatan keping rindu yang menamparku dengan jutaan kenangan membuatku merasakan sesak berlebih di dalam dada.

Sebisa mungkin kutahan air mataku agar tidak luruh. Namun, rasanya hal itu sia-sia. Dengan bodohnya, air mata itu malah jatuh di atas kaca foto tersebut. Kuhapus air itu, dan menyeka bulir bening di mataku. Sialan. Ini yang kutakutkan ketika aku kembali ke sini. Ke dalam rumah yang sarat akan kejadian masa lalu. Semasa kami masih bersama.

Rasanya makin membuatku sulit berdamai dengan kenyataan. Kecelakaan tujuh tahun lalu, yang merenggut semua anggota keluargaku, membuatku tak berani menginjakkan kaki ke dalam mesin waktu dalam wujud rumah ini. Tak lagi bisa kudengar suara Ibu yang memarahiku, atau Ayah yang menasihatiku, atau Henny yang merengek minta diajak bermain denganku.

Aku rindu setiap hal itu. Meski sesulit apa pun aku berharap, aku tetap tidak akan bisa mendapatkan mereka kembali. Masa itu, adalah titik terendah dalam hidupku. Pemuda 17 tahun, yang menerima kabar bahwa keluarganya meninggal akibat kecelakaan tunggal.

Rasanya, semua kebahagiaan yang sempat kuraih hari itu sirna seketika.

Padahal, saat itu aku berharap. Ayah, Ibu, dan Henny datang ke acara lulusan SMA-ku. Aku dengan sertifikat dan piala dengan gelar “Lulusan dengan nilai terbaik” dan “Peraih nilai UN tertinggi se-provinsi.” Menunggu mereka di tempat duduk, sama seperti murid lainnya.

Tetapi, saat akhir acara, Ayah dan Ibu belum juga datang. Setengah jam menanti, belum ada tanda-tanda kedatangan dari mereka.

Sedikit dikejutkan dengan kedatangan Bibi Zee yang tergesa-gesa, aku lantas dengan bangga menunjukkan sertifikat dan pialaku. Tetapi, kebahagiaan itu lantas sirna ketika bibirnya berkata:

“Ayah, Ibu dan Henny kecelakaan. Ikut bibi sekarang.”

Di saat itu, adalah kali terakhir aku merasa bahagia dalam hidup.

Hingga kini, ketika aku berusia 24 tahun, aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Bahkan, setelah kelulusan, aku tak pernah mendatangi rumah ini lagi.

Rumah Bibi Zee adalah tempat pelarianku. Berdiam diri di kamar selama dua bulan penuh, tanpa interaksi berlebih. Hanya Bibi Zee yang mengantar makanan secara rutin, tiga kali sehari ke kamarku. Sepanjang hari hanya menatap ke arah luar jendela. Meneriaki ketidakadilan Tuhan yang kuterima. Menyakiti diri, dengan mencoba menyayat nadi; berharap aku pergi dan bertemu mereka di surga.

Hanya saja, Tuhan tidak berkehendak itu terjadi. Satu bagian dari diriku membawaku sebisa mungkin bangkit dari keterpurukan. Walau berat aku mencoba. Jadi, di sinilah aku. Si pengusaha muda yang menolak berdamai dengan kenyataan karena eksistensi rindu yang lebih dominan.

Bahkan, sekadar mengunjungi makam mereka aku tak sanggup. Ayah, Ibu, Henny. Aku rindu. Bodohnya, tangisku pecah kembali. Kurasa, aku akan bolos kantor hari ini. Kukirim pesan pada sekretarisku untuk menunda semua meeting hari ini.

Aku lantas tidur di kasurku. Menikmati khayalan semu tentang Ayah, Ibu, dan Henny yang ada di ruangan ini bersamaku. Imajiku berkata mereka masih ada dan eksistensinya nyata. Hanya saja fakta membuktikan, itu hanyalah eksistensi semu belaka. Hanya sebatas rindu, yang tidak pernah tersampaikan. Jadi, izinkan kuucapkan kata ini:

Aku rindu, kenangan kita dahulu….

 

Christian R. Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNIMED.