Cerpen Bagus Dwi Hananto (Koran Tempo, 04-05 Januari 2020)

Kawashima Yui setelah Pertemuan di Hari Senin ilustrasi Koran Tempo (1)
Kawashima Yui setelah Pertemuan di Hari Senin ilustrasi Koran Tempo 

Menziarahi makam kekasihnya, Kawashima Yui masih merasakan mual dan pening akibat kemarin malam minum-minum seorang diri sampai larut di apartemen. Dia sebelumnya tinggal bersama kekasihnya, Tatewaki, selama tiga tahun. Tapi kecelakaan besar enam bulan lalu yang merenggut nyawa dua puluh tujuh orang di tiga stasiun bawah tanah Tokyo juga melibatkan Tatewaki sebagai salah satu korban. Sekte Aogiri mengebom tempat-tempat ramai dengan maksud membunuh secara acak.

Enam pentolan Aogiri berhasil ditangkap. Perkumpulan itu dibubarkan. Tiga anak kecil dalam sekte dikarantina. Dari keterangan polisi, ketiganya merupakan korban penculikan dan selama beberapa tahun hidup dalam keadaan terhipnosis. Namun Kawashima tak mempedulikan fakta-fakta ini. Di depannya masa depan yang menurutnya bakal bahagia bersanding dengan Tatewaki sebagai teman hidup, koyak seketika, menghambur begitu saja seperti debu diterbangkan angin kencang. Sudah setengah tahun dia merasakan perih dan menangis.

Dan di sinilah dia. Berdoa di depan makam kekasihnya. Namun seseorang muncul mendekati. Kawashima yang tengah memusatkan diri menghadirkan gumpalan duka itu kini teralih perhatiannya. Seseorang datang untuk berdoa di sampingnya dan undur begitu saja, tanpa mengucap apa-apa sebelum Kawashima menegur.

“Kau kenal Tatewaki?”

Orang itu tersenyum mendengar pertanyaan Kawashima.

“Dia orang baik, ya.”

Kawashima mengangguk.

“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau?”

“Aku bukan orang penting. Kau tidak perlu tahu. Tatewaki sangat mencintaimu, itu yang perlu kau tahu.”

“Hm…. Boleh kutahu siapa namamu?”

“Panggil saja Aka.”

“Aka-san, kau kenal Tatewaki kapan? Aku merasa tahu semua temannya dan setahuku dia hanya memiliki sedikit teman. Orang seperti dirinya.”

“Kami biasa saling menelepon saat Tatewaki masih tinggal di Shizuoka. Namun kami tak pernah bertemu. Baru kutahu dia tewas beberapa saat lalu. Terlambat sekali, kan?”

“Saling telepon? Apa maksudmu?”

“Semacam menjalin pertemanan tanpa bertemu sama sekali. Sekarang kita melakukannya dengan Internet. Kami tak pernah bertemu dan berhubungan secara tak sengaja. Aku meraih buku telepon saat itu dan iseng menelepon seseorang; memilih nama Tatewaki di antara sekian Tatewaki. Kami bicara apa saja dan itu menyenangkan. Aku merasa dia orang baik dan sama kesepiannya seperti diriku. Namun percakapan kami hanya berlangsung selama dua bulan. Aku pindah ke tempat jauh dan tak berhubungan lagi dengannya. Bisa kau percayai itu?”

Kawashima tersenyum tipis. “Kupikir ini bukan cerita yang tak wajar. Tatewaki selalu bertemu orang-orang menarik. Dan entah bagaimana, meski dia irit bicara, orang kadang tertarik berada di dekatnya.”

Perempuan di hadapan Kawashima tampak semangat. “Ya, aku merasakan itu. Tapi kami tak pernah sekalipun coba bertemu. Aneh, memang. Bicara saja sudah cukup bagi kami.”

“Apa kau mencintai Tatewaki?” tiba-tiba Kawashima bertanya lepas.

Perempuan itu tak sedikit pun ragu. “Ya. Namun saat itu aku ada banyak masalah. Dan itu baru kusadari lama setelahnya. Tak bisa dimungkiri, bahwa dengan berbicara berdua saja lewat telepon, aku tertarik kepadanya. Selama bertelepon aku kadang membayangkan bagaimana rupanya. Suaranya enak didengar dan ramah. Dia orang baik, tentunya.”

Kawashima semringah. “Banyak yang bilang aku beruntung memilikinya.”

Namun selekas semringah itu ditampakkan, cepat pula ekspresinya berganti sedih.

“Kadang aku tercenung sesaat. Menyadari bahwa dia sudah tak ada. Maka aku akan berpikir: ‘Oh, Tatewaki sudah pergi, ya. Pergi selamanya’.”

“Aku tahu perasaan seperti itu.”

Perempuan itu mengangkat tangan kanan untuk melihat jam tangan. “Aku mesti pamit. Ada urusan lain. Bagaimana kalau kita bertukar e-mail? Untuk menyambung omongan seputar Tatewaki?”

Kalau dalam situasi biasa, Kawashima akan senang dengan pertanyaan itu. Namun dia tiba-tiba merasa muak pada perempuan di hadapannya. Dia tak ingin kesedihan yang memberatinya setengah tahun ini terus-menerus diingatkan oleh seseorang yang baginya asing meski seseorang itu bilang mengenal Tatewaki.

“Maaf,” bohongnya, “karena banyak alasan pribadi, untuk sementara aku tidak memakai telepon seluler. Biar kucatat saja alamat e-mail-mu di otakku. Aku pasti akan mengingatnya dengan baik.”

Perempuan itu lalu mengambil jarak. Seperti sadar akan kebohongan Kawashima. Namun demi kesopanan, dia sebutkan alamat e-mail-nya itu.

“Semoga kita bisa bicara lagi.”

Perempuan itu lantas pergi meninggalkan pemakaman. Kawashima menatap pundaknya dan tak memikirkan lagi apa-apa yang tadi mereka percakapkan. Dia lantas menyudahi ziarah dan pulang.

***

Istana Naga yang diceritakan nenek Kawashima saat dia masih kecil kembali menyeruak setelah Tatewaki bercerita hal sama dengan seloroh yang tadinya Kawashima anggap biasa-biasa saja.

“Kau tahu, Istana Naga ini sebenarnya benar-benar ada, ya, kalau dipikir-pikir.”

“Jangan aneh lagi. Dongeng semata. Dunia bawah laut tak menyimpan Istana Naga, melainkan bangkai kapal dan tulang belulang manusia.”

Tatewaki tertawa-tawa mendengar jawaban Kawashima. Saat itu Kawashima ikut tertawa. Mereka sama-sama lemas selepas bercinta di sofa. Dan malam itu bulan begitu terang menyinari. Musim panas di hari terakhir. Semua perayaan telah mereka lewati.

Tatewaki menggelitik pinggang Kawashima. “Aku yakin benar-benar ada. Nenekku bilang begitu.”

“Ah, nenekku juga.”

Dan dari percakapan itu, air keluar lewat celah pintu apartemen mereka. Tapi hanya Kawashima yang tampak panik, seolah-olah Tatewaki tak menyadari air yang terus masuk, dia tetap membincangkan Istana Naga dan tak peduli dengan ajakan Kawashima untuk pergi dari sana.

Ketika air mencapai pinggang, Kawashima membuka mata dan terengah-engah. Keringat berlelehan di sekitar dahi dan pelipisnya. Ia terjaga dari mimpi buruk.

Kawashima menghela napas berkali-kali. Dia membingkas dari kasur dan pergi ke dapur mengambil gelas lalu menuju wastafel dan mengucurkan air dari keran. Dia meneguk air putih cepat-cepat sampai tandas dalam sekejap. Dia berkaca dan kemudian membasuh wajahnya dengan air dingin. Perasaan sepi mengguyur dirinya meski ada kelegaan di sana. Kawashima jadi teringat ibunya dulu.

Ibu yang sangat cantik dan selalu berselingkuh. Ayahnya membiarkan ibu seburuk itu dan Kawashima memilih tinggal bersama ayahnya setelah orang tuanya bercerai. Saat dia duduk di bangku kelas tiga SD, nyaris setiap malam dia mendengar pertengkaran ayah dan ibu. Selalu ada jerit dan tangis yang berasal dari mulut ibunya. Awalnya Kawashima memihak sang ibu sampai pada saat dia naik kelas enam, dalam perjalanan ke rumah salah satu teman, di satu sudut perkotaan yang ramai, dia mendapati ibunya tengah bermesraan dengan seorang pria yang tak dia kenal. Ibunya menghentikan berasyik kasih itu saat tatapan nanar Kawashima kecil menodong langsung dirinya. Ibunya panik, dia hendak mengejar Kawashima yang memilih meninggalkan teman-temannya yang kebingungan dengan tingkah Kawashima.

Ibunya berhasil mengejar, tetapi geretan tangannya tak membuat Kawashima patuh. Dia menyumpahi ibunya sebagai orang tak tahu malu. “Pergilah dari hidupku!” itu kata-kata yang masih terngiang selalu di benak Kawashima hingga kini. Ibunya tak berkutik, melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Kawashima pergi, lalu pergi untuk selamanya darinya.

Kawashima dan ayahnya memilih pindah dari tempatnya tinggal. Perpisahan dengan teman-temannya berlangsung sebentar. Mereka sama-sama menangis. Dan alasan Kawashima pergi hanya diutarakan dengan lima kata: “Aku tinggal bersama ayahku kini.”

Saat Kawashima duduk di bangku kelas dua SMP, dia yang terus menolak permintaan ibunya untuk bertemu, akhirnya mendengar kabar buruk dari ayahnya. Ibunya tewas bunuh diri dengan menghanyutkan tubuh di laut.

Kawashima menangis sejadi-jadinya, menyesal. Dia tak tahu bahwa ibunya tidak pernah bahagia walaupun berganti-ganti pria untuk menemaninya. Baru saat mulai masuk SMA, dia tahu alasan ibunya selalu menyelingkuhi ayahnya. Kedua orang tuanya sama-sama berperangai buruk. Kawashima Yui memutuskan tinggal sendiri lalu pindah ke rumah neneknya. Dia tak ingin menemui ayahnya lagi. Kini dia tak berpihak kepada siapa pun. Kedua orang tuanya kini cuma bayang-bayang, dan selama dia bersekolah di tempat baru, mimpi untuk lekas meninggalkan semua itu membebati dirinya dengan perasaan sedih. Kawashima memandang laut dengan sebentuk fatalisme bahwa air laut bisa datang dan dia bisa mati seketika karena ibunya marah dengan kelakuannya yang tak sudi bertemu.

Dan baru kini dia mengingat kisah Suijin, penguasa alam air. Kisah lama itu terpendam di benaknya dan sekarang tiba saat dirinya terjaga. Suijin yang membawa orang-orang putus asa, yang memilih mati di air, dan mengembalikan jasad buruk kepada keluarga orang-orang itu. Suijin. Cerita dari neneknya ini benar-benar membuatnya takut. Kalau tak salah usianya saat itu delapan tahun. Ibunya masih baik hati, kedua orang tuanya belum memulai pertengkaran. Neneknya tinggal di Aomori, dan kehidupan tenang di sana, dengan malam hari musim panas bersamaan dengan festival dan tarian Kagura, membuat benak Kawashima saat itu diisi banyak hal mistis dengan pelengkap cerita Istana Naga dan Penguasa Dunia Air. “Suijin membawa jiwa mereka yang memilih mati di air dan orang-orang yang mengenal jiwa-jiwa sengsara itu akan dihantui mimpi buruk.” Neneknya pernah bilang seperti itu.

Kawashima merasa tenggorokannya kering meski baru menenggak air. Apa Suijin ikut larut ke dalam tubuhku? Berkat mimpi buruk dan munculnya ingatan akan kisah neneknya itu, dia membayangkan hal yang tidak-tidak.

Lalu terdengar suara aneh di sekitarnya. Air muncul dari pintu dan celah-celah ventilasi udara. Apa ini kenyataan yang benar-benar harus kualami? pikirnya. Suijin akhirnya datang.

Dan terdengarlah dering jam jatuh di lantai. Dia terbangun. Pukul 23.15. Hari masih Senin, pikirnya. Mimpi yang aneh. Bagaimana mimpi ada dalam mimpi? Entah kenapa tiba-tiba dia merasa sebal telah bertemu perempuan di pemakaman tadi. Perasaan mengganjal yang muncul begitu saja saat terdengar seekor kucing mengeong. Kawashima beranjak dari kamar dan duduk di depan jendela lebar yang memampangkan langit dan jalan sepi. Dia buka jendela itu, mempersilakan Shiro masuk.

“Dari mana?”

Kucing itu cuma mengeong. Mungkin semata-mata tanda dirinya ada, pikir Kawashima. Mengeong untuk menandakan dia masih ada. Mengekalkan dirinya. “Wagahai wa neko de aru” seperti itukah?

Shiro mengeong. Terus mengeong.

***

Shiro sudah tua. Kucing itu kerap pergi dan Kawashima cemas ia tak kembali, seperti kelakuan kucing tua pada umumnya: meninggalkan majikan entah ke mana buat mati.

Shiro dibawa Tatewaki beberapa tahun lalu dalam hujan deras. Kawashima tengah bermalas-malasan di sekitar kotatsu sembari menonton tv saat kekasihnya pulang dari kerja membawa Shiro. Saat itu mereka belum tinggal bersama. Kawashima senang Tatewaki datang berkunjung. Namun agak jengkel karena dia basah kuyup sembari membawa seekor kucing yang juga basah.

“Aku lupa bawa payung waktu pulang.”

Kawashima menggeleng tak percaya. “Kan kau bisa beli di konbini?”

“Oh, ya.”

“Kau pelupa.”

Tatewaki tertawa. “Sudahlah, aku pinjam dulu kamar mandimu. Aku juga akan memandikan kucing gemuk ini.”

“Kau memungut kucing buat apa?”

Tatewaki melepas sepatu basahnya di genkan. Dia membuka jas dan kemejanya yang kuyup. Lalu melangkah pelan sambil menjinjit ke tempat mandi. Dari sana dia baru menjawab pertanyaan Kawashima.

“Aku tak bisa meninggalkannya, ia mengikutiku. Tak sengaja aku dapati di dekat taman; tak ada yang peduli meski warna bulunya menawan. Tiga warna, kau lihat! Kupikir kau suka kucing, Yui-chan?”

Terdengar debur air dan sesekali suara kucing mengeong. Barangkali Tatewaki dan kucing itu tengah berkelahi karena salah satu dari mereka tidak suka air; dan pada akhirnya salah satu mesti menyerah. Si kucing, tentu saja.

Kawashima tergerak karena suara gaduh itu. Dia beranjak dari kehangatan kotatsu menuju depan pintu geser kamar mandi. Sampai di sana, sembari menggosok-gosok siku, dia mulai mengeluh.

“Bagaimana mengatakannya, ya…, bukannya tidak suka, hanya memelihara hewan merepotkan.”

“Apa? Tidak kedengaran!”

“Memelihara hewan itu merepotkan!”

Tatewaki melongok keluar ruang mandi. Itu mengejutkan Kawashima.

“Apa?”

Tatewaki meringis.

Kawashima tidak bisa mengelak saat dia ditarik masuk ke kamar mandi.

Kini ketika dia tersenyum-senyum mengenangkan itu semua, Shiro sudah tampak renta, dan tubuhnya kian besar, selalu terlihat malas.

“Dari mana saja kau?”

Ekor kucing itu bergerak-gerak, respons senang saat Kawashima mengelus-elus kepalanya.

Pada saat itu pintu diketuk-ketuk seseorang.

Siapa, malam-malam begini?

Kawashima membingkas. Dia melangkah sampai genkan dan melihat siapa orang yang bertamu semalam ini lewat lubang pintu.

Perempuan tadi? Kawashima kaget. Bagaimana dia tahu tempat tinggalku.

Bukannya gentar, dia malah membuka pintu, enteng saja.

“Aka-san?”

“Maaf malam-malam mengganggu.”

“Ada apa? Bagaimana kau bisa tahu rumahku?”

“Maaf, di luar dingin, bolehkah aku masuk?”

Enam menit sesudahnya Kawashima akan menyesal dengan keputusan yang dia buat. Mempersilakan perempuan itu masuk adalah bencana.

***

“Tempatmu bagus.” Perempuan itu menyapukan pandangan ke seisi apartemen Kawashima.

Kawashima tak lagi jengkel dengan pikiran bahwa perempuan ini akan membuatnya terus mengingat Tatewaki. Sekarang berganti rasa penasaran; apa yang diinginkan perempuan ini bertamu tengah malam di rumahnya.

“Kau ingin susu hangat? Atau kopi?” tawar Kawashima.

“Tidak usah. Aku hanya sebentar, kok.”

Kawashima duduk di depan perempuan itu sambil menghela napas. “Memang ada apa kemari? Dan jawab pertanyaanku tadi.”

Kini perempuan itu menatap lurus-lurus ke arah Kawashima. “Aku punya permintaan khusus kepadamu. Untuk itu aku datang. Bagaimana aku tahu alamatmu, karena sudah dari dulu aku tahu.”

Kawashima merasa perempuan di depannya menyembunyikan sesuatu. Intuisinya tak dia sadari sebelum-sebelumnya.

“Apa maksudmu?”

Aka menatap kucing belang yang malas-malasan di sekitar kaki Kawashima. Dia menunjuk kucing itu.

“Aku ingin kucingnya kembali.”

“Apa maksudmu? Apa yang kau katakan. Aku tak jelas. Dari mana kau bisa dapat alamatku. Aku belum menghubungimu sedari tadi. Dan apa maksud permintaanmu itu?”

“Kucing itu milik adikku. Dulu.”

Perempuan ini begitu aneh, pikir Kawashima. Dan sekarang dia yakin bahwa Aka bukan nama sebenarnya.

“Kucing ini ditemukan Tatewaki lima tahun lalu. Kau bilang kucing ini milik adikmu? Kau sudah gila atau bagaimana?”

Aka tertawa. Ini membuat Kawashima terkejut dari tempatnya duduk. Dia berdiri, agak mundur, dan mulai waspada pada orang yang tiba-tiba bertamu semalam ini.

“Pacarmu adalah tukang bohong. Dia ambil kucing itu dari adikku. Pacar lain pacarmu.”

“Jadi kau menipuku tadi di pemakaman?”

“Maaf, aku tak tahan. Namun kenyataan baru kini aku tahu dia sudah tewas membuatku terlambat balas dendam. Dan karena aku tahu Tatewaki membawa kucing kesayangan adikku yang sebelumnya dia hadiahkan membuatku teringat bahwa aku mesti mengambil semua darinya tanpa menyisakan apa pun, termasuk kucing itu. Kau mesti memilih merelakannya. Demikian pula kenyataan bahwa pacarmu itu menipumu tak akan pernah hilang. Sekarang akan kubawa kucing itu dan masalah selesai.”

Kawashima belum bisa bereaksi atas kenyataan ini. Kedatangan perempuan itu untuk merebut kembali kucing benar-benar sesuatu yang aneh.

Lantas dia asal bertanya. “Setelah kukembalikan Shiro, kau mau apa?”

“Akan kukubur kucing itu di samping makam adikku.”

Kawashima tak habis akal. Dia lalu bergerak cepat menarik Shiro yang tengah tertidur di lantai. Aka yang terkejut tak dapat mengendalikan diri sendiri, dia menarik Kawashima dan membuatnya jatuh dengan kepala membentur pinggir meja.

Kawashima tergeletak. Kesadaran terakhir yang dia rasa sebelum semuanya tak terlihat adalah leleran darah di dahinya.

Ketika esoknya dia terbangun, Shiro telah dibawa perempuan itu.

Selama seminggu, Kawashima mengenang kehidupan yang disangkanya akan bahagia. Mengetahui Tatewaki yang asli. Dan mengetahui Shiro telah direnggut darinya. Dalam seminggu itu, Kawashima Yui tidak beranjak dari tempatnya. Dia mengungsikan seluruh suara-suara realitas dunia jauh ke belakang dirinya yang tertelan kenyataan pahit.

Pada akhirnya, saat hari Senin pekan selanjutnya tiba, pada pukul 00.15 Kawashima Yui memasuki bak mandi tempat dulu Tatewaki sempat memandikan Shiro lalu dirinya ikut bergabung.

Dalam keadaan telanjang dia masuk bak mandi kemudian mengucurkan air keran. Perlahan-lahan garis benam makin tinggi melingkupi tubuhnya yang selonjor di dalam bak. Dia mengenang semua hal yang terjadi dan mengingat-ingat kesenangan-kesenangan hidup yang pernah dilaluinya.

Saat ketinggian air telah dirasa cukup, Kawashima Yui menenggelamkan kepalanya dan menunggu Suijin tibaagar dia dapat bertemu ibunya di dunia air, atau mungkin di Istana Naga tempat warna-warna keruh orang-orang sedih berkumpul dan mendengar ratapan diri masing-masing.

 

Bagus Dwi Hananto, menerbitkan novel dengan judul Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia (2019). Tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Mengarang novel dan cerpen.