Cerpen Yuditeha (Minggu Pagi No 39 Th 72 Minggu I Januari 2020)

Ibu Tidak  Menjual Lukisan Ayah ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1).jpg
Ibu Tidak Menjual Lukisan Ayah ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

SEBENARNYA ayah menggeluti bidang lukis sudah sejak muda, dan ibu pernah mengatakan kepadaku, tekad ayah begitu besar ingin menjadi pelukis mumpuni. Meski begitu aku sering mendengar orang-orang mengatakan, ayah tidak akan pernah berhasil menjadi pelukis. Bukti dari pernyataan itu, setiap kali ayah mengadakan pameran, belum pernah sekali pun lukisannya terjual, atau setidaknya menarik perhatian bagi penggemar lukisan.

“Ayahmu pantang menyerah,” sahut ibu ketika aku bertanya tentang kapan ayah mulai merintis dunia lukisnya.

“Menurut Ibu gimana?” tanyaku.

“Maksudmu?”

Aku menjelaskan pada ibu maksud dari pertanyaanku. Aku ingin tahu pendapat ibu perihal perjuangan ayah dalam usahanya menjadi pelukis. Dalam hatiku aku penasaran, tentu saja hal ini tidak kusampaikan kepada ibu, apakah ibu juga akan mengatakan hal yang sama dengan pendapat orang-orang itu, atau ibu punya pendapat lain.

“Menurut kamu sendiri?”

Ibu justru bertanya balik kepadaku dan aku bingung harus menjawab bagaimana. Memang aku melihat sendiri, ayah tekun melukis dan tampaknya benar-benar tidak kenal menyerah, seperti yang dibilang ibu. Tapi aku juga tidak tahu, apakah dua kriteria itu sudah bisa mewakili sebagai penilai untuk menentukan keberhasilan sebuah usaha.

Sesungguhnya, apa yang dibilang orang-orang tentang ayah tidak sepenuhnya benar, karena sejauh yang kutahu, lukisan ayah pernah laku, hanya saja yang membeli adalah teman-teman ibu. Tapi aku tidak tahu, apakah pembelian lukisan itu memang atas dasar  benar-benar suka dengan lukisan itu atau sekadar adanya unsur segan kepada ibu, karena waktu itu ibulah yang memromosikan lukisan ayah.

“Apakah Ibu benar-benar mencintai Ayah?” tanyaku suatu kali pada ibu.

Ketika aku bertanya begitu, ibu tidak langsung membalas, dan melihatku agak lama. “Mengapa kamu bertanya begitu?”

Akhirnya ibu angkat bicara juga. Aku merasa pertanyaanku tadi membuat ibu berpikir macam-macam terhadapku. Dan setelah aku mendengar pertanyaan ibu, justru aku yang tidak bisa langsung menjawabnya. Jujur, aku bingung akan menjawab apa, bahkan sampai beberapa lamanya waktu berjalan pun aku tetap merasa tidak menemukan jawaban yang kuanggap tepat, hingga akhirnya kubiarkan berlalu tanpa jawaban.

“Ada apa, Nak?” tanya ibu lagi.

“Apakah Ibu tidak berkenan dengan pertanyaanku tadi?”

Ibu menggeleng. “Tentu saja Ibu mencintai Ayah. Bukan hanya itu, Ibu juga mencintaimu.” Ibu akhirnya menjawab pertanyaanku tadi sembari bibirnya menyungging senyum yang teramat manis.

Mendengar jawaban ibu langsung membuat hatiku tenang, tapi entah kenapa pikiranku tidak mau lepas dengan apa yang dikatakan orang-orang terhadap ayah, lalu aku memikirkan apakah selama ini ibu tidak pernah mendengar pernyataan orang-orang yang kebanyakan melecehkan ayah itu, terkhusus masalah keinginan ayah menjadi pelukis. Sebenarnya aku penasaran dan ingin menanyakan hal itu kepada ibu, tapi aku ragu melakukannya karena aku takut pertanyaanku nanti akan menyakiti perasaan ibu.

“Ada masalah, Nak?” Ibu membuatku terkejut.

“Boleh aku bertanya pada Ibu?”

“Memangnya Ibu pernah melarangmu bertanya?”

Aku menggeleng.

“Tadi kan juga bertanya.”

“Tapi….”

“Tapi apa?”

“Apa pun?”

“Apa pun,” jawab ibu mantap sembari mengangguk.

“Hmm. Menurut Ibu, bagaimana lukisan Ayah?”

“Maksudnya?”

“Apakah Ibu juga menganggap Ayah pelukis yang gagal?”

Ibu langsung merespons dan ingin tahu, mengapa pertanyaanku memakai kata ‘juga’. Lalu ibu bertanya lagi apakah selama ini aku mendengar ada orang yang mengatakan begitu. Tentu saja aku langsung bercerita tentang apa yang sering kudengar dari orang-orang perihal ayah. Kemudian ibu bertanya lagi kepadaku, apakah aku memercayai apa yang dikatakan orang-orang itu. Jujur, aku bingung harus menjawab apa. Aku hanya bisa menjawab bahwa tidak tahu, dan karena itu jugalah mengapa aku bertanya kepada ibu. Kebingunganku sebenarnya tidak hanya sampai di situ, karena keadaan ibu yang menurutku berhasil menjadi wanita karier, di mana dari penghasilan ibulah hidup kami bisa bertahan. Kenyataan seperti itu yang sebenarnya membuatku tidak bisa menyangsikan apa yang dikatakan orang-orang perihal ayah. Dan sesungguhnya aku juga ingin tahu, apakah ibu pernah kecewa dengan keadaan ayah yang seperti itu. Masalahnya jika benar ibu pernah kecewa dengan ayah, tapi aku belum pernah tahu sikap ibu yang bisa menandakan kalau ibu menyangsikan ayah.

“Bukankah kamu tahu Ayahmu terus berusaha?” tanya ibu.

Aku mengangguk mantap.

“Itu artinya kita tidak boleh mengatakan kalau Ayah gagal.”

Ketika ibu mengatakan itu, kelopak mataku basah dan entah kenapa aku merasa berdosa, meski masih hanya dalam pikiran tapi aku telah berani menghakimi ayah. Lantas aku tidak kuasa menahan haru. Lekas kupeluk tubuh ibu, lalu tangan ibu merengkuhku masuk ke pelukannya lebih dalam.

“Kita harus dukung Ayah sepenuh hati,” kata ibu semakin membuatku hanyut dalam keharuan. Sementara, ketika ibu merenggangkan pelukan, aku menyampaikan sesuatu kepadanya. “Aku akan berdoa, semoga Ayah kuat dan terus berjuang.”

“Kita akan berdoa bersama-sama,” sahut ibu sembari mengeratkan kembali pelukan.

“Boleh bertanya satu lagi, Bu?”

“Selamanya boleh, Sayang.”

“Apakah benar, lukisan Ayah belum pernah laku?”

“Hmmm….”

“Maksudnya selain oleh teman Ibu dulu.”

“Apakah kamu tidak punya keyakinan lukisan Ayah bisa laku?”

Pertanyaan ibu langsung kujawab dengan keinginan bahwa aku akan berdoa, semoga lukisan ayah bisa laku dan diakui para penggemar lukis, terlebih kolektor. Lalu ibu menyudahi obrolan kali itu dengan ajakan agar kami tidak sampai kehilangan harapan. Sebelum aku masuk kamar untuk belajar, aku sempat bertanya perihal seringnya ayah pergi akhir-akhir ini. Dari keterangan ibu, perginya ayah memang dalam usahanya memerdalam kemampuan melukisnya. Kata ibu ayah pergi ke beberapa sanggar temannya untuk mematangkan konsep lukisannya.

Pada saat aku sudah di kamar dan sempat membuka buku pelajaran untuk esok harinya, aku berpikir tentang kepergian ayah yang terakhir tidak seperti biasanya. ayah pergi paling lama hanya tiga hari, sedangkan kali itu bahkan sudah hampir sepekan ayah belum pulang.

Setiap pagi kami berangkat bersama, karena SMP tempatku sekolah dilewati saat ibu hendak ke kantor. Esok harinya ketika kami sudah siap pergi, ada orang bertamu ke rumah. Aku masih mengingatnya orang yang datang itu salah satu teman ayah. Setelah kami saling bertukar kabar, teman ayah menyampaikan sesuatu perihal ayah yang ternyata selama ini memang berada di sanggarnya. Teman ayah itu menjelaskan bahwa di sanggarnya kegiatan ayah hanya melukis dan melukis. Katanya seringkali ayah sampai lupa waktu. Tidur dan makan sering tidak teratur.

Pada saat itu aku menoleh ke arah ibu, kulihat wajah ibu menampakkan kerut tidak biasa. Aku menangkap ibu sedang memikirkan sesuatu. Sebelum ibu sempat menanggapi, teman ayah itu lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat kami syok. Teman ayah bilang, ayah telah tiada. Tentu saja aku sangat sedih atas kepergian ayah, tapi aku melihat duka ibu tampak teramat dalam. Setelah berbulan-bulan dari pemakaman jenazah ayah, kami masih diselimuti sungkawa, hingga sampailah suatu hari datang lagi teman ayah yang dulu memberitahu kepergian ayah dan mengantar jenazah. Kali ini teman ayah itu membawa tiga karya lukis yang terakhir dikerjakan ayah.

“Semoga ini bisa menjadi kenangan terakhir buat kalian,” kata teman ayah.

Tiga lukisan itu akhirnya kami pasang di dinding ruang tamu. Meski begitu, setiap ada orang bertamu ke rumah, tidak banyak yang memberi perhatian pada lukisan itu. Seingatku hanya beberapa teman sekolahku yang sempat bertanya perihal lukisan tersebut. Tapi tak disangka, justru informasi dari temanku itu datanglah seorang kolektor lukisan bertamu ingin melihat lukisan ayah. Rupanya kolektor itu tertarik dengan lukisan ayah dan bermaksud membeli. Tentu saja aku menganjurkan orang itu bertemu dengan ibu, hingga di lain hari, aku dan ibu bertemu dengan kolektor lukisan itu. Masih sama dengan yang disampaikan dulu, orang itu ingin membeli ketiga lukisan ayah.

“Maaf, kami tidak akan menjualnya,” jawab ibu lembut.

Mungkin orang itu merasa, jawaban ibu adalah tanda bahwa ibu ingin harga yang lebih tinggi, maka orang itu menambah nominal uang penawaran, tapi ibu tetap mengatakan tidak akan menjual. Bahkan orang itu sempat menambah lagi jumlah nominal uang, lagi-lagi ibu menyampaikan kepada orang itu bahwa lukisan itu tidak akan dijual. Kali itu ibu menambahkan penjelasan, lukisan itu adalah kenangan terakhir kami akan ayah. Setelah mendengar penjelasan itu, tampaknya orang itu maklum dan menyudahi penawarannya.

Pada saat orang itu telah berlalu, aku teringat ayah, dan ibu pun pasti demikian juga. Aku yakin dalam hati ibu ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadanya. “Engkau telah berhasil, Ayah.”

 

Yuditeha, tinggal di Karanganyar.