Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 Januari 2020)

 

Akhir tahun ini saya mengajak keluarga liburan. Malangnya, kami tak mendapatkan apa-apa, selain hilangnya sesuatu yang sebenarnya sudah lama tercerabut dari untuk-apa-liburan itu sendiri. Ach!

Tujuan kami adalah Jogja. Izinkan saya menggunakan Jogja, bukan Yogya(karta). Lebih nyaman, lebih ngena. Ayah dan ibu saya juga ikut serta. Ayah dan ibu istri tak bisa gabung. Sudah duluan tamasya ke rumah-Nya.

Lakonhidup.Com 01 Januari 2019 Liburan Balik Badan - Lampiran

Saya sebenarnya percaya kata orang-orang, baik yang saya dengar sendiri atau yang saya baca dari media sosial. Bahwa liburan ke Jogja itu sama dengan mendatangi kemacetan. Namun saya tak ingin dicap pendusta oleh anak-anak.

Saya memang sudah berjanji, tapi salah saya juga yang mengucapkannya sejak permulaan tahun ini, sehingga intensitas mereka mempertanyakan kapan akhir Desember itu datang tak keruan kali mampir ke telinga saya. Dinda (7) dan Dkayla (6) sebenarnya sudah sedikit paham setelah dijelaskan jumlah serta urutan hari dan bulan dalam kalender Masehi. Maura (2) masih jadi peramai barisan. Tapi … namanya anak-anak. Mengulang sebuah urusan yang belum tiba ujungnya adalah kesenenangan tersendiri.

Februari mereka bertanya.

Maret bertanya dua kali.

Begitu tiap bulannya.

Pada November mereka bisa bertanya tiap hari.

Ketika Desember tiba, mereka mengulang-ngulangnya hampir tiap jam.

Efek yang ditimbulkan jelas, bahwa mereka akan menerima jawaban yang bermaksud sama—bahwa waktunya belum tiba. Dan bagi anak-anak, itu sama artinya penundaan-penundaan. Dan penundaan-penundaan adalah nama lain dari kebohongan-kebohongan. Tentu tak sekali-dua, kami memberi penjelasan bahwa bertanya terus-menerus hanya akan membuat mereka kesal, tambah kesal, makin kesal. Tapi, emang mereka mau dengar?

Baca juga: Melepas Bingkai – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Desember 2019)

Karena dalam pandangan Dinda dan Dkayla kami sudah “sering berbohong”, mereka ingin menyelamatkan kami dari status pendusta menjelang akhir tahun. Tidak boleh tidak, harus jadi berangkat! Siasatnya masih sama, terus bertanya, bertanya terus!

Tanggal 24 Desember 2019 kami pun bertolak dengan mobil penuh muatan. Karena liburan kali ini direncanakan 10 hari, saya pun membawa laptop. Saya sudah berencana akan menyunting draf novel baru di malam-malam liburan. Pasti menyenangkan, harap saya. Setelah transit dua hari di Jakarta, Jogja pun kami jelang.

Sebagaimana dugaan sekaligus kekhawatiran saya, tempat-tempat tujuan wisata utama di Jogja dan sekitarnya jadi lautan manusia. Jalan Malioboro, Pasar Beringharjo, Borobudur di Magelang, dan tempat-tempat makan favorit, tentu saja termasuk di dalamnya. Keraton, Taman Pintar, dan Masjid Gede juga ramai, tapi masih bisa dinikmati. Museum Sonobudoyo seperti tak mengenal istilah waktu puncak; masih sepi sehingga kalaupun kami sekeluarga ingin mengeksplorasinya sembari kayang, baletan, atau merangkak di dinding-dindingnya pun, bisa-bisa saja.

Di tempat-tempat yang banjir-manusia itu, jangankan mendapati kegembiraan apalagi ketenangan, semburat kemacetan, antrean di tempat makan, lorong-lorong pasar yang berjubelan, yang tampak di depan mata akan membuat ketegangan, emosi, atau bahkan kesehatan berada di zona merah. Semuanya makin runyam karena tak satu pun mau mengalah dan mengambil jeda, sebab waktu dan tempat sangat terbatas, tak bisa diulang, sebagaimana tabungan harus “dihabiskan” sebab kalau tidak begitu, bukan liburan namanya; sebab kalau tidak begitu, gak seperti orang kebanyakan namanya; sebab kalau gak begitu, tidak tampak sedang bergembira namanya; sebab kalau tidak begitu, tidak sedang bereuforia namanya!

Baca juga: Berkarya = Kedaulatan Bersuara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Desember 2019)

Saya tak mengerti bagaimana orang-orang mau tumpah-ruah di waktu dan tempat yang sama, yang nyata-nyata sudah bisa diprediksi kejadiannya.

Kalau alasannya adalah karena bertepatan dengan momen pergantian tahun dan liburan sekolah, dengan mempertimbangkan kemanfaatan yang didapat dari sesuatu yang bernama Liburan, seharusnya para pengunjung—wabilkhusus orangtua—bisa mengambil cuti dan merelakan beberapa hari sekolah anaknya digunakan untuk berlibur dengan manusiawi.

Jadi kalau waktu liburan tiba bagaimana? Ya, di rumah saja. Atau ke tempat-tempat yang sekiranya bisa menimbulkan kesenangan, kegembiraan, dan …—ini yang kerap hilang dari pertimbangan—ketenangan.

Ya, ketenangan.

Ketenangan seperti sudah tercerabut dari karakter liburan itu sendiri. Tidakkah rutinitas yang selama ini dijalankan sudah menghadiahi umat manusia dengan ketegangan, kemacetan, jubelan, dan tentu saja kebisingan? Liburan bukankah seharusnya memproduksi antitesis atas konsekuensi rutinitas di atas; kesantaian, kelancaran, dan tentu saja ketenangan? Antitesis itulah yang akan melahirkan kesenangan yang tak didapat selama ini, kegembiraan yang kerap lupa di mana rumahnya, atau perasaan lepas karena tak tahu anak kunci diletakkan di mana.

Kedua orangtua, istri, dan anak-anak saya mengeluh. Padahal itu baru hari ketiga kami di Jogja. Saya sebenarnya ingin ikut-ikutan mengeluh. Laptop yang saya bawa hanya memperberat barang bawaan. Benda itu tak kunjung disentuh, termasuk malam hari sebagaimana rencana, karena seharian sudah penat, tegang, dan kelelahan. Draf novel baru saya pun masih lelap dan “berdebu”.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Desember 2019)

Semuanya makin buruk ketika saya batuk, Dinda dan Dkayla terserang flu, si bungsu Maura demamnya naik-turun, ibu saya masuk angin.

Kami memutuskan untuk mengakhiri liburan kami lebih awal. Saya tahu, ini bukan sekadar tentang kondisi kesehatan kami yang menurun, tapi tentang kesia-siaan yang telat kami (saya tak tega bilang “mereka”) sadari.

“Besok-besok Ayah akan carikan waktu liburan yang tak bertepatan dengan liburan sekolah.” Saya harus belajar dari semua ini.

“Kapan?” Dinda mulai menagih.

“Kita sesuaikan dengan tanggal tiket yang mungkin Ayah dapatkan. Kalau bisa tiket promo.” Ya, jalur udara harus jadi pilihan kalau mau membawa anak-anak bepergian jauh.

“Siapkan kesabaran kita meladeni pertanyaan mereka sepanjang 2020, sepanjang jadwal liburan mereka belum kita dapatkan, Yah,” ujar istri saya ketika kami sedang berdua saja.

Saya mengerutkan kening. Berpikir-pikir cukup lama. Lalu saya tahu kalau waktu berburu tiket pesawat itu harus saya lakukan dari sekarang juga. Selain atas alasan yang baru dikemukakan, juga agar kesibukan sehari-hari saya tak bertambah rumit dengan perasaan-perasaan belum menuntaskan urusan menggapai ketenangan.

Oh, tiba-tiba saya tersadar; memangnya iya ketenangan itu bisa diproduksi oleh liburan, dengan siasat dan pola tertentu sekalipun? Ah gilak! Belum lagi kalau saya ubah sedikit redaksinya; memangnya ketenangan kudu dicari dengan liburan? Halllooowww!

 

Jakarta, 30 Desember 2019