Cerpen Safitri Wulandari (Suara Merdeka, 29 Desember 2019)

Perempuan yang Kupanggil Tetangga ilustrasi Suara Merdeka (1).jpg
Perempuan yang Kupanggil Tetangga ilustrasi Suara Merdeka 

Sudah lima tahun aku berkelana mencari cinta sejati. Berharap menemukan seseorang yang berhasil menambat hati. Namun sampai detik ini aku belum menemukan. Pencarianku belum menemukan titik akhir, meski penjuru dunia telah kusinggahi.

Bukan bidadari, cukuplah yang memiliki kebaikan budi pekerti. Bukan pula peri, cukuplah yang bisa menerimaku dalam segala kondisi.

Usiaku sudah tiga puluh dua. Seharusnya aku telah menikah tujuh tahun lalu jika mengikuti target. Namun mungkin Tuhan memang belum mengizinkanku memiliki pendamping hidup.

Terkadang aku iri pada teman-temanku yang telah memiliki anak. Pertanyaan dari sanak keluarga juga membuatku rendah diri. Kendati begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain meminta kepada Tuhan agar segera mendekatkan jodohku.

Negeri perantauan memang menyajikan banyak gadis rupawan. Namun belum ada satu pun yang membuat jantungku berdebar saat melihat mata mereka. Berbagai jenis wanita terperangkap oleh mata, tetapi tidak seorang pun memikat inginku untuk meminang.

***

Teleponku berdering. Nama Ibu tertera di layar. “Ibu sehat?” tanyaku setelah mengucapkan salam.

Suara di seberang sana terdengar renta. Rindu pun menyeruak tanpa bisa kukendalikan.

Kabar ibuku baik-baik saja, meski batuk-batuk kecil senantiasa menemani kata-katanya. Ibu bertanya kabarku pula. Tentang pekerjaanku juga. Memberi petuah padaku untuk menjaga ibadah lima waktu, pun mengingatkanku agar mengonsumsi makanan sehat. Apalagi sekarang sedang bulan puasa.

Baca juga: Mata Apa? – Cerpen Lisna RJ (Suara Merdeka, 22 Desember 2019)

Aku hanya mengatakan, “Ya. Pasti, Bu.” Meskipun aku sering melewatkan sahur karena malas bangun terlalu pagi.

Kemudian sampailah pada tahap pembahasan utama. Ibu bertanya soal kepulanganku. Meminta aku pulang saat lebaran nanti. Berharap kehadiranku di tengah keluarga saat momen hari raya.

Kali ini, aku tidak langsung menjawab. Aku diam saja. Sejujurnya, aku ingin pulang. Sangat ingin pulang. Bertemu Ibu, satu-satunya orang tuaku yang masih hidup. Namun satu kendala membuatku menahan diri.

Aku pernah berjanji pada diri sendiri. Aku tidak akan pulang dari perantauan tanpa membawa sosok kekasih yang akan kukenalkan sebagai calon istri. Meski laki-laki, tetap saja aku merasa tersudut saat orang-orang membahas kesendirianku pada usia sudah sangat matang. Oleh karena itu, aku bertekad kembali ke rumah setelah menemukan perempuan yang selama ini kupinta pada Tuhan.

Insya Allah, Bu,” jawabku. Tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tidak ingin berkata tidak saat mendengar nada penuh harap itu.

Baca juga: Penari di Perempatan Jalan Itu – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 15 Desember 2019)

Ibuku pun sudah menyerah membujuk. Pun tidak bisa pula memaksakan kehendak. Hanya desah napas lirih yang kudengar. Membuatku merasa durhaka karena tidak bisa menyenangkan hati ibuku. Namun, sebagai lelaki, aku tidak bisa mengingkari janji yang kubuat. Apalagi janji yang kutanamkan pada diri sendiri.

***

Ramadan hampir usai. Mungkin lima belas hari lagi sebelum Idul Fitri. Makin tipis waktu menuju hari raya, kian gundah pula hatiku. Apalagi setelah mendapatkan kabar dari kampung ibuku jatuh sakit. Bertambah kegelisahan yang membuat pekerjaanku sedikit berantakan.

Apakah aku harus pulang?

Apakah aku harus mengingkari janjiku sendiri?

Setiap malam aku merenung. Berkali-ulang melihat buku tabunganku. Nominal uang di dalam kartu ATM memang lebih dari cukup untuk memesan tiket pulang. Namun apakah aku tidak menimbulkan kesan seperti pengecut jika pulang seorang diri?

Baca juga: Bayi dalam Mimpi dan Gerimis yang Rapat – Cerpen M Maksum (Suara Merdeka, 08 Desember 2019)

Pagi hari setelah shalat subuh di masjid, aku bertekad pulang kampung. Aku baru saja mendengar cerita temanku yang kehilangan ibunya beberapa tahun silam. Membuatku merasakan gelenyar aneh.

Aku takut ibuku pergi sebelum melihatku. Terlebih kondisi Ibu yang makin turun setiap hari.

***

Ibu menyambutku dengan deru air mata. Tubuh rentanya menopang di tubuhku. Dia terisak bahagia saat menemukanku di depan pintu rumah. Tangan keriputnya meraba-raba wajahku, seolah memastikan memang aku yang berada di hadapannya. Lalu, pelukan begitu erat mendekapku. Memanggil air mataku jatuh ke pipi. Sedikit memalukan memang, tetapi aku tidak bisa menahan kebahagiaan saat melihat ibuku setelah sekian tahun berbeda pulau.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau mau pulang? Ibu kan tidak menyiapkan apa-apa?” keluh ibuku sedikit kesal, meski rengkuhannya masih bergelayut di lenganku. “Kamu mau makan apa? Biar Ibu masakkan sekarang. Mau ayam goreng? Biar Ibu suruh Mang Dadang potong ayam jago kita. Atau mau makan ikan mas? Biar kolam di belakang…”

“Ibu, nanti saja,” kataku pelan. “Kan ayam jagonya untuk hari raya.”

Nggak apa-apa. Nanti kita beli daging saja. Yang penting kamu makan sekarang. Pasti capek habis perjalanan jauh.”

Baca juga: Pulang – Cerpen Alvina Briantiningsih (Suara Merdeka, 01 Desember 2019)

Kupeluk ibuku. Kutumpahkan rindu yang selama ini kupendam. “Telur dadar saja, Bu. Sudah lama nih aku tidak makan telur dadar buatan Ibu. Di perantauan, telur dadar tidak seenak buatan Ibu.”

Ibu memukul lenganku pelan. Kemudian bergegas menyediakan makanan permintaanku. Meski sederhana, rasanya tetap paling nikmat, daripada rendang yang sering kubeli di kedai.

***

Tradisi di kampung masih sama. Setelah shalat id, warga ramai-ramai berkunjung ke rumah sesepuh. Ibuku termasuk yang paling tua di kampung. Jadi sekarang rumahku ramai dan sesak.

Banyak yang masih tidak percaya saat melihatku berada di rumah. Yang lain tanpa segan menanyakan posisi kosong di kantorku demi memasukkan anak mereka ke sana. Lalu, yang lain lagi bertanya terang-terangan mengenai sosok istri yang belum kugandeng, meski telah lima tahun merantau.

“Belum ketemu jodoh,” jawabku seadanya. Memaksakan senyum semampuku.

Mereka masih gencar menanyakan berbagai hal. Ada juga yang menawarkan anak gadisnya atau memberitahuku ada seorang janda yang telah lama ditinggal mati oleh suaminya. Untuk semua itu, aku hanya tersenyum tipis sebagai formalitas. Saat ini yang menjadi prioritasku adalah membahagiakan Ibu. Soal jodoh telah kutempatkan di nomor dua.

Aku percaya Allah akan mengirimkan jodohku jika waktunya sudah tiba. Dan, siang itu waktunya.

Baca juga: Sang Ahli Waris – Cerpen Hartari (Suara Merdeka, 24 November 2019)

Seorang wanita berkerudung hijau berkunjung ke rumah. Di tangan kanannya ada satu rantang susun bermotif bunga-bunga. Tangan kiri menjinjing plastik putih berisi ketupat.

“Emak di rumah, Mas?” tanya Ayu setelah salamnya kujawab.

Wanita itu adalah salah satu temanku saat sekolah dasar. Rumahnya hanya lima meter dari rumahku.

Dia bukan bidadari, tetapi caranya melempar senyum membuatku terpaku. Dia bukan peri, tetapi tutur katanya membuaku bisu.

“Mas,” panggilnya lagi, yang berhasil menyentakku.

Malu sekali aku karena menatapnya seperti orang linglung.

“Ya. Ibu di rumah. Lagi di dapur,” sahutku sambil memberi dia jalan masuk.

Dia pun masuk. Langsung menuju dapur. Menghampiri ibuku. Mencium tangan ibuku. Kemudian mengeluarkan makanan yang dia bawa.

Baca juga: Patung Garuda – Cerpen Risda Nur Widiya (Suara Merdeka, 17 November 2019)

“Kok kamu repot-repot ta, Ndhuk?”

Nggak repot kok, Mak. Waktu itu Emak bilang mau makan opor ayam. Ini sudah Ayu masakkan khusus untuk Emak dan Mas Darma yang akhirnya ingat pulang kampung,” katanya dengan nada bergurau pada akhir kalimat.

Namun aku tidak bisa tertawa. Aku masih terdiam di ambang pintu dapur sambil memperhatikan dia.

Diam-diam aku menelaah arti jantungku yang berdesir asing. Ini kali pertama aku merasa demikian.

“Memang kamu calon mantu idaman Emak.”

Kata-kata ibuku tanpa sadar kuaminkan. Kubenarkan. Aku pun mengakuinya.

Sekian tahun aku merantau demi mencari jodoh, ternyata hatiku ditambat oleh wanita yang biasa kusebut tetangga. (28)