Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Desember 2019)

Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat ilustrasi I Made Wahyu Friandana - Kompas (1)
Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat ilustrasi I Made Wahyu Friandana/Kompas 

Enam laki-laki yang menyatakan cinta seketika menjauhinya begitu tahu ia perias mayat. Sepertinya kematian dan cinta bukan jodoh yang baik.

Ada yang seketika pergi, dengan raut pucat, seakan melihat mayat. Ada yang dengan sesopan mungkin menghindar, selalu beralasan sedang sibuk bila ia menghubungi mengajak ketemu atau sekadar menyapa kabar, kemudian memblokir kontaknya.

Pernah ia berhubungan lumayan lama dengan seorang lelaki, duda beranak satu. Lelaki itu tak mempersoalkan pekerjaannya. Ia merasa lega bahwa pada akhirnya ada juga yang memahami. Tapi, begitu mulai serius membicarakan perkawinan, lelaki itu mengatakan bahwa anaknya langsung ketakutan ketika ia menjelaskan soal pekerjaan merias mayat itu. “Aku akan senang kalau kamu mencari pekerjaan lain, yang tak membuat anakku takut,” katanya.

Tapi, ia tahu, pada akhirnya mereka tak akan pernah bisa bersama: seseorang yang tak pernah bisa menerimamu apa adanya, tak akan pernah bisa menerimamu sepenuhnya. Dan mereka pisah.

Beberapa kawan menyalahkannya, menganggapnya membuang kesempatan menikah dengan laki-laki yang baik. “Laki-laki yang baik tak melarang, tetapi mendukung,” jawabnya. Ah, kamu saja yang rumit, seloroh kawan-kawannya. Mengingat itu semua, ia sering tersenvum sendiri: berurusan dengan orang mati ternyata lebih mudah ketimbang menghadapi yang masih hidup. Kematian membuat semua orang menjadi tenang, tak rewel, dan tak banyak menuntut.

Baca juga: Misteri Seorang Tukang Cukur – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 23 September 2018)

Tentu saja ia tak pernah punya keinginan menjadi perias mayat. Bu Tundri, pemilik salon tempatnya bekerja, suatu sore mengabarkan bahwa salah seorang pelanggan salon meninggal dunia. Lalu Tundri menjelaskan soal pesan Bu Hen.

Tak mungkin ia melupakan Bu Hen. Tiap ke salon, perempuan 60 tahun itu tak pernah mau dilayani kapster lain. Dari cuci rambut, menyanggul rambut, perawatan wajah, sampai manikur pedikur, selalu minta agar ia yang melayani. Bahkan rela menunggu bila ia sedang sibuk dengan pelanggan lain. Orangnya memang banyak menuntut, cerewet dengan gosip-gosip televise, dan selalu ingin riasan yang sempurna.

“Merias agar orang tampak cantik itu gampang, tapi merias agar orang merasa nyaman dengan kecantikannya, itu tidak mudah. Saya bisa dandan sendiri di rumah, tapi beda kalau kamu yang merias saya, Fit. Saya jadi nyaman bila melihat wajah saya di cermin,” ujar Bu Hen suatu kali.

“Nah, kamu perias yang tak hanya membuat orang jadi cantik. Kalau nanti aku mati, aku pengin kamu yang merias jenazahku. Saya pengin mati dalam keadaan cantik. Saya yakin, malaikat pasti akan mempersilakan perempuan cantik masuk surga lebih dulu.” Ia tersenyum mendengar kelakar itu.

Bu Tundri memintanya merias jenazah Bu Hen.

***

Sejak itu ia menjadi sering diminta merias mayat. Bu Tundri bilang ia lebih cocok untuk pekerjaan itu. “Membuat cantik orang yang masih hidup pasti bisa dilakukan oleh setiap penata rias. Orang yang mati kehilangan pesona, tampak dingin, kosong, karena kecantikan di wajahnya padam. Riasanmu bisa memunculkan kembali kecantikannya itu. Kamu, seperti bisa membangkitkan kembali kecantikan terakhir yang masih ada di wajah jenazah itu.” Menurut Bu Tundri, itu bakat alamiah yang tak dimiliki semua perias.

Baca juga: Requiem bagi Ibu – Cerpen Warih Wisatsana (Kompas, 22 Desember 2019)

Setelah bertahun-tahun menjadi perias mayat, ia tetap merasa gamang tiap mengingat Bu Tundri. Ketika Bu Tundri meninggal karena kanker kulit, ia juga yang merias mayatnya. Kulit wajahnya yang gampang rontok bila tersentuh dan penuh bintik hitam ia lamur dengan bedak dasar, agar kembali bersih mulus. Ketika merias mayat Bu Tundri, ia termenung menatap wajah perempuan yang terbaring dalam peti mati itu: apakah harus kesal karena merasa telah dijerumuskan pada pekerjaan ini, atau ia harus berterima kasih karena berkat Bu Tundri, ia bisa punya pekerjaan. Ketika banyak orang sulit mendapatkan pekerjaan, punya pekerjaan sebagai perias mayat tentu saja masih jauh lebih beruntung dari pada menjadi pengangguran.

Dulu ketika orang-orang suka saling bertukar kartu nama ketika bertemu, ia sering melihat ekspresi kaget, ngeri tapi juga tak memercayai, ketika ia menyodorkan kartu namanya. Fitri Andayani. Perias Mayat. Ia terbiasa mendengar kelakar setelahnya: kau pasti senang bila ada orang mati. Bila rezeki dokter dari orang sakit, maka kamu dapat rezeki dari orang mati. Dan mereka tertawa, seolah kematian adalah hal yang lucu. Bila lagi sebal, ia akan membalas: kamu bisa membuat lelucon soal kematian, tapi kamu tak akan bisa tertawa ketika kematian mendatangimu.

Kerap ia disangka punya semacam jimat atau mantra-mantra yang bisa mengusir arwah orang mati agar tak terus-menerus menghantui. Pastilah tak mudah melupakan begitu saja wajah orang-orang yang mati itu. Apalagi bila keadaan jenazah mengerikan, semisal wajah berdarah akibat kecelakaan. Ia pernah merias jenazah orang yang kepalanya remuk terlindas mobil. Leher orang mati ditebas pedang. Mayat dengan mata tercongkel. Ia menyumpal liang mata itu dengan kapas basah, memulas kelopak matanya agar terlihat tengah memejam tenang dan nyaman dalam kematiannya

Berbulan-bulan ia tak bisa melupakan wajah itu. Kerap wajah-wajah yang mati itu muncul dalam mimpinya. Seindah apa pun wajah orang mati, tetaplah membuat kita cemas saat mengingatnya.

Baca juga: Hari-hari Terakhir – Cerpen Wisnu Suryaning Adji (Kompas, 15 Desember 2019)

Tentu saja tak hanya kenangan buruk. Ia sering merasakan terima kasih yang tulus dari keluarga yang ditinggalkan, karena ia merias wajah mayat itu menjadi terlihat begitu cantik atau gagah, bahkan lebih cantik dan cakep dibanding saat masih hidup. Ia pernah merias seorang nenek, meninggal pada usia 106 tahun, dan membuatnya terlihat begitu muda dan segar. Sampai ada yang meminta alat dan kosmetik yang dipakainya karena percaya alat rias yang dipakainya bisa membuat awet muda. Ia tak memberikannya. Ia selalu membuang spon, kuas, alis, lipstick, dan semua alat riasnya. Semua digunakan sekali pakai.

Jangan pernah menggunakan alat rias orang mati pada yang hidup. Bisa jadi ada bakteri pada kulit itu. Kematian menyimpan rahasia dan misterinya sendiri.

***

Ketika usianya melewati 42 tahun, ibunya mengajaknya bicara tentang perkawinan. Ibu hendak mengenalkannya pada seorang lelaki, yang menurut ibu “sudah mapan dan siap menikah”, anak kenalan ibu saat mereka kuliah. Ibu telah lebih dari 21 tahun hidup sendiri. Ayah meninggal. Andai saat itu ia sudah menjadi perias mayat, ia pasti akan membuat ayahnya tampak begitu gagah.

Ia bisa memahami keinginan ibunya. Ia tak keberatan dikenalkan dengan laki-laki itu. Memang santun, meski terlalu pendiam. Bagaimanapun, lelaki itu tak terlalu mempersoalkan pekerjaannya. Bila berbuat baik pada orang-orang yang masih hidup itu baik, maka berbuat baik pada yang sudah mati pastinya lebih baik, katanya. Kadang bertanya, bagaimana rasanya merias mayat? “Pasti lebih mudah dibanding merias orang hidup. Setidaknya, orang mati tak akan protes kalau riasannya jelek.” Kadang laki-laki itu mau mengantamya saat ia dipanggil untuk merias mayat, meski ketika pulang lelaki itu langsung muntah-muntah.

Baca juga: Ramin Tak Kunjung Pulang – Cerpen Lina PW (Kompas, 08 Desember 2019)

Hubungan mereka jadi penuh pertengkaran, ketika ia merasa laki-laki itu selalu ingin mengajaknya tidur, dan ia dengan halus menolak. Ia tak menentang hubungan sebelum pernikahan. Tapi ada yang membuatnya langsung gemetar berkeringat dingin saat tubuhnya mulai digerayangi. Sesuatu yang menakutkan muncul, dan membuat tubuhnya menolak.

Dan laki-laki itu mulai bersikap sinis. “Jangan-jangan karena kamu terlalu sering dekat orang mati hingga menjadi dingin pada yang masih hidup.” Ia ingin menangis. Ia ingin bercerita apa yang membuatnya takut. Ia takut kehilangan laki-laki itu. Dan sambil menahan tangis ia membiarkan laki-laki itu menidurinya

Setelahnya pertengkaran tak termaafkan. Lelaki itu kecewa karena ia tak perawan, dan ia tak mau menjelaskan dengan siapa pertama kali tidur.

“Jangan-jangan kamu tidur dengan orang mati!”

Dan laki-laki itu tak pernah muncul lagi.

Dari orang-orang mati ia belajar menerima kenyataan. Kesedihan tak lagi berarti apa-apa bagi yang mati.

***

Di antara semua orang mati yang mesti diriasnya, inilah yang paling membuatnya gemetar. Ia memandangi wajah pucat mayat itu.

Sudah lebih dari dua jam ia hanya termangu. Ada tangis perempuan, percakapan yang bagai terdengar di kejauhan, kasak-kusuk tentang kematiannya setelah berbulan-bulan tergolek di rumah sakit. “Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia berpesan, bila ia mati ia ingin kamu yang meriasnya,” kata anaknya, pelan. Dan ia masih saja terdiam.

Baca juga: Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi – Cerpen Sandi Firly (Kompas, 01 Desember 2019)

Bukan karena ia tak tahu bagaimana caranya agar jenazah menjadi terlihat mati dalam damai. Ia tahu, dari pengalaman bertahun-tahun, kulit orang mati tak lagi memproduksi minyak, hingga bedak dasar akan sulit menempel, apalagi bila mayat itu sudah diformalin, kulit akan mengeras hingga ia mesti mengoleskan pelembab lebih dulu—kadang ia memakai baby oil—agar riasan pada wajah mayat bisa bertahan lama. Bila tak dibuat lembab, riasan pada wajah mayat bisa cepat pudar ketika udara terlalu panas.

Bila meninggal karena serangan jantung, wajah jenazah akan lebih legam, bila mati tenggelam, maka kulit akan lembek busuk dan banyak terkelupas. Perlu teknik berbeda-beda untuk membuatnya terlihat indah. Ia pernah merias mayat yang wajahnya rusak, kulitnya terkelupas, hingga ia perlu mengambil kulit dari bagian tubuh yang tersembunyi dan menempelkannya pada kulit wajah yang terkelupas itu.

Di matanya, wajah orang yang mati ini lebih mengerikan. Bayangan buruk yang berkecamuk dalam pikirannya bercampur dengan kesedihan dan kemarahan. Sungguh tak pernah ia duga bahwa ia akan merias mayat orang yang paling dibencinya. Pamannya sendiri. Yang setelah ayahnya meninggal, memintanya untuk tinggal bersamanya. Yang begitu memperhatikannya. Yang membuatnya kembali bahagia karena memiliki seorang ayah. Yang suatu malam mengendap masuk ke dalam kamarnya, dan memaksanya menyimpan aib mengerikan itu sepanjang hidupnya.

Ia bahkan tak berani menatap wajah mayat itu. Ingin ia mengeluarkan pisau dari dalam tas riasnya, dan menyayat wajah itu: membuat sayatan bersilang di wajahnya. Masih didengarnya suara isak tangis, gumam percakapan dan suara langkah kaki lalu lalang, bahkan ia bisa merasakan tatapan heran orang-orang yang memandanginya karena tak kunjung mulai merias wajah mayat di hadapannya.

Sampai pelan-pelan ia mengambil sesuatu dari dalam tas riasnya. Bukan pisau. Tapi bedak dan kuas pulas. Ia tahu, hidupnya akan menjadi lebih lega bila ia merias wajah mayat ini.

Mungkin akan menjadi riasan terindah selama ia menjadi perias mayat.

 

Agus Noor, cerpenis ini menetap di Yogyakarta, tetapi lebih banyak bekerja di Jakarta. Tahun 1987 cerpennya, “Kecoa”, dimuat Kompas pertama kali dan sejak itu cerpen-cerpennya mengalir di Kompas Minggu. Cerpen Agus “Kunang-kunang di Langit Jakarta” bersanding dengan “Salawat Dedaunan” (Yanusa Nugroho) menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2012.

Wahyu Friandana, punya nama lengkap I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, 17 April 1995, sedang menempuh pendidikan di ISI Yogyakarta. Selain dikenal sebagai pelukis, Wahyu juga drumer dari dua kelompok band underground, Nalais (Bali) dan Virtual Doom (Yogyakarta). Sehari-hari bekerja sebagai seniman tato di Yogyakarta.