Cerpen Setia Naka Andrian (Tribun Jabar, 29 Desember 2019)

Keceb ilustrasi Istimewa
Keceb ilustrasi Istimewa 

Apa yang mengendus dari otak Kaceb jika harus mengayuh becak pada hari yang begitu panas? Ditambah lagi sedang musim bulan puasa. Matahari benar-benar terasa di atas kepalanya. Rasa panas seketika memanggang tubuhnya yang hitam pekat itu. Karena bagaimanapun semua orang tahu, jika kalor pasti akan meluncur menuju benda-benda yang hitam atau yang gelap-gelap semacam kulitnya si Kaceb. Begitulah orang-orang memanggilnya. Walaupun sesungguhnya Kaceb sudah tidak tepat lagi jika dipanggil dengan tambahan gelar “si”. Kaceb sudah hampir purna sebagai lelaki setengah baya. Usianya pun kini sudah genap enam puluh lima tahun.

Kaceb hidup sebatangkara tanpa istri, apalagi anak. Ia benar-benar mandiri. Menurut kabar yang beredar di warung-warung kampung ini pun sungguh mengharukan. Bahwa si Kaceb merupakan seorang anak tunggal dari seorang ayah yang juga bekerja sebagai tukang becak. Itu mungkin masih sebagai kabar biasa dan ringan-ringan saja, jika ada seorang tukang becak yang berasal dari anak seorang tukang becak pula. Namun, ada yang membuat warga kampung tak jadi terharu dengan kisah si Kaceb, malah dianggap lucu. Katanya dulu ayahnya si Kaceb itu bernama Tukang Becak. Karena ternyata ayah dari ayahnya si Kaceb, atau bisa disebut kakeknya si Kaceb, juga merupakan seorang tukang becak pula. Maka dari itu ayahnya si Kaceb diberi nama Tukang Becak oleh kakeknya.

Konon menurut kabar yang juga beredar di warung-warung kampung ini, kakek si Kaceb yang bernama Abdul Kasur, merupakan seseorang yang memprakarsai alat transportasi yang bernama becak di kota ini. Terlampau dulu sekali katanya, ketika masa itu kakek si Kaceb masih menggunakan tenaga kaki untuk menjalankan roda-roda becaknya. Hingga pada masa itu becak baru menggunakan roda dua yang berjajar dan di atasnya ada semacam tempat duduk layaknya becak-becak yang ada di jaman sekarang. Lalu kakek si Kaceb menariknya dari depan melalui dua batang kayu yang agak melengkung.

Kakek si Kaceb terkenal sebagai sosok pekerja keras. Ia dulunya bekerja sebagai juru angkat di rumah megah pedagang Tionghoa. Juru angkat itu bahasa kerennya masa itu, kalau sekarang orang-orang menyebutnya sebagai kuli. Becak itu pun ia kenali ketika bekerja di situ. Becak yang dikenal orang-orang setempat berasal dari bahasa Hokkien, yakni be chia yang berarti kereta kuda itu digunakan oleh kakek si Kaceb sebagai alat untuk mengangkut barang dagangan orang Tionghoa majikannya tersebut.

Lalu lambat laun dan tidak terasa telah bertahun-tahun kakeknya si Kaceb mengabdikan diri sebagai juru angkat kepada orang Tionghoa itu. Akhirnya muncul masalah klise yang sering orang-orang ketahui dari keluhan para pedagang, yakni bangkrut. Kakek si Kaceb pun akhirnya mau tidak mau harus hengkang dari jabatan juru angkat itu setelah roda perdagangan orang Tionghoa tersebut dinyatakan resmi gulung tikar. Kakeknya merasa sangat sedih saat itu. Karena itulah pekerjaan satu-satunya yang sanggup dilakukan untuk menghidupi seorang istri tercinta dan seorang anaknya, yakni ayahnya si Kaceb yang bernama Tukang Becak.

Ternyata kakeknya tidak mau angkat kaki juga dari rumah orang Tionghoa itu. Berhari-hari ia tetap ndongkrok di rumah megah juragannya. Walaupun kemegahan rumah juragannya pun semakin purna pula, karena barang-barang seisi rumah terkuras habis untuk menebus kebangkrutan bisnis perdagangannya. Yang katanya, kebangkrutan itu terlahir akibat dari ulah istrinya yang tertipu oleh lelaki muda tampan yang kebetulan orang Tionghoa juga. Istrinya main cinta belakang dengan pemuda itu. Maka akhirnya istrinya menuruti segala yang diinginkan oleh pemuda itu, asalkan servis yang diberikan pemuda itu mampu memuaskannya.

Itu semua pun terjadi karena ternyata istrinya telah bertahun-tahun tidak dijatah oleh suaminya, lelaki setengah baya Tionghoa itu. Yang katanya sudah tidak kuat lagi. Lalu akhirnya bertahun-tahun pula istrinya main cinta belakang dengan pemuda tampan itu. Segala harta benda yang diacungi oleh pemuda itu pasti akan diberikan. Pemuda itu pun tetap senang dan bangga-bangga saja menjadi laki-laki simpanan. Walaupun bertahun-tahun meladeni perempuan tua yang sudah lumutan namun masih kegatelan itu.

Lalu istrinya pun kemudian diceraikan. Meninggalkan dua orang anak yang hanya tinggal nama. Keduanya sudah lama mati berboncengan naik sepeda. Mati berjamaah karena kecelakaan tertabrak kereta api ketika hendak berangkat sekolah tingkat awal dulu, setaraf Sekolah Dasar.

Lelaki Tionghoa yang sudah senja itu pun kini hanya dapat mengenang ending yang serba salah. Ia sebenarnya juga sangat merasa bersalah kepada dirinya sendiri. Karena ia merasa akar permasalahan dari kebangkrutan usahanya itu akibat dirinya yang tak mampu memenuhi kebutuhan istrinya. Jadi ia mencoba lapang dada saja. Walaupun semua telah pergi dari pelukannya. Istrinya pergi, hartanya juga lari. Hanya hutang-hutang saja yang masih terus menunggunya untuk segera dilunasi satu persatu.

***

Ternyata kakek si Kaceb belum mau juga angkat kaki dari rumah orang Tionghoa itu. Berhari-hari yang hampir seminggu ia tetap ndongkrok di rumah megah juragannya yang kini kosong tidak berisi apa-apa. Berhari-hari itu mereka berdua saling bercerita tentang keluarganya masing-masing, dari mulai masalah menghidupi anak dan istri hingga bagaimana cara membahagiakan istri. Termasuk juga masalah nafkah malam hari yang sering ditunggu-tunggu oleh setiap istri.

Orang Tionghoa itu pun semakin sedih yang menjadi-jadi. Bayangkan saja, apa rasanya seorang lelaki yang ditinggal dan dihianati oleh istrinya karena ia telah tak lagi mampu memberi nafkah malam hari. Sungguh sangat kasihan bila ada laki-laki semacam itu. Mungkin sebab itu juga yang menjadikan kakeknya si Kaceb tak kuasa pergi meninggalkan juragannya sendirian menikam kesedihan. Karena semua orang yang dulu di dekatnya telah tiada. Termasuk seluruh pekerjanya, penjaga pintu gerbang, penjaga toko, tukang kebun, juga para juru dapurnya. Semuanya pergi jauh-jauh meninggalkan juragan yang tinggal sebatang rokok itu. Dulu orang-orang menyebutnya begitu. Lelaki Tionghoa tua yang tinggal sebatang rokok. Karena ia perokok berat. Lebih-lebih ketika masa kebangkrutan itu. Selalu hampir setiap waktu ia menghisap rokok. Ibaratnya yang ada dalam puisi-puisi pemuda jaman sekarang, lelaki setengah baya itu adalah kereta yang asapnya terus memanjang dan tak pernah ada henti-hentinya.

“Kenapa kau tidak mau pergi dari rumah ini? Aku sudah tidak lagi memiliki apa-apa. Aku sudah tidak kuat membayarmu,” ucap juragan setengah baya yang telah benar-benar hampir tak menjadi juragan itu. Wajahnya yang keriput nampak menunggu jawaban dari kakeknya si Kaceb yang tak kunjung juga menyambut dengan kata-kata. Wajahnya mencoba berakraban dengan matanya yang kian melulu bertanya-tanya juga. Raut mukanya nampak murung campur gelisah dan kesedihan yang entah. Kepalanya seringkali menunduk resah dengan kopyah hitam yang menutupi beberapa gelintir rambutnya yang hampir genap memutih. Sambil matanya berkaca-kaca mengenang dan sangat menyesal ketika telah bertahun-tahun tak sanggup memberi nafkah malam hari kepada istri tercintanya. Nyaris air matanya mengucur, namun selalu tertahan akibat ingat kelaki-lakiannya ketika mulutnya tiap beberapa detik mengasap yang terus memanjang dan tak pernah ada henti-hentinya itu.

***

Setelah genap satu minggu, kakek si Kaceb akhirnya terpaksa harus angkat kaki dari rumah juragan yang telah bertahun-tahun menjadi tumpuan hidupnya. Dengan sangat terpaksa ia harus meninggalkannya jauh-jauh karena malam itu tiba-tiba rumah megah yang kosong itu menjadi gempar dan dikepung orang-orang. Ketika juragannya diketahui telah bunuh diri dengan memotong kemaluannya sendiri. Darah mengucur dari pangkal kemaluannya hingga merahnya merambah ke hampir seluruh tubuhnya. Entahlah kenapa, mungkin karena ia begitu menyesal dengan diri dan tubuhnya yang memiliki kemaluan semacam itu. Hingga ia membanting-banting dan memukul-mukulkan batang kemaluannya ke seluruh tubuhnya hingga darah berhamburan kemana-mana dan ia benar-benar kehilangan nyawa.

Kakek si Kaceb benar-benar angkat kaki. Selamanya, juragan Tionghoa itu tinggal kenangan. Mayatnya diurus oleh sebuah asuransi yang ternyata sudah dipersiapkan oleh mendiang sejak dulu semasa hidupnya jaya. Sehingga rumah serta tanahnya itu pun diurus asuransi tersebut. Namun dari kekosongan rumah itu masih menyisakan sebuah becak yang ternyata dulu dipakai kerja oleh kakek si Kaceb. Becak itu tidak sengaja terdampar di belakang rumah dan tertumpuk sampah-sampah, yang membuat penagih hutang tidak tahu keberadaan benda itu. Akhirnya becak itu pun dibawa pulang oleh kakek si Kaceb, setelah ditanyakan kepada pihak asuransi mengenai becak itu menjadi hak siapa. Ternyata pihak asuransi mengatakan bahwa becak tidak termasuk hak mereka, hanya rumah tanpa seisinya dan tanahnya saja yang diasuransikan untuk mengurus kematian juragan Tionghoa itu.

***

Kakek si Kaceb pulang ke rumah. Menemui seorang istri tercinta dan seorang anak, si Tukang Becak—ayahnya si Kaceb. Selanjutnya mereka hidup cukup bahagia. Kakek si Kaceb menjadi tukang becak. Mengemudikan untuk mencari nafkah guna menghidupi anak dan istrinya.

Namun konon setelah berjalannya waktu, pemerintahan Belanda pada masa itu melarang keberadaan becak. Karena jumlahnya yang semakin bertambah, yang katanya membahayakan keselamatan penumpang dan menimbulkan kemacetan. Entah kemacetan yang seperti apa, dalam cerita-cerita yang beredar di warung-warung semacam itu.

***

Lambat laun hingga negeri ini merdeka dan setelah meninggalnya kakek si Kaceb, becak masih tetap eksis juga pada masa ayahnya si Kaceb. Walaupun pada masa itu sempat ada aturan dari Gubernur, mengenai larangan terhadap angkutan yang memakai tenaga manusia, membatasi beroperasinya becak, hingga meletus razia mendadak di daerah bebas becak. Karena becak dianggap sebagai biang kemacetan, simbol ketertinggalan kota, dan dikatakan sebagai alat angkut yang tidak manusiawi. Walaupun pada sisi lain becak juga mulai tergerus persaingan dengan kehadiran ojek motor, mikrolet dan metromini.

Masa itu pemerintah juga mendatangkan 10.000 minica (bajaj, helicak, minicar) untuk menggantikan 150.000 becak. Pemerintah memprogramkan para tukang becak untuk beralih profesi menjadi pengemudi kendaraan bermotor itu. Dengan semena-mena pemerintah menggaruk becak dan membuangnya jauh-jauh dari ingatan para tukang becak. Namun si Tukang Becak, ayah si Kaceb tetap bertahan dengan becaknya. Hingga akhirnya ia meninggal, kemudian profesinya berlanjut diwariskan kepada keturunan selanjutnya, yakni si Kaceb. Sosok yang kini dikenal dan akrab di mata orang-orang, yang memiliki nama lengkap Kaceb Gnakut. Nama yang merupakan kebalikan dari nama ayahnya, Tukang Becak. Dibaca dari belakang.

Begitulah kisahnya yang terus berlanjut hingga masa ini. Si Kaceb yang sudah hampir purna sebagai lelaki setengah baya. Usianya sudah genap enam puluh lima tahun. Ia tetap mengayuh becak. Walaupun hari begitu panas pada musim bulan puasa semacam ini. Ia tetap hidup sebatangkara tanpa istri dan anak. Karena menurut kabar yang beredar di warung-warung, ia tetap setia dengan becak yang memiliki sejarah tersendiri bagi keluarganya. Keluarga becak.

Namun hingga kini ia berani memutuskan dengan serius untuk tidak ingin menikah. Bukan karena takut tak sanggup menafkahi atau mencukupi kebutuhan hidup anak dan istri, melainkan ia takut memiliki anak. Ia punya ketakutan tersendiri jika kelak anaknya menjadi tukang becak lagi. Tekadnya, ia ingin memutus keturunan keluarga sampai dirinya. Keluarga becak. ***

 

Kendal, Juli 2016 – Leiden, November 2019

Setia Naka Andrian lahir di Kendal, Jateng, 4 Februari 1989, pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Cerpennya tergabung dalam antologi Bila Bulan Jatuh Cinta (2009), Bukan Perempuan (2010), dll. Meraih penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.