Cerpen Gandi Sugandi (Radar Malang, 29 Desember 2019)

Jimat Mancing ilustrasi Istimewa
Jimat Mancing ilustrasi Istimewa

Kami belasan orang mengelilingi satu kolam pancing. Sibuk dengan lamunan masing-masing. Meskipun bukan musim hujan, bertopi atau berpayung. Kami tak mau, panas terik matahari membuat kepala pusing. Joran-joran itu membisu sekian lama. Tali temalinya terdiam di atas permukaan air. Bila ada riak, itu berarti awal kegembiraan.. Seperti yang kulihat, orang yang di sebelah selatan paling kanan, tersenyum bibirnya, kail pelampungnya bergoyang-goyang, ya, ada ikan terkait mata kail.. Berenang-renang ingin bebas.

Maka orang itu, tangan kirinya memegang joran kuat-kuat, tangan kanannya semangat memutar tuas penggulung senar. Bertahap. Bertahap. Agar bibir ikan tak robek.. yang bisa kembali terlepas. Berhasil pula ikan dikail. Dimasukannya ke dalam koja, wadah ikan. Saat kuperhatikan, wow sudah banyak yang didapatnya. Tak seperti diriku yang satu pun belum.

Lamunan masing-masing tak henti. Entah tentang apa. Hanya diri sendiri yang tahu. Pemancing di sebelah kiriku tiba-tiba girang. Mendapat ikan juga rupanya. Dia sampai berdiri. Matanya berkali-kali memandangku, seperti tatapan mengejek. Ya, sudah sesiang ini sedari pagi tali pancingku belum juga tersangkut. Merasa kesal. Pernah memang sekali bergoyang, tetapi rupanya harapan palsu. Itu karena tertiup angin yang agak kencang.

Kami semua pemancing terus tekun duduk. Tatapan tetap tertuju ke ujung pancing, tetapi pikiran menggerayang ke mana saja. Pada pekerjaan yang sedang dilakoni. Pada kebutuhan sehari-hari. Namun pikiranku berbeda, hanya ingin mendapat banyak ikan di kolam ini. Mengapa ya? Kiranya ada yang kurang. Mungkin umpan, atau yang lainnya? Tidak tahu.

Memancing saat pertama ini benar-benar sial. Muncul rasa malu, pada para pemancing lain. Ya, pemancing di sebelah kiriku berkali-kali tersenyum-senyum. Tetapi kutahu artinya, itu meremehkan, bahkan bisa pula meledek. Dia tahu persis, aku belum mendapatkan seekor pun ikan. Sampai siang pun berlalu, aku merasakan hampa di bibir kolam pemancingan ini. Tak pula mendapatkan hewan yang bermata melotot ini. Tiba-tiba aku mendengar pria di pinggirku tertawa. “Ha ha ha.”

Aku mendelik. Aku yakin, dia begitu bukan karena dalam lamunannya kala memancing ini ada yang lucu. Tetapi menertawakanku. Lalu dia pura-pura kembali serius, memandang tajam ke ujung tali pancingnya.

Eh, tak lama, aku kembali mendengar dia tertawa. Bahkan lepas. “Ha ha ha.” Para pemancing lain menoleh padanya. Ini kali lengkingannya menusuk hatiku. Aku naik pitam.

“Apa yang kau tertawakan?”

“Aku ingin saja. Lain tidak.”

“Tertuju padaku kan?”

Dia tak meladeniku, mengalihkan perhatian. Memang tali pancingannya kembali bergerak-gerak. Aku lihat kedua tangannya sibuk. Mulutnya tak henti bicara, membanggakan hasil yang didapatnya hari ini. Lalu katanya dengan suara pelan, “Lihat nih, dapat lagi.. Tak sepertimu.. Sedari tadi hanya lamunan segunung yang kau dapat.”

Hatiku kali ini terasa disayat sembilu. Pilu. Tetapi lidahku kelu. Bila aku di sini marah-marah tak terarah, apa kata mereka para pemancing mania? Maka dengan segenap jiwa raga, aku tahan gejolak di dada, agar tak semakin bergolak. Namun tak diduga, dia malah semakin menjadi mengolok-olokku. “Sudah saja mancingnya di ember.”

Kurang ajar! Dia tak tahu aku seorang perasa. Maka, jebol pula pertahananku. Aku tersinggung. Aku berdiri. Kedua tanganku menarik keras-keras kerah bajunya. Dia baru tahu.. kalau aku benar-benar marah. Dan dia ciut.. “maaf-maaf..” katanya. Darah yang keburu mendidih tak bisa didinginkan hanya dengan kata-kata itu. Bahkan sampai dia memohon, darahku masih saja panas.

“Sedari tadi kau meledekku. Kau sudah menghinaku..” Aku bicara keras.

Kali ini suaraku menarik perhatian pemancing lain. Beberapanya menghampiriku. Berusaha mendamaikan kami. Aku tetap kukuh dengan kemarahanku. Bahkan tanganku sudah mengepal, hendak menonjok mulutnya yang seperti perempuan itu. Ada seorang pemancing yang memeluk tubuhku, hendak meluluhkan hatiku.

“Sudahlah.. damai damai. Jangan hanya karena hal remeh, terjadi perkelahian.”

“Dia sudah berlebihan menghinaku..” kataku.

Melihatku yang tetap marah-marah, beberapa pemancing lain menjauhkan dia dariku. Awalnya keberatan, sepertinya berubah pikiran, hendak meladeniku. Namun temannya, merayunya agar lebih baik meninggalkan tempat ini. Dan kulihat, dia mulai melemah, patuh. Meskipun merengut, dia berkemas. Semua alat pancingannya beserta ikannya turut dibawa.

Demikian pula aku. Bersiap pergi. Dengan amarah yang masih membara menuju parkiran motor. Namun saat kaki kiri hendak menginjak pedal ke persneling pertama, ada satu panggilan. “Pak.. Tunggu..” Oh ini, Bapak yang tadi di sebelah selatan paling kanan.

Aku pun diam dahulu. Meskipun dengan ketus, bertanya. “Ada apa lagi?”

Lalu dia memerkenalkan diri. Katanya berasal dari satu tempat yang agak jauh dari kolam ini. Bila bermotor saat jalan raya lancar pun harus menempuh satu jam. Katanya, “Kalau mancing ingin dapat banyak ikan, ada rahasianya. Tak sembarang orang yang kuberi tahu. Hanya orang-orang tertentu sepertimu.. Ya, tadi kan kulihat, hatimu begitu terluka..”

Aku tertarik. Stop kontak motor aku matikan. Beberapa pemancing lain memerhatikan kami berdua. Masa bodo. Lebih memilih mengabaikan.

“Apa rahasianya? Juga, apakah aku harus membayarnya?”

“Kau janji tak kan memberitahukan pada yang lainnya? Kau juga tak usah bayar. Gratis.”Aku mengangguk.

Maka Bapak ini membocorkannya. Katanya, aku orang ke empat yang diberi resep ini, jimat memancing. Ada dua cara. Yang pertama membuatku bergidik. Katanya, sebilah bambu bekas mengukur jenazah untuk panjang kuburnya, bisa dipakai sebagai joran. Hasilnya tak akan mengecewakan. Lalu yang kedua, sebatang bambu yang dipakai sebagai sandaran satu jembatan di atas sungai kecil, yang saat waktu-waktu tertentu dipakai sebagai tempat kuntilanak duduk bersantai, juga bisa dipakai joran jempolan.

“Kau harus menanti kabar ada orang yang meninggal.. Kau bisa menunggunya dari pengumuman mesjid terdekat. Kau harus sabar.”

Aku berpikir, tak tega pada orang yang meninggal.. Tak tertarik. “Tidak ah. Merasa tabu..”

“Kalau begitu, bambu tempat duduk kuntilanak saja. Kau siap tidak? Kau harus mengambilnya saat di tengah malam, ketika bulan sempurna, dan seorang diri. Hanya saja, kau harus kuat. Dia tak akan rela melepasnya. Kau sanggup?”

Melihatku yang tetap diam, kembali Bapak ini berkata. “Atau kau tetap mau mendapat hinaan-hinaan lagi dari pemancing lain? Lalu berhenti dengan hobi barumu?”

Aku yang kadung sudah berniat untuk berhobi baru ini, menyatakan sanggup.

Kemudian malamnya di rumah, aku mengingat-ngingat, di mana di sekitar yang ada sungai kecil, dengan jembatan dari bambu.. Tak berhasil. Besok pagi, harus berkeliling mencarinya. Lagi pula kebetulan sedang hari Sabtu, libur. Meskipun harus membatalkan rencana, yang akan berwisata ke waduk pembangkit listrik tenaga air bersama keluarga kecilku.

***

Sudah beberapa anak sungai didatangi. Semua jembatannya sudah bertembok. Jangan-jangan, semuanya sudah begitu?  O tidak. Tentu harus terus berusaha menemukannya. Mungkin masih ada satu dua yang berjembatan bambu. Ini berarti, mesti mencarinya ke perkampungan yang lebih menjorok. Maka, aku mencarinya ke beberapa kampung.  Nihil. Malah sempat terbersit di hati, bahwa Bapak itu yang kemarin-kemarin membocorkan rahasianya, hanya berdusta belaka. Hanya iseng, mengerjaiku.

Tetapi dipikir kembali, dari keseriusan raut mukanya bahkan hasil pancingannya pun banyak, aku kira, Bapak itu tak bergurau. Baiklah, kali ini perjalananku mencari sebilah bambu akan diteruskan ke satu desa di sebelah selatan, di kaki gunung, yang paling terisolir. Pernah mendengar, ada sungai kecil. Tentulah ada jembatannya. Ah, hari menjelang sore. Ada keraguan, apakah saat ini, atau esok pagi. Hati yang bulat mengalahkan keraguan. Aku segera berbelok arah, menuju ke sana.

Sekira setengah jam, tiba di depan gapura desa itu. Lalu tak lama, menemukan jalan setapak, aku susuri. Motor aku lesatkan. Keadaan sepi tak melemahkan semangat. Jalanan setapak tertutup dedaunan. Sekira setengah jam kemudian, aku layak bersorak. Terdengar gemerincing air, berarti ada sungai, ada jembatan. Benar juga. Ketika aku tepat berhenti, nampak beberapa bilah bambu, horisontal dan vertikal, membentuk jembatan. Dan yang ada di sebelah kananku, bilah bambu yang horisontal, terasa lain. Beraroma mistis. Ya aku yakin, ini tempat kuntilanak itu bersantai saat malam-malam tertentu. Kini aku tinggal menunggu masa, ketika malam bulan sempurna bersinar. Hanya harus bersabar berhari-hari menunggu. Terasa amat lama untuk mendapatkan sebilah bambu itu—saat waktu malam Jumat keramat, sebagai tiba malam ke empat belas.

Istri geleng-geleng kepala saat aku utarakan maksud. Berkali-kali meyakinkan diri padanya. Aku bukan pria penakut. Aku sudah bulat bertekad.

Pukul sebelas malam, dengan berjaket tebal, motor dislag. Udara dingin menyambut, seakan berkata, “Selamat berjuang.. demi harga dirimu yang pernah terinjak-injak, saat kau diledek pemancing itu.”

Malam benar-benar gulita. Sepanjang kebun ini tak ada penerang. Hanya dari lampu motor. Dedaunan yang tergilas roda, kadang-kadang menimbulkan suara, memecah hening. Saat melewati kebun bambu, suaranya lebih keras lagi terdengar. Malah, bulu kuduk merinding. Tapi aku tak boleh gagal, rasa takut dibegal.

Lalu, saat sekira menjelang dua ratus meter tiba di jembatan itu, bulu kuduk kembali merinding. Tapi tak pudar semangat itu. Wajah pemancing yang menertawakanku tempo hari menjelma. Aku ingin membalasnya.

Sekitar seratus meter tiba di sungai itu, kini terdengar suara burung hantu. Entah di mana bertengger. Aku tak tengak-tengok.. pandanganku lebih diarahkan ke depan, demi masa depan cemerlang dalam karir memancing.

Semakin mendekat, suasananya semakin senyap. Dan suara gemericik air sungai semakin lebih nyaring terdengar.

Sorot lampu motor nampak terang benderang di kegelapan ini, tertuju ke jembatan. Namun aku terpaku. Kedua mata dikucek berkali-kali. Ya benar, tak salah salah melihat.. Jantung menjadi sangat cepat berdetak. Tertampak wanita bergaun putih, duduk-duduk dengan begitu santai di jembatan bambu itu.. Mendadak nyaliku ciut. Menjadi tertegun, tertohok. Aku yakin itu dia. Ini kali pertama melihat makhluk halus. Rasanya tak tahan dengan tak hentinya pandangan matanya yang begitu tajam..

Rasa keberanianku lenyap sekejap. Secepat yang kumampu, membelokkan motor, berubah haluan.. Akan hendak pergi dari sini. Namun baru saja berhasil memarkirkan.. wanita bergaun putih sudah ada di hadapan.. Aku terkulai, lalu tak ingat apa-apa lagi, apalagi pada jimat mincing. ***

Bandung, November 2019

Gandi Sugandi. Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000.