Cerpen Dino Rawan Putra (Medan Pos, 29 Desember 2019)

Hikayat Pak Tua, Ba Dan Bi ilustrasi Medan Pos (1)
Hikayat Pak Tua, Ba Dan Bi ilustrasi Medan Pos

Jika di dunia ini ada semacam audisi makhluk paling licik sejagat raya, maka babilah yang akan jadi pemenangnya. Tak akan ada lagi makhluk yang mampu menyaingi kelicikan babi. Babi tak perlu menanam untuk ikut memanen, ia hanya perlu menyuap anjing penjaga atau mengendap-endap dan menyusup, lalu tiarap dalam kegelapan malam saat para petani tertidur untuk menghabiskan seisi ladang.

Ba dan Bi adalah dua ekor babi yang paling menonjol diantara kaumnya. Yang satu bertubuh kurus sedang yang satunya lagi agak gempal daripada babi kebanyakan. Yang kurus bernama Ba, meskipun demikian (punya kendala dengan berat badan) tapi tidak serta merta membuatnya menjadi lemah, ia diberi kelebihan menyoal dengan isi kepalanya (kelicikan). Ia mewarisi kelicikan babi sejati.

Sedang yang bertubuh agak gempal namanya Bi, sama-sama licik, akan tetapi Bi dalam pertempuran satu lawan satu dengan Ba, Bi belum pernah sekalipun mengalahkan Ba, yang berarti Ba selalu lebih unggul daripada Bi, tentu saja unggul dalam soal adu kelicikan sesama Babi. Tapi keduanya dalam hal mencuri hasil ladang petani sama sekali tak pernah bertengkar, keduanya selalu kompak dan akur-akur saja. Hanya dalam hal pembagian jatah hasil curi mereka tetap kembali saling sikut-sikutan, saling memanfaatkan kelengahan masing-masing guna mendapat jatah sedikit lebih banyak.

Sudah tak terhitung kali Pak Tua menderita kerugian. Pak Tua geram, kali ini ia harus membuat perhitungan dengan para hama tersebut dan anjing penjaga sudah tak lagi bisa di andalkan. Sepotong tulang dari para babi sudah cukup membuat gonggongannya berhenti dan sebagai akibatnya Pak Tua untuk kesekian kalinya kembali menderita kerugian, kini Pak Tua harus turun tangan, tak ada lagi yang bisa diharapkan kecuali dirinya sendiri yang akan memburu dua junjungan kaum babi tersebut.

Ba terlihat begitu bersemangat, tenaganya pasti bisa untuk melewati tiga bukit, dua lembah, semak-semak padat yang berduri dan belukar diantara pohon-pohon pinus yang semampai itu. Tujuannya jelas, selain agar ia mendapatkan tubuhnya terendam dalam kubangan lumpur sejuk nan melenakan sampai penghujung siang nanti; ia juga punya janji dengan seorang teman. Ada sebuah kesepakatan paling rahasia yang ingin mereka bicarakan. Dan kubangan adalah tempat yang paling cocok untuk membicarakannya.

Terik matahari dan pertemuan dengan seorang teman adalah dua hal yang berbeda. Terik matahari telah memaksanya untuk harus menempati kubangan itu sesegera mungkin. Tak ada lagi tempat yang tersisa baginya untuk istirahat di antara pohon-pohon yang telah menggugurkan daunnya tersebut dan meranggas dan kering. Sinar matahari dengan mudahnya dapat menerobos masuk di antara ranting-ranting kering yang hampir mati itu untuk kemudian langsung mendarat di permukaan kulit babi yang kasar dan berbulu sangat jarang macam ijuk kering tersebut, sehingga membuatnya kepanasan.

Ba terus menyeret-nyeret keempat kakinya bergantian, terus dan begitu cepat sambil berharap inci demi inci kubangan itu juga terus mendekatinya. Ada semangat yang begitu kuat di dadanya, meluap-luap, panas dan mendidih. Bagi seekor babi, seperti yang kita tahu kubangan lumpur adalah surga yang penuh kesejukan, kedamaian dan kejayaan. Tak ada kubangan berarti tak ada kerja keras, kubangan adalah kerja keras. Selebihnya tak ada lagi, semuanya kerja ringan. Perihal menggondol kebun ketela petani saat petani tidur adalah hal yang paling mudah dan enteng dilakukan , hanya perlu sepotong tulang dan sebuah kesepakatan.

Kubangan kian dekat dan sang babi amat kegirangan, bayangan surga telah mencapai batas antara kening dan bola matanya. Hanya sekitar dua menit perjalanan lagi ia akan sampai pada tujuannya. Tepat dibalik rimbunan pakis dan belukar di depan sanatelah terhampar menganga kubangan berdiameter lebih dari 5 meter.

Sesampainya di bibir kubangan, Ba langsung melompat ke dalam kubangan. Merasakan kesegaran lumpur kubangan meresapi kulitnya yang kering, menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kubangan untuk menghilangkan rasa gatal dari panas terik saat dalam perjalanan.

Seekor babi yang lain bertubuh gempal, hitam dan bermata bulat lonjong kemerah-merahan telah lebih dahulu berada di dalam kubangan. Ia adalah Bi, teman seperjuangan sepencurian Ba sekaligus rivalnya. Bi hanya menatap temannya dengan pandangan yang sangat ramah dan bersahabat dan tersenyum dan berlalu sebab berbagi kubangan adalah hal yang paling tidak disukai para babi tapi merupakan cara yang paling tepat untuk menjaga persatuan di antara mereka (kaum babi).

Sepasang mata manusia mengintai dibalik rerimbunan semak sebelah selatan kubangan. Sepasang mata sayu dan lemah dan redup. Bias matanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam, penuh kekecewaan dan dendam: mata seorang yang hidup penuh dengan kekalahan.

Pemilik mata sayu tersebut ialah seorang lelaki tua kurus kerempeng bertelanjang dada dan bercelana pendek serta menggenggam parang bersiap dibalik rerimbunan. Mengintai dengan seksama. Menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Melumpuhkan kedua babi tersebut dengan sebilah parang tajam dalam genggamannya.

Kedua babi terus saja mengeliat dalam kubangan, menikmati kesejukan lumpur. Mereka sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang penuh dendam diam-diam mengintai di balik rerimbunan. Setelah asyik bermain lumpur, Ba menghampiri Bi, mereka mulai bercengkrama ala babi. Membicarakan rancangan demi rancangan, kesepakatan demi kesepakatan, yang jelas finish-nya adalah untuk keuntungan dan demi keuntungan. Sudah pasti percakapan para babi diantara babi hanya dapat dimengerti oleh para babi pula tapi setiap makhluk hidup yang memiliki gumpalan dalam rongga batok kepalanya pasti sudah tahu ke mana percakapan itu berujung pada akhirnya.

Dan satu hal lagi yang hampir dapat dipastikan adalah bahwa apa yang mereka bicarakan pasti selaluhanyalah persoalan perut, sebab babi tidak suka persoalan isi kepala apalagi tentang persaudaraan. Satu-satunya kepentingan yang paling penting bagi mereka hanyalah soal lambung dan lumbung bagi masing-masing babi. Kita tahu lambung dan lumbung adalah dua hal yang berbeda tapi tetap saja bermuara pada satu hal, yakni kerakusan; sebuah perasaan tak pernah kenyang dan selalu merasa kurang yang sudah tertanam ke dalam inti dari inti cacing-cacing yang bermukim di dalam otak mereka.

Pembicaraan mereka hari ini menjurus satu hal: mencuri hasil ladang para petani. Setelah mencapai kesepakatan, lalu keduanya pun beranjak ke luar dari dalam kubangan.

Pak Tua bersiap, sebelumnya tali penjerat sudah dipasang dalam bentuk simpul lasso sederhana yang disangkutkan pada sebatang pohon sebesar lengan pada jalur pulang kedua babi. Pohon tersebut dirundukkan dengan paksa menggunakan sebuah tali dan tali tersebut disangkutkan pada ranting yang sengaja ditancapkan ke tanah supaya saat babi menginjak ranting tersebut dengan sendirinya pohon tadi berdiri kembali dan talinya akan menjerat kaki si babi. Dan saat itulah Pak Tua akan keluar dari persembunyiannya.

Pak Tua menunggu dengan was-was, matanya terus memperhatikan kedua babi. Dan saat babi berjalan mendekat ke arah perangkap, Pak Tua mengambil napas dalam-dalam sambil mengumpulkan seluruh tenaganya. Matanya terus terpusat pada kedua babi. Pak Tua berhitung dalam hati, pada hitungan ketiga serta merta Pak Tua melompat dari rerimbunan; Ba masuk perangkap Pak Tua. Sementara Bi langsung lari terbirit-birit meninggalkan Ba. Bagi kaum babi pertemanan hanyalah tentang kerja sama curi-mencuri di ladang petani, tak ada yang namanya kesetiaan dalam berkawan, sekarang kawan, lima menit nanti mungkin musuh yang paling mematikan. Tak ada kawan sejati, tak ada musuh abadi, yang ada hanyalah perut rakus yang mesti diisi dan kenyang adalah segala-galanya.

Ba menyentak-nyentakan ikatan tali yang menjerat pada satu kakinya, matanya menatap tajam pada Pak Tua yang berdiri tepat di depannya sambil mengacungkan parang dengan tangan kanan sementara tangan kiri Pak Tua di posisikan agak kebelakang guna menjadi penyeimbang posisi berdirinya. Ba mulai merasa ketakutan melihat kemarahan pak tua, ia pun mulai angkat bicara.

“Ada apa denganmu Pak Tua?”

“Apa gerangan kesalahan yang telah kulakukan?”

Mendengar pertanyaan seperti itu Pak Tua hanya diam dan ia sama sekali tak berniat menjawabnya. Baginya semua sudah jelas, jadi tak ada yang harus diperjelas lagi. Melihat reaksi Pak Tua, Ba pasrah, dalam hatinya ia sangat tahu apa kesalahannya kepada Pak Tua. Tapi bukan babi namanya kalau ia kehabisan akal licik di dalam kepalanya.

“Bukankah semuanya bisa kita bicarakan dengan baik-baik, silakan hitung kerugianmu nanti akan kuganti dua kali lipat.” bujuk Babi Ba dengan senyum yang dipaksakan mengembang menghiasi raut wajahnya, agar terlihat ramah dan meyakinkan.

Tapi kali ini Pak Tua sudah membulatkan tekad; ia tak akan lagi tertipu.

 

Lahir dengan nama lengkap Dino Rawan Putra pada tanggal 21 September di Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.