Cerpen Wahyu Puasana (Serambi Indonesia, 29 Desember 2019)

Hama Bawang ilustrasi Istimewa
Hama Bawang ilustrasi Istimewa

SESAAT setelah hujan reda, ia keluar dari rumahnya sambil membawa gayung di tangan kiri. Gayung itu hendak ia gunakan mengambil air hujan yang tertampung di dalam ember. Air itu ia pakai untuk bersuci, sebab zuhur telah tiba.

Sambil membasahi satu per satu anggota tubuh, pikirannya terus memikirkan bawang yang ia tanam di ladang. Nanti sore ia harus menenteng penyemprot agar bawang terlindung dari hama. Sebab, hujan bukanlah kabar baik untuk tanaman bawang. Tapi mengutuki tentu mengecewakan Tuhan.

Setelah selesai berwudu, ia bergegas masuk  ke dalam rumah untuk sembahyang. Sajadah sudah ia gelar dengan rapi dan menghadap kiblat. Lalu, ia melakukan takbir sambil berniat. Mulutnya komat-kamit membaca doa-doa. Matanya terpejam. Perkara bawang kembali merasuki pikirannya.

Saat ini usia bawang sudah melebihi sebulan. Itu tanda bawang rawan diserang hama. Ia benar-benar tidak ingin hama itu menyebar lebih luas, sebab ada beberapa bagian ledeng yang sudah terkena hama dan yang pasti itu tidak akan bisa kembali seperti semula, lantaran beberapa hari sebelumnya hujan dengan intensitas sedang sering turun. Jika tidak siang, bisa jadi malam hari. Oleh karena itu, pada malam hari, jika bukan pagi-pagi buta, ia sudah harus menenteng alat semprot dan bergegas turun ke ladang.

Rakaat pertama ia lalui dengan memikirkan hama-hama yang akan merambat lebih luas pada tanaman.

Pada rakaat kedua ia mencoba untuk menggugurkan semua pikirannya, sebab ia khawatir akan kekhusyukan salatnya. Tapi apa daya, secara tidak sadar ia kembali larut dalam lamunan. Ia berniat untuk menyemprot bawang dengan kadar pestisida yang tinggi, sebab beberapa kali penyemprotan dengan kadar rendah, yang ia dengar-dengar sesama petani, belumlah memperlihatkan hasil memadai. Ia sudah memantapkan rencananya itu. Kadar pestisida yang lebih banyak dan jumlah liter yang lebih banyak, dia berpikir, akan membuat daya tahan bawang lebih kuat. Persetan dengan aturan pakai, kualitas tanah, jenis benih, dan segala tetek-bengeknya, dia membenak. Semua petani yang ia temui tidak memperoleh pengetahuan dari kertas, kecuali dari pengalaman dan anjuran-anjuran pedagang obat hama yang mengatakan semua produk mereka baik dan bagus digunakan.

Selama ini ia sudah menggunakan hampir semua pencekal hama, dari yang murah sampai harga yang hampir mencapai sekilo daging sapi saat meugang.

Pada rakaat ketiga, lamunannya semakin kurang ajar. Ia tidak lagi bisa mengontrol apa yang sedang ia lalukan dan apa yang sedang ia pikirkan.

Sebab, selain hama yang disebabkan air hujan, ada jenis hama ulat yang mulai menyerang tanamannya. Ulat itu berwarna hampir sama dengan daun bawang, kulitnya lembut seperti roti. Mereka menyerang daun, dan jika ia lalai membasminya bukan tidak mungkin ulat-ulat jahanam itu akan membasmi habsi daun bawang hanya dalam dua malam. Tidak perlu lama.

Perkara ulat, dia juga punya masalah tersendiri. Ulat-ulat yang berkembang biak pada tanaman bawang punya daya tahan berlipat ganda dibandingkan dengan ulat yang menyerang tomat dan cabai. Ia heran, dari mana ulat-ulat itu datang? Kenapa bisa beranak-pinak dalam waktu singkat, bahkan lebih singkat dari durasi manusia buang hajat.

Dalam rakaat itu, ia seperti merapal satu per satu obat pembasmi ulat, dari yang murah sampai harga yang menyamai satu stel seragam sekolah anaknya. Dia juga berpikir tentang sejenis daun langka, yang konon dedaunan itu apabila diminum oleh manusia bisa membuat mati,  tapi anehnya tidak berarti apa-apa pada ulat-ulat itu.

Ia pernah mendengar, ada beberapa petani yang sudah kehabisan akal mengatasi hama ulat, sampai-sampai menggunakan bahan bakar minyak atau pembersih toilet untuk membunuh ulat-ulat itu.

Pada rakaat terakhir ia mulai menyadari semua itu perkara usaha, yakni rezeki sudah ada yang menentukan, tidak tahun ini mungkin tahun depan, tidak di ladang mungkin di lain bidang. Setidaknya, kata dia dalam hati, ia telah berusaha.

Ia mencari-cari jawaban, mengapa para tengkulak yang tidak pernah menginjakkan kaki mereka di sawah, tidak pernah menenteng alat semprot, tapi bisa menikmati hidup dengan penghasilan di atas rata-rata, bisa mengajak keluarganya menikmati sore sambil jalan-jalan di pinggir pantai, dan punya waktu luang mengajari anak belajar. Tapi ia gagal menemukan jawaban tersebut.

Salat zuhur pun sudah selesai ia lakukan. Kemudian, ia mengubah cara duduknya dengan menyilangkankan kaki, mengangkat kedua tangannya, dan berdoa agar dimudahkan rezeki; agar tanamannya dijauhkan dari segala bentuk dan jenis hama, dan semoga laku dengan harga yang pantas. []

 

Wahyu Puasana, jurnalis. Menetap di Sigli.