Cerpen Gandi Sugandi (Radar Mojokerto, 29 Desember 2019)

Fondasi ilustrasi Radar Mojokerto (1)
Fondasi ilustrasi Radar Mojokerto

Telah bertahun-tahun Aman dan istri mengarungi biduk rumah tangga, tak ada riak-riak, ini karena keduanya saling percaya saling setia, dan secara bersama saling terbuka mengatur keuangan. Kemudian menginjak tahun kelima pernikahan, Aman mendapat warisan kebun, sawah yang lumayan luas.

Saat panen padi yang pertama, Aman mengulaknya sebagian, sebagiannya lagi ditanak untuk makan sehari-hari. Kecuali hasil kebun, Aman nyaris menjual semuanya. Yang hasilnya dibelikan pasir, batako, meskipun yang biasa saja. Di kali panen lain, membeli semen yang standar. Lalu pada kali-kali seterusnya, membeli bahan-bahan bangunan lainnya, yang juga berkualitas biasa.

Ya, dari hasil inilah Aman dapat merehab rumah panggungnya, yang sekaligus telah menasbihkannya sebagai yang pertama memiliki rumah tembok di kampung ini. Namun Oben tetangga terdekatnya, merasa kepanasan, ingin pula seperti Aman yang memiliki rumah tembok.

Oben juga punya sawah ladang, tapi tak seluas milik Aman. Oben rajin, tak sungkan bahkan meskipun menjadi tukang bangunan. Oben juga melakukannya dengan kontinu. Dalam setahun, biasa meninggalkan istri dan anaknya 6 bulanan untuk bekerja di luar kota. Saat pulang, selalu membawa cukup uang. Seperti pada kepulangannya di satu pagi, segera membeli pasir dan semen, yang nyaris semua uangnya habis untuk ini. Istrinya yang cerewet sempat protes, “Bagaimana dengan makan sehari-hari?” Dengan santai Oben menjawab, “Kita kan punya sawah, usah membeli beras. Makan seadanya saja. Yang penting kita miliki dahulu rumah tembok. Agar nyaman.”

Kemudian, Oben hanya beberapa hari tinggal. Lalu pergi lagi.

Pada kepulangannya yang kedua, Oben memborong genting dan keramik. Di kepulangannya yang ketiga, menebus kayu-kayu dan batu kali. Setelah dihitung-hitung, ternyata bahan-bahannya masih kurang. Maka Oben memindahtangankan sebagian sawahnya untuk menanggulanginya. Untuk pekerja, merekrut tetangga sekitar. Untunglah, ada beberapa orang keluarga besarnya yang ikut serta membangunkan rumahnya.

Kini, telah berdiri dua unit rumah permanen, di depan sebidang kebun jagung. Yang sebelah kiri bercat hijau, pemiliknya Aman;—bersela sepetak kecil tanah kosong—lalu yang satunya lagi rumah berwarna biru, dipunyai Oben. Keduanya merasa bangga.

***

Waktu terus berjalan, Oben di satu ketika mengeluh merasa lelah, dan tak lagi bekerja menjadi tukang ke luar kota. Sehingga, Oben kini tinggal di kampungnya. Oben dan Aman dapat pergi bersama ke sawah atau ke ladang. Tapi benarlah, hati orang tak ada yang tahu.  Tak disangka, Aman selama ini memendam rasa tak mau tersaingi. Ingin tetap menjadi yang nomor satu di kampung—dengan merancang untuk membangun kembali rumahnya menjadi dua tingkat. Namun di sore itu istri Aman keberatan. “Memang dari mana uangnya?”

“Kita tinggal  menjual lagi sawah atau kebun. Kan masih punya beberapa bidang tanah. Beres kan..”

Istrinya tetap tak setuju. “Kukira rumah kita ini sudah cukuplah.. Anak juga masih kecil-kecil.”

Aman bergeming. “Bukankah aku di kampung ini yang pertama berumah tembok? Juga sekarang, aku juga ingin yang pertama kali memiliki rumah bertingkat.”

Istrinya menyerah.

***

Oben pada hari-hari ini melihat keganjilan Aman. Biasanya setiap sore sepulang dari ladang, keduanya mengobrol seraya minum kopi di teras rumah Oben. Atau bergantian, Aman yang berkunjung ke rumah Oben. Malah bukan itu saja keganjilan Aman, bila berpapasan, menjadi acuh. Dan ini dipertanyakan Oben pada istrinya. “Tumben ya, kok sekarang Aman jadi begitu. Kenapa? Apakah aku punya salah padanya?”

Istri Oben tak tinggal diam, di satu hari saat Aman pagi-pagi sudah di sawah, bertamu menemui istri Aman.

“Sudah lama tak ke sini.. ” Istri Aman menyambut. “Ada apa gerangan?”

“Iya, aku juga ini terpaksa.. Padahal kalau ada apa-apa, kan tetangga sebelah juga yang pertama tahu. Seumpama ada orang jahat, penipu. Ya pokoknya pelaku kriminal. Atau misalnya kena musibah kebakaran.. ”

“Iya.. Terus ada apa? Sebentar ya, ambil minuman dulu sama makanan.” Istri Oben menunggu.

Lalu Istri Oben menerangkan dengan detail perihal suami Aman, yang kini telah berubah. Seperti yang tidak kenal saja.. Istri Aman menelisik bertanya. “Tidak mungkin kan, bila menjadi begitu tetapi tak ada penyebabnya? Coba saja katakan.”

Mulanya istri Oben enggan, malah termangu beberapa belas detik. Saat Istri Aman mendesak, terkuaklah pula. Tapi ini malah berakibat runyam. Istri Aman menjadi sewot, “Lho, ini kan rumahku.. mau ditingkatkan berapa pun gimana kami kan?”

“Bukan begitu maksudku…” Istri Oben mencoba berkelit, tapi percuma, Istri Aman keburu tersinggung. Nasi sudah menjadi bubur. Sudah hilang keramahan yang terpancar di wajah istri Aman.

***

Kini, dua orang wanita ini bermusuhan. Seperti juga suami-suaminya yang tak pernah bertegur sapa. Seperti ada dendam kesumat yang semakin parah. Bahkan saat pergi ke sawah, keduanya berbeda arah, Aman ke barat, Oben ke timur. Bila pulangnya tak sengaja berpapasan, saling membuang muka. Dan ini berlangsung berminggu-minggu. Puncaknya, suatu hari saat di pematang sawah keduanya berjumpa, saling meludah. Amanlah yang memulai..

Saat Oben tiba di rumah, perihal air ludah dibicarakan pada istrinya. Istri Oben tak terima. “Kalau begitu.. kita harus segera membangun rumah kita, agar menjadi bertingkat dua.. Emangnya Aman dan istrinya itu siapa?”

Oben pun sepakat. Akan menjadikan rumahnya menjadi dua tingkat, dengan melego sebidang sawahnya yang dekat irigasi.

Saat bahan-bahan bangunan kepunyaan Oben sudah bertumpuk di halaman, Aman sepulang dari ladang, kembali merasa panas hati. Tiba di muka rumah, langsung duduk di kursi teras depan, istrinya menjadi pelampiasan kegusaran. Secangkir kopi panas tak disentuh, lalat sampai tercebur, ayam yang mematuk goreng pisang tak dihalau..

Saat esoknya pembangunan rumah Oben dimulai, Aman pergi keluar lewat pintu belakang. Tak ingin bersitatap mata dengan mata Oben, yang kini seolah sudah merasa menang, meskipun sebenarnya draw.. Namun rupanya, setiap hari keluar lewat pintu belakang, cukup menyiksa Aman. Dia ingin membusungkan dada. Di depan sawahnya di sore itu, dia memandang menerawang.. Berencana akan kembali melepas sepetak sawahnya. Akan merehab lagi rumah menjadi tiga tingkat. Tak ingin bertekuk lutut pada Oben.

Saat niatnya diutarakan pada istrinya, keberatan timbul. “Kau ini… Untuk apa? Hanya karena gengsi, malah harus mengorbankan sepetak sawah? Mendingan buat masa depan anak kita Kang..”

“Tidak! Apalah artinya itu bila dibandingkan harga diriku yang tak ternilai..”

Istri Aman berpikir panjang.. Bertahun-tahun berumah tangga, adem ayem saja. Tak ingin terjadi yang lebih buruk. Lagi pula, bila kembali lagi kehilangan sepetak sawah, masih ada tersisa yang di sebelah utara. Istri Aman pun tak bisa tidak, mendukung saja.

Kini, di rumah yang bersebelahan itu nampak kesibukan. Keduanya membangun bukan dengan tujuan utama untuk bertempat tinggal agar nyaman, namun demi memertahankan harga diri. Ya tentulah, ini kali, Aman yang merasa di atas angin.

Seraya mengawasi pekerja-pekerjanya di depan rumah, wajah Aman cerah ceria. Sebaliknya dengan wajah Oben, ada merah-merah padam menahan marah..

Dan pada malam harinya, Oben meluapkan napsu bicara. “Kurang ajar! Rumahku pun belum selesai untuk ditingkatkan menjadi dua, Si Aman sudah mau merombak lagi.. Ya sudah, tanggung! Aku akan sekalian membangun tiga tingkat. Sebidang ladang akan dijual lagi.”

Istri Oben pun mulanya sama keberatan seperti istri Aman. Tapi tak bisa apa-apa.. yang kemudian sebidang ladang Oben pun terlepas..

Pagi itu, seraya mengawasi pekerja-pekerjanya, Oben dan Aman saling berkacak pinggang.

Lalu, setelah berminggu-minggu berlalu, bangunan keduanya hampir selesai pula, sudah bertingkat tiga. Telah beratap genting. Dinding-dindingnya tinggal pemolesan.

Dan rumah keduanya, setelah berbulan, rapi pula. Sesuai cita-cita, menjadi rumah paling mentereng di kampung ini. Tetangga-tetangga yang melewati kedua rumah ini takjub.. Sampai-sampai ada beberapa orang yang membungkukkan badan bila bertemu salah satu, atau kedua penghuninya.

Namun beberapa waktu kemudian, Aman kaget melihat dinding rumahnya retak-retak. Juga rumah Oben yang berkeadaan sama, malah lebih banyak retak, nyaris di setiap sudut ruangan.. Kebingungan melingkupi keduanya. Retakan-retakan kedua rumah, semakin saja melebar melebar. Dinding-dinding menjadi belah. Keduanya pusing, tak mungkin lagi menjual sawah atau ladang yang sudah makin menyempit saja. Tak ingin habis.

Kemudian di satu hari saat siang terik, rumah Aman roboh.. Hanya berselang hitungan belasan menit, menyusul rumah Oben yang roboh.. Keduanya menyesal, sedari awal tak membuat fondasi yang dalam. ***

 

Bandung, November 2019

Gandi Sugandi. Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Mulai tahun 2002 bekerja di Perum Perhutani. Tahun 2014, 2015 mendapatkan penghargaan sebagai karyawan berprestasi. Saat ini sebagai staf komunikasi perusahaan di KPH Bandung Selatan.