Cerpen Yusril Ihza F. A. (Koran Tempo, 28-29 Desember 2019)

Kanibal ilustrasi Koran Tempo (2)
Kanibal ilustrasi Koran Tempo

Setelah kabar pembunuhan Verhoeven yang dilakukan oleh orang kaya Banda, aku mendengar kabar dari beberapa agen dagang Inggris bahwa situasi di Kepulauan Banda sedang tidak baik-baik saja. Pun beberapa orang dari agen dagang itu mengisahkan tentang orang-orang berkulit hitam yang membunuh beberapa orang Belanda di hutan tepi sungai. Orang-orang kulit hitam juga melakukan penyerangan terhadap kastel VOC Belanda. Peristiwa perkelahian berdarah juga tak pernah bisa diselesaikan. Bahkan penghuni kastel sampai-sampai menderita kelaparan akibat adanya pengepungan dan penjagaan di luar kastel. Semua terjadi pada tahun yang sama ketika perjanjian damai berakhir.

Di telingaku, berita duka tentang peristiwa yang menimpa VOC Belanda terdengar seperti musik pengiring armadaku yang siap berangkat menuju Banda. Kupikir setiap pelaut akan menemukan halang-rintang yang menghadang pada setiap perjalanannya. Tidak ada permasalahan yang tak dapat diselesaikan, semua masalah pasti dapat teratasi, aku memiliki keyakinan kuat.

“Hari ini dan seterusnya adalah milik kita, milik orang-orang yang percaya pada kekuatan dalam dirinya!”

Aku memastikan semua awak kapalku untuk tidak cemas menghadapi apa yang akan terjadi di kemudian hari saat perjalanan berlangsung.

Di sisi lain, sistem perdagangan yang dilakukan VOC Belanda bukan seperti hubungan antara penjual dan pembeli, melainkan lebih seperti pemaksaan, atau perampokan berkala yang berlabel perdagangan. Pun mereka tidak segan meneriakkan ancaman-ancaman gelap untuk mempertahankan monopoli perdagangan, apa pun taruhannya. Sehingga lumrah saja ketika penduduk lokal melakukan perlawanan seperti yang dikisahkan para agen dagang itu kepadaku. Ketika sampai di sana, aku hanya perlu melakukan hubungan baik dengan penduduk pulau dan menghindari peperangan dengan VOC Belanda. Bagiku peperangan hanya akan menimbulkan kerugian besar. Perang adalah awal dari kehancuran dunia.

***

“Tuan, Nassau dan beberapa kapal VOC Belanda sudah terlihat!”

Salah satu awak kapalku mengabarkan bahwa kita sudah sampai di Neira, salah satu pulau dari Kepulauan Banda di mana harta karun tersembunyi berada.

“Tembakkan meriam dan senapan ke udara agar mereka tahu kedatangan kita!”

Aku sengaja membuat kedatangan ini sedikit meriah dan menegangkan. Lihat saja, bendera, panji-panji, bandul yang terikat di tiap tiang-tiang layar, juga permainan musik berada di setiap kapal armadaku. Hal ini sengaja kulakukan agar VOC Belanda mengetahui kedatangan kami.

Baca juga: Catatan Seorang Veteran – Cerpen Ranang Aji SP (Koran Tempo, 21-22 Desember 2019)

Tak lama kemudian, ada kapal kecil berlayar menuju kapalku, terlihat beberapa orang berada di atas kapal tersebut. Awak kapalku bersiaga, menodongkan moncong senapan ke arah mereka. Aku menyuruh awak kapalku menurunkan senjata dan membiarkan beberapa orang dari kapal kecil milik VOC Belanda naik di atas kapalku. Aku sudah tahu bahwa mereka hanyalah kurir utusan Gubernur Belanda Hendrik van Bergel.

Kurir itu diperintahkan agar aku mau menyerahkan surat komisi dari London, tapi aku menolak, aku hanya membacakan satu paragraf. Beginilah cara orang Eropa mempertahankan harga dirinya, bukan untuk kesombongan. Hal ini dibutuhkan untuk menghadapi lawan bicara. Siapa yang pandai berbicara, ia akan menguasai segalanya. Oh, satu hal lagi yang paling penting adalah semua ini hanyalah siasat.

“Kami hanya memastikan maksud kedatangan Tuan, juga apakah kapal ini adalah kapal dagang atau kapal perang?”

Aku tahu Van Bergel sangat geram atas kelancangan kami. Dalam hati, aku tertawa atas sikap Gubernur yang tidak bisa santai sedikit.

“Kami bukan segerombolan perompak, Tuan. Aku akan membayar apa yang aku ambil dan mempertahankan diri jika ada yang melakukan penyerangan.”

Setelah beberapa hari melakukan perdebatan, antara aku dan kurir yang bolak-balik ke kapalku, Gubernur Belanda itu mengirim The Great Sunne, sebuah kapal bobrok yang tak dapat digunakan untuk berlayar lagi. Kapal itu berisi 30 tong bubuk peledak. Tidak hanya itu, Van Bergel mengirim armadanya yang siap memberondong armadaku jika terjadi kegagalan dalam rencana peledakan The Great Sunne.

Baca juga: Adam Willy dan Sebuah Luka di Tubuh Keluarganya – Cerpen B. B. Soegiono (Koran Tempo, 14-15 Desember 2019)

Sejak awal aku tidak berniat untuk berperang, perang hanya milik orang-orang buta yang menggunakan kekuasaan untuk kepuasan pribadi. Setelah ancaman dan gertakan terjadi di antara kami, aku memutuskan mendatangi kastel, bertemu dan berbicara langsung dengan Van Bergel sebelum terjadi pertempuran.

Bertemu di Benteng Nassau, aku dan Van Bergel saling memberi hormat satu sama lain. Kami bertukar kata, sebagian tajam dan sebagian manis. Pada akhirnya, Van Bergel mulai melunak dan membuka sebotol anggur-kami berdua minum. Van Bergel mengajakku berjalan-jalan melihat-lihat kastel Nassau.

Sebelum pembicaraan kami mengarah pada urusan yang lebih rumit, aku menjelaskan kembali bahwa aku tidak berniat merampok atau bahkan berperang. Di sini aku hanya ingin berdagang. Lalu kutawarkan sejumlah uang pada Van Bergel sebagai imbalan untuk hak membeli rempah-rempah. Wajah Van Bergel terlihat cerah, ia tampak bergairah atas tawaranku, tapi tetap saja ia tidak mau memberikan izin atas transaksi rempah-rempah, kecuali di bawah ancaman pemenggalan kepala. Singkatnya, aku menyogok Van Bergel untuk perdagangan ilegal.

Aku memanggil semua anak buahku untuk mendengarkan perjanjian yang kami buat. Aku tahu VOC Belanda tidak begitu banyak menjamah Pulau Ai dan Run karena ombak dan angin yang kencang. Maka dari itu, aku lebih memilih meninggalkan Neira dan lebih memilih berlabuh ke kedua pulau itu untuk melakukan perdagangan rempah-Van Bergel menyetujui, juga dengan imbalan yang sudah kujanjikan.

Van Bergel sempat mengingatkan sebelum kepergianku, kalau aku tidak bisa menaklukkan ombak dan angin di pulau itu, aku harus bersiap untuk karam di pulau-pulau sunyi yang dihuni para kanibal. Mendengar kata “kanibal”-si pemangsa daging manusia-aku tertawa keras, hampir-hampir tak bisa kuhentikan tawaku. Tapi baiklah, aku menganggap apa yang dikatakan Bergel hanya bualan belaka sebagai salam perpisahan kami.

***

Persiapan seluruh armadaku menuju Pulau Ai sudah dilakukan. Akan tetapi, di tengah perjalanan-tanpa permisi-angin tiba-tiba berubah arah dan sangat sulit jika berlayar ke barat. Aku mengutus asistenku, Spalding, untuk pergi ke Pulau Ai dan mendirikan gudang di sana menggunakan perahu. Sisanya pergi ke Seram-daratan yang berada sekitar 100 mil ke utara-untuk membangun pelabuhan sebagai akses bolak-balik ke Ai, untuk mengangkut rempah-rempah.

“Pilihlah pala yang besar dan berat, pastikan untuk membeli pala yang cerah, tidak merah, kering, atau busuk. Masukkan ke stoples khusus, hindarkan dari kapur karena akan merusak pala-pala itu. Ingat! Perlakukan pala dengan baik agar tidak busuk dan kita tidak rugi!”

Baca juga: Salju Turun Lebih Awal di Tempat Ini – Cerpen Umi Salamah (Koran Tempo, 07-08 Desember 2019)

Oh, aku sangat mengutuk Direktur Company yang cerewet itu. Kalimat terakhir yang ditohokkan ke telingaku sebelum aku naik ke kapal saat pemberangkatan ekspedisiku membuat tidurku tidak pernah nyenyak. Mereka tidak tahu bahwa mengangkut pala dari gudang di Pulau Ai menuju pelabuhan Seram memerlukan perjuangan keras, terkhusus perjuangan melawan ombak dan angin yang tak pernah bersahabat. Begitulah Company, menjadikan uang sebagai alat kekuasaan. Tapi biarlah, setidaknya aku juga membutuhkan uang untuk hidupku. Di Eropa, hidup tanpa uang hanya menimbulkan kesengsaraan dan menunda kematian.

Setelah sembilan kali perjalanan dari pelabuhan ke Ai dan Ai ke pelabuhan, wajahku pucat, tubuhku menggigil, dokter awak kapalku menyarankan untuk beristirahat. Karena kalau tidak, kondisi tubuhku akan lebih buruk. Aku tidak begitu yakin akan orang baru yang kutunjuk mengawaki kapal untuk ekspedisi ke-10 ini. Akan tetapi badanku terlalu lemas untuk berhadapan dengan ombak dan angin laut. Kali ini aku menuruti saran dokter, kupikir besok aku akan sembuh, butuh waktu sehari bagiku untuk memulihkan kembali tenagaku. Awak kapal baru berangkat menuju Ai menggunakan Hopewell-kapal yang kugunakan selama sembilan kali perjalanan menuju Ai.

Sebenarnya, kekhawatiranku bukan kepada awak kapal baru yang melakukan ekspedisi ke sepuluh, melainkan lebih kepada Hopewell. Tidak semua mengerti keadaan Hopewell. Aku hanya dapat berdoa agar Tuhan memberikan kecepatan saat berlayar, karena aku sangat berharap Hopewell kembali dalam kurun waktu tujuh hari ke depan.

***

Setiap hari aku mengamati horizon dan berharap kapal kecil itu terlihat dari jarak mata memandang. Aku berusaha membunuh rasa waswas yang bercokol di pikiranku. Namun, sepekan berlalu, kemudian dua pekan, hingga hampir satu bulan, kapal kecil itu tidak kembali ke pelabuhan. Aku tidak bisa tinggal diam, aku harus melakukan pencarian. Pun sebelum berangkat, aku baru sadar bahwa juru sonarku ternyata ikut ekspedisi bersama Hopewell, maka terpaksa aku mempekerjakan tiga orang kulit hitam untuk berlayar bersamaku menggunakan perahu.

Ketika berada di luar jarak pandang daratan, tiba-tiba badai mengerikan datang dan memaksaku untuk menaklukkan lautan demi keselamatan nyawa kami. Awalnya kami bertiup kembali ke arah Seram, tapi tiada hitungan jam, angin kembali membawa kami jauh dari daratan. Hampir-hampir kami menabrak batu karang, tapi tak seorang pun di antara kami yang rela terempas karang, kami mempertahankan keadaan ini semalaman.

Saat fajar menyingsing, kami belum usai menghindarkan perahu kecil ini dari bahaya yang datang mengancam tanpa aba-aba. Kami terus berjuang hingga kami terseret ke sebuah teluk yang dangkal. Di sana setidaknya kami dapat keluar dari penderitaan yang diberikan laut kepada kami. Kami turun dari perahu, menyeret perahu menuju pantai. Di bawah pohon rindang, kami berteduh dari hujan.

Baca juga: Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua – Cerpen Sukron Hadi (Koran Tempo, 30 November-01 Desember 2019)

Entah kenapa tiba-tiba aku teringat lelucon Van Bergel tentang kanibal. Sialnya, dengan keadaan saat ini, aku mulai merasa ketakutan. Aku mencoba menepis ketakutanku, tapi kulihat sekeliling, ternyata aku berada di sebuah teluk yang tidak terdapat permukiman penduduk. Segera aku menyuruh tiga anak buahku menyusuri teluk ini, apakah terdapat permukiman penduduk, makanan, atau apa pun yang dapat menyelamatkan kami dari kematian, terkhusus dari ancaman kanibal seperti kata Van Bergel.

Salah satu dari ketiga orang berkulit hitam itu lari terbirit-birit ke arahku. Ia mengabarkan bahwa tempat ini adalah tempat para kanibal bermukim. Mereka akan bersembunyi di sepanjang pesisir dan siap memangsa orang kulit putih yang berani menginjakkan kaki di wilayahnya. Tidak banyak bercakap, segera aku kembali ke lautan untuk berlayar. Kutinggalkan kedua orang yang belum kembali, aku tidak peduli, yang terpenting aku selamat dan menyelesaikan tugas dengan baik.

Semenjak aku menginjakkan kaki di bumi bagian timur, laut tidak pernah bersahabat denganku. Lihatlah, jangkar perahuku patah, hujan turun deras, angin bertiup sangat kencang, dan aku benar-benar tidak bisa meninggalkan teluk ini. Untungnya, kedua anak buahku datang dan menemukan jalan keluar untuk menghindari para kanibal itu. Satu-satunya jalan adalah melakukan pendakian sejauh 12 mil perjalanan darat. Aku menuruti mereka berdua yang lebih mengerti iklim dan keadaan tanah di bumi bagian timur.

Meskipun sudah lolos dari para kanibal itu, aku tetap belum lolos dari penderitaan yang terus-menerus menimpaku. Di tengah perjalanan, kami terhalang sungai besar. Seorang di antara kami mengatakan bahwa sungai itu dipenuhi buaya-buaya besar.

“Jika aku melihat satu, aku akan membunuh buaya itu sebelum buaya dan para kanibal yang ada di darat itu memakanku hidup-hidup.”

Aku mengatakan kepada ketiga anak buahku. Aku menyuruh mereka segera membuat rakit dari batang pisang. Setelah rakit jadi, dengan membuang semua keraguan, kami menyeberangi sungai itu. Arus sungai besar itu amat deras akibat hujan lebat yang tiada berhenti.

Baca juga: Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran – Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 23-24 November 2019)

Di tengah perjalanan, di sepanjang tepi sungai, terdengar suara kelebatan dari semak-semak dan pohon-pohon. Seketika juga muncul satu orang berkulit hitam dengan memakai kain yang menutupi kemaluannya, membawa tombak, dan memakai penutup kepala. Sialnya, mereka susul-menyusul keluar dari semak-semak, dari balik pohon dengan membawa senjata mereka masing-masing, puluhan anak panah siap melesat ke arahku.

“Apa mereka yang disebut kanibal?” kataku lirih.

Seketika ada goncangan dari bawah rakit yang kunaiki. Aku bersama tiga anak buahku terpelanting, jatuh ke dalam sungai. Di dalam air, aku melihat sebuah tongkat kayu besar menabrak pandanganku. Kepalaku pening, aku tak bisa merasakan apa-apa, tak bisa melihat apa-apa, semua berubah jadi hitam.

***

Saat aku membuka mata, di depanku, aku melihat orang-orang kulit hitam yang disebut kanibal itu mengelilingi tubuhku yang tak berdaya. Aku mengintip dari celah-celah kaki mereka, kulihat kayu bakar bertumpuk tinggi, dan beberapa dari mereka berjalan mengelilingi kayu bakar itu sambil mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti artinya, mungkin seperti mantra atau doa sebelum makan. Aku tidak punya harapan lagi, mungkin ini jalan takdir seorang pelaut-tamatlah riwayatku.

“Tuan, sudah bangun?”

Aku mendengar suara salah satu anak buahku. Kubuka kembali mataku, salah satu anak buahku datang bersama seorang perempuan berkulit hitam, buah dadanya bergelantungan. Ia hanya menggunakan kain sebagai penutup lubang kemaluannya. Perempuan itu membawa sesuatu yang dibungkus daun dan tempat cekung mirip seperti mangkuk, tapi terbuat dari batok kelapa. Perempuan tersebut menyuruhku minum sesuatu dari mangkuk kelapa itu. Awalnya aku menolak karena takut bahwa itu racun, tapi anak buahku meyakinkan.

“Tenang, Tuan. Orang-orang Suku Pedalaman akan membantu pencarian Hopewell. Salah satu dari mereka ada yang dapat melihat jarak jauh di mana kini Hopewell berada. Sekarang mereka sedang menyiapkan upacara untuk memanggil roh nenek moyang untuk mendapat bantuan dan keyakinan penuh mengenai tempat Hopewell berada. Sekarang Tuan harus minum ramuan yang terbuat dari rempah-rempah ini agar tenaga Tuan cepat kembali dan dapat melanjutkan perjalanan.”

Aku meminum ramuan itu, rasanya aneh, pahit, beraroma wangi, dan tentu hangat airnya terasa sampai ke seluruh tubuh. Beberapa hari berlalu, aku terus menerus meminum ramuan dari bahan rempah-rempah ini setiap hari. Segera aku menyadari mengapa pedagang di seluruh dunia saling berebut wilayah di bumi bagian timur, rela menumpahkan darah hanya untuk rempah-rempah yang ada di kepulauan kecil Hindia. Aku memikirkan itu sembari berjalan-jalan mengelilingi permukiman.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

“Tuan, Tuan, Tuan! Kepala suku sudah menemukan di mana Hopewell berada, besok kita bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Hopewell ternyata tersapu badai mengerikan dan mengarah menuju 30 liga ke timur Kepulauan Banda.”

“Apa dapat dipastikan kebenarannya, atau mereka hanya akan membuang kita ke laut, atau mereka…”

“Tuan, saya juga orang berkulit hitam. Tuan juga bukan bangsa Portugis. Saya sudah menjelaskan kepada mereka.”

Jujur, aku tidak memahami apa yang dimaksud, tapi saat ini aku hanya memiliki harapan dan kepercayaan terhadap orang-orang berkulit hitam yang sedang bekerja di awak kapalku ini. Keesokan harinya, aku bersama prajurit Suku Pedalaman menyusuri Kepulauan Banda, dan benar, aku menemukan Hopewell. Butuh waktu hampir dua minggu membawa Hopewell kembali ke Seram, tentu saja dengan bantuan prajurit Suku Pedalaman. Aku sangat berterima kasih kepada mereka.

***

Setelah kejadian itu, aku kembali melakukan pengangkutan dan transaksi perdagangan pala dengan penduduk Pulau Ai seperti biasa. Setelah beberapa pekan berlalu, aku ingat perkataan anak buahku tentang aku bukan bangsa Portugis. Aku menemui salah satu anak buahku yang sedang bekerja. Aku bertanya padanya, apa maksud dari aku bukan bangsa Portugis? Apa karena itu aku tidak jadi dipanggang hidup-hidup oleh mereka? Rasa penasaran itu bermunculan. Orang kulit hitam, anak buahku itu hanya menjawab dengan santai, merekahkan senyum barang sebentar.

“Orang-orang negeri Timur, orang-orang kulit hitam, tak akan jadi kanibal kalau mereka diperlakukan layaknya manusia, Tuan.”

Aku bergeming, ia kemudian meninggalkanku sendiri di tengah keramaian pelabuhan. Aku melihat jauh ke tengah laut. Sekarang aku tahu apa yang harus kulakukan terhadap VOC Belanda itu, tentu sebagai pesaing dagang yang cukup merepotkan.

“Nanti malam kalian boleh meminum anggur sepuasnya. Besok kita akan berlayar ke Pulau Run!”

Semua awak kapal armadaku bersorak-sorai bahagia menyambut instruksi dariku. 

 

2019

Yusril Ihza FA, aktif di Komunitas Teater Kaki Langit dan Komunitas Sastra Rabo Sore. Selain menulis puisi dan naskah drama, ia kerap menjadi sutradara di beberapa pentas. Pada 27 Oktober 2017, naskah dramanya yang berjudul Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’ mendapat penghargaan sebagai naskah terbaik hingga mengantarkan Teater Kaki Langit menjadi Penyaji Terbaik dengan mendapatkan tujuh nominasi terbaik (Penyaji, Naskah, Sutradara, Aktor, Artistik Panggung, Make Up & Costume, dan Musik) dalam Festival Teater Se-Jawa Timur di Universitas Negeri Malang. Pada akhir 2018, naskah dramanya yang berjudul Lahirnya Kematian menjadi juara III di Sayembara Penulisan Naskah Lakon yang diadakan Dewan Kesenian Jawa Timur. Pada 2018, naskahnya Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’ yang dia sutradarai dipentaskan dalam produksi #3 Teater Kaki Langit di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Buku naskah lakonnya yang telah diterbitkan: Menunggu Badai Reda ‘9 November 1945’ (Penerbit Interlude, 2019) dan Di Seberang Sana (Penerbit Paganpress, 2019). Sekarang ia sedang melakukan Residensi Penulis Indonesia di Banda Naira, yang diselenggarakan oleh Komite Buku Nasional 2019.