Cerpen Kristin Fourina (Minggu Pagi No 38 Th 72 Minggu IV Desember 2019)

Koloni Rayap ilustrasi Minggu Pagi (1).jpg
Koloni Rayap ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

SEDERAS apa pun hujan, yang kutahu, yang ia tunggu selepas hujan awal musim hanyalah kumpulan laron yang beterbangan. Namun, tak seperti orang-orang pada umumnya di kampung kami yang riang berlarian ke sana kemari untuk menangkap laron-laron itu. Aku selalu melihat gadis itu dalam keadaan diam. Beberapa laron ia biarkan terbang dan menempel di tubuhnya seperti kupu-kupu menempel pada bunga. Ia tak pernah menepiskan laron-laron itu dari tubuhnya.

Aku selalu merasa bahwa ia tak pernah menyadari kehadiranku di dekatnya jika aku tak mengajaknya bicara. Ia selalu saja diam serupa manekin yang dipajang. Ia bisa bertahan lama-lama dalam keadaan seperti itu sampai menjelang siang hingga kumpulan laron hilang beterbangan atau kembali masuk ke sarang. Aku selalu menemaninya tanpa mengerti dengan jelas apa yang sedang ia tunggu dari sekumpulan laron yang beterbangan.

“Apa yang kau tunggu dari sekumpulan laron ini?” tanyaku suatu ketika.

“Mereka menumbuhkan ingatanku kembali pada Ibu,” jawabnya.

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

Adakah ibunya dulu sering menangkapkan laron-laron itu untuknya? Itu yang sebelumnya selalu kubayangkan. Satu demi satu laron itu dimasukkan ke dalam kantong plastik lalu diberikan untuknya. Kemudian setelah satu kantong plastik penuh oleh laron, ibunya akan mengayak laron-laron itu di atas tampah sampai sayap-sayap laron itu lepas. Ya, mungkin saja dia dulu juga sama seperti anak-anak seusianya, merengek ingin digorengkan laron untuk lauk nasi putih yang mengepul. Rasanya gurih nikmat. Itulah yang sering anak-anak lakukan di kampung kami ketika hujan awal musim tiba.

Namun, sepertinya sejak aku mengenalnya, aku tak pernah melihatnya dengan sengaja menangkap laron-laron itu. Padahal begitu banyak laron merubunginya karena terkadang ia duduk di dekat sarang laron yang berhamburan.

Suatu ketika aku terkejut menemui kakinya digigit koloni rayap yang ada di sekeliling sarang laron.

“Lihat!” seruku sambil menunjuk kakinya yang digigit koloni rayap.

“Mengapa diam saja?” tanyaku heran sambal menepiskan koloni rayap itu dari kakinya.

Tanganku kukibas-kibaskan pada kakinya, berharap koloni rayap itu tak merobek kulit kakinya yang mungil.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Hanya menyingkirkan kakimu dari koloni rayap itu.”

“Buat apa kau lakukan itu?” tanyanya lagi.

Namun aku tak menjawab. Itu pertanyaan yang aneh, pikirku. Mengapa ia harus menanyakan hal yang sudah jelas? Tentu saja aku ingin melindungi kakinya dari koloni rayap.

“Jangan!” jeritnya.

Mana mungkin aku tega membiarkan kakinya diserbu koloni rayap itu. Agaknya ia sama sekali tak menghindar. Bahkan ia menepiskan tanganku dari kakinya.

“Apa yang kau harapkan dari koloni rayap ini?” tanyaku tak sabar.

“Jangan ikut campur,” jawabnya singkat.

“Aku hanya ingin tahu.”

“Untuk menumbuhkan kenanganku pada Ibu.”

Aku meletakkan tangan kananku pada salah satu bahunya.

“Harusnya Ibu tak perlu pergi meninggalkanku,” katanya lirih memulai kenangan akan ibunya.

Sekali waktu, katanya, bapaknya yang menjadi sopir ditugasi untuk mengantarkan juragannya ke luar kota. Bapaknya tahu, itu bukan waktu yang sebentar. Awalnya, bapaknya menitipkan ibunya dan ia pada tetangga. Siapa pun tahu, tetangga terkadang memiliki hubungan lebih erat melebihi saudara karena ia lebih dekat.

Tanpa bapaknya mengerti, satu waktu ketika bapaknya pulang, bapaknya menemukan ibunya tengah mendekap tetangga lelakinya itu dengan erat. Saat itu, mereka sama kebingungan. Kemudian, bapaknya lebih memilih untuk tak jadi pulang. Semua urusan berlanjut ke pengadilan.

Bersama keputusan pengadilan, ibunya berubah menjadi seorang pendiam. Memang benar, ibunya telah melakukan kesalahan, tapi semua orang juga sudah lebih dahulu paham bahwa bapaknya pun tak lebih bisa dibanggakan di mata keluarga. Bapaknya sendiri, ia perhatikan, tidak jarang keluyuran di tengah malam. Kira-kira sudah dua kali perhiasan ibunya dijual atau digadaikan hanya untuk melunasi utang yang barangkali digunakan hanya untuk bersenang-senang bersama kawan-kawan. Pada saat itulah, banyak orang mengatakan bahwa bapaknya juga senang bermain perempuan.

“Aku tahu Ibuku memang salah, tapi aku juga tahu bahwa Bapakku mungkin saja melakukan kesalahan melebihi kesalahan yang dilakukan Ibuku,” katanya kemudian.

“Dan itu yang membuat Ibumu pergi meninggalkanmu?” tanyaku padanya karena selama ini aku hanya tahu bahwa ia memang hanya tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah renta.

“Mengapa Ibu harus merasa bahwa tubuhnya tak lebih dari sebongkah kayu lapuk yang tak berguna?” Ia bertanya bukan padaku melainkan pada dirinya sendiri.

Katanya kemudian, sebelum ibunya memutuskan untuk pergi, ia selalu mendengar ibunya mengatakan bahwa hidup ibunya sudah tak memiliki tujuan. Meski ibunya berusaha tegar, tetapi yang selalu ibunya katakan hanyalah bahwa dirinya telah serupa kayu lapuk tak berguna. Rayap-rayap telah datang menggerogoti kesantunan jiwanya yang selama ini telah berusaha sekuat tenaga ia jaga. Semakin ia melawan rayap-rayap itu, semakin banyak rayap itu menyerbu. Akhirnya ibunya merasa bahwa jiwanya telah busuk dan lapuk.

“Setiap hujan di awal musim tiba, aku selalu teringat pada Ibu,” katanya, “Walaupun penuh rayap, tampak di mataku bahwa rayap-rayap itu juga tak selamanya akan tetap menjadi rayap. Bahwa kelak rayap itu juga akan sampai pada masanya untuk menjadi laron yang mampu terbang secantik kupu-kupu.”

Aku memerhatikan setiap gerak-geriknya. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun ketika aku melihat koloni rayap atau pun laron, tak sepertinya. Aku tidak mengerti adakah ia duduk di dekat sarang rayap hanya untuk menumbuhkan kembali ingatannya pada ibunya atau untuk apa?

“Aku tidak tahu, apakah laron-laron itu suatu waktu mampu menerbangkan Ibuku kembali untukku?” tanyanya.

Tak ada yang tahu, batinku.

 

                                                           Kulonprogo, 2019

   Kristin Fourina. Tambak 012/006 Triharjo Wates Kulonprogo Yogyakarta.