Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Desember 2019)

Benny Arnas - Lakonhidup dot Com Fix

Kerap kali, seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian merasa menjadi sumber solusi, motivator segala kegalauan, dan penjawab segala pertanyaan. Jenis “pusat perhatian” apa pun itu. Termasuk sebagai seorang penulis maupun pembicara. Ia kerap lupa kalau “pusat perhatian” itu tak lebih buah dari “framing” atau pengondisian, baik olehnya sendiri, maupun oleh orang-orang tertentu yang memberinya keistimewaan sementara. Catat: sementara. Padahal, misalkan keluar dari frame, ia tak lagi jadi pusat perhatian alias semua kecakapan dan keistimewaan yang tadinya melekat otomatis lepas dari dirinya. Ia tak lagi menjadi pemecah segala masalah, kata-kata inspiratifnya takkan didengarkan, dan orang-orang pun takkan antusias bertanya. Tentu saja hal ini, bagi yang susah menerima, akan menimbulkan perasaan syok, tak terima, star-syndrome atau sejenisnya, yang menyusup ke aliran darah tanpa disadari. Duh!

Pada titik ini, framing sebenarnya bukan hanya memiliki kekuatan untuk membingkai urusan menjadi lebih terperhatikan, framing juga rawan menjadikan seorang amatir banci tampil merasa paling tahu dan paling berhak mengemukakan pendapat yang diperlukan khalayak—celakanya ia merasa benar-benar dipercayai cum terpercayai, bahkan untuk urusan-urusan yang tak ia ketahui.

Ya, tak jarang kita mendapati para penulis yang berkhotbah tentang persahabatan yang klise atau membuat deskripsi penyebab peristiwa Bom Bali dengan detail seakan-akan ia lebih paham dari pakar terorisme atau seorang pembicara yang menjawab pertanyaan tentang mengarang yang baik dengan mengambil contoh proses kreatifnya yang merasa nyaman menulis saban pukul 12 siang di atas pohon kelapa ketika hujan panas sedang turun dan petir menyambar-nyambar …. Framing seharusnya membuat kita mengurusi lebih sedikit hal karena wilayah tulisan dan tema percakapan sudah dibingkai, sudah dipagar, sudah dikunci, sehingga sejatinya kita akan menulis dan membicarakan hal-hal dengan cakupan yang sempit, sangat sempit.

Baca juga: Berkarya = Kedaulatan Bersuara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Desember 2019)

Yang juga kerap dilupakan adalah, framing sebagai penulis dan pembicara menjadi adalah sementara, fana. Padahal, sangat bisa dinalar bahwa ketika tidak menulis, kita adalah pembaca; ketika tidak sedang berbicara,  kita adalah pendengar. Ketika tidak menyuguhkan karya, kita manusia biasa; sebagaimana ketika kita sudah turun panggung, status dan posisi kita adalah penonton alias peserta alias sungguh bukan siapa-siapa.

Kesadaran bahwa segala urusan itu akan dipergilirkan adalah hal penting untuk membuat seorang penulis menguasai medan ceritanya dan hanya mengeksplorasi hal-hal yang memang sudah ia bereskan, juga untuk membuat seorang pembicara sadar bahwa tanpa pengondisian dari panitia, ia tak lebih sebagai pengasuh anaknya di rumah karena istrinya ngantor atau seorang buruh di sebuah perusahaan konveksi yang sibuk dengan target produksi—sebab menulis takbisa ia gantungkan sebagai mata pencaharian, sebagaimana undangan sebagai pembicara yang dihonori tak datang saban pekan.

Maka, adalah sangat aneh ketika dalam beberapa tulisan, seseorang menulis “seharusnya begini” atau “semestinya begitu” atau bahkan “jelas saja itu salah, sebab yang benar adalah …”, seakan-akan ia lupa bahwa ketika sedang menghasilkan tulisan, ia membingkai diri, pikiran, dan tentu saja tulisannya untuk kebutuhan dan kepentingannya. Juga ketika seorang pembicara secara membabi-buta menjawab apa saja yang ditanyakan audiens, seakan-akan tak mau menyia-nyiakan kesempatan menjadi pusat perhatian—walau hanya beberapa saat—sekaligus menganggap pendengar adalah sekumpulan orang dungu yang menantikan sabdanya.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Desember 2019)

Mereka kerap lupa kalau “frame” itu bisa pecah dan patah sekaligus dibuang ke dalam tong sampah. Mereka juga kerap lupa bahwa “frame” itu bisa dibeli, dibuat, dipesan, atau siasati sedemikian rupa.

“Mbak, menurut Anda bagaimana seharusnya saya mendidik anak saya yang baru berumur 6 tahun agar suka membaca dan meninggalkan gadget?” tanya seorang perempuan paroh baya pada gadis matang yang tak lain tak bukan adalah seorang penggiat literasi terkemuka dari Negeri Entah-Berantah.

Dengan tangkas si pembicara mengambil pelantang suara, mengeluarkan jawaban tanpa memberi ruang bagi kepalanya untuk menimbang-nimbang banyak urusan, termasuk apakah ia memang kapabel menjawabnya atau tidak: “Sebaiknya Ibu …. lalu Ibu …. Ibu paham sekarang?”

Lalu majelis hening. Lalu sebagian bertepuk tangan. Sebagian kecil kebingungan.

Pembicara lupa kalau di usia yang menginjak 40 ia belum menikah, alih-alih berpengalaman mengurusi anak; ia juga belum pernah menulis atau menelaah satu buku anak pun, alih-alih mengkhatamkan satu-dua buku parenting penting abad ini; tapi … dia pembicara. Ya, dia pembicara. Itu yang paling ia sadari. Bahwa ia di-framing sebagai pembicara alias berstatus pusat perhatian untuk sementara waktu, sungguh tak masuk dalam wilayah kesadarannya. Meskipun, ketika masuk dalam wilayah kritis yang adil, audiens seharusnya tidak menuhankan pembicara atau penulis sebagai orang yang paling tahu, paling banyak tahu, paling layak dipercayai, atau paling bisa didengarkan kata-katanya!

“Mas Benn, sebagai sastrawan dan pegiat literasi yang sudah terkenal dan menghasilkan banyak karya, mohon berikan pencerahan kepada kami,” Mbak Tri, founder TBM Helicopter, Sedayu, Yogyakarta, memegang pelantang suara sore itu, “Apa dan bagaimana rumusan gerakan literasi terbaik bagi anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunarungu dan tunawicara yang menjadi binaan TBM kami?” Mbak Tri lalu menurunkan pelantang suara. Bersiap menyimak jawaban saya, Si Pembicara Mahatahu, yang hanya bisa bengong.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Saya membaca sejumlah buku dan kajian terkait pendekatan pendidikan untuk kaum difabel, saya bahkan sempat menang lomba penulisan esai terkait pendidikan bagi mereka yang berkebutuhan khusus, tapi … apa yang saya saksikan di Helicopter saat kali pertama menginjakkan kaki di taman bacaan ini, sungguh membuat saya jadi remah sagon dan … barusan Mbak Tri ingin meniup remah-remah itu. Kelewatan sampean, Mbak!

Sedari awal saya hadir di Helicopter, tuturan MC, pemandu acara, dan saya diterjemahkan seorang peraga bahasa isyarat di hadapan audiens tunarungu dan tunawicara yang terlokalisasi di bagian kanan lingkaran majelis sore itu, dengan sangat ekspresif. Mereka tampak khidmat menyimak bahasa isyarat seraya sesekali melirik ke arah saya, seolah hendak memastikan kesahihan bahasa isyarat dengan gerakan mulut saya. Ah, luar biasanya!

“Maaf, Mbak Tri, saya tak bisa menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan itu selayaknya keluar dari mulut saya untuk Mbak. Sayalah yang harusnya belajar banyak pada Anda tentang bagaimana Helicopter melakukan semua ini. Kedatangan saya di sini, meski atas undangan kalian, sejatinya sedang mendapatkan kuliah tentang literasi yang sedikit pun tak saya jamah, tak Benny Institute urusi, hingga hari ini.” Lalu saya merasa lebih lega, lebih gembira, lebih ikhlas melepas bingkai yang mengitari diri saya.

Lalu saya menulisnya untuk Catatan Rabuan ini. Tentu saja bukan untuk membingkai diri menjadi yang paling beres dalam urusan literasi, melainkan adalah usaha saya memasang bingkai pada kegiatan literasi-kaum difabel yang diurusi Mbak Tri dengan Helicopternya.

Petang itu, 8 Desember 2019, dengan gembira-raya saya lepas-patah-dan-buang bingkai yang menggantung status penulis, pegiat literasi, dan pembicara yang melekat pada saya, di dinding kemahatahuan yang semu.***

 

Lubuklinggau, 19 Desember 2019