Cerpen Tati Y. Adiwinata (Tribun Jabar, 22 Desember 2019)

Ziarah ilustrasi Istimewa
Ziarah ilustrasi Istimewa

Bila kutanya siapa bapakku. Emak akan menunduk tak berani menatapku. Ada luka di matanya, dan aku resah. Ingin aku masuk ke dalam mata itu, atau ke dalam jiwanya yang selalu menyimpan rahasia tentang Bapak, mencari tahu anak siapa aku.

Setelah lama terdiam emakku berkata. Katanya bapakku telah mati dua puluh tahun yang lalu. Tapi ia tidak menceritakan kenapa dan bagaimana cara Bapak dijemput maut. Emak hanya bercerita bahwa Bapak adalah seorang sopir tembak truk kontainer yang membawa muatan barang ekspor ke pelabuhan. Emak membesarkan aku dengan penghasilan sebagai tukang pijat keliling. Hanya ia yang kumiliki, perempuan sederhana yang membesarkan aku dengan caranya.

“Sudah, jangan tanya lagi tentang bapakmu, aku lelah!” katanya, menutup obrolan kami.

Aku tak bisa sekolah tinggi dan hanya tamatan SMP, aku pun kerja serabutan. Kehidupanku yang biasa-biasa saja mulanya tak begitu membuatku ambil pusing.  Apalagi dengan masa laluku yang tanpa Bapak. Namun, setelah aku bertemu Marni–perempuan berpipi ranum tomat itu, telah membuat aku mabuk kepayang– semuanya menjadi berubah. Aku mulai menanyakan lagi semua jati diriku. Siapa aku dan bagaimana rupa bapakku? Sialnya, Emak tak pernah menjawab dengan lugas pertanyaanku.

Wajahnya yang lugu penuh teka-teki. Setiap aku bertanya lebih mendesak, hanya air mata jawabannya. Dan sialnya aku! Selalu luluh apabila perempuan itu mulai mengeluarkan air mata. Jangan lagi air mata! Hidupku sudah pahit rasanya. Air mata hanya akan menambah dukaku makin berjibun. Kalau sudah begitu, aku pun akan terdiam, menyerah untuk tidak bertanya lagi.

Masa laluku menjadi penting adanya karena Marni mengenalkan aku pada ibu-bapaknya. Bapaknya terkenal sangat garang mengenai bebet, bobot dan bibit. Di sisi lain, aku pun tak ingin ada lagi keraguan pada diriku sendiri, siapa aku dan anak siapa. Tapi, jawaban Emak selalu tak memuaskan aku. Hanya mata yang luka menatapku dan aku tak ingin ia lebih terluka.

Jadi, semua pertanyaanku tanpa ada jawaban! Apabila bapakku benar-benar telah mati,  kenapa Emak tak sekali pun pernah mengajakku berziarah ke makam Bapak? Atau sesekali menunjukkan fotonya padaku?

Pernah suatu hari, ketika aku bertandang untuk pertama kalinya ke rumah Marni, bapak Marni tiba-tiba saja bertanya tentang keluargaku, lebih tepatnya seperti menghadapi interogasi. Matanya menyelidik menghujam tepat ke dalam mataku. Aku tergagap. Belum sempat kuuraikan siapa aku, ibu Marni keluar dengan nampan berisi dua cangkir kopi. Sejenak  obrolan kami buyar. Belum tamat sampai sana, sebuah panggilan handphone milik bapak Marni menyelamatkan aku dari pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang barangkali akan sulit kujawab. Kali itu mungkin aku bisa terhindar dari situasi yang sulit. Entah untuk pertemuan berikutnya?

Akhirnya pencarian pun kulakukan di belakang Emak. Kumulai mencari tahu dari rute truk kontainer yang melewati kampungnya dulu. Katanya waktu  ketemu Bapak, Emak  pedagang rokok dan kopi di warung pinggir jalan. Dengan berbekal fotonya sewaktu gadis dulu. Foto yang telah kusam dan  lusuh, aku mulai mencari tahu dulu, siapa Emak sebenarnya. Aku bertanya dari warung ke warung di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Sambil membawa secarik foto Emak. Nama Emak adalah Maemunah.

Hari itu matahari tengah garang dan tepat di puncak kepala, angin menerbangkan debu di sepanjang jalan.

Ternyata Emak dulu sangat dikenal di antara pedagang-pedagang di sana. Karena paras Emak yang lumayan cantik dan tubuhnya yang sintal. Katanya ia dulu punya pacar seorang sopir, tak lama tersiar kabar Emak pun hamil, lalu ditinggalkan oleh sopir truk itu. Laki-laki itu hanya satu dua kali bertandang, selebihnya ia lenyap bagai angin. Pada saat itu hamil di luar nikah adalah aib besar.  Emak pergi sebelum diusir dari perkampungan karena dianggap mencoreng nama Abah. Meski  bukan orang kaya,  Abah cukup terkenal di kampung itu sebagai sesepuh kampung. Emak tahu diri, pergi meski terpaksa, menghindar dari hukuman sosial. Sejak itu kabar Maemunah raib tak berjejak.

Mataku mulai mengabut, ada yang tak sabar mendesak keluar. Oh, jangan lagi air mata. Aku rupanya anak yang tak pernah diharapkan keberadaannya. Pantas Emak begitu penuh luka jika kutanya tentang Bapak, barangkali bertahun-tahun ia berusaha melipat kenangan tentang laki-laki itu di laci ingatannya paling rahasia.

Lalu aku membayangkan kehidupan Emak setelahnya, ia pasti menderita karena aku. Dari sana aku tak ingin mengetahui lebih lanjut siapa aku. Aku hanya merasakan luka demi luka yang dirasakannya. Aku ingin segera pulang dan memeluknya, aku sudah tak ingin tahu lagi siapa bapakku dan bagaimana ia. Sudahlah, seperti halnya Emak akan kuanggap laki-laki itu telah mati dengan tragis.

“Emak!” panggilku. Pada malam buta, ketika kulihat ia masih terbangun. Tubuhnya ringkih menahan batuk. Aku menghampirinya, ia tampak kelihatan tua, padahal umurnya baru empat puluh tahun, kemiskinan dan kepedihan telah membuatnya cepat tua. Aku tersenyum miris. Kupijat kakinya dengan sungguh-sungguh, pasti ia lelah sekali. Tak pernah kulihat senyum bahagia menghiasi wajahnya yang mulai keriput. Aku tak akan pernah membuatnya menangis lagi. Aku tak akan pernah lagi bertanya tentang Bapak. Bapakku sudah mati dua puluh tahun yang lalu.

Terlintas wajah manis Marni di ingatanku. Pipinya yang merah seperti buah tomat yang siap dipetik, juga sepasang buah di dadanya yang membusung selalu membuai diriku. Tak akan pernah kumiliki lagi harap padanya. Persetan dengan Marni, apabila keluarganya hanya mempermasalahkan aku anak siapa. Aku pun akan mengubur Marni di kedalaman hatiku. Hanya Emak satu-satunya perempuan yang akan menghiasi pikiran dan hidupku. Karena demi aku hidup, ia telah mengorbankan seluruh hidupnya.

“Emak berhentilah bekerja, biarlah aku yang kini hidup demi Emak!” kataku di sela-sela pijatanku di punggungnya. Ia terkekeh sambil terbatuk-batuk, suaranya mengiris-ngiris kupingku. Aku tersenyum kecut. Sepertinya Emak tak percaya pada kemampuanku untuk bertahan hidup.

“Emak masih mampu bekerja, Nak. Jangan perlakukan Emak seperti manusia tua tak berguna!” kata-katanya menyerupai gerutuan. Aku tiba-tiba saja memeluknya, hal yang tak pernah aku lakukan. Tubuhnya yang bau minyak angin kuhidu dalam-dalam.

“Kau benar-benar ingin tahu siapa bapakmu?” Tiba-tiba ia bertanya untuk sebuah hal yang sebenarnya justru ingin aku tutup. Aku menatapnya, mencari-cari luka yang biasa tersorot dari matanya yang tajam. Dan aku tak mampu menangkapnya, ada rasa sakit menelusup perlahan menikam ke dalam dadaku. Sialan! Aku mengusap wajah.

“Bapakmu adalah dirimu,” katanya lagi mengejutkan aku. Lalu ia mengambil sebuah cermin, yang telah runcing tepi kiri kanannya.

“Lihatlah ke dalam cermin itu baik-baik.” Aku melihat ke dalam cermin seperti yang diminta Emak. Aku hanya melihat aku. Laki-laki kerempeng yang tengah bingung.

“Aku tidak melihat siapa-siapa Mak, hanya aku laki-laki yang berangkat bujang,” kataku.

“Lihat baik-baik ke dalam cermin. Bapak dan kamu, seperti pinang dibelah dua.” Aku kembali melihat ke dalam cermin, kutemui laki-laki yang lain. Laki-laki yang dipenuhi nafsu, yang telah menipu seorang perempuan polos atas nama cinta. Lalu pergi tanpa perasaan, meninggalkan aku juga Emak dalam kepedihan, apakah ada yang mesti aku banggakan dari laki-laki semacam itu? Emak baginya, perempuan semalam. Setelah puas  lalu hengkang. Aku muak melihat wajahku sendiri, apabila kalau benar kami bagai pinang dibelah dua.

“Tak pernahkah Emak sedikit pun membencinya?” tanyaku tiba-tiba. Emak terlihat agak terkejut. Sejenak kemudian dua bulir air mata turun di pipinya yang mulai keriput. Ingin kumenadahnya dan kusimpan ke dalam saku bajuku, sebagai bukti luka yang telah ia tanak, bertahun-tahun lamanya.

“Tak pernah sekali pun Emak membencinya, ia telah lama mati. Lalu kenapa Emak harus benci pada orang yang telah mati, Nak?” tanyanya. Aku tersenyum kecut.

Ya, ia telah mati lama sebelum aku lahir dan kau telah membunuh sekaligus menguburkannya di dalam hatimu. Ah Emak, biarlah seperti itu adanya, tak akan pernah kutanyakan lagi siapa aku dan siapa bapakku. Bagiku ia memang telah lama mati dan tak pantas hidup, lalu kuaku sebagai bapakku. Jika pun ia masih hidup, barangkali rasa marah dan benciku kemudian akan membunuhnya. Aku hanya butuh cahaya di sepasang matamu yang bening juga aroma surga di kedua telapak kakimu.

Lalu Bapak? Akan kuziarahi makamnya di kedalaman hati Emak.

Kupeluk lagi Emak erat, ia terkekeh lalu terbatuk-batuk, suaranya mengiris-ngiris kupingku. Kuhidu harum minyak angin di tubuhnya dalam-dalam. Biarlah malam ini, tokek sekalipun akan iri padaku.

Bapak? Akan kukirim doa dan taburan kembang di pusara hati Emak.

 

Bandung, 10 Feb 2019

Tati Y. Adiwinata. Beberapa cerpen dan karya tulisnya pernah dimuat di HU. Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Majalah Femina dan Tabloid Lokal. Juga telah menerbitkan puisi, haiku dan cerpennya ke dalam puluhan antologi bersama. Novel perdananya berjudul Rembulan dan Matahari. Kumcer solo Laki-laki Bayangan (dalam proses terbit). Buku puisi solo “Antologi Merahnya Rindu” diterbitkan oleh penerbit J-Maestro.