Cerpen Kartika Catur Pelita (Solopos, 22 Desember 2019)

Muara Kasih Sayang Bunda ilustrasi Hengki Irawan - Solopos (1)
Muara Kasih Sayang Bunda ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

Mendung kelam kelabu  menggantung  menghiasi  langit di Bumi Serambi Mekkah.

Siti Fatimah, gadis  belia  dan manis yang baru berusia empat belas tahun  masih berdiri di antara ribuan pengungsi. Antre demi  mendapatkan makan siang. Sebentar-sebentar memegang perutnya yang terasa melilit. Bukan. Bukan sakit, tapi  kelaparan. Bagaimana  tidak,  sejak pagi perutnya belum terisi nasi. Semalam dia hanya makan malam dengan sebungkus mi instan. Mentah lagi. Mi diremuk dan dicampur bumbu, lalu dimakan seperti kerupuk. Tapi mau  apalagi? Keadaan memaksanya hidup nelangsa seperti ini.

Ini bukan di rumah! Ini sebuah tempat pengungsian! Setelah bencana tsunami meluluhlantakkan Melauboh tercinta. Terbayang hari-hari indah kemarin, ketika dia masih tinggal bersama Abi, Bunda dan dua saudara kandungnya. Kak Mela yang cantik anggun,  lembut dan baik hati. Kak Izal yang kalau bicara suara kasar-seperti membentak-bentak,-tapi sebenarnya penyayang.

Bencana gempa dan tsunami ini telah memisahkannya dari keluarga.  Padahal pagi yang cerah itu, karena hari Ahad, mereka semua berada di rumah. Abi dan Bunda yang PNS libur.

Kak Mela yang kuliah di keperawatan pun sedang libur kuliah.  Bang  bekerja si bengkel  mobil kebetulan sedang  tak ada lembur.

Siti Fatimah masih mengingatnya. Ketika itu mereka sedang  berkumpul di ruang makan, asyik menikmati sarapan pagi. Sambil berbincang santai menikmati masakan Bunda  yang lezat kala bumi tempat mereka berpijak tiba-tiba bergoyang  hebat! Keras! Sontak semua terperanjat.

”Ada gempa!” Bang Izal berteriak. Makanan di meja berhamburan porak poranda ke lantai. Bahkan Kak Mela terjatuh dari tempat duduknya. Bingkai foto yang tertempel di dinding berjatuhan. Lampu-lampu di langit rumah bergoyang kencang.  Semuanya panik. Berlarian ke luar rumah. Menyelamatkan diri. Beruntung semuanya selamat. Tapi akibat gempa, sebagian tembok rumah runtuh. Dan belum lagi mereka tenang,  gempa kembali mengguncang. Walau tak sehebat yang pertama tapi mereka ketakutan juga.

”Kita mengungsi saja, ” Abi  mengambil inisiatif.

”Lebih baik kita meninggalkan rumah supaya selamat, ” Bang Izal mendukung usul Abi. Kak Mela pun setuju. Siti Fatimah memeluk Bunda, mengiyakan.

”Tapi ke mana kita hendak mengungsi, Abi?” untuk Bunda bertanya.

”Ke rumah nenek di atas bukit…”

”Yang penting kita meninggalkan tempat ini kan, Abi.” Siti Fatimah memandang Abi. Abi tersenyum dan mengusap pipi ranumnya. ”Iya, putri Abi yang paling cantik.”

”Kak Mela lebih cantik daripada Siti, ” ia menggumam. Abi tertawa. Kak Mela menowel pipi adik bungsunya.”Kita sama-sama cantik, Sayang. Putri Abi semuanya cantik-cantik. Tercantik-cantik. Cantiknya tidak hanya rupa, tapi juga hati. Itu maksud Abi. Iya, kan, Bi?” Kak Mela menyentuh bahu Abi yang kekar. Bahu-bahu yang dulu sering dan pernah menggendong ketiga permata hati. Bahu yang pula menjadi tempat bersandar Mak bila lelah. Bahu yang menjadi tameng ketika keluarga kecil mereka diancam bencana. Seperti saat itu…

Abi tetap tersenyum meski hatinya berkecamuk kegelisahan, seiring gempa yang kemudian terjadi berulang-berulang. Tak ada lagi waktu menunda. Abi memutuskan mereka segera meninggalkan rumah.

Kami  segera berkemas-kemas membawa bekal  mengungsi. Tak berapa lama mobil Abi telah melaju di jalam raya. Namun baru setengah jam kira-kira mobil berjalan…ketika dari arah belakang terdengar suara yang memekakkan telinga. Suara sangat keras!  Seperti suara pesawat terbang! Ada apa ini?! Apa yang sebenarnya tengah terjadi?!

Dari  balik kaca spion kami membeliak kaget, menyaksikan…..ombak tinggi dan keras   bergulung-gulung datang mengejar! Seperti monster hendak memangsa buruan!

Abi mempercepat laju kendaraan.  Namun kalah cepat dan terlambat.  Gelombang lekat berkekuatan maha hebat, dahsyat menerjang  mobil! Mengempaskannya  jauh-jauh! Kuat-kuat membawanya…entah ke mana?!

Siti Fatimah masih ingat beliak keterkejutan Abi!

Siti Fatimah masih terngiang teriakan keras Bang Izal!

Siti Fatimah masih merekam beliak ketakutan Kak Mela!

Pun masih debar jantung Bunda yang memeluk dirinya, melindunginya,  mendekapnya, memeluknya erat-erat! Hempasan  deras gelombang, menceraiberaikan  pelukan. Siti Fatimah merasakan tubuhnya bagai ditarik kekuatan  maha dahsyat. Terlempar ke luar mobil! Ombak menggulungnya, membawanya, sakit, gelap, mendamparkannya entah ke mana.

Ketika tersadar  Siti Fatimah telah  berbaring di  ranjang di rumah sakit. Seminggu lebih dia dirawat di sana.  Luka-luka di tubuhnya mulai sembuh. Sementara ia tinggal di tenda pengungsian. Bersama orang-orang senasib.  Bagaimana nasib Abi, Bunda, Kak Mela dan Bang Izal?

Siti Fatimah sering termenung dan menangis bila memikirkan mereka, keluarga, orang-orang tercinta.  Ada di mana mereka kini?  Apakah mereka selamat seperti dirinya?  Atau mereka ada di antara ribuan sosok yang diam membeku itu?

Siti Fatimah bergidik. Mengusap air bening yang meleleh di pipi. Sungguh, tak ingin ia sebatang kara di dunia ini. Semoga Allah Swt. melindungi keluarganya.

***

Sepiring nasi putih dan sepotong ikan asin.  Menu makan kali ini. Siti Fatimah makan siang sambil menangis ketika bayang Bunda melintas.  Di mana, Bunda?

Siti Fatimah buru-buru mengusap air matanya. Menghabiskan makan siangnya. Segelas air mineral membasahi tenggorokan kecilnya, sebelum ia mencuci piring plastiknya dengan air hujan yang turun deras dari langit. Siti Fatimah memandangi butiran-butiran air  dengan hati galau. Menghela napas. Gundah.

”Tidur, yuk, Fat,” ajak Rahma teman setendanya.

”Tidak, tidak. Aku tidak ngantuk…”  Siti Fatimah menolak.  Saat seperti ini ia ingin sendiri. Ingin menenangkan hati. Ingin mengusir gelisah dan kesedihan ini. Berapa hari sudah ia berada di pengungsian? Untuk berapa lama lagi ia harus berada di tempat seperti ini? Betapa ia merindukan rumahnya yang hangat. Tempat tidur nyaman, boneka lucu teman tidur, selimut wangi yang melindungi dari rasa dingin. Sungguh ia merindukan masa-masa indah itu, berada di tengah keluarganya. Bang Izal yang kalau bicara kasar dan suaranya kencang, suka menjailinya. Kak Mela yang anggun, hatinya lembut selalu melindunginya, membantunya mengerjakan tugas sekolah, mentraktirnya makan ketika tulisannya dimuat. Ya, Kak Mela yang semenjak di bangku SMP sudah pintar menulis cerita anak dan karyanya kerap dimuat koran. Siti Fatimah sangat sayang dan bangga pada Kak Mela. Pernah terbesit di hatinya keinginan bisa mengarang cerita seperti Kak Mela. Diam-diam ia menulis pengalaman masa kanak-kanak. Masa-masa anak TK ketika ia menangis guling-guling di lantai bila Bunda tak menungguinya di sekolah. Atau ’pengalaman menyeramkan’ saat ia diajak Bunda belanja di pasar tradisional. Siti Fatimah sedang berjalan di sisi Bunda. Saat itu Bunda mengajaknya di kios penjual daging sapi. Siti Fatimah ketakutan, menjerit-jerit melihat paha besar daging sapi yang tergantung, mengayun-ayun. Seperti hendak menerkamnya. Orang-orang heboh. Bunda membatalkan membeli daging mentah. Tersebab pengalaman buruk itu hingga hari ini Siti Fatimah tak doyan makan daging. Trauma melihat deretan pajangan merah daging sapi itu. Entah. Siti Fatimah menghela nafas panjang berulang, menggelengkan kepala. Rahma, gadis belia berjilbab pink, masih berada di sisinya, memandanginya.

”Aku tahu bila hatimu sangat sedih karena kehilangan keluargamu, Fat.”

”Aku tak tahu sekarang di mana Abi, di mana Bunda. Bagaimana pula keberadaan Bang Izal dan Kak Mela. Aku sedih memikirkannya.”

”Aku bisa merasakan apa yang sedang kau alami, Fat. Tapi kita bisa apa? Beberapa lama kita berada di pengungsian ini. Beberapa kali kita sudah mendatangi tenda-tenda demi mencari keluarga kita. Namun hasilnya nihil. Berulang-ulang kita sudah ditanyain, di data nama, alamat, pekerjaan, dan informasi tentang keluarga dan kerabat kita yang hilang, tapi sampai hari ini kita belum mendapat  kabar, kan?”

Siti Fatimah mengiyakan. Entah apa yang harus mereka perbuat agar bisa bersua kembali dengan keluarga. Agar tahu kabar keberadaan mereka.

”Aku mengantuk,  Fat. Aku mau tidur. Dengan tidur aku bisa melupakan kesedihanku.”

”Tidurla. Aku tidak mengantuk. Aku ingin menikmati gerimis di sini sendiri.”

Rahma, gadis manis, berumur lima belas tahun, yang tinggal berdua bersama neneknya, dan  kini sang nenek tersapu tsunami, dan ia terlihat tabah, itu  berlalu. Siti Fatimah memandang seputar  tenda pengungsian yang berukur kecil. Penuh sesak penghuninya. Untuk tidur pun mereka pun berimpit. Bagaimana siang-siang begini bisa tidur? Jika pun tidur malam Siti Fatimah tak bisa lena. Mimpi-mimpi buruk itu selalu datang. Mimpi-mimpi dikejar makhluk menakutkan. Entah di mana, dan makhluk apa, sungguh mengerikan. Seandainya ada Kak Mela sebagai tempat berbagi cerita. Seandainya ada Abi dan Bunda tempat pelindung. Seandainya ada Bang Izal, yang suaranya kasar dan kencang. Hei, apakah makhluk-makhluk menyeramkan takut dengan suara kasar Bang Izal?

Siti Fatimah tersenyum sendiri. Ia masih memandangi curahan air dari langit yang kini berubah bentuk….bagaikan jarum-jarum kecil nan  berjatuhan dari  langit.

Rinai gerimis menetes liris.  Siti Fatimah memejamkan mata. Mencoba mengusir kepedihan. Tiba-tiba dia ingin lagi menangis. Padahal…duhai ia merasa air matanya telah kering namun mengapa duka ini tiada sirna?   Ke mana dia harus mencari keluarganya?  Oh,  di mana Ayah, Bunda, Kak Mela dan Bang Izal?

Siti Fatimah mengerjapkan matanya. Gerimis masih menetes liris. Samar-samar di balik gerimis ia seperti melihat sosok Bunda?! Benarkah … itu Bunda? Tubuh yang kurus, berbaju lusuh itu?  Yang berjalan tertatih-tatih  lelah?!

”Fatim….” wanita usia lima puluhan tahun itu  memeluk emosional Siti Fatimah,  mengelus wajahnya.  Rambutnya. Kuduknya. Menciuminya.

“Benarkah….ini Fatim….Fatimah?  Ini Bunda, Fatim.  Bunda!”

“Bunda. Bunda selamat…?!” ia tergugu pilu dalam biru keharuan.

Cerita haru mengalun dari bibir kering Bunda. Bagaimana Bunda telah letih berjalan puluhan  kilo  meter berbelas hari demi  mengetahui nasib buah hatinya. Setiap pengungsian didatanginya untuk mencari jejak sang  permata hati.  Tapi perempuan mulia dan perkasa ini  takkan pernah bercerita tentang luluh lantak separuh hatinya menemukan  suami tercinta dan dua jantung hatinya telah  terbujur kaku dalam kungkungan bangkai mobil beku. Biarlah suatu saat Siti Fatimah akan tahu dengan sendirinya. Demi masa, untuk  saat ini Bunda sudah merasa sangat bahagia menemukan satu permata hatinya yang  tersisa di tenda pengungsian ini.

Bunda  memeluk  Siti Fatimah erat-erat. Tubuh pun basah didera  haru air mata,  dan  derai gerimis. Menyatu. Lekat. Lekat.

Tak peduli. Sungguh mereka tak ingin lagi tercerai. Tak ingin lagi berpisah. Tak ingin lagi kehilangan…. ***

 

Kota Ukir, 30 September 2018-18 Desember 2019

Kartika Catur Pelita, prosa dan puisi termuat di pelbagai media cetak dan daring. Penulis 3  buku: Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, dan Kentut Presiden. Penggiat di komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Bermukim di Jepara.