Cerpen Hendy Pratama (Padang Ekspres, 22 Desember 2019)

Mengantar Ibu ke Laut ilustrasi Orta - Padang Ekspres (1)
Mengantar Ibu ke Laut ilustrasi Orta/Padang Ekspres

JAUH sebelum Ayah menjadi nelayan, Ibu sudah memiliki keinginan untuk pergi ke laut. Katanya, ia ingin berenang layaknya ikan. Dan, kini aku mengantarnya beserta kecemasaan yang meriap. Lama sekali Ibu memandang hamparan laut. Ikan-ikan berlompatan seperti menyambut kedatangannya. Angin bertiup kencang ketika separuh tubuh Ibu ditelan riak air. Tepat ketika matahari terbenam, tubuh ibu sempurna tenggelam.

***

“Sejak kecil, aku ingin berenang bersama ikan-ikan di laut lepas. Suatu saat nanti, Ibu minta diantarkan ke sana, ya,” begitulah kata Ibu padaku, sebulan sebelum Ayah alih profesi menjadi nelayan dan sesudah usianya menginjak empat puluh tahun.

Apa yang sempat kuduga adalah Ibu rindu berenang. Dulu, ia merupakan seorang atlit renang. Ia pernah diminta mewakili kabupaten dalam kejuaraan renang karisidenan. Sang pelatih memompa stamina Ibu di kolam renang bersama beberapa ekor ikan. Itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan mentalnya. Ibu rajin berlatih dan berlatih. Hingga, di usianya ke dua puluh tahun, lima tahun sebelum menikah dengan Ayah, ia pernah meraih juara satu. Hal yang membuatku begitu bangga.

Mungkin karena alasan itu, Ibu ingin sekali kuantar ke laut lepas. Ia hendak berenang bersama ratusan dan bahkan ribuan ikan liar. Hal yang belum pernah ia rasakan.

“Ibu percaya bahwa laut dapat menenangkan pikiran. Bahkan, bila boleh, Ibu ingin hati ini dapat selapang lautan. Supaya penderitaan tidak terasa kian dalam. Kamu pernah disakiti? Nah, kamu juga boleh menjadi lautan.”

“Apakah Ibu rindu berenang?”

Ibu terdiam, tidak menjawab pertanyaanku. Kupikir, ia memang rindu saat-saat di mana air menjadi karib setianya. Ia juga pernah mengaku menyukai laut. Katanya, amarah dalam dada dapat dipadamkan menggunakan gelombang laut. Tapi, kenapa ketika Ayah menjadi nelayan, Ibu tidak mengizinkannya? Bukankah itu berarti bahwa Ayah juga menyukai laut. Dan, barangkali ia juga bermaksud berenang bersama segerombolan ikan lucu? Bukankah hal itu justru baik bagi hubungan keduanya—yang berarti baik pula untukku, dan untuk keberlangsungan keluarga kami? Mengapa begitu, Bu?

Ibu tidak menjawab pertanyaanku ketika kutanyakan mengapa ia melarang Ayah jadi nelayan. Dan, sejak saat itulah, hubungannya dengan Ayah seperti minyak dan air. Ayah bersikeras menjadi nelayan ketika peruntungan menjadi pedagang sayur tidak memihak padanya. “Sudah banyak yang menjual sayur dan karena itu, daganganku sering tidak laku. Kuputuskan menjala ikan di laut lepas dan ketika ikan-ikanku sepi pembeli, kita dapat memasaknya di rumah. Bukankah itu lebih baik?”

“Tapi, kau tidak pandai berenang,” cemas Ibu.

“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Perahu yang disewakan Murbani padaku cukup kuat untuk melawan ombak. Sepasang cadiknya dapat meredam rasa khawatir dalam dada. Ditambah lagi, perahu itu terbilang masih baru,” ucap Ayah, menepuk bahu Ibu.

“Mengapa tidak aku saja yang melaut? Bukankah itu urusan yang mudah? Maksudku, aku tinggal mendayung perahu ke tengah laut, lalu menebar jala. Mungkin, hanya perlu beberapa jam, agar ikan-ikan masuk ke mulut jala.”

“Bukankah yang seharusnya menghidupimu dan anakmu ialah aku?”

“Tapi, kan, kau tidak bisa berenang.”

“Bila kau masih mengkhawatirkan hal itu, aku akan berlatih berenang pada Murbani. Bukankah ia merupakan pelatihmu dulu—yang membantumu membawa piala itu ke lemari rumah kita dan karena itu, anak kita lihai menjaga senyumnya?”

“Kau tidak akan bisa sepertiku.”

“Ya, aku tidak akan pernah mendapatkan piala itu. Tapi, sekali lagi, aku ingin melaut dan membawakanmu kemakmuran,” pungkas Ayah, sebelum berlalu meninggalkan Ibu di ruang tamu dan setelah aku menghampiri istrinya itu.

Sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan perdebatan mereka. Aku tidak memihak Ibu maupun Ayah. Kupikir, keduanya tidak pernah salah. Ayah bermaksud menghidupi kami dengan baik melalui ikan-ikan tangkapannya. Dan, Ibu berniat mengingatkan Ayah bahwa laut kadang-kadang dapat menjelma iblis. Kendati menyukainya, Ayah mesti selalu waspada. Apalagi, ia tidak dapat berenang dan hanya mengandalkan keberuntungan.

Kupikir, lambat laun Ibu pasti dapat menerima keputusan Ayah. Tetapi, ternyata aku salah. Di waktu rembulan menyala terang, Ayah bertandang ke laut memakai perahu yang ia sewa dari Murbani. Ayah pergi begitu saja tanpa melihat senyum Ibu terkembang.

“Ayahmu sedang kerasukan iblis,” ucap Ibu, di malam yang dingin. “Sudah jelas, ia tidak dapat berenang. Masih saja ingin jadi nelayan. Apabila sesuatu buruk terjadi padanya, kita pasti juga repot. Doakan, semoga Ayahmu jadi ikan. Meski berwujud paus, setidaknya ia tak mati tenggelam.”

Mulanya, aku kira keadaan bakal baik-baik saja. Ayah menjala kehidupan, sedangkan aku dan Ibu menunggunya di rumah. Lagi pula, nelayan baru di pesisir ini bukan hanya Ayah semata. Banyak penduduk yang tergiur mencari peruntungan di laut. Apalagi, laut di sini juga masih terjaga. Tidak akan ditemui pukat harimau di mana pun. Terumbu karang masih kukuh berdiri dan ikan-ikan gencar berenang. Dan, bila beruntung, bakal berjumpa dengan belasan ikan langka yang apabila dijual, mungkin dapat membeli motor.

Tapi, aku juga percaya bahwa segalanya pasti tidak akan baik-baik saja. Aku dan Ibu hidup di bumi—dan seperti yang kami ketahui, bumi mahir menyembunyikan masalah di bawah prasangka baik. Dan, karena itulah, sore ini, aku mengantar Ibu ke laut.

***

“Apakah Ibu merindukan masa-masa menjadi atlit renang?” Aku meraih tangan Ibu dan tanpa kuduga, tangannya terasa tak berdaya. Wajah Ibu bagai langit hendak temaram. Tatapannya kosong, Ibu layaknya sedang menatap pikirannya sendiri. Kakiku menyentuh air. Kami berada di bibir laut. Hawa dingin seketika menyelinap ke hati. Mungkin, sebentar lagi perasaanku bakal membeku. Sama dengan apa yang kini sedang Ibu rasakan.

“Terima kasih sudah repot mengantar Ibu ke laut,” ucap Ibu padaku. Matanya yang sayu menatap mataku. “Sejak kecil, aku ingin sekali ke sini.”

“Apakah Ibu berniat berenang bersama segerombolan ikan lucu? Ataukah, Ibu ingin memiliki hati yang selapang lautan? Boleh jadi, Ibu bermaksud meredam amarah dengan gelombang laut. Apa pun itu, aku akan menemanimu di sini. Dan, bila perlu, aku juga ingin bisa berenang seperti Ibu. Bisakah Ibu mengajariku?”

Ibu tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Baru pertama kali ini kudapati matahari terbit di wajahnya. Apakah Ibu bahagia? Seandainya iya, aku rela mengantarnya tiap hari ke sini. Dan, andaikan Ayah pulang malam ini, bakal kukatakan padanya bahwa Ibu sudah bahagia. Ia tidak lagi mengurung diri di kamar. Tak bakal kujumpai hujan turun di dalam rumah. Tak akan ada mendung di kepala Ibu. Tidak pernah lagi ada badai. Atau, apa pun yang membuat matahari enggan terbit di wajahnya.

“Aku akan berenang,” sahut Ibu, sembari melangkahkan kaki-kakinya. “Kau tetaplah berada di sini dan jangan mengikutiku. Sebab, kau tidak paham laut, sama dengan Ayahmu. Bagi yang tidak memahami laut, dilarang berenang di sini. Apalagi melaut, menjala ikan. Laut dapat menjadi teman karib, sekaligus iblis. Ia dapat menyelamatkan perutmu, sekaligus dapat menenggelamkanmu. Maka, kau mesti tinggal di sini. Bila suntuk, kau boleh duduk atau tidur di gubuk wisatawan. Ibu tidak melarangmu membeli makanan. Kau dapat beli makanan bila perutmu menjerit. Kau boleh makan apa pun, kecuali babi.”

Setelah berkata demikian, Ibu benar-benar menuju laut. Perlahan-lahan, tubuhnya menghilang. Dimulai dari tumit sampai ke ujung rambut. Dan, ketika matahari sempurna terbenam, seluruh tubuh Ibu telah tenggelam. Semenit berlalu, dan sialnya aku baru sadar: betapa bodohnya diriku. Seharusnya, aku tidak mengantarnya ke sini. ***

 

/Madiun, September—2019

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Pegiat komunitas sastra Langit Malam. Bukunya, Heliofilia.