Cerpen Lisna RJ (Suara Merdeka, 22 Desember 2019)

Mata Apa ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.png
Mata Apa ilustrasi Hangga/Suara Merdeka 

Kepalaku pening. Aku terbangun dari dunia mimpi. Beberapa gelombang tidur masih menyangkut di pelipisku. Aku menyibaknya dengan empasan molekul air dan akhirnya kesadaranku kembali sepenuhnya.

Beberapa saat kemudian aku telah bersama secangkir cappuccino dan novel karya Brenna Yovannov. Anganku menelisik kecil ke dalam serabut kognisi. Bayangan itu seperti film klasik yang tidak mau menghilang. Rasanya sesak. Benar-benar sesak hingga aku tiba-tiba lupa bagaimana caranya bernapas. Astaga, ini terulang lagi.

Semua bermula ketika aku mendapati sepasang pupil hitam memandangiku sepanjang waktu. Ketika aku duduk, berjalan, berlari, bersandar, atau terpejam, tatapan itu selalu mengikutiku. Awalnya aku tak menghiraukan sebab kupikir itu hanya semacam halusinasi karena aku terlampau letih.

Namun tidak. Pandangan aneh itu masih mengikutiku sampai sekarang. Sampai ketika aku mengetukkan jemariku ke kibor untuk menulis catatan ini. Rasa takut dalam diriku telah mencuat sejak lama. Sejak sepasang mata itu sudah seminggu melihatku melakukan apa pun. Kecurigaan tingkat tinggi dan trauma paranoid segera menyelubungiku. Aku bahkan hampir mendapatkan diriku overdosis oleh ketakutan.

Sungguh, aku tidak berlebihan. Ya, mungkin aku bercita-cita menjadi penulis dengan ribuan majas dan kias dalam karyaku. Namun kasus ini berbeda. Dalam benakku terus berputar musik berirama mencekik sampai aku harus beberapa kali menggunakan selang oksigen. Maksudku, segala kejanggalan itu benar-benar mengacaukan sistem organku.

Baca juga: Penari di Perempatan Jalan Itu – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 15 Desember 2019)

Sudah berapa kali aku kehilangan daya sehat yang selama ini hampir tak pernah meninggalkanku. Aku memang tengah ada dalam situasi melelahkan dengan semua tugas sekolah dan kewajiban lain. Namun kupikir aku selalu sanggup melewati keletihan itu dengan mulus dan berhasil. Nyatanya kali ini tidak. Tubuhku sedikit demi sedikit terasa rapuh sebab pandangan hitam misterius tak kunjung melepaskanku.

Tentu saja aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku berusaha tidak memedulikan. Aku melakukan apa pun yang membuatku lupa. Aku berusaha menjadi sibuk dan tidak ingat sesuatu yang aneh mengikutiku.

Malam menuju hari Jumat, 2 Januari, kemarin, aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku. Kesadaranku menggantung absurd di atas dahi. Sepasang mata itu masih menatapku di ujung lorong kamar. Ya, aku merasakannya. Seluruh uratku menegang dan napasku tersengal. Aku benar-benar ketakutan. Permukaan kulitku perih terimbas udara dingin yang dibawa hujan. Hingga subuh menjemput, mataku masih terbuka. Aku tidak tidur semalaman.

Aku sering mengalami insomnia. Namun ketidakmampuanku tidur waktu itu sangat-sangat menyeramkan. Serius, ini lebih horor daripada menonton Annabelle Movie.

Baca juga: Bayi dalam Mimpi dan Gerimis yang Rapat – Cerpen M Maksum (Suara Merdeka, 08 Desember 2019)

Dua hari lalu aku menceritakannya pada ibuku. Ibu menanggapi. “Kau hanya kurang tidur.” Ibu bilang aku bisa tidur di kamarnya.

Namun aku tidak melakukannya. Aku merasa Ibu tidak percaya dan aku benci hal itu. Kemarin, aku mengungkapkan hal itu pada guru privatku. Kau tahu apa yang dia katakan?

“Banyak-banyak berdoa dan jaga pikiranmu tetap terisi. Di mana pun kau berada, ingatlah Allah.”

Yap. Aku sungguh lega bahwa kekhawatiranku bukan hanya khayalan. Aku sadar pandangan itu bukan sesuatu yang biasa. Setiap kali aku menyadari hal itu, jantungku berdegup dua kali lebih cepat dibanding sebelumnya. Yang sering kupikirkan akhir-akhir ini adalah bagaimana menghilangkan mata misterius itu. Aku tidak tenang dengan kehadirannya. Aku takut.

Aku tidak ingat kapan kali pertama dia muncul. Namun sekitar dua bulan lalu, dia sudah ada ketika aku mengikuti acara ekstrakurikuler yang mewajibkanku bermalam di sekolah. Dia tidak pergi sama sekali. Saat aku berusaha tidur di ruang kesehatan, dia tetap ada. Masih dengan sorotan mata tajam yang tak pernah bisa kuartikan. Pandangannya begitu menusuk.

Ruang tidur itu harus digelapkan dan aku hanya bersama cahaya lilin. Kau harus tahu betapa mata itu sangat dekat denganku. Napasku berat dan aku ingin berteriak, lalu berlari keluar memeluk siapa pun yang kutemui. Namun aku tidak bisa. Seluruh tubuhku terkunci seketika.

Baca juga: Pulang – Cerpen Alvina Briantiningsih (Suara Merdeka, 01 Desember 2019)

Aku ingat kecelakaan bulan lalu. Sebelum berangkat, mata itu memandangku menyeringai. Aku cuek saja dan tak ingin terlalu memikirkan. Setelah separuh perjalanan, aku sadar pandanganku tertutup. Gelap, lalu terang. Kemudian aku bangkit dari aspal keras yang membenturku. Perih sekali.

Waktu interview untuk seleksi panitia sebuah acara di sekolah, ruang kelas yang kumasuki gelap. Lampu tak dinyalakan. Aku tersenyum getir mengingat betapa takut aku ketika gelap. Aku melaluinya biasa saja. Namun kejadian itu berkesan sekali. Saat satu kali lampu menyala dan retinaku mampu menerima setiap pantulan cahaya dari benda. Mata itu ada di belakang seseorang yang istimewa bagiku.

Well, aku makin gugup bukan sebab wawancara. Bibir bawahku berdarah karena aku mengeratnya terlalu keras. Mata misterius itu. Aku tidak bisa menjelaskan. Aku ketakutan.

Perjalanan pulangku kacau karena aku menabrak bagian belakang mobil putih milik seorang bapak gendut berkaus putih. Dia memakiku habis-habisan dan akhirnya menahan KTP-ku. Setelah itu kejadian janggal terus terjadi berantai dan berjeda. Semua keanehan yang kualami seolah memberiku potongan puzzle dan mewajibkanku untuk menyusunnya. Apa aku pernah berbuat sesuatu pada sesuatu? Apa aku pernah menyakiti orang lain sampai hal itu terjadi? Apa seseorang membenciku dan tidak ingin aku ada atau menginginkan aku tidak ada?

Sore itu sembilan belas Desember. Emosiku sedang tidak berada pada grafik konstan. Aku minum empat gelas cappuccino. Berbicara sendiri pada udara. Memukul bangku. Melempar ponsel dan menjejalkan telapak kaki dengan kasar. Aku menyesali kondisi itu jika aku mengingatnya. Kemudian pikiranku pergi.

Tidak seperti cerita Insidious. Aku hanya sibuk memikirkan hal-hal yang kutakuti. Perasaan suka, benci, cemburu, takut, menjelma menjadi awan kumulonimbus, lalu menghantamku dengan petir dan topan. Astaga, jangan bilang aku alay! Itu benar-benar terjadi.

Bayangan mata itu, dengan pupil hitam legam, dengan seribu isyarat misterius, menyejajari mataku dan menyentuh korneaku. Rasanya dingin. Kemudian aku tersadar.

Tulisanku mulai tidak berarah. Kepalaku berat. Tengkukku pegal dan perutku mual. Novel yang tadi kupegang, sekarang tergeletak di atas tempat tidur begitu saja. Cappuccino-ku telah dingin dan masih utuh, belum sedikit pun aku menyesap. Ponselku dalam setting silent. Rambutku tergerai menutupi satu mata. Kakiku terkulai melewati batas tempat tidur. Tirai jendela kamar terkibas oleh angin.

Tidak ada suara selain tuts kibor yang kutekan saat ini. Kesunyian membuat mata misterius itu makin aneh dan menakutkan. Dia di sebelah kananku berjarak sekitar tiga meter. Tidak berkedip. Jaraknya tetap sama. Tetap menatapku, seperti menunggu aku menyapa. Namun, tak akan pernah kulakukan.

Selama ini aku hanya terus bertanya dalam hati. Menjerit dalam diam. Dia siapa? Kenapa mengikutiku? Aku tidak pernah tahu. (28)

 

Lisna RJ, bernama lengkap Rodhatul Jannah, lahir di Bantul, 29 Maret 1997. Dia menyelesaikan pendidikan menengah jurusan kimia, kini bekerja di bidang administrasi dan sedang menempuh pendidikan psikologi.