Cerpen Syafril Hikbal Pane (Medan Pos, 22 Desember 2019)

Lautan Api ilustrasi Istimewa
Lautan Api ilustrasi Istimewa

Fajar menyingsing, dua tiga awan bergeser menyatu padu, membebaskan bagaskara menyilaukan sinarnya. Kokok ayam sahut menyahut berkelakar memeriahkan pagi di luar sana. Kegelapan hati perlahan hilang terusir rindu ingin kembali keharibaan kedamaian. Dua hari ini nabastala tampak murung, desiran pawana membelok sengaja tak ingin menghampiri. Tinggallah kehampaan hati menyaksikan perempuan yang berhak hidup direnggut haknya.

Dua hari di sini serasa bertahun-tahun. Terhimpit kenyataan, terjerat pertempuran, tak ada harapan untuk bersua kembali. Kali ini Belenggu itu begitu nyata di pelupuk, yang terlibat saling menutup mata, menyembunyikan kegundahan, kelicikan, kecurangan. Kejam sekali.

Geramku pada sekumpulan itu, melempar apa yang bisa dilempar ke segala arah, pertempuran bak di film-film. Tak beralasan, terjadi secepat kilat. Korban bertebaran, di lorong-lorong tercekat napas seorang perempuan dikerjai lima laki-laki. Gravitasi kemanusiaan tak ada di sini. Jangankan menolong seorang perempuan, ingin memutar gagang pintu saja ada perasaan takut menghantui. Bagai tikus yang bersembunyi, para kucing dengan liarnya sedang kelaparan mencari mangsa. Anehnya, tikus berbulu putihlah yang hanya ingin dimakan. Benar jika ini sebuah konspirasi, siapalah yang menyulut api kebencian?

Asap mengepul, kegaduhan di sana-sini, hatiku semakin teriris melihat saudara sendiri menikam. Benar, saudaraku sendiri, saudaraku setanah air, membabi buta tak berakal menjadikan kami kambing hitamnya. Penyembelihan itu seakan dipaksakan sekarang juga, tak ada tawar menawar. Tibalah peluhku di sudut ruangan, kutulis berlembar-lembar tentang kengerian hari ini. Tiba-tiba kudengar suara histeris di lantai bawah rumahku.

“Anak-anak cepat ke bawah.” Suara Ibu memekik dari bawah. Disusul langkah kaki Adik, Kakakku terdengar bergantian melewati lorong, kemudian, disusul olehku yang terkejut dengan semua yang sangat tiba-tiba.

“Ada apa, Bu?” Tanya kakak pada ibu setelah menuruni tangga dengan kaki yang kaku. Wajahnya menyiratkan tahu akan hal ini, sepertinya kengerian yang dibayangkannya sekarang menjadi nyata.

“Cepat… cepat kemasilah barang kalian seadanya, kita harus bergerak cepat.” Jawab Ibu tak terkontrol. Wajahnya kali ini benar-benar pucat pasi, menyatu dengan kulitnya yang putih bersih.

Mendengar jawaban ibu, segera aku kembali ke lantai atas, ke kamarku serta mengepaki semua barang seadanya. Kain dua warna yang tergeletak di meja belajar itu, sempat menyita perhatianku sesaat. Kain yang melambangkan kesatuan, kain yang pernah dulunya dijahitkan seorang ibu negara, kain yang menyiratkan banyak makna. Segera kumasukkan ke tas, lantas berlari ke bawah menyusul ibu

“Sudah semua kan?” Ucap ayah saat memastikan semua anggota keluarga sudah berkumpul.

“Sudah… sudah.” jawab ibu dengan nada lirih. Ketakutannya tak bisa disembunyikan. Semakin membuatku takut atas jeritan orang-orang di luar sana, serta pecahnya kaca-kaca rumah. Benar-benar mencekam.

Surabaya hari itu seperti neraka, orangorang dengan tak beralasan memukuli, membunuh, membakar, menjarah apa saja yang ada dihadapannya, membabi buta sekali. Di hari itu juga, setelah kami berkumpul di lantai bawah, ayah memaksa kami pindah.

“Kenapa?” Tanyaku heran sewaktu kami berlarian menuju mobil.

“Sudahlah, yang penting kita ini tak bersalah, Nak. Ini hanya masalah selisih paham.” Dengan gamblangnya Ayah menjawab, namun sepertinya sedang menutupi sesuatu yang sebenarnya sudah kusadari dari awal. Bahwa negeriku tercinta ini sedang tak beres.

Diskriminasi yang kurasakan selama belasan tahun, menjadi alasan tanggal ini, menjadi tanggal berdarah sepanjang hidupku.

“Kenapa?” Tanyaku ulang dengan sengaja berharap mereka mengakui hal yang harus kutahu.

“Karena kita cina!” Sergah Ibu sambil melotot menatapku. Takut sekali. Keempat roda mesin mulai bekerja sama, lantas membawa kami melaju meninggalkan rumah dengan berjuta kenangan. Sudahlah itu. Sesaat kulihat sepanjang jalan gedung-gedung banyak terbakar, gosong, luluh lantah tempat ini benar-benar seperti neraka.

“Prakkk!”

Batinku terkejut, lemparan batu menghantam kaca mobil. Mataku bergidik melihat orang-orang membuka paksa pintu mobil kami. Ayah menjadi sasaran utama.

“Pergi… pergi kalian, jangan hiraukan aku.” Teriak ayah, wajahnya terbenam badanbadan manusia tak berakal itu.

Terakhir kulihat badannya terkulai lemas ditarik, diseret hingga ke luar mobil lalu disiksa. Kali ini ibu tak menangis, entahlah tampaknya dia sudah terlalu kuat menghadapi hal ini. Bergegaslah keempat roda mesin bekerja sama menyelamatkan nyawa kami. Setelah tadi berusaha menyelamatkan ayah, akhirnya kami menyerah dan meninggalkan ayah dengan teriaknya keras menyuruh pergi, histeris kakak dan adikku tak tertahankan. Ibu semakin cepat melaju, meninggalkan Surabaya yang terbakar propaganda.

Sepuluh hari sudah kejadian mengerikan itu. Korelasi antar kebencian, propaganda dan pecahnya konflik selalu saja terngiang di kepalaku.

“Karena kita Cina!” ucapan ibu masih menyisakan tanda tanya, yang akhirnya membuatku kembali menuliskan beberapa pertanyaan seperti:

“Memangnya kenapa jika kami Cina? Kami juga lahir di Indonesia, di negara dengan padatnya penduduk diikuti dengan rumitnya permasalahan ekonomi. Sedari kecil kami berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Merah putih yang kami pandang saat berbaris, Indonesia Raya juga yang kami nyanyikan, tapi kenapa? Kenapa diskiriminasi itu tercipta? Apa karena kami berkulit putih?

Entahlah yang satu ini, Bhinneka Tunggal Ika katanya, namun mereka hanya bisa membaca, bukan berusaha mengkaji arti. Kuharap butir pertanyaan itu ada yang bisa menjawabnya.

 

Syafril Hikbal Pane. Penulis adalah Mahasiswa Semester Satu UNIMED, Prodi Sastra Indonesia.