Cerpen Makanudin (Republika, 22 Desember 2019)

Langkah Cinta ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Langkah Cinta ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Mushala at-Taq wa selepas Subuh itu ramai oleh jamaah yang masih tinggal setelah halaqah Alquran, rutinitas mereka setiap selesai shalat Subuh. Di antara mereka, duduk merapat menghadap pengimbaran: Pak Ahmad, Pangkasa, Mang Engkar, dan Bahrul yang sudah berpakaian kerja. Begitu yang mereka pakai setiap Subuh kecuali hari libur. Bila sudah waktunya, mereka pulang hanya sebentar, lalu pamit kerja kepada keluarga.

Mereka sedang menyikapi Pak Jeri yang tidak aktif di setiap kegiatan keagamaan: shalat berjamaah, majelis taklim, dan kegiatan lainnya, baik di sebuah kelompok atau undangan selamatan warga. Mereka lebih menaruh iba kepada Pak Jeri yang tak pernah ke mushala kampung mereka itu.

“Aku mendengar dari anaknya, teman main anakku, Pak Jeri pergi kerja jam lima. Setelah bangun tidur dan mandi, ia langsung menghidupi mobilnya. Begitu juga ketika pulang, langsung tidur,” kata Pak Ahmad.

“Kebetulan tempat kerjanya berdekatan dengan tempat kerjaku. Aku melihat teman-teman kerjanya shalat di masjid dekat tempat kerja kami. Zuhur dan Ashar. Tapi, tak pernah aku mendapatinya,” sambut Pangkasa yang bekerja sebagai resepsionis.

“Aku sendiri juga tak pernah melihatnya dalam macam kegiatan keagamaan di kampung kita,” balas Mang Engkar menguatkan kesaksian mereka.

“Dia tidak pernah shalat,” kata Pak Ahmad tercenung, tapi penuh empati.

“Biar tidak dibilang membicarakan keburukannya, kita silaturahim saja ke rumahnya,” tukas Pak Maksum yang masih di pengimbaran.

“Bukan kita membicarakannya, Pak Ustaz. Selain bertanggung jawab, kita juga iba. Ia jauh dari amalan agama,” Pak Ahmad yang seangkatan sekolah dengan Pak Maksum memberi tanggapan.

Baca juga: Mencari Imam Mushola – Cerpen Makanudin (Republika, 30 Juli 2017)

Ia mengerti. Mereka mengetahui posisi Jeri di kantor cukup menjanjikan sebagai kepala bagian. Kehidupannya pun bisa dibilang cukup mewah, tapi tidak begitu perhatian dengan agamanya. Pandangan Pak Ahmad terpusat ke Pak Maksum yang masih diam.

“Semoga perkumpulan kita kali ini berniat baik untuk Pak Jeri.”

“Ya sudah. Kapan pastinya kita mengunjunginya?”

Mereka saling pandang menyikapi permintaan Pak Maksum, guru di sebuah pesantren plus. “Bisa Ahad besok, Pak Ustad,” kata Pak Ahmad, jamaah yang baru beberapa bulan aktif di mushala.

***

Pagi itu cukup cerah. Didampingi Pangkasa dan Mang Engkar, Pak Ahmad berjalan kaki dari mushala yang kira-kira 300 atau 400 meter menuju rumah Pak Jeri.

Di perjalanan, raut Pak Ahmad selalu bahagia, senang sekali melihat suasana kampungnya dalam riang dengan kegiatan keagamaan. Bukan hanya sehari atau dua hari dalam sepekan. Keriangan itu hampir setiap hari.

Selain di Taman Kanak-kanak al-Barokah, yang berdiri di tengah kampung hasil swadaya warga, di majelis pengajian setiap Sabtu dan Ahad, baik pagi atau siang, bahkan malam pun selepas Isya, yang diisi oleh para remaja, bacaan Alquran yang cukup menyejukkan itu terdengar. Yang pastinya, kegiatan mereka bukan untuk mencetak radikalisme. Mereka hanya istiqamah dengan amalan agama.

Tak seorang pun yang tak menyertai. Dari anak-anak sampai kakek-nenek. Namun, tanpa menghiraukan kedua temannya yang bercakap tentang sikap yang akan mereka ambil menghadapi Pak Jeri, Pak Ahmad terus melangkah. Tapi, ia sendiri tercenung ketika mengingatnya.

Baca juga: Elegi Seekor Anjing – Cerpen Usep Romli HM (Republika, 15 Desember 2019)

Pak Jeri pekerja aktif, rajin pula. Apalagi, membawahi banyak pekerja. Selain menjadi contoh, pastinya ia juga harus pandai menghadapi mereka. Bukan sekadar mengawasi, melainkan menilai mereka dengan sebijak mungkin.

Rumahnya cukup mewah. Selain mobil, beberapa kendaraan sepeda motor untuk kebutuhan keluarganya pun nongkrong di halaman yang luas depan rumah di balik gerbang. Tapi, lagi-lagi Pak Ahmad iba dengan kelengahan Pak Jeri terhadap amalan agamanya.

Ia hanya tak habis pikir apakah pesan postingan dakwah tak pernah masuk ke WhatsAppnya? Baik yang berbentuk video maupun gambar yang dibarengi komentar, “Sebanyak apa pun kekayaan, semewah apa pun rumah, semahal apa pun kendaraan, tidak ada yang dibawa di kematian nanti kecuali amal agama.” misalnya. Atau, mungkin lebih meresapi mendengarkan pengajian di mana-mana dengan suara yang cukup jelas. Bahkan, di semua channel televisi: dari Aa Gym, Ustaz Abdul Somad, sampai Mamah Dedeh.

Mang Engkar berhenti sejenak, “diam saja, Pak?”

Pak Ahmad hanya melempar senyum sembari tetap mengikuti Pangkasa yang terus melangkah mendahului mereka. “Tunggu, Kasa,” panggilnya.

Baca juga: Guru Honorer – Cerpen Muhammad Abdul Hadi (Republika, 08 Desember 2019)

Ia tetap melangkah yang hanya tinggal beberapa meter. Tidak lama kemudian, sudah di depan gerbang. Pak Ahmad berhenti, memberi kesempatan mereka untuk mengucapkan salam. Tapi, gerbang masih tertutup rapat.

Ia merasa pesimistis dapat bertemu. Selain tak akan menerima, bisa saja keluarga ini keluar liburan akhir pekan. Entah mengunjungi teman ke luar kota atau ke rumahnya yang lain di kota sebelah. Begitu yang pernah Pak Ahmad ketahui.

Pekan lalu pun, Pak Ahmad sendiri ke rumah Pak Jeri meski harus menunggu. Sore menjelang Maghrib, Pak Jeri baru pulang. Sebagaimana yang lalu-lalu, ia menduga akan kesulitan menemui Pak Jeri. Juga kesulitan mengharapkan Pak Jeri bisa bersama mereka, meramaikan kampung dengan rutinitas amalan agama.

Pak Ahmad hanya menyesal pada kejadian beberapa pekan lalu. Meski sudah mengenal, seharusnya lebih ke pembicaraan wajar untuk orang yang belum mengenal agama. Tapi, Hafid langsung mengatakan keinginannya, menemaninya ke mushala. Shalat jamaah. Bahkan, lebih seperti mendoktrinnya. Diduga, saran Hafid, Pak Jeri segera ke dalam rumahnya. Lama kemudian, baru menemui mereka. Itu pun karena ada keluarganya yang berkunjung.

Sejak itu, Pak Ahmad berkali-kali mengunjungi rumah Pak Jeri. Sendirian. Tapi, Pak Jeri masih tetap dingin menanggapinya. Dan, kini atas kesepakatan, dia kembali silaturahim mengunjunginya. Tadi, selesai halaqah, Hafid pulang lebih dahulu karena akan menemani anaknya menemui teman. Tentu, ia tidak bisa menyertai. Maka, bersama Mang Engkar dan Pangkasa, Pak Ahmad berkunjung.

Baca juga: Cerita Zinnia Gadis Pelantun Shalawat – Cerpen Faris Al Faisal (Republika, 01 Desember 2019)

“Kita tidak henti-henti menyarankan kebaikan untuk Pak Jeri, tak lelah melangkahkan kaki sebagai bukti cinta kita kepadanya,” pesan Pak Maksum yang lebih meminta mereka untuk mengunjungi Pak Jeri.

Pak Maksum dan Bahrul— adiknya Hafid—mengantar mereka hingga ke gerbang mushala.

Sepanjang jalan, Pak Ahmad hanya tersenyum bila ibu-ibu majelis taklim Ahad pagi berpapasan dengannya lalu menyapa. Namun, Mang Engkar yang rajin menanggapi mereka dengan ucapan, “Ya” atau “Akan silaturahim” saat ditanya.

Berkali-kali Mang Engkar mengucapkan salam. Tapi, merasa lama menunggu. Ia tetap memastikan, rumah Pak Jeri ada penghuninya meski entah siapa. Dia pun siap menunggu. Dan, dia pastikan tak berdosa meski Mang Engkar sudah lebih dari tiga kali mengucapkan salam.

Selain ia sudah mengenal Pak Jeri, hatinya juga merasa terpanggil. Yang ia pikir, cukup mendesak. Bukan untuk mereka atau jamaah atau kepentingan mushala, tapi kepentingan Pak Jeri sendiri. Amalan Agama.

“Kita tunggu saja, tidak mengucapkan salam lagi,” kata Pak Ahmad begitu melihat bayang-bayang lewat kaca rumah itu: seseorang hilir mudik, entah ragu akan membukakan pintu atau memang belum sempat karena disibukkan dengan pekerjaan rumah.

Baca juga: Mister Masbuk – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 24 November 2019)

Seorang asisten rumah itu keluar. Perempuan itu mendekati pintu gerbang.

“Masuk, bapak-bapak,” katanya setelah membukakan pintu. Lalu, ia menghaturkan duduk di deret kursi mepet dinding menghadap sebuah meja panjang. Persis di samping muka garasi mobil. Ketiga motor tampak masih berjejer di depan.

Dan, Pak Ahmad tak lagi menghiraukan asisten rumah tangga itu yang kini telah meninggalkan mereka ke dalam rumah. Ia siap menunggu dengan sabar, tanpa memastikan kapan Pak Jeri akan keluar menemui. Atau mungkin, tak akan menemui? Tidak lama kemudian, asisten itu kembali membawa teh manis di terampan.

“Tunggu, Pak,” kata si asisten setelah menyilakan minum.

Pak Ahmad hanya mengangguk, tanpa merasa harus bertanya apa yang dikerjakan Pak Jeri setelah rombongan ini merasa cukup lama menunggu. Lalu, asisten menghidupkan sepeda motor. Mungkin akan belanja ke pasar di seberang Kali Poncol. Perempuan itu tampak memboncengi anak laki-laki Pak Jeri usia baru masuk SD.

Tidak lama kemudian, Pak Jeri datang.

“Minum tehnya, Pak,” ujar sang tuan rumah. Pak Jeri lalu mengambil kursi di sebelah meja, menghadap ke mereka.

Pak Ahmad merasa harus hati-hati menghadapinya. Tak ingin kejadian bersama Hafid terulang kembali. Kejadian yang membuat Pak Jeri seperti menghindarinya.

Tapi, Pak Ahmad tidak bisa begitu saja menyalahkan Hafid. Ia tak mengingatkan Hafid kalau ia yang menemani bercakap atau sebagai juru bicara.

Baca juga: Felicia – Cerpen Maya Sandita (Republika, 17 November 2019)

Pak Ahmad berusaha hati-hati menghadapi Pak Jeri. Maka, begitu Pak Jeri sudah duduk, ia masih diam. Apalagi, melihat raut wajahnya yang seolah-olah tak nyaman menerima para tamu ini.

Tapi, Pak Ahmad ingin tetap akan mengajaknya kepada kebaikan. Dan, belum sadarnya Pak Jeri kepada amalan agama, Pak Ahmad seperti dikejar rasa bersalah. Padahal, sudah berkali-kali ia menyarankannya agar melaksanakan ajaran agama. Bahkan, hampir setiap Ahad sore ia menemui.

Ia sadar, Pak Jeri bagian dari teman-temannya ketika mereka masih “Jahiliyah.” Pernah beberapa kali ia harus menyertai Pak Jeri setiap di luar kerja. Ke mana pun keinginannya, kebutuhannya pun dijamin selama dalam perjalanan. Bahkan, sampai harus berhari-hari. Meski malam-malam, Pak Ahmad nyaman menyertainya. Ke luar kota, bahkan.

Lagi-lagi Pak Ahmad tak bermasalah bersamanya. Sampai kemudian, entah berapa kali, datanglah Pak Maksum menemuinya. Kali terakhir, Pak Maksum memintanya untuk menyertainya ke mushala dan majelis taklim di sebelah rumah. Dan, Pak Ahmad pun merasa nyaman sehingga menerima ajakannya. Sebagai teman yang sudah lama mengenal di kampung, ajakan Pak Maksum terasa tak begitu memberatkan. Akhirnya, Pak Ahmad mulai menjalankan amalan-amalan agama.

Seolah ia merasakan angin surga berhamburan di antara kalimat-kalimat keagungan Tuhan yang mereka rapalkan. Sangat menyejukkan.

Memastikan mengerti kalau ia sudah banyak mengikuti saran Pak Maksum, Pak Jeri pun menjauhinya. Baik di kampung atau bertemu di luar. Dan ia sempat melihat raut masam wajahnya. Tapi, ia tak akan membenci mendapati sambutann ya semasam itu. Maka, sebagaimana Pak Maksum kepadanya, kini, ia pun harus menemuinya, sekadar sedikit mengenalkan ajaran agama yang ia ketahui.

Entah Pak Jeri senang atau tidak ketika menerima kedatangan para tamu ini. Namun, Pak Ahmad tak memedulikan raut wajahnya yang dingin.

“Terima kasih atas saran-saranmu.”

Pak Ahmad diam. Menoleh ke Mang Engkar dan Pangkasa di kanan kiri. Seakan, ia menjadi penyambung suara Pak Jeri. Tapi, mereka juga diam.

“Ke mushala, majelis pengajian, kegiatan keagamaan. Ya, itu semua aku sudah tahu,” kata sang tuan rumah.

Pak Ahmad masih diam. Mengerti Pak Jeri tak menerima sarannya. Dia pun pamit. Begitu juga rombongan yang menyertainya. Tapi, dalam hati dia berkata, akan tetap kembali mengunjungi Pak Jeri.

 

Pengarengan, Oktober 2019

Makanudin lahir dan menetap di Sukawangi, Bekasi, Jawa Barat. Sehari-hari, dia bekerja sebagai guru. Lulus sebagai sarjana Bahasa Arab pada Universitas Islam Jakarta (UIJ). Pernah belajar di Pesantren al-Wardayani Warudoyong, Sukabumi.