Cerpen Juliani (Serambi Indonesia, 22 Desember 2019)

Langit Merah Jambu ilustrasi Istimewa
Langit Merah Jambu ilustrasi Istimewa

KALAU telur?”

“Juga tidak boleh. Telur kan dari ayam. Ayam kan berdarah.” Mesti gigi Nek Harum telah rumpang, suaranya masih terdengar seperti bergigi utuh.

Nun cemberut mendengar kata-kata neneknya yang ketus. Tapi Nek Harum tak mengetahui air muka Nun. Di tangannya selalu ada kain batik tua yang dipotong kecil persegi untuk membersihkan awan putih di matanya yang tak putus-putus keluar. Harusnya dibedah, tapi tabungan Nun tak pernah pada. Butuh waktu bermusim-musim mengumpulkan jutaan rupiah bagi seorang pengajar lepas.

“Baiklah, Nek. Ada lagi yang tidak boleh? Jangan bilang penyedap juga tidak boleh. Nenek tahu, Nun bukan apa-apa di dapur kalau tanpa penyedap.”

“Nah! Itu juga, itu juga tidak boleh. Hampir Nenek lupa,” saat berkata raut wajah Nek Harum seperti wajah seorang pedagang kelontong yang berhasil menyadari pena yang dicarinya tersangkut di celah telinga.

“Nenek serius?” Nun menyentak-nyentak punggung tangan neneknya. Nek Harum tak menghiraukan. Mata sebelah kanannya terasa seperti telah dipenuhi tahi. Ia mencolokkan kain yang telah diruncingkan dengan telunjuk ke tepi matanya. Setelah berkedip-kedip beberapa kali memastikan matanya telah bersih, Nek Harum menarik udara.

“Begini saja, Nun setiap hari cukup masak sayur bening dan tempe atau tahu goreng. Semuanya tidak boleh dicampur penyedap, kecuali garam. Kalau Nun masak yang lain, Nenek tak akan makan,” ketegasan suara Nek Harum membuat Nun tahu bahwa itu bukan gertakan.

“Kalau nanti Nenek sakit?” Alis Nun bergelombang.

“Satu lagi, Nun harus wudu sebelum masak.”

“Wudu?”

“Nenek mau ke kamar.”

***

Sejak ditinggal mati oleh suaminya yang delapan tahun lagi mencapai setengah abad, Nek Harum sudah mulai mengembara tasawuf melalui sulok. Kematian suami benar-benar telah mengundang luka yang hanya Allah obatnya.

Selama sepuluh hari pada tanggal tertentu di bulan Rajab dan Zulhijjah biasanya Nek Harum akan ke Sumatera Utara untuk sulok. Dan sampai sekarang, setiap ada yang mendengar bahwa Nek Harum sulok di luar, selalu diuji dengan komentar yang rada-rada begini: ngapain jauh-jauh ke sana? Di kampung sendiri kan banyak. Nek Harum tersinggung bukan karena isi ucapannya, tetapi karena permainan nada yang bicara. Mata mereka, mulut mereka.

“Dulu almarhum adik saya ikut di sana. Mendengar ceritanya saya juga ingin ke sana. Ya ternyata saya nyaman. Sampai sekarang ya beginilah, alhamdullah saya betah. Bukankah perempuan memang begitu? Kalau sudah tertarik pada sesuatu dan berbalas, ia tak akan melepas apalagi cari ganti (kalimat yang ini biasanya selalu membuat yang mendengar tersenyum dan tersipu, selain juga sebagai siasat Nek Harum menyembunyikan kesal). Kan yang penting bukan di mana kita suluk, tapi kepada siapa nasab ilmunya itu berhenti,” dan untuk kalimat penutup ini, tak semua mereka mengerti dan gobloknya mereka malah manggut-manggut seperti kambing lagi makan.

Setiap menjawab seperti itu, lawannya selalu terdiam. Ada yang terbuka menerima. Kebanyakan tersenyum menyembunyikan penolakan. Awalnya Nek Harum memang terganggu dengan orang-orang yang terlanjur tahu bahwa beliau sulok di luar, namun lama-lama Nek Harum merasa bodoh. Kak Nas, yang menyadari ketinggian akhlak Nek Harum setelah itu, juga akhirnya penasaran. Dan sampai sekarang, jika Kak Nas cukup rezeki – dan entah bagaimana cerita selalu cukup mesti ia hanya seorang penjaja kue di kedai-kedai – ia tak pernah absen sulok ke Sumatera Utara.

Jika bukan karena penglihatan Nek Harum menggelap, sekarang ia juga pasti telah berlabuh bersama tetangganya itu ke ribaan Tuan Guru. Pahala haji mabrur bagi siapa saja yang rida beribadah khusyuk di awal sepuluh Zulhijjah selalu terngiang di sanubari Nek Harum. Maka terilhamilah ia membuat ritual sulok secara mandiri di rumah.

Di kamarnya, di samping tempat tidur, Nun telah diperintahkan untuk memasang kelambu merah muda. Ketika cucunya terheran-heran, Nek Harum menjawab bahwa ketika sulok kelambu akan menjadi kubur. Mendengar itu kepala Nun malah makin tegang. Tapi Nek Harum tidak menjelaskan lebih lebar. Tentang ritual sulok, Nek Harum memang begitu tertutup kepada siapa saja kecuali kepada Kak Nas. Kak Nas juga.

Sepanjang sepuluh hari ke depan Nek Harum tak akan bicara kecuali beberapa patah kata jika genting, tak akan keluar rumah mesti sebenarnya boleh untuk darwis selevelnya, tak akan makan yang berdarah, dan tidur di kelambu dengan menghadap kiblat dan melengkung ke kanan seperti bayi di dalam janin ibu.

Nek Harum juga menyuruh Nun untuk mengikat tiga tali plastik di kaki tempat tidur sebagai rutenya menuju kamar mandi, meja tempat makanan di depan kamar, dan lemari pakaian yang berada di sudut kamar yang terbilang luas itu. Setiap pegangan tali yang diikat, telah dipasang lambang oleh Nun. Nomor satu pertanda ke kamar mandi, bentuk dua menuju meja makan, dan angka tiga mengarah ke lemari.

***

Enam hari berlalu. Nun mengikuti semua arahan neneknya. Tak pernah Nun terlambat meletakkan makanan. Bahkan ia menyelesaikannya lima hingga sepuluh menit lebih cepat. Selama enam hari, hanya sekali ia berbicara pada neneknya ketika ia perlu uang untuk mengganti mesin air yang rusak. Dari dulu Nun memang menyimpan tabungannya kepada nenek. Dan Nun pernah merasa terjadi ihwal ganjil. Dulu, pernah simpanannya seolah berjumlah lebih banyak daripada perkiraan. Ketika diutarakan kepada neneknya, tanpa berpikir suatu kegaiban apa pun, Nek Harum menjawab dengan canda kasih, “Cucu Nenek sudah tua rupanya. Sudah suka lupa. Sudah bisa cari suami.” Jawaban itu berhasil membuat Nun melupakan keanehan pada tabungannya yang seakan berbunga di lemari neneknya itu.

Ketika Nun baru pulang kerja dan hendak memindahkan piring kotor nenek, Nun terheran-heran sebab sarapan di sana masih seperti sediakala. Nun memegang dadanya. Perasaannya tiba-tiba langsung tidak enak. Entah novel atau film drama apa yang baru dihabiskannya. Akhirnya Nun tidak mengindahkan larangan neneknya untuk tak membuka pintu kamar. Dengan pelan Nun menjulurkan kepalanya. Dan saat itu Nun bisa merasakan betapa sejuknya hawa kamar itu. Lebih sejuk daripada biasanya. Nun mengarahkan matanya ke kelambu. Nun lega ketika melihat bayangan transparan neneknya yang sedang duduk di dalam sana. Nun yakin neneknya sedang zikir.

Nun kembali menutup pintu dan mengangkat sarapan neneknya. Menyadari ketekunan ibadah neneknya sampai-sampai lupa makan, detik itu hati Nun merinding membayangkan bagaimana sebenarnya kenikmatan yang telah dimiliki neneknya selama ini. Tiba-tiba Nun ingin hari-hari berlalu lebih lekas. Ia tak sabar hendak menginterogasi neneknya habis-habisan. Ia tak pernah tahu sebelumnya, bahwa sulok sedahsyat itu. Ia menyesal selama ini tak pernah penasaran dengan pengalaman sulok neneknya.

***

Menjelang senja, mata Nun berbinar melihat neneknya yang sedang berjalan mengikuti tali yang akan membawanya menuju kamar mandi. Seolah Nun berbulan-bulan tak melihat neneknya. Nun mengamati neneknya yang bergerak begitu lepai. Nun yang sedang membaca di sofa, sengaja mendeham. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk menyatakan rindu.

Setelah suara kucuran-kucuran air wudu dari kamar mandi, Nek Harum keluar. Geraknya masih selambat tadi. Sarung yang mencekik pinggangnnya sudah lebih ke atas. Jilbab kurungnya juga nyaris membenamkan seluruh mukanya. Tongkat bagian bawahnya basah. Ingin rasanya Nun membantu, tapi ia tak ingin merusak aturan yang telah disetujuinya. Mata Nun terus mengekori hingga neneknya lenyap di pintu.

Setelah Magrib, Nun mengantar makan malam. Dan Nun mulai serius mengkhawatirkan neneknya sebab santapan siang hanya isi gelas yang tandas dan sepotong tahu. Selebihnya belum tersentuh bahkan oleh lalat. Nun melihat ada secarik kertas di sana. Nun membuka. Nek Harum menulis dengan tulisannya yang kacau bahwa ia ingin kopi. Juga minta untuk dibelikan minyak wangi.

Nun tahu persis minyak wangi apa yang selalu dipakai neneknya ketika beribadah. Hidung Nun, tak pernah bersahabat dengan minyak itu. Hidungnya akan seperti disengat. Mesti begitu, malam ini Nun berniat akan segera membeli. Sebab ia tahu, neneknya akan risih jika beribadah tanpa wewangian.

“Nenek malu Nun kalau bau di hadapan Allah,” begitu kata Nek Harum kepada Nun dulu sewaktu Nun menunda membeli minyak wangi, yang dianggapnya sebagai candaan. Nun baru menganggapnya serius ketika berkali-kali Nek Harum mengatakan hal yang sama ketika Nun lupa atau menunda.

***

Sekonyong-konyong Nun terlonjak dari lelap. Entah dorongan apa, ia ingin sekali bertemu neneknya. Mendadak rindunya seperti meluap-luap. Ia keluar dari kamar. Tiba di pintu kamar neneknya, tanpa berpikir-pikir ia membuka. Ruangan itu gelap. Tapi kelambu di sana seperti ada cahaya yang menaungi. Tak ada bayangan Nek Harum yang sedang duduk. Ketika Nun telah benar-benar masuk dan kian dekat ke kelambu, ia melihat ternyata neneknya sedang berbaring.

Di hadapan kelambu Nun berjongkok. Nun menyibak kaki kelambu hati-hati. Ia terhenyak ketika malah melihat neneknya sedang duduk di sana, menghadapnya. Lalu mengangkat kepala dan bisa melihat Nun. Mendadak wangi yang begitu harum menyusup ke liang hidung Nun. Nek Harum tersenyum. Tangannya diulurkan ke depan mengajak Nun untuk juga masuk.

“Nenek, Nun rindu, Nek.”

Dan ketika ia ingin menghamburkan tubuhnya ke pelukan neneknya yang ceking itu, Nun malah tersungkur. Tak ada tubuh yang menyambutnya di sana.

Nun tersentak di atas tempat tidur. Keringat kental mengalir di jidat dan leher. Napas naik turun. Perasaanya benar-benar kacau karena mimpi barusan. Spontan ia segera keluar kamar. Takut mimpinya barusan pertanda apa-apa. Dan betapa, terkejut dan lega terjadi dalam detik yang bersamaan ketika Nun menemukan neneknya yang setenang danau malam sedang melangkah menuju kamar mandi. Nek Harum yang menyadari ada seseorang, berhenti sejenak. Tak lama setelah mendengar Nun mengeluarkan deham, ia kembali bergerak.

Nun melepas lega. Dia mengelus dada sendiri. Dilihatnya jam, masih pukul dua malam.

***

Paginya, di gelas tinggal ampas. Minyak wangi juga menghilang. Sedangkan makanan masih banyak sisa. Nun berpikir apakah masakannya seburuk itu sampai-sampai neneknya sudah tak bernafsu? Nun agak kecewa. Ia bertekad siang ini akan memasak makanan yang agak lumayan.

Siangnya, sepulang mengajar dari sekolah, Nun semakin dibuat bimbang dengan nafsu dan lidah neneknya. Kali ini bahkan air putih masih seperti semula. Ia benar-benar kesal. Ia mengangkut semuanya dengan hati panas sepanas cuaca di luar.

Malamnya, sepulang mengajar dari tempat bimbel, Nun segera mengecek makan siang neneknya. Nun tersenyum riang menemukan meja di sana kosong.

Di kamar mandi, sambil menggosok gigi, Nun menatap keranjang baju kotor yang baru tadi pagi kosong. Tapi anehnya di sana tak ada sehelai kain pun. Ia tahu benar bahwa setiap sore pasti bertambah satu baju kotor neneknya. Apa nenek belum mandi? Batin Nun menduga-duga. Sambil terus menyikat giginya, ia mendekat ke wadah kain kotor itu untuk memastikan kualitas matanya. Melihat di sana benar-benar tak ada apa pun, di kepala Nun melintas sesuatu yang buruk tentang neneknya. Mimpinya tadi malam juga kembali hidup. Nun menjadi resah sekali. Cepat-cepat ia selesaikan mandi.

Selesai ganti baju, dada Nun seolah penuh riak. Matanya berlinang. Dengan langkah panik ia menuju kamar neneknya. Ia membuka pintu cepat-cepat. Tak ada sinar sama sekali. Nun merasakan hawa yang begitu dingin. Tangannya meraba dinding dekat pintu. Setelah menekan sebuah tombol, lampu menyala. Dan matanya segera tertuju ke kelambu yang tipis dan renta itu. Ia tak memedulikan perkakas makanan neneknya yang terletak begitu saja di dekat kelambu.

Baru selesai Magrib, tapi Nun menemukan neneknya yang tidur terlentang di kelambunya. Jantung Nun berdebar.

“Nek…” Panggilnya sebelum membuka. Berkali-kali Nun memanggil, berturut-turut pula tak bersahut. Panggilan Nun berubah gemetar.

Tangannya menggeligis ketika akhirnya ia memberanikan diri menyilak kelambu. Dan Nun tak bisa menahan air matanya yang telah menderu. Adakah keaadaan lain untuk waktu bisa berkhianat selain ketika sebuah keyakinan menjelma sebuah kepastian?

Di dalam sana, ia melihat neneknya tidur seperti mayat yang telah dikafan. Bibirnya pucat pasi. Nun segera masuk ke kelambu dan menghentak-hentak tubuh neneknya. Tapi Nek Harum tak berkutik. Nun meletakkan telinga di dada neneknya, tapi yang terdengar malah gemuruh dadanya sendiri. Diletakkan tangannya di depan lubang hidung, juga tak ada angin yang berhembus. Nun semakin getir ketika gagal merasakan denyut nadi di tangan dan leher neneknya.

Nun masih tak putus harap memanggil-manggil. Dia menangis. Ia pernah dengar bahwa lengkungan vertikal antara hidung dan bibir orang yang sudah mati biasanya akan menghilang.

Tak ada yang bisa Nun lakukan selain meraung di dalam kubur. Ia meronta histeris di dada nenek. Sesaat kemudian, tiba-tiba Nun tersadar bahwa dari tadi hidungnya sedang menghirup harum yang persis seperti harum dalam mimpinya.

“Nun…,” tiba-tiba Nek Harum memanggil. Raung Nun pun sontak sunyi.

 

Lamreung, Agustus 2019

Juliani. Guru Bahasa Indonesia di Madrasah Insan Qurani.