Cerpen Kartika Catur Pelita (Bangka Pos, 22 Desember 2019)

Ibu yang Menangis Darah ilustrasi Bangka Pos (1)
Ibu yang Menangis Darah ilustrasi Bangka Pos

Lastri Setiawati. Perempuan yang masih tampak kecantikannya-walau usianya sudah enam puluh empat tahun terpekur, di balik  kisi-kisi jendela kamarnya. Seorang diri. Sendirian. Sunyi. Ia menghela nafas panjang berulang. Mengangkat wajah,  Sejenak ia memandangi langit jisenja.

Lembayung di langit  terlihat begitu indah. Sayangnya hidupku tak pernah seindah  itu, gumamnya. Terbayang hari-hari yang dilaluinya bersama suami dan anak-anaknya. Ia sangat menyayangi lelaki  yang  telah melamarnya dan telah  bersumpah indah  pada  akad nikah,   berjanji akan menyayanginya. Lelaki itu telah berjanji akan menjadi suami yang baik, bertanggung jawab. Suami yang memberi perlindungan dan  kasih sayang pada keluarga. Tempat berbagi suka duka untuk istri.

Ayah yang bisa jadi panutan bagi anak-anaknya. Padahal  kenyataannya, jauh panggang daripada api. Dia bukan suami yang baik, bukan sosok yang layak jadi panutan istri, apalagi anak. Sebagai kepala keluarga seharusnya dia bertanggung jawab,  menafkahi anak istri, bukan malah menelantarkannya.

“Berapa sebenarnya uang gajimu, Pak? Sebagai istri aku ingin tahu.”

“Tak perlu. Uang gaji itu hasil kerjaku, jadi aku yang berhak mengaturmu, memberikan uang seikhlasku.”

“Apa maksudmu, Pak. Kita hidup berumahtangga. Kebutuhan untuk kita bersama. Untukmu, untukku, untuk anak-anak. Anak-anak semakin besar membutuhkan banyak uang. Bayar sekolah, beli seragam, beli ini-itu.”

“Dasat  perempuan cerewet.”

“Aku bicaraa seperti ini supaya kau tahu. Bukannya aku cerewat, bukannya aku ingin  mengaturmu.”

“Sudah, ah, aku capek setelah bekerja. Nanti malam aku  piket. Aku ingin tidur.”  Lelaki itu bukannya masuk kamar, tapi malah mengambil jaket dan menaiki motornya.

“Katanya mau tidur, kok malah pergi?”

“Aku ingin tidur di pos hansip atau di kuburan. Aku bosan mendengar kecerewetanmu!’’

***

Sebagai ayah, seharusnya ia  memberi teladan, bukan kesukaran-kesukaran bagi anak istri. Sebagai istri, Lastri tak menuntut banyak pada Laksmana, tapi semakin hari, semakin usai perkawinan berumur, semakin usia  bertambah menua,  dia semakin sulit  mengerti, semakin tak bisa memahami apa sebenarnya kemauan suaminya. Pengorbanan yang telah dilakukannya atas nama cinta terasa sia-sia. Biduk  yang mereka kayuh semakin lama semakin terterpa ombak, dan dipermainkan  badai. Biduk  cinta itu  nyaris beberapa kali tenggelam.

“Saya berpesan agar ibu bisa  menjaga suami Ibu. Suami Ibu mengejar anak  gadis saya, yang masih bau kencur. Beberapa  kali membawanya pergi. Kami sudah menasihatinya. Tapi ia nekad. Anak kami telah diguna-gunai suami Ibu. Ibu  harus bertanggung jawab jika sampai terjadi hal buruk pada anak kami, kami akan menuntut suami Ibu. Biar suami Ibu dipecat!” Serombongan orang mendatangi rumahnya. Ingin memberi pelajaran pada suaminya. Demi cinta, ia menyembunyikan sang suami di kolong ranjang. Andai ia istri  tega, ia akan membiarkan  orang-orang menghakimi suamianya. Karena perilaku busuknya.

“Sebenarnya apa yang telah  kau lakukan pada anak gadis  orang tadi?” ia bertanya perlahan, menahan  gemuruh di dadanya. Ini bukan yang pertama kali ia mendengar suaminya main gila dengan seorang perempuan. Berulang-ulang. Ia menahan sakit. Menahan luka

“Mereka salah paham, Bu. Anak gadis mereka ingin menjadi tentara. Aku melatihnya baris-berbaris, Olah raga, ketahanan  fisik. Mereka salah paham. Sudahlah. Tak ada guna dibahas!”

“Tapi kata mereka kau membawanya pergi. Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan, Pak. Ingatlah. Kau memiliki anak perempuan. Kau jangan berbuat  tidak-tidak. Nanti kena karma.”

“Kau ini ngomong apa? Lebih percaya mulut orang lain daripada mulut suamimu sendiri. Kau  ini istri parah, malah mendoakan hal buruk terjadi pada  anak kita. Kau ini istri macam apa?!” Plak-plak-plak. Laksmana marah dan buas menarikan tangan. Ia tak kuasa melawan. Entah, mengapa  ia membiarkan dirinya disakiti. Pernah suatu ketika  ia melawan ketika suami memukulnya, tapi balasan suaminya  lebih kejam. Lastri diikat pada sebuah ranjang, diselomoti puntung rokok, kesakitan, dan Laksmana memaksanya berhubungan badan! Oh, Lastri sering berpikir, apakah masih pantas  dia menyelamatkan biduk itu? Bukankah dia sendiri yang dulu memilih biduk itu beserta nahkodanya. Ah, penyesalan mengapa selalu datang  belakangan?

***

Lastri Setiawati memandang senja yang telah hilang ditelan malam. Ia menyalakan lampu bohlam, ketika pandang matanya tertumbuk pada pigura perkawinannya yang  sampai hari ini masih terpajang di dinding kamarnya. Lastri- perempuan yang  rambutnya separuh  memutih itu tersenyum samar, bermacam rasa hinggap ketika dia terkenang masa lalu. Masa lalu yang  manis, masa lalu yang  asam,  getar, masam, juga pahit.

Dahulu  ia terbuai pada pesona  kemilau yang dimiliki Laksmana Kusuma Wijaya. Lelaki itu  gagah,  tampan dan jantan. Sayang,   mata keranjang.

Dahulu ketika mereka berpacaran, kedua orang tuanya sudah menasihatinya  untuk berpikir matang-matang sebelum  memutuskan menikah dengannya.

“Menikah itu jangan hanya berpikir manisnya  saja, Nduk. “

“Apa maksud, Ibu?”

“Pernikahan bukan semata demi melampiaskan hasrat, nafsu kesennagan, namun pernikahan harus berlandaskan kasih sayang pada pasangan. Itu  sangat penting. Cukuplah ibumu yang mengalaminya, mendapatkan suami yang ringan mulut dan tangan seperti bapakmu. Kamu jangan meniru Ibu.”

“Maksud Ibu, Mas Laksmana akan berbuat seperti ayah. Tidak, Bu, Mas Laksmana baik, tak pernah memukul, bahkan mencubit. Juga tak pernah  bicara kasar pada Lastri.”

“Syukurlah kalau begitu. Tapi kalian masih pacaran, belum menikah. Saat menikah sifat asli seseorang baru muncul. Saat pacaran yang ada hanya kemanisan semu. Setelah menikah kau jangan terkejut jika sikap manis berubah pahit, masam, getir, atau malah pahit.”

Dia tak percaya petuah orangtua. Tapi ia yang nekad. Atas nama cinta ia  merengek-rengek memohon restu orang tuanya. Separuh hati mereka merestui. Mungkin karena ini keadaan keluarganya, kehidupannya bagai meja  berkaki tiga, timpang. Tak utuh. Setelah menikah, sang suami menunjukkan belangnya. Ia selingkuh, berulang kali, menikah siri dengan wanita-wanita jablai. Laksmana tega, memberinya madu tiga.  Seribu luka harus ditanggung Lastri Setiawati.

Pernah terlintas dalam benaknya untuk bercerai dari Laksaman, tapi dia takut menyandang status janda. Ia memilih bertahan, demi anak-anak, juga demi sepotong hatinya, yang diam-diam masih menyimpan segumpal harapan untuk dirinya.

Tapi atas nama cintakah jika sampai hari ini masih bertahan. Perkawinan mereka tak utuh, tak bercerai, tapi sudah pisah ranjang dan tak tinggal satu rumah. Apa yang sebenarnya dicari? Makna pengorbanan  atas pilihan  hidup? Inikah kejamnya cinta  yang  harus ditanggungnya seumur hidup? Entah.

Setidaknya dalam sisa hidupnya ia ingin menjadi ibu yang baik. Lastri Setiawati membuktikannya ketika si suami  main gila, ia  tak membalas berbuat busuk. Ia memilih di rumah. Membesarkan permata hati dengan susah payah berselaput luapan kasih. Walau saat ini ia dilanda gamang, ketika kabar  buruk  itu datang dua hari tadi, siang-siang serupa bom menyalang yang membuatnya limbung.

“Benarkah? Jangan mengarang  dusta, jangan  menyebar fitnah!”

“Bu.”

“Aku tak ingin mendengarnya.”

“Saya datang ke sini karena kasihan pada ibu.”

“Aku tak percaya.”

“Sebagai Ibu seharusnya Ibu bisa menjaga anak. Tak membiarkannya binal….”

Tamu yang baru sekali bertemu dengannya itu berani melukai perasaannya! Tidak tahukah bahwa, ia rela jadi pembantu, ia rela berkubang dengan  kayu bakar, aroma deterjen, agar anak-anaknya tak  salah jalan. Ia  tak memilih ikut bejat seperti suaminya, agar anak-anaknya utuh. Tapi kenyataannya kini, ia merasa ditimpuk sebongkah tahi kerbau di dahinya!

***

Lastri Setiawati mencoba tabah, menelan kenyataan pahit ini, walau hatinya telah tercerai berai, remuk redam, tapi siapa lagi yang bisa membalut luka, selain sang Pencipta. Jika  peristiwa kelam ini harus mengaluri jalan hidupnya. Ia rela.  Ia pasrah pada garis takdirNya. Pada senja yang indah  ini, -perempuan tua yang masih tampak  kecantikannya- itu menangis darah hati. Ia menangis melihat -seorang  perempuan yang mirip dirinya-terpancang di langit-langit rumah. Sementara, seorang lelaki seumuran dirinya mencumbu gadis kencur di atas ranjang pengantinnya- di bawah jasad  yang menggantung! ***                                             

 

Kota Ukir,  11 Mei 2018-1 Desember 2019

Kartika Catur Pelita, lahir 11 Januari 1971. Prosa dan puisi dimuat di Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Kartini, Koran Merapi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Radar Bojonegoro, Sabili, Annida, Analisa, Lampung Pos, Soeara Moeria, Bangka Pos, Metro Riau, Republika, Media Indonesia, Kanal Sastra, Nova, dll. Menulis buku fiksi “Perjaka”, “Balada Orang-orang Tercinta, “Kentut Presiden.” Bergiat di komunitas Akademi Menulis Jepara(AMJ).