Cerpen Ranang Aji SP (Koran Tempo, 21-22 Desember 2019)

Catatan Seorang Veteran ilustrasi Koran Tempo (1)
Catatan Seorang Veteran ilustrasi Koran Tempo

Setelah jasadnya diangkat dari sebuah selokan di pinggir perumahan, salah seorang menyodorkan sebuah buku kecil hitam kusam kepadaku dengan rasa prihatin. Aku membuka dan membaca tulisan tangan bergaya Latin kuno yang lumayan rapi itu. Dari sana, aku menyimpulkan pria tua malang berusia… mungkin sekitar 100 tahun itu, seorang veteran perang. Seseorang yang pantas disebut pahlawan. Tampaknya ia sudah pikun sejak lama. Pakaiannya yang kotor dan basah dipenuhi lencana penghargaan. Aku tak mendapatkan kejelasan asal-usulnya, tapi aku yakin pria tua itu pergi dari rumahnya, seperti kebanyakan orang-orang yang telah pikun yang hidup dengan sebagian memori masa lalunya. Berikut ini adalah beberapa catatannya yang sudah aku baca. Meskipun tampak agak kacau dan tak jelas urutan waktunya, ia menulis cukup jelas.

1/

…Siang itu aku berjalan menyusuri jalan desa. Aku ingat perintah komandan agar menjaga gerbang desa, sebelum rencana penyerangan di pusat kota dimulai. Tapi aku bertemu anak-anak yang aneh tertawa dan mulai tidak sopan. Mereka tidak paham, bahwa aku, seorang prajurit, menjaga agar desa tetap aman dan kehidupan mereka berlanjut. Mereka mengikutiku sepanjang jalan sembari berteriak dan bersikap kurang ajar. Bahkan para orang tua mereka membiarkan dan ikut tertawa. Mereka tidak tahu betapa bahayanya jika musuh menyerang. Mereka semua seperti orang-orang yang tidak waras dan tak mau mengikuti perintahku agar tetap di rumah. Seorang bocah di ujung jalan, melemparku dengan sebatang ranting…

2/

Aku bangun tengah malam. Tubuhku berkeringat dan suara serangga malam terdengar seperti dengungan iblis. Perasaanku tak menentu. Aku ingat seorang prajurit, temanku, mati dengan kepala pecah dalam pertempuran. Ia tak sempat berpesan apa pun kepadaku, atau siapa saja. Ia mati begitu saja terlentang dengan darah mengalir dari kepala ke tanah. Ketika aku keluar rumah, aku melihat api berpijar di seberang desa. Aku tahu, musuh sudah membakar desa. Segera saja aku ke sana, tapi aku hanya melihat orang-orang membakar batu-bata. Salah satu di antara mereka memberiku makanan dan minuman jahe. Katanya, tak baik aku keluar sendirian di tengah malam. Katanya, beberapa perawan hilang akhir-akhir ini.

3/

Anakku, seorang pria dengan istri yang cerewet dan tak berperasaan kepada orang tua sepertiku. Akhir-akhir ini dia selalu mengomel karena aku dianggap menyusahkan. Sejak kapan aku menyusahkannya? Dia berasal dari cairan maniku, dari tubuhku. Sejak kecil dia sudah merepotkanku. Aku berjuang untuknya dan untuk negaraku. Tapi ia merasa lebih repot dari yang kualami. Pagi itu aku memutuskan pergi dari rumah… menghindari muka masamnya, seperti menghindari serangan Gurkha KNIL.

/4

Setelah upacara bendera di bawah sinar matahari yang panas dan mendengar pidato basa-basi anak muda yang jadi pemimpin upacara… kami, beberapa orang tua yang gemetaran mendapatkan nasi kotak. Kami makan di bawah pohon seperti masa perang. Aku ingat salah satu temanku, dia satu-satunya yang tersisa dari yang kukenal dari pasukanku, Kopral Tarjo. Dia membuang nasi kotaknya dan marah-marah. Katanya, merdeka apa-apaan ini, tidak ada air! Tarjo marah karena belum mendapat segelas teh panas…

/5

Suatu malam, tiba-tiba aku ingat seorang Belanda berlari telanjang dada dari dalam baraknya dan terjungkal tertembak dalam sebuah penyerangan. Tetapi ia tidak mati. Ia bergerak lamban dan menangis ketika aku seret ke semak-semak. Matanya ketakutan. Aku menenangkannya dan menyembunyikannya di dalam semak-semak agar tak terlihat teman-temanku. Aku ingin menolongnya sebagai manusia dan tak ingin ia mati sia-sia, sementara keluarganya menantinya. Tetapi setelah usai pertempuran, aku menemukannya mati dengan kepala remuk…

/6

Kota ini berubah. Banyak sekali kendaraan berlalu lalang dan tak peduli dengan kehadiranku. Mereka menjerit, memekak membuatku merasa seperti dalam kepungan meriam. Di sepanjang jalan aku melihat tumpukan sampah kecil hingga tumpukan besar dan tinggi seperti gunung. Mereka mengotori hidupnya sendiri dengan semua yang tak berguna. Menghalangi udara segar di pagi hari dan merusak sinar matahari. Merdeka ternyata bebas memang membuang sampah sembarangan. Seorang gelandangan di pinggir jalan yang berdebu tersenyum kepadaku..

/7

Semakin hari banyak orang tak kukenal seolah-olah mengenalku. Bahkan merasa lebih mengenal dari diriku sendiri. Di antara mereka itu mengaku sebagai anakku. Aku tertawa mendengar itu. Aku tak pernah ingat apa pun, apa aku pernah menikah dan memiliki anak. Aku memang pernah suka pada seorang gadis sebelum ada perang berlangsung. Nama gadis itu Surti. Tapi dia pergi dengan seorang kapten Jepang..

/8

Di tahun 1990-an, aku membaca buku kecil yang aku pungut dari bawah ranjang cucu laki-lakiku. Cucuku tampaknya ingin menyembunyikannya dariku atau siapa pun. Setelah kubaca, buku itu membuatku merasa seperti melihat dunia yang dipenuhi kekacauan tanpa henti. Aku merasa malu. Penulisnya bernama Eni Arrow. Kurasa ia berhak mendapat penghargaan sastra sekelas Nobel dengan pertimbangan, pertama, betapa nggilani ceritanya dan kedua, kemampuannya membangkitkan orang-orang. Setidaknya organ tubuhnya…

/9

Aku ingat teman remajaku bernama Jamal. Jamal punya adik bernama Dayat. Dayat punya adik bernama Ir. Ir punya adik bernama Bayu. Ketika Jamal pergi, aku bermain dengan Dayat. Ketika Dayat pergi aku bermain dengan Ir. Ketika Ir pergi aku bermain dengan Bayu. Dan ketika Bayu pergi, aku bermain dengan Gendis. Tapi aku tak suka Gendis, karena setiap bermain, Gendis selalu melihatku dengan birahi. Semua itu salah Jamal, kukira. Karena ia mengikat Gendis di pohon Jambu tanpa memberinya pejantan…

/10

Ketika salah satu cucuku sunatan, aku ingat diriku sunat di usia sekitar 13 tahun. Seminggu setelah sunat, aku bermain di sungai bersama seorang teman. Di sana, aku melihat noni Belanda tengah berciuman dengan seorang serdadu KNIL. Tubuhnya telanjang. Akibatnya setelah itu, aku demam selama seminggu dan selangkanganku terasa nyeri dan perih..

/11

Di Yogyakarta, tiba-tiba banyak anak muda berkumpul dan berteriak penuh semangat di Bundaran UGM. Mereka mengingatkanku pada Soekarno dan para pemimpin muda di masa revolusi. Sementara sebagian yang lain bergegas pergi ke Pasar Kembang. Ketika aku tanya ada apa mereka ke sana, mereka bilang harga-harga akan segera naik. Mereka ingin membeli bunga-bunga sebelum mereka tak mampu membeli. Iya, dia benar, kukira di sini harga-harga selalu naik. Kecuali harga diri…

/12

Ketika komandanku memintaku selalu mencatat setiap kejadian untuknya, aku tahu ia punya keinginan agar setiap peristiwa yang kami alami dibaca oleh anak cucu kelak agar menjadi pelajaran. Tetapi, tetap saja ia terkadang bersikap tidak jujur. Komandanku selalu mencoret-coret beberapa peristiwa yang kucatat dengan benar. Ia mengganti beberapa di antaranya dan mengatakan kepadaku, nah, ini lebih baik…

/13

Istriku adalah wanita yang tidak cantik. Tapi aku selalu mengatakan kepadanya bahwa ia wanita tercantik di muka bumi ini. Ketika malam pertama, aku menidurinya tanpa perlu susah payah menembusnya. Katanya, semua itu berkat jasa seorang kapten Jepang yang dengan kasar memaksanya menjadi salah satu gundiknya. Ia cukup beruntung, karena banyak temannya mati dan tak pernah kembali. Istriku menangis saat bercerita dan membuatku kerepotan menenangkannya semalaman. Akhirnya, kukatakan kepadanya akan mencari kapten itu untuk membunuhnya. Tetapi istriku justru tertawa mendengarku mengatakan itu. Katanya, sudahlah, lupakan. Perempuan sulit sekali dimengerti…

/14

Ketika Sinuhun, Sultan Kaping Songo, mengirim surat kepada Sudirman untuk meminta menyerang Yogyakarta pada pagi hari ketika matahari pagi retak, aku tengah dikirim komandanku ke Borobudur. Di sana, aku melihat orang-orang desa kurus seperti jarang makan. Meskipun tanahnya lumayan subur dengan bukit yang panjang menghijau… jauh setelah peristiwa penyerangan itu, mereka masih sama keadaannya. Miskin dan terusir, karena orang-orang asing sejengkal demi sejengkal membeli tanah mereka.

/15

Aku tidak tahu mengapa orang-orang seperti menertawaiku sepanjang jalan. Bahkan anjing-anjing di desa itu menggonggong keras dan tiada henti. Bukankah aku adalah pelindung mereka selama ini? Aku mempertaruhkan nyawaku bersama prajurit lainnya agar hidup mereka aman dan tenteram. Aku kira mereka menganggapku pria gila. Kenyataan itu sangat menyakiti perasaanku. Mereka seharusnya dididik untuk menghargai orang lain yang pernah menjaganya. Itu baru berbudi…

/16

Ketika seorang pria tua mengaku anakku di rumah, kukatakan kepadanya aku punya beberapa anak, salah satunya bernama Joned dan cucu bernama Hermawan. Pria itu mengatakan dirinyalah anakku yang bernama Joned itu. Aku agak heran dengan pengakuannya, tetapi aku tersenyum dan memintanya untuk memberiku uang. Aku harus pergi jauh ke rumah temanku di Solo. Tapi ia menentangku. Katanya, teman Bapak sudah mati semua. Aku tidak percaya dan mengusirnya karena bicara ngawur. Aku yakin pria itu bukan anakku. Namun, karena kemudian dia memberiku uang, aku agak yakin bahwa dirinya memang anakku.

/17

Aku tak tahu siapa pemimpin setelah Soekarno dan Hatta. Tapi banyak orang ribut karena bingung siapa pemimpin mereka sebenarnya. Sepertinya setiap orang ingin memimpin, tetapi setiap orang juga tidak peduli, dan akhirnya mereka memimpin dirinya sendiri. Buktinya mereka kaya sendiri, sementara yang lain tetap miskin….

 

Ranang Aji SP menulis fiksi, sastra, dan esai. Dia tinggal di Magelang, Jawa Tengah.