Cerpen Khairul Anam (Minggu Pagi No 37 Th 72 Minggu V November 2019)

Pak Tua ilustrasi Minggu Pagi (1)
Pak Tua ilustrasi Minggu Pagi 

Pak Tua itu sering terlihat membawa radio acap kali jalan melewati depan konter. Radio itu terdengar berisik—seperti radio yang telah rusak. Awalnya aku tidak memedulikan Pak Tua yang selalu lewat di depan konterku.

Beberapa tetangga menganggap kalau Pak Tua itu orang gila. Namun anggapan itu aku bantah secara diam-diam. Pak Tua itu sering menyapa beberapa tukang becak yang berhenti di pangkalan—pangkalan itu tepatnya di ujung gang kampung ini, pinggir jalan raya.

Aku merasa ia sedang dirundung kegelisahan. Wajahnya selalu sayu ketika menengok ke arahku saat sedang lewat di depan konter. Bahkan tidak ada pancaran kebahagiaan dari sorot matanya. Sedikit pun tidak ada. Aku rasa ada kisah yang tersembunyi di balik radionya yang rusak. Tentu kisah memilukan. Tetapi aku tidak bisa membenarkan dugaanku. Mungkin saja dugaanku salah dan ternyata wajah sayunya itu terlihat karena dia kelelahan setelah berjalan ratusan meter.

Di sisi lain, Pak Tua sangat peduli dengan lingkungan. Ketika itu—saat aku hendak membeli sesuatu, aku memergoki Pak Tua sedang membersihkan selokan dan beberapa rumput liar yang tumbuh di tepi jalan.

Sebenarnya Pak Tua sudah lama berlalu-lalang di depan konterku. Aku tidak tahu di mana tinggalnya. Yang jelas—dari yang aku lihat, dia selalu berjalan dan berhenti kapan pun dan di mana pun semaunya.

Entah mengapa, sekarang aku selalu memperhatikan gerak-gerik Pak Tua. Mungkin di sela-sela konterku yang sepi, aku yang kadang merasa bosan—mencari kesibukan lain. Salah satunya memperhatikan Pak Tua yang berjalan di depan konterku sampai ke ujung gang.

***

Malam minggu. Seharusnya menjadi malam yang ramai. Namun jalanan terasa sepi. Hanya suara jangkrik dan serangga malam yang saling berebut nyanyian. Warung kopi yang ada di seberang jalan juga tutup. Ia pulang seminggu sekali, setiap Sabtu dan akan kembali pada hari Senin.

Aku berjalan ke tengah jalan—hendak mengamati sekitar. Gang ini sangat sepi, tidak ada motor yang lewat. Aku menduga sepinya malam dikarenakan orang-orang sedang mengerumuni sebuah acara atau tempat-tempat yang sengaja disediakan untuk nongkrong entah bersama teman, keluarga atau pun pasangan di malam minggu.

Tidak seperti orang-orang pada umumnya—aku tidak pernah punya rencana pergi di malam minggu. Hanya berjualan dan nanti kalau sudah agak malam, teman-teman akan kemari berkumpul seperti biasanya.

Kami(tentu aku dan teman-teman) malas ketika malam minggu keluar. Sudah pasti ketika melewati jalan yang jalan itu mengarah ke tempat-tempat yang aku sebutkan tadi, akan menjebak kami ke dalam kemacetan.

Namun di tengah asyiknya melamun. Pak Tua mengejutkanku. Ia duduk di kursi begitu saja tanpa meminta izin dulu. Nafasnya tersengal-sengal—aku rasa dia sedang kelelahan. Tak berselang lama, ia meminta segelas air putih. Untung saja aku selalu membawa air putih dari rumah, aku tuang air putih itu di gelas. Lalu menyodorkannya.

“Terima kasih.” Ucapnya setelah menghabiskan segelas air dalam sekejap.

Pak Tua mengeluarkan radionya dari dalam tas yang ia cangklong. Aku diam sejenak, menyimpan beribu-ribu tanya dan lebih memilih memperhatikannya. Suara radio itu masih sama seperti yang aku dengar. Suaranya berisik bagaikan puluhan kantong plastik yang tertiup angin.

“Sudah hampir dua tahun, radio ini tidak pernah bisa hidup.” Pak Tua mulai berbicara setelah ia mengotak-atik radionya.

Saat aku hendak menyahut perkataannya. Ia malah lebih dulu berbicara lagi, “Kau punya keluarga?”

“ Ya aku punya. Tetapi di rumah” Jawabku sambil memainkan bolpoin karena bosan memperhatikan gerak-geriknya yang nyaris sejak tadi hampir sama. Tidak ada perbedaan, sehingga aku bisa meyakinkan diriku sendiri—radio itu tidak akan pernah bisa menyala karena dia tidak bisa memperbaiki—ia hanya bisa memutar berkali-kali radio itu, selebihnya nihil.

“Beruntung sekali. Jagalah baik-baik keluargamu.” Pak Tua menanggapi tanpa menatapku. Ia masih sibuk mencoba memperbaiki radio.

Aku memperhatikan gerakan membosankan dari jemari-jemarinya. Bahkan sampai membuatku mengumpat di dalam hati. Sampai kiamat pun radio itu tidak bisa jika hanya diputar-putar tak jelas. Umpatku yang beraneka ragam mulai muncul.

Nyaris hampir tiga puluh menit, ia seperti itu. Namun tiba-tiba saja dia berhenti dan meletakkan radio di etalase. Mungkin aku rasa dia juga sudah bosan. Pak Tua diam mengatur nafas. Ia berancang-ancang hendak mengeluarkan kata-kata kembali.

“Keluargaku meninggalkanku!” Pak Tua itu tiba-tiba saja meneriakkan kata itu. Seketika membuatku terkejut. Namun aku tidak langsung menanggapinya—jelas aku yakin dia hanya ingin didengarkan bukan meminta solusi.

“Akan tetapi, mereka meninggalkanku memang karena kesalahanku.” Pak Tua melembut. Matanya mengembun. Masa lalu yang sulit dilupakan membuatnya didera kesedihan.

“Andaikan saja dulu aku mau berhenti berjudi dan bekerja seperti orang pada umumnya—mungkin istriku tidak pergi membawa kedua anakku yang masih bayi waktu itu. Ah betapa bahagianya aku di samping kedua anakku, memperdengarkan mereka lagu anak-anak.” Pak Tua menceracau—membayangkan impiannya yang tak pernah terwujud.

Pak Tua berhenti berbicara. Lagi-lagi ia sibuk mengotak-atik radionya. Bukan mengotak-atik, lebih tepatnya memutar-mutar radio itu—seperti yang aku katakan tadi. Begitu juga aku yang kembali terjebak dalam kebosanan.

“Kau tahu—masih ada siaran radio yang memutar lagu anak-anak.”  Pak Tua mencoba memberitahuku setelah sibuk mengotak-atik radionya.

“Oh iya. Bagus itu.” Aku menanggapi sekadarnya saja.

“Bagaimana kalau radio itu aku bawa ke tukang servis radio?” tawarku pada Pak Tua karena sungguh aku sudah benar-benar bosan melihatnya.

Awalnya dia diam. Lalu menyetujuinya. Dengan sedikit semringah—ia pergi meninggalkan konterku. Kepergiannya membuatku lega. Aku sudah tidak terjebak dengan kebosanan dan kekesalan karena melihat tingkahnya.

***

Esok malamnya. Ia datang. Aku menyerahkan radionya. Bahagia mengudara, wajahnya bersinar-sinar. Berulang kali ia mengucapkan berterima kasih padaku sambil menjabat tangan. Dengan tergesa-gesa ia menyalakan radionya. Mencari gelombang radio yang memutarkan lagu anak-anak.

“Aku harus mengganti berapa?” tanya Pak Tua.

“Tidak perlu.” Kataku yang membuatnya bertambah bahagia.

Namun beberapa menit kemudian. Radio itu rusak lagi. Ia mengotak-atik lagi radionya. Aku merasa bersalah dan mengatakan kalau aku benar-benar membawa radio itu ke tukang servis.

“Tidak apa-apa ini memang radionya sudah lama.” Pak Tua tersenyum. Namun wajahnya berubah menjadi murung lagi. Aku merasa bersalah—saat hendak mau menawarkan lagi, Pak Tua sudah keburu pamit. Aku meminta maaf berkali-kali. Ia mengangguk dan tersenyum.

***

Seharian aku masih diselimuti rasa bersalah. Hingga malam tiba, aku duduk di depan konter menunggu kedatangannya. Ia tidak datang-datang. Jalan lengang. Mendung merayap menutupi cahaya rembulan. Suara serangga kian terdengar.

Tak berselang lama, dari kejauhan aku melihat kedatangannya. Aku berdiri, hendak menyambutnya. Namun Pak Tua dulu yang menyapaku dengan wajah lebih cerah. Aku persilakan duduk.

“Radioku sudah menyala. Jadi aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku ingin mendengarkan lagu anak-anak di rumah.” Kedatangannya kemari hanya bermaksud mengabarkan radionya yang bisa menyala.

“Baiklah. Selamat menikmati.” Ucapku sembari melambaikan tangan ketika Pak Tua melangkah pergi meninggalkan konter ini. Aku turut senang mendengar kabar itu, rasa bersalah yang seharian menyelimuti, memudar.

Namun saat hendak masuk ke konter, aku melihat ada foto yang jatuh ke lantai. Foto itu berisikan Pak Tua, istrinya dan kedua anaknya yang masih bayi. Aku memutar balik setelah mengambil foto itu dan ingin mengembalikannya. Namun Pak Tua sudah tidak terlihat. Ah mungkin besok dia akan datang lagi. Batinku seraya membawa foto itu ke konter.

***

Aku pulang membawa foto itu dan meletakannya di meja depan televisi. Paginya saat aku berjalan di depan meja—mataku tidak menemukan foto itu. Aku mencari-carinya tetapi juga tidak menemukannya. Saat aku hendak ke belakang berniat bertanya pada ibu, dari ambang pintu aku melihat ibu membakar foto itu. (*)

 

Solo, November 2019