Cerpen Ayu Sundari Lestari (Analisa, 18 Desember 2019)

Sebingkai Kisah Toba ilustrasi Alwie - Analisa (1).jpg
Sebingkai Kisah Toba ilustrasi Alwie/Analisa

Mungkinkah ia juga dapat bertemu dengan belahan jiwanya? Seperti sang ayah yang bertemu dengan ibunya. Lalu menikah dan membawa wanita itu ke negara ia tumbuh dewasa. Namun sudut bibir itu berubah melengkung, mengingat niat sebenarnya kenapa ia harus datang kemari, danau terbesar di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara. Iya, Danau Toba sebuah tempat yang membuatnya penasaran sejak kecil.

Tetapi kini, bagi pria itu Danau Toba adalah danau dengan sejuta pesona yang mampu menyihir dirinya untuk berlama-lama tinggal di sini lebih lama, mengingat pria tersebut sudah terbiasa hidup di kota besar penuh dengan kemewahan. Ia ingin mencari tahu kenapa ibunya sangat menyukai Danau Toba dan menguak kembali bagaimana kisah cinta orang tuanya, sampai sang ayah mampu meyakinkan ibunya untuk ikut ke Seoul, ibu kota Negara Korea Selatan negara kelahiran ayah sekaligus dirinya.

Bunyi ketukan pintu membuyarkan pikirannya seketika. Pria itu menuju ke arah pintu dan membukanya. Terlihat seorang pelayan hotel berdiri membawa troli makanan. “Good morning, sir! Sorry, this is your breakfast.”

Pria tersebut tersenyum menggeser tubuhnya agar pelayan itu bisa masuk membawa troli makanan. Pelayan itu pun masuk dan meletakan menu sarapan di atas meja bundar yang berada tepat di pinggir jendela kamar hotel tempat pria itu tadi berdiri.

“Saya mau bertanya, apakah Simarjarunjung jauh dari sini? Naik kendaraan apa kalau mau ke sana?” tanya pria itu santai sambil menyeruput secangkir kopinya.

“You can speak Indonesia?” tanya pelayan itu terkejut. Karena pria asing bermata sipit yang ada di depannya ini menggunakan Bahasa Indonesia dengan sangat fasih.

“Tentu saja saya bisa berbahasa Indonesia meskipun belum pernah datang ke sini. Ibu saya asli orang Indonesia,” ujar pria itu memberitahu dengan nada sedikit bangga kalau dirinya ternyata memiliki separuh darah Indonesia.

Sejak kecil ibunya memang telah mengajari dirinya berbahasa Indonesia. Bahkan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang pertama kali ia dengar. Kalau saat di rumah kedua orang tuanya lebih sering menggunakan bahasa negara asal ibunya untuk berkomunikasi. Karena menurut sang ayah, Bahasa Korea akan lebih banyak digunakan di luar rumah. Ia tahu, ayahnya melakukan hal itu agar rasa rindu ibunya terhadap kampung halaman sedikit terobati.

“Jadi, Anda keturunan Tiongkok Indonesia.” Wajah pelayan itu berbinar seperti tebakannya pasti benar.

“Bukan, saya keturunan Korea Indonesia.” Sanggah pria itu.

“Maaf.” Pelayan itu mencicit, merasa tidak enak hati karena dugaannya meleset.

“Tidak apa-apa. Bukankah Tiongkok dan Korea sedikit mirip? Jadi wajar kalau kamu mengira saya ini keturunan campuran Tiongkok Indonesia.”

“Simarjarunjung lumayan dekat dari sini. Kalau Anda mau menggunakan fasilitas guide tour yang disedikan hotel ini akan lebih memudahkan Anda untuk menjelajah objek wisata lainnya yang ada di sekitar Danau Toba,” tutur pelayan wanita itu.

“Terima kasih buat informasinya. Saya lebih suka menjelajah sendiri daripada harus ditemani guide tour.”

“Kalau begitu bila Anda membutuhkan hal yang lain. Anda bisa menghubungi pihak hotel. Baiklah, saya permisi dulu. Selamat menikmati sarapan Anda.”

***

Hyunwo mengenakan kaus, celena pendek, topi, tas ransel yang bersandar di belakang punggungnya serta kamera kecil terkalung di lehernya. Hyunwo merasa nyaman dengan pakaiannya ia tidak perlu menggunakan baju tebal lagi karena saat ini di negaranya sedang musim dingin. Iya, Hyunwo membenci musim dingin. Seperti yang Hyunwo katakan kepada pelayan hotel tadi pagi kalau ia akan berjalan sendiri tanpa guide tour yang disediakan hotel tempat ia menginap. Hyunwo berjalan kaki menuju Simarjarunjung dengan tuntunan suara GPS dari ponselnya.

Sesekali Hyunwo akan memotret objek yang terlihat menarik di matanya. Seorang ibu yang menjunjung sayuran di atas kepalanya sambil menggandeng anaknya atau deretan bukit hijau yang mengelilingi Danau Toba. Terkadang beberapa warga setempat menyapanya dengan senyuman atau menanyakan ia mau pergi ke mana. Benar apa yang dikatakan ibunya dulu, kalau orang Indonesia itu terkenal ramah. Mungkin itu juga salah satu hal mengapa ayahnya bisa jatuh cinta pada ibunya.

Hyunwo telah tiba di Simarjarunjung yang menyajikan hamparan Danau Toba yang tenang dengan belaian angin yang lembut. Hyunwo memejamkan mata dan merentangkan tangannya lalu mendekap seakan-akan ia sedang memeluk Danau Toba. Perlahan ia mendengar suara keras anak-anak melantangkan Isi Sumpah Pemuda.

Hyunwo mengetahui hal itu. Bukan saja mengenai Isi Sumpah Pemuda, ia juga tahu tentang Pancasila, Teks Proklamasi, Bhineka Tunggal Ika dan UUD 1945. Meskipun tidak ada yang mengajarkannya, tapi ia mencari tahu hal itu sendiri karena rasa penasaran terhadap negara kelahiran ibunya. Bagaimana pun juga ia termasuk putra dari negara nusantara ini.

Sungguh pemandangan yang menakjubkan melihat anak-anak yang begitu semangat belajar mengikuti titah sang guru. Suasana riuh lantas menjadi hening. Anak-anak larut dengan imajinasinya masing-masing. Tidak ingin kehilangan momentum itu, Hyunwo pun mengabadikannya dalam lensa kameranya.

Suasana yang menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi sendu. Hyunwo heran apa yang terjadi. Mengapa mereka kelihatan sedih? Apakah ini semacam sekolah alam atau taman baca? Kenapa anak-anak dan wanita itu sama sekali tidak mengenakan pakaian resmi layaknya mengajar formal di sekolah? Pertanyaan demi pertanyaan terus mencuat dalam kepala Hyunwo. Iya, dia masih betah berada di posisinya. Hari ini Hyunwo sungguh berubah menjadi seorang stalker.

“Ayo hita mulak tu jabu!” ajak wanita itu dengan bahasa yang tidak dimengerti Hyunwo.

Anak-anak langsung bersorak mendengar ajakkan sang guru. Semuanya bergegas memasukan alat tulis masing-masing ke dalam tas bersiap mau pergi. Hyunwo yang melihat itu, segera mendekati wanita itu kemudian menyapanya dengan cara yang paling aneh sedunia. Hyunwo mendadak terserang gugup.

“Ha—hai, namaku Hyunwo,” ucap Hyunwo terbata sembari menggaruk kepalanya padahal ia tidak merasa gatal. Wanita itu menatapnya dengan tatapan biasa saja. Tapi bisa membuat Hyunwo salah tingkah. “Aku baru pertama kali datang ke sini. Aku mau bertanya kalau mau ke Tomok naik apa?” Sungguh pergi ke Tomok sama sekali tidak termasuk rencananya hari ini. Tapi karena ia ingin berbicara dengan wanita yang ada di depannya, ia terpaksa menanyakan hal itu?

“Kebetulan aku juga mau ke sana. Ya sudah kita sama-sama aja pergi ke sana.” Wanita itu tidak memberikan jawaban justru malah mengajaknya.

Betapa senangnya Hyunwo. Mungkin Tuhan sedang berbaik hati kepadanya hingga membuat ia bisa pergi bersama dengan wanita ini. “Terima kasih banyak kalau kamu mau menemaniku ke sana. Oya, aku harus memanggilmu apa?”

“Panggil saja saya Quen.”

***

Tomok adalah surga bagi para shopaholic berbelanja buah tangan khas tanah Batak. Banyak kios kecil yang berjejer di pinggir jalan menjajakan dagangannya. Mulai dari kain ulos, kaus berlogo I Love Lake Toba, baju daster yang berlogo sama, gantungan kunci miniatur Rumah Balai Adat Batak, pulpen kayu bertuliskan Lake Toba, gelang kayu, serta mainan unik yang sebelumnya tidak pernah dilihat Hyunwo.

Di Tomok juga ada pertunjukkan patung kayu menari atau disebut Sigale-gale. Hyunwo masih terpaku dan penasaran tehadap barang-barang aneh tersebut tapi menarik perhatiannya. Quen tersenyum melihat antusia Hyunwo seperti anak kecil yang diajak bertamasya oleh orang tuanya.

***

Mungkin besok adalah waktu yang tepat untuk menjalankan niat sebenarnya Hyunwo datang ke tanah kelahiran ibunya. Iya, melaksanakan amanat sang ibu. Hyunwo pun mengemasi semua barangnya karena ia hanya mendapatkan izin libur kerja beberapa hari saja. Sebenarnya ia tidak membawa barang terlalu banyak hanya sebatas koper kecil. Namun, sekarang koper kecil itu tidak bisa menampung barang yang baru dibelinya untuk oleh-oleh. Jadi, bawaan Hyunwo bertambah dengan beberapa bungkusan besar yang harus ditentengnya.

Hyunwo pun berbaring di atas kasurnya tapi sayangnya ia belum bisa terlelap pulas. Setiap kali ia memejamkan matanya bayangan Quen muncul di kepalanya. Akh, mengingat tadi pagi apa yang dikatakan Hyunwo kepada pelayan hotel kalau ia tidak mau menggunakan guide tour dari hotel, berbanding terbalik dengan kenyataannya. Faktanya ia telah menghabiskan waktu setengah hari bersama wanita itu mengelilingi Tomok.

Hyunwo kembali bangkit mengambil kameranya. Ia ingin memindahkan hasil potretnya ke dalam laptop. Ia tersenyum melihat foto Quen yang sedang bercengkrama dengan anak-anak, sedang menulis, tertawa, atau sedang menyibak rambut panjangnya yang tertiup oleh angin.

***

Menggunakan perahu kecil Hyunwo dan Quen berlayar di perairan Danau Toba. Lalu perahu itu berhenti di tengah danau. Hyunwo pun mengeluarkan guci abu ibunya. Sebelum meninggal ibunya meminta Hyunwo untuk menghanyutkan separuh abunya di Danau Toba. Sekaranglah waktunya ia menunaikan amanat sang ibu. Hyunwo memejamkan kedua matanya merasakan hembusan angin membelainya lembut. Perlahan Hyunwo menaburkan abu ibunya di atas permukaan Danau Toba.

“Ibu selamat datang di Toba. Ibu senang?” Hyunwo seakan-akan sedang bicara dengan ibunya. Quen yang ikut merasakan kesedihan Hyunwo, membawa Hyunwo ke dalam pelukannya.

“Terima kasih Quen telah menemaniku.” Bisik Hyunwo.

***

Hari itu juga Hyunwo memutuskan kembali ke Korea. Ia berangkat bersama Quen yang akan pulang ke Medan untuk mengurus administrasi kuliahnya. Di dalam perjalanan keduanya membisu, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Quen yang mendengar musik lewat earphone-nya. Hyunwo yang sibuk dengan bacaan bukunya. Tidak terasa waktu berpisah sudah mendekat. Mereka telah tiba di bandara Kualanamu.

“Quen, maukah kamu ikut denganku ke Korea?” Quen terkejut mendengar pertanyaan itu dan tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. “Ayahku minta dibawakan oleh-oleh wanita cantik untuk dijadikan menantunya.” Jelas Hyunwo melihat Quen yang masih terdiam.

Quen yang sudah bisa mengatasi rasa keterkejutannya, mulai mengatur ritme napasnya. Meskipun terasa berat sepertinya ia harus memberitahukan sesuatu kepada Hyun­wo.

Tentang sesuatu yang tadinya ingin ia rahasiakan dari Hyun­wo, rahasia yang sudah terpendam sejak bertahun-tahun. “Hyunwo kamu mau kuberitahu satu rahasia?”

Hyunwo yang sudah terlanjur gugup hanya pasrah menganggukkan kepalanya. “Sebenarnya ak-aku ini kakakmu. Ibu meninggalkanku di sini lalu ikut dengan ayahmu ke Korea. Ayahmu menyuruhku menjumpaimu di Danau Toba untuk menaburkan abunya ibu.”

 

Namorambe, 18828