Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 18 Desember 2019)

 

Tiap orang akan bicara dan bersikap sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. Mereka berdaulat atas itu.

***

Sebelas Desember 2019 komunitas menulis di Solo—Pawon—menggelar Bincang Sastra dengan subjudul “Cerita, Puisi, dan Perjalanan”. Acara yang menempatkan saya sebagai pembicaranya itu berlangsung bakda isya di Rumah Banjarsari, kafe dengan area terbuka di bagian tengahnya. Selama acara berlangsung, pemandu acara dengan sangat runtut mengajukan pertanyaan. Semua pertanyaan terkait proses kreatif yang bersinggungan dengan tema acara. Pertanyaan tentang bagaimana pertemuan saya dengan dunia menulis, bagaimana tulisan pertama saya menembus media, mengapa akhirnya saya juga memilih puisi, dan tentu saja sejumlah pengalaman residensi saya di luar negeri tak luput dari orekan gadis manis yang diberi tanggungjawab untuk mengawal sesi sharing malam itu.

Sejujurnya, pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sesuatu yang “membosankan”. Tapi, saya sadar betul kalau acara yang satu dengan acara yang lain tidak serta-merta membagi transkrip percakapan saya dan moderator atau jawaban-jawaban atas pertanyaan sejenis, sehingga percakpan malam itu sebaiknya tak terjadi, tak terulang. Ah, lagipula buat apa? Kayak gak ada kerjaan saja. Tiap acara punya agenda, urusan, dan tanggungjawabnya sendiri.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Desember 2019)

Walhasil, semua pertanyaan di atas saya jawab dengan lancar—sebab sudah berulang kali saya menjawabnya—dan diliputi antusiasme, seakan-akan baru kali pertama saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan itu. Hal ini penting, karena bagaimanapun, saya memang semestinya mengapresiasi perhatian mereka pada kerja kepengarangan saya sekaligus mengapresiasi kebutuhan dan kepentingan mereka terhadap kehadiran saya dalam majelis itu. Tanpa apresiator, saya akan terus onani; nulis dan asyik-mashuk dengan tak henti memuja-muji tulisan saya sebagai karya yang bagus. Ah, alangkah mengenaskannya.

Tapi, urusannya sebenarnya tidak “sereceh” itu. Sebagai seseorang yang gemar bicara, suka menghabiskan waktu dengan ngobrol, dan pencerita yang ulung bagi ketiga anak saya sehingga tugas meninabobokan mereka-dengan-bercerita sebelum tidur menjadi urusan saya—bukan ibunya, berbagi di hadapan banyak orang menerbitkan kegembiraan tersendiri bagi saya. Apalagi berstatus pembicara, bercerita dalam posisi sebagai “centre of atrraction” menerbitkan sensasi kesenangan dan kebanggaan tersendiri. Gimana nggak, wong semua mata tertuju padamu! Maka, menjadi pusat perhatian sebenarnya paradoks, kamu mendapatkan kebanggaan pada saat kamu juga harus melayani kebutuhan dan kepentingan lingkungan atas eksistensimu. Masalah? Tentu saja tidak, apalagi ia dijabani tanpa harus menyadari hal-hal prinsipil itu.

Apa yang kita cari ketika menyaksi-dengarkan seseorang yang kita sukai atau sekadar pernah-nikmati karyanya bicara di depan? Apa? Mungkin sebagian menjawab “proses kreatif, tips menghadapi worker’s block, atau perasaannya ketika mendapatkan penghargaan ini-itu” tanpa sadar bahwa hal-hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa disalin-terapkan dalam keberkaryaan mereka. Kenyamananan saya menulis di ponsel, kiat saya yang memastikan diri dalam keadaan gembira untuk menghadapi writer’s block, dan perasaan biasa-biasa saja ketika menang Pengharagaan Penulis Fiksi Terbaik Kemenparekraf 2012 sebab saya tak bisa hadir untuk mengangkat piala, adalah sesuatu yang khas dan nyaris tak memberi ruang bagi siapa pun untuk meniru-rasakannya bulat-bulat dan sama persis. Tapi, kenapa masih saja “kita” merasa perlu menanyakannya dan antusias sekali ketika mendengarkan jawaban?

Jawabannya adalah “energi”.

Bincang Sastra Komunitas Menulis Pawon
Bincang Sastra Komunitas Menulis Pawon, Solo (11/12/2019): “Cerita, Puisi, dan Perjalanan” 

Yang audiens serap dari kehadiran seorang yang berada di atas panggung bukanlah tutorial proses kreatif nonterapan, tapi bagaimana seseorang menguar aura positif keberkaryaan di hadapan banyak orang. Saya menyadarinya sejak lima tahun lalu sehingga saban berbicara di acara serupa, pantang bagi saya untuk memaki-maki moderator atas pertanyaan klisenya atau terang-terangan menolak menjawab pertanyaan audiens karena semuanya sudah tersedia di Google. Saya pantang melakukannya, sebab bukan semata karena kehadiran mereka di sana adalah bentuk apresiasi terhadap saya, tapi mereka juga sedang mencari sesuatu yang tak mereka temui dalam proses keberkaryaan selama ini; energi kreatif, energi positif, letupan potensial, atau kesadaran tentang betapa istimewanya mereka. Itu!

Tapi urusannya tak sesederhana itu. Tak jarang, mereka sendiri tak tahu apa yang mereka cari. Pun ketika pulang ke rumah, mereka lebih bergembira dalam berkarya pun mereka tak menganggapnya sebagai buah dari pancaran energi kreatif yang diuar oleh orang yang baru saja disimak ceritanya di atas panggung tadi. Ini masalah? Tentu saja tidak. Yang tak kalah keren adalah ketika kita bisa melakukan banyak hal lebih tanpa harus tahu dan repot-repot cari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.

Tapi, apa iya, semua pembicara memelihara dan membagikan energi kreatif itu kepada audiensnya? Tentu saja tidak semuanya. Ketika pembicara memosisikan dirinya sebagai orang serbatahu dan meremehkan keingintahuan audiens, ia bukan saja melupakan peran orang lain dalam lingkaran keberkaryaannya, tapi juga baru saja mengabaikan status dirinya sebagai makhluk sosial. Menyedihkan memang ketika mendapati pembicara yang kesulitan membedakan tempatnya berada—di panggung atau di depan laptop!

Tapi bagaimana kalau urusannya bukan antara audiens dan pembicara, melainkan antar-audiens? Itulah mengapa tulisan ini hadir di Catatan Rabu di lakonhidup.com.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Di pengujung acara Bincang Sastra itu, seseorang yang mendaku seniman sekonyong-konyong menunjukkan kemuakannya pada jalannya acara di Rumah Banjarsari malam itu. Apa pasal? Menurutnya, acara berjalan layaknya “meet & greet” antara Benny Arnas dan penggemarnya, dan itu sungguh tak memberinya apa-apa. Saya terenyak: pertama, saya baru ngeh kalau itu adalah “meet & greet” (Aduh! Mengapa saya gak memakai kemeja yang baru saja beli di Bangkok kemarin?!); kedua, saya tiba-tiba sadar dan tahu kalau ada orang yang datang ke Bincang Sastra dengan gelas penuh di kepalanya. Bagaimana tidak, ia mengawali “orasinya” dengan mengatakan bahwa ia tak mengenal saya, tak membaca karya saya, dan menganggap semua pertanyaan moderator dan perbincangan dalam acara itu sebagai sesuatu yang dangkal. Dia, dengan gaya bicara yang berapi-api, seperti sedang menyalakan petasan di tengah kerumunan yang tidak sedang merayakan tahun baru. Lalu ia pun mengeluarkan pernyataan “heroik” yang mungkin baginya sangat diperlukan majelis itu, padahal ia tengah melempar bumerang: “Bagaimana mungkin tidak ada yang menanyakan kepada Benny tentang pembajakan buku, karya Pram, atau isu kebangsaan, bla bla bla ….” lalu menutup percakapannya dengan paradoks bahwa ia tak bermaksud merendahkan saya.

Saya pikir, ada sebuah nalar yang harus dipelihara dan terus diasah ketika kita keluar dari status pengkarya yang soliter, yaitu menghormati bahwa tiap orang akan bicara dan bersikap sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya. Mereka berdaulat atas itu. Sangat berdaulat.

Jadi, ketika yang dibutuhkan seseorang adalah energi kreatif dengan pertanyaan dan jawaban terkait hal-hal yang disebut “permukaan” oleh orang lain sebagai jembatannya, orang itu berdaulat dengan urusannya. Mereka hanya ingin mendengar suara yang mereka butuhkan. Ketika Anda punya kepentingan untuk mendengarkan suara terkait pembajakan buku, karya-karya Pram, isu kebangsaan, atau hal-hal yang Anda klaim “tidak permukaan” lainnya, kenapa tidak Anda sendiri yang menanyakannya? Toh, Anda berdaulat akan itu. Justru, tindakan Anda memaksakan isi kepala Anda sama dengan isi kepala audiens lain, memaksakan definisi “permukaan” dan “penting” menurut Anda dengan apa yang ada di dalam kepala orang lain, adalah tindakan yang justru membuat Anda terlihat aneh, lucu, dan … menggemaskan. Ketika Anda tak menemukan pertanyaan yang Anda cari di sebuah forum, mengeluh apalagi marah seharusnya bukan pilihan sebab Andalah yang seharusnya mengutarakan pertanyaan-pertanyaan itu!

Tiba-tiba saya ingat kredo saya menulis sastra berlatar Lubuklinggau pada mulanya: ketika saya tak menemukan buku yang saya cari, pantang bagi saya mengeluh dan meminta orang lain menuliskannya sebab sayalah yang akan menulis buku itu!

 

Lubuklinggau, 18 Desember 2019