Cerpen Muhammad Qadhafi (Rakyat Sultra, 16 Desember 2019)

Kota Mati ilustrasi Istimewa.jpg
Kota Mati ilustrasi Istimewa 

[Cerita tanpa Kaidah]

Berjalan aku dan Jani dalam kepung puing-puing. Tak satu pun bangunan utuh. Retak dan runtuh dinding-dinding. Gentingnya telah rubuh seluruh, menjadi lantai, menjadi jalan yang setiap kami pijak bergemeretak selalu, berdebu, memerahkan sepatu kami.

“Ini Kota Mati,” terang Jani dengan muka ceria, “tak ada hidup yang sisa di sini.”

Aku meragukan perkataannya. Sejenak aku mematung—menahan langkah dan napas. Beginilah caraku menajamkan indera pendengaran dan penglihatan. Jani lantas meniruku. Lewat beberapa saat, selain detak jantung, betul-betul hanya kesunyian yang bisa kudengar di sini. Kecoa, semut, maupun cacing tanah yang kuharap bisa menunjukkan tanda kehidupan di sini pun rupanya juga tak ada. Kutatap langit yang menggantung tepat di atas kepalaku: persis kain biru tanpa motif, tanpa awan, tanpa noda. Kuangkat kedua tanganku ke atas, kupejamkan mata, kutengadahkan wajah ke langit. Kunanti-nanti, namun angin tak kunjung datang membasuh tangan dan wajahku. Bahkan angin pun enggan hidup di sini? Saat itulah aku baru memercayai perkataan Jani.

Aku membuka mata. Jani di hadapanku, berdiri memandangiku tanpa kedip. Masih dengan raut riang, ia kemudian menyambar tanganku sambil berkata, “Ayo jalan lagi.”

Sepanjang perjalanan, selalu kami menghadapi sambutan tembok. Setiap melewati satu tembok, kami bertemu tembok yang lain. Begitu terus. Seperti berjalan di dalam labirin.

Jani tampaknya senang-senang saja. Ia lewati rintangan reruntuhan dengan senyum dan cengkeraman pada pergelangan tanganku. Kadang ia terbatuk karena gerakan langkah kami yang menerbangkan debu-debu dari pecahan bata dan genting. Tapi ia tetap ceria.

“Ayo mendaki,” kata Jani saat kami berhadapan dengan reruntuhan bata dan kayu yang menggunduk, yang tingginya sekitar dua meter.

Saat hampir mencapai puncak gundukan itu, kami melorot. Longsor. Cengkeraman Jani makin kuat. Dan kurasakan kuku tangannya menusuk, menembus kulit sekitar pergelangan tanganku. Kami roboh selayaknya puing-puing yang telah menjadi lantai di sini.

Aku membantu Jani bangkit berdiri. Kuku jari telunjuk kanannya patah. Dan rupanya patahan kuku itu menyusup dan tertinggal dalam kulit pergelangan tanganku yang kini mengucurkan darah.

“Sepertinya nadiku hampir putus,” kataku sambil mencabut patahan kuku yang menembus kulitku.

Tapi Jani malah tertawa riang.

Sambil menekan pergelangan tangan yang berdarah, aku bertanya, “Sebenarnya kita mau ke mana?”

“Keluar dari Kota Mati.”

“Tapi kita harus lewat mana? Pandangan kita selalu dibatasi dinding!”

Jani menatap ke langit dan bilang, “Ikuti saja ke mana matahari bergerak, pasti akan sampai.”

Aku menengadah ke atas. “Tapi tak ada matahari di atas kepala kita.”

“Tentu saja di atas tak ada matahari,” Jani tertawa lagi. Lalu melanjutkan, “Aku sudah menelannya.”

Aku menebak, “Maksudmu, aku ikuti saja ke mana kamu bergerak?”

Jani mengangguk kegirangan. Lalu ia mengajakku kembali melangkah, hendak mendaki gundukan reruntuhan bata dan kayu tadi.

“Tunggu,” kataku menahan langkahnya, “Aku punya cara lain.”

Aku minta Jani mundur. Lantas bata-bata dan kayu yang menggunduk itu kudorong kuat-kuat dengan kaki, kutendangi, hingga longsor, hingga rata, hingga menjadi lantai.

Jani bertepuk tangan. Lalu ia menarik lenganku, menuntunku melanjutkan perjalanan. Kami berjalan lagi. Lama-lama aku merasa pergelangan tanganku makin perih. Debu-debu tampaknya telah membuat lukaku memburuk. Aku harus membersihkan lukaku, mengikatnya dengan kain atau sesuatu supaya darah berhenti mengucur.

Jani berhenti melangkah, seolah memahami apa yang sedang kupikirkan. Tanpa berkata, ia menunjuk ke lubang yang berada sekitar lima meter di samping kanan kami.

“Itu ceruk!” Teriakku kegirangan. Aku gegas berlari mendatangi ceruk itu. Jani mengikutiku.

Sepertinya, dulunya ini adalah kolam. Aku melompat ke dalam ceruk, kuperiksa baik-baik, berharap ada sumber air yang bisa kurunut dari sini. Kutemukan sebuah lubang pipa di salah satu sisi ceruk. Kupasangkan mataku ke lubang pipa, gelap saja. Lalu kucoba memasukkan lengan ke pipa, tapi pipa itu justru lebur, jadi abu. Aku memanjat, keluar dari ceruk. “Tunggu di sini,” kataku pada Jani.

Aku mengira-ira, menelusuri ke mana arah pipa itu berhulu, siapa tahu bisa kutemukan sumur atau semacamnya. Dan benar, tak jauh dari ceruk, kutemukan sebuah sumur yang sebagian telah tertimbun reruntuhan. Untungnya sumur itu ada penutupnya, sehingga kupikir puing-puing tak akan masuk menyumbatnya. Kusingkirkan puing-puing di atas penutup sumur, kugeser penutup sumur sekuat tenaga. Dan tak ada yang bisa kulihat ke dalam sumur itu selain kegelapan. Kuambil seonggok batu, kujatuhkan ke dalam sumur, lalu kupasangkan telingaku ke lubang sumur. Kunanti bunyi apa yang akan segera kudengar.

Beg”, sebagaimana bunyi benda jatuh ke tanah. “Sial, kering!”

Aku berjalan lemas, kembali pada Jani yang berdiri di tepi ceruk.

“Tolol sekali aku ini,” kataku pada Jani, “Kalau masih ada air di sini, tentu kota ini nggak bakalan mati. Setidaknya tumbuhan dan binatang bisa hidup di sini.”

Aku merasa makin lemas, darah tak kunjung berhenti mengucur, meskipun beberapa telah mengering di kulit dan pakaianku. Aku mulai pening.

Jani jongkok, mengusap sesuatu di permukaan tanah dekat kolam, lalu menyeru, “Ini petunjuk.”

Aku mendekat, menyaksikan beberapa jejak yang berbentuk tubuh ikan. Ketika kuraba, tanah yang berjejak itu rupanya sangat keras, seperti semen. Seolah ikan-ikan itu dahulu melompat ke semen-semen yang masih basah, meninggalkan jejak tubuhnya, menjadi seperti cetakan, hingga sampai sekarang jejak tubuh ikan itu tetap terjaga bentuknya. Melihat temuan itu, rasa lemas yang membebani tubuhku tadi lenyap seketika.

Kami lantas mengikuti jejak-jejak tubuh ikan yang acak-acakan itu. Beberapa jejak berjarak sangat pendek. Kebanyakan rangkaian jejak yang pendek itu tak bermuara, hilang tanpa ada bangkai atau fosil ikannya. Lalu Jani memutuskan untuk mengajakku menelusuri rangkaian jejak ikan yang jaraknya berjauhan, Jani anggap itu bisa menunjukkan lompatan yang jauh, menandakan semangat hidup ikan yang tangguh.

Dan ternyata ada benarnya juga aggapan Jani. Salah satu rangkaian jejak ikan itu membawa kami keluar dari tembok-tembok, reruntuhan, atau labirin Kota Mati. Kini di hadapan, kami bukan lagi menyaksikan tembok, tetapi jurang curam. Saat itulah kami kembali mendengar dan menghirup suara dan aroma kehidupan. Kami menyaksikan jurang itu dipenuhi warna hijau pohon-pohon pinus. Terdapat tangga batu untuk menuruni jurang.

Kami bergandengan turun ke dalam jurang, perlahan-lahan, hati-hati. Sampai di dalam jurang, aku lantas merasa ini bukan jurang. Ini terlalu luas untuk disebut jurang. Ini justru seperti hutan yang tertata rapi, dengan tatanan seperti terasing.

“Ini jurang, hutan, atau sawah?” tanyaku terheran-heran.

“Yang penting kita sudah temukan kehidupan.”

“Ya, dan aku butuh air buat membersihkan luka.”

Kulihat di bawah ada genangan air lumut. “Tunggu di sini,” kataku pada Jani.

Aku melompat ke batang sebuah pohon, mendekap pohon itu dengan melingkarkan kedua tangan dan kakiku. Lalu aku turun perlahan, seperti menuruni pohon kelapa, hingga hampir sampai pangkal pohon, aku melompat ke tanah, ke dekat genangan air lumut.

Di tepi genangan air itu kulihat ada seekor binatang menggelepar di sana. Kepalanya mirip ular sekaligus lele. Tapi tubuhnya berupa rangkaian batu atau kerikil yang tidak merekat sepenuhnya, seperti puzzle. Ia bergerak! Antara kepala dan tubuh binatang itu tidak menyatu, tetapi dalam gerakannya tampak bahwa kepala dan tubuh itu satu kesatuan.

Lalu seorang lelaki tua muncul, melompat juga dari pohon yang tadi kuturuni. Dia menghampiriku dan bilang, “Itu binatang yang berevolusi setelah ratusan tahun. Sebenarnya tubuh itu bukan seluruhnya batu. Itu tubuh lele yang meniru ekosistemnya, batu-batu yang ada di sini. Dia tidak bisa kembali ke air setelah ribuan tahun. Cara dia bertahan hidup adalah dengan bersatu dengan batu, lalu menirunya.”

Dia diam sejenak. Menatap darah dan luka di pergelangan tanganku. Lalu ia melanjutkan, “Biarkan saja lukamu, tak perlu dibasuh. Biarkan tubuhmu yang menyesuaikan ekosistem. Rayakanlah kehidupan!”

Pernyataan orang tua itu mengherankan. Tapi, yang lebih mengherankan lagi adalah tubuh lelaki tua itu. Jari-jarinya berkuku akar tunjang, wajahnya penuh lumut. Rambut dan brewoknya hijau, tampaknya berklorofil. Dia tak berbaju, hanya bercelana daun kering. Sedang di pundaknya kulihat tumbuh pohon cabai siap panen (sekitar sepuluh cabai telah berwarna merah). Kutatap ke atas, ke arah tempat Jani tadi berdiri. Jani tak ada di sana. Lalu kulihat lagi si lelaki tua, ia tersenyum, ceria. [*]

 

 Muhammad Qadhafi, lahir di Salatiga, 26 Desember 1989. Pecandu teh tubruk panas. Domisili di Sariharjo, Sleman, Yogyakarta. Karya yang telah terbit berupa kumpulan cerita Kastagila dan Enam belas Cerita Lainnya (2015), novel Melipat Agustus (2017), novel Lelaki dan Ilusi [novel] (2019), serta beberapa cerpen di koran, majalah, dan buku antologi. Ia dapat dihubungi melalui pos-el: dhafiqadhafi@gmail.com