Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 15 Desember 2019)

Penari di Perempatan Jalan Itu ilustrasi Suara Merdeka (1)
Penari di Perempatan Jalan Itu ilustrasi Suara Merdeka

Kutajamkan pandang mataku. Setajam-tajamnya. Seumur-umur, rasanya baru kali ini aku menyangsikan ketajaman kedua bola mataku dalam menangkap suatu objek. Apakah itu lantaran faktor usia? Boleh jadi. Maklum, sudah 50 tahun lebih keduanya kuajak pergi ke mana-mana, melihat banyak segala apa. Jadi, bila kini ketajaman dan kejeliannya agak berkurang tentu bisa dimaklumi. Alami semata.

Bermula dari traffic light di sebuah perempatan Kota S. Lampu merah menyala, kuhentikan mobil di garis batas marka terdepan. Dari kaca mobil yang barusan kubuka, kulihat dua orang seniman jalanan sedang menyajikan tari kuda lumping. Awalnya aku tidak begitu tertarik pada kehadiran mereka. Namun tatkala mataku tertumbuk pada wajah salah seorang di antaranya, aku kaget. Sepertinya aku sudah familiar dengan wajah itu. Rasa-rasanya aku sudah tidak asing dengan wajah itu. Namun siapa? Kucoba mengingat. Gagal. Bedak tebal dan riasan menor membuat wajah itu tak bisa kukenali sejelas-jelasnya.

Terdengar suara klakson panjang bersahutsahutan. Nyala lampu telah berubah hijau. Para pengemudi di belakangku mengekspresikan ketidaksabaran dengan membunyikan klakson sesuka hati. Dasar! Di kota-kota besar, kini sepertinya banyak orang sudah menanggalkan tata krama. Banyak orang tak lagi paham bagaimana cara mengimplemantasikan makna kata sabar dalam ruang kehidupan bersama.

Sejauh perjalanan ke gedung yang kutuju bahkan di sela waktu lomba berlangsung, aku masih mengingat-ingat siapa pemilik wajah salah satu penari kuda lumping di perempatan jalan tadi. Sia-sia. Wajah itu timbultenggelam di ruang kepalaku. Kadang sedikit jelas, kadang berkabut, kadang gelap, tak kukenali sama sekali. Andai saja waktu itu aku tidak sedang bertugas sebagai juri lomba sebuah cabang seni tingkat provinsi, ingin rasanya segera kembali ke perempatan jalan tadi.

Menjelang magrib lomba selesai. Sesudah nama-nama pemenang diumumkan dan segala urusan administrasi beres, segera kutinggalkan Kota S. Pulang ke Kota K, tempat tinggalku. Begitu keluar dari kota, kurasakan jalanan agak sepi. Pada kecepatan semenjana kujalankan mobil dengan santai. Kubuka kaca mobil selebar-lebarnya. Sembari mendengarkan lagu-lagu The Good Father of Broken Heart, Didi Kempot dari tiprekorder, kunikmati benar tiupan angin kemarau di sepanjang perjalanan yang mengibar-ngibarkan rambut gondrongku.

Empat puluh lima menit waktu tertempuh, beberapa kota kecamatan kulampaui dengan selamat. Kini, kumasuki kecamatan terakhir. Kecamatan KA yang wilayah geografisnya persis berbatasan dengan kotaku. Tiba-tiba ponselku berdering. Pada tangkapan layar kulihat foto Nduk, istriku.

“Sampai mana?”

“KA.”

“Ya wis. Dah kumasakkan opor dan sambal terasi.”

“Sip. Love U.”

“Halah!” Terdengar tawa berderai.

Sepuluh menit Nduk menutup pembicaraan, di hadapanku menyambut pintu gerbang Kota K. Gemerlap, berhias lelampu warna-warni. Pintu gerbang berbentuk daun tembakau terbuka dengan jari-jari berjumlah 59 ruas, ditopang empat tiang serupa bunga cengkih. Konon angka 5 merupakan simbolisasi rukun Islam dan angka 9 adalah jumlah wali di tanah Jawa. Adapun empat tiang bunga cengkih penopang adalah lambang dari empat pilar kebangsaan: Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Malam hari, ketika lelampu dinyalakan, pemandangan luar biasa indah mengundang decak kagum banyak pengemudi yang melintas di dekatnya.

Beberapa waktu setelah diresmikan, Pintu Gerbang Kota Kretek, begitu orang menamakan, pernah menjadi salah satu ikon kotaku. Sayang, daya tariknya memudar drastis begitu pemerintah provinsi membangun jembatan baru di sebelahnya. Posisi jembatan yang lebih tinggi dan memotong ruang antara pintu gerbang dan taman di sebelahnya membuat keindahan yang dipancarkan padam. Menyisakan gerutu, sumpah-serapah, bahkan seru sayang.

Sekian ratus meter lalu dari jembatan TA, kuhentikan mobil di kiri jalan. Kupandang bangunan pintu gerbang itu, redup, seperti wajah dara cantik yang kehilangan pesona. Gerangan ke manakah seri cahayanya? Gerangan siapa yang mesti bertanggung jawab untuk mengembalikan daya pikatnya? Kuhela napas sedalam-dalam. Rasa getun menyesak dadaku. Aku benar-benar kehilangan.

Lekat, lama kupandangi pintu gerbang kotaku itu. Mendadak melintas hadir lagi wajah salah seorang penari kuda lumping di perempatan jalan Kota S tadi. Kucoba dan kucoba kembali mengingat. Ketemu! Mas Bahrul Ikhwan! Aku terlonjak. Ya, dialah itu. Dialah penari itu! Mas Bahrul, mantan petinggi desaku. Di area Pintu Gerbang Kota Kretek, bertahun-tahun lalu aku dan Mas Bahrul bertemu. Saat itu ia masih lajang.

“Tolong fotokan, Mas,” pintaku. Kuserahkan ponsel kepada lelaki muda yang duduk-duduk santai di sebelahku. Malam itu, aku, Nduk, beserta ketiga cucuku—Satria Banyu Biru, Prameswari Banyu Bening, dan Nimas Banyu Embun—melangsungkan pesta kecil sambil bertamasya di situ.

“Nggih, Pak.”

Setelah beberapa kali mengambil gambar kami, dengan sopan lelaki muda itu mengembalikan ponselku.

“Terima kasih,” ucapku. Lelaki muda itu mengangguk takzim. Sesaat kemudian kami terlibat percakapan intim. Saling memperkenalkan nama, menyebutkan pekerjaan, pun alamat rumah.

“Lo, ternyata kita satu desa,” ujarku, begitu Mas Bahrul menyebut nama sebuah desa.

“Bapak juga tinggal di M?” tanyanya.

“Iya, RT sekian RW sekian.”

“Kita tetangga, Pak. Hanya beda RTdan RW. Saya RT sekian RW sekian.”

Selanjutnya kami makin tenggelam dalam obrolan panjang tentang segala hal. Pendidikan, politik, olahraga, sosial, bahkan kesenian. Di mataku, Mas Bahrul termasuk golongan anak muda yang melek pengetahuan. Diajak bicara masalah pendidikan oke, masalah politik jalan, masalah kesenian nyambung. Aku sangat terkesan kepadanya. Itulah sebabnya ketika ia maju sebagai calon kepala desa dan minta dukungan, tanpa menimbang-nimbang aku menyanggupi. Mas Bahrul terpilih sebagai kepala desa, bahkan menjabat dua periode.

***

Di meja makan, sambil menikmatri opor ayam dan sambal terasi, kuceritakan apa yang kulihat di perempatan jalan Kota S tadi kepada istriku. Di luar dugaanku, Nduk malah tertawa-tawa. Ia ternyata sudah tahu banyak apa yang terjadi pada Mas Bahrul.

“Ah, njenengan ketinggalan kereta waktu, Mas. Itu bukan berita lagi. Sudah out dated,” kata Nduk. Suaranya masih serenyah waktu muda dulu. Suara yang membuatku jatuh hati.

“Kamu sih tidak pernah mau berbagi cerita.”

“Kalau kuberi cerita, nanti njenengan nuduh aku yang bukan-bukan. Tukang gibahlah, pegiat rumpilah, penyebar hoakslah.” Nduk agak sewot.

Aku tersenyum. Selama ini aku memang acap mengingatkan istriku agar tidak larut, apalagi ambil bagian, dalam gerak arus berita sampah di sekeliling kami. Untuk mematahkan ceritanya, benar selalu kulontarkan kata-kata yang ia sebut barusan. Akibatnya, Nduk jadi tidak mau lagi berbagi cerita tentang apa pun yang sedang terjadi di desa. Dan, risiko yang harus tertanggung, aku jadi, meminjam istilah istriku, ketinggalan kereta waktu. Lebih dari itu, tugas dan pekerjaan yang memaksaku berada lama di luar kota, membuat keawamanku tentang apa-apa yang telah terjadi di desa menjadi serasa paripurna.

Sambil mengupas jeruk pamelo kesukaanku, sesudah kudesak secara halus, Nduk mau bercerita perihal Mas Bahrul. Cerita Nduk, setelah dua periode menjabat kepala desa, atas dorongan seorang pejabat penting kabupaten yang juga petinggi sebuah partai politik bernama Pak MW, Mas Bahrul mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Gagal.

Kekurangan pengetahuan dan keminiman pengalaman di dunia politik riil beserta segala lika-likunya, membuat perolehan suaranya jeblok. Alhasil, harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun ludes, bahkan meninggalkan utang yang tidak bisa dibilang sedikit.

Kemampuan ekonomis dan kondisi sosial yang merosot secara signifikan jadi amat berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangga Mas Bahrul. Mbak Rustri, istrinya, mulai suka uring-uringan. Berkali-ulang, pada banyak kesempatan, ia suka mengatai suaminya sebagai lelaki bodoh, lemah, dan gampang menyerah. Mas Bahrul tidak terima. Maka hampir setiap hari terdengar suara kasar bernada tinggi dari rumah mereka. Sang istri menyalahkan suami, demikian sebaliknya. Ibarat pinggan yang retak, kapan ambyar tampak tinggal menunggu waktu.

Dalam kondisi demikian, seperti malaikat turun dari langit, datang kepada mereka Pak MW, pejabat penting kabupaten yang dulu mendorong Mas Bahrul nyalon sebagai anggota dewan. Lelaki paruh baya petinggi sebuah partai politik itu dengan simpatik mengulurkan tangan, membantu dengan cara merekrut Mbak Rustri menjadi karyawan bank simpan-pinjam miliknya. Untuk beberapa saat, situasi dan kondisi peri kehidupan rumah tangga Mas Bahrul kembali ke jalur normal sebagaimana layaknya keluarga lain.

Namun ternyata itu tidak berlangsung lama. Prahara lain datang melanda. Mas Bahrul menangkap basah Mbak Rustri bermain ranjang dengan Pak MW. Sontak hal itu membuat Mas Bahrul marah besar. Terjadi perang mulut sangat sengit yang berakhir dengan main pukul. Mas Bahrul dilaporkan ke polisi lantaran dianggap melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Berbagai upaya penyelesaian secara kekeluargaan disodorkan. Mbak Rustri, didukung Pak MW, menolak keras. Ia ngotot menempuh jalur hukum. Maka tinggallah Mas Bahrul yang mesti meratapi nasib. Berdasar bukti dan keterangan saksi, pengadilan memutuskan hukuman pada dia penjara selama dua setengah bulan potong masa penahanan.

Sebulan setengah berada di sel penjara, tidak sekali pun Mas Bahrul dikunjungi istrinya. Hanya saudara dan sejumlah teman karib yang sesekali datang menjenguk. Kepada teman-teman karib itu, saban kali ia bertanya tentang istrinya. Mereka kompak menjawab dengan gelengan kepala. Mas Bahrul paham, di sebalik gelengan kepala teman-temannya itu tersembunyi sebuah rahasia. Rahasia apakah? Mas Bahrul tak berani menanyakan.

Hanya adik bungsunya yang pernah sekali memberi sekelumit kabar jelas, kini perut Rustri sudah buncit. Anak siapa yang dikandung istrinya? Anaknya atau anak Pak MW? Sebenarnya ingin Mas Bahrul bertanya pada adiknya, tetapi ia mengurungkan niat. Ia lebih memilih diam. Ia paham, bila nekat bertanya, belum tentu adiknya tahu benar jawabannya.

Sudah jatuh tertimpa tangga plus reruntuhan tembok beton, itulah yang Mas Bahrul alami. Begitu keluar dari penjara, ia mesti menghadapi serentet kenyataan pahit. Istrinya menggugat cerai, rumahnya disita bank. Satu lagi yang benar-benar mengguncang jiwanya adalah kenyataan, istrinya diam-diam sudah kawin siri dengan Pak MW.

Cerita Nduk berhenti bersamaan dengan suara dentang jam dinding delapan kali. Aku masih menunggu cerita lanjutannya. Namun kulihat istriku sudah berdiri dan siap membereskan piring serta kulit jeruk yang berserakan di meja makan. Kupegang tangannya, lalu kuminta ia duduk kembali.

“Terus bagaimana nasib Mas Bahrul?” tanyaku. Penasaran.

“Mas Bahrul melawan kenyataan. Ia melaporkan Pak MW ke polisi dengan tuduhan merebut istrinya. Namun uang dan kekuasaan yang dimiliki Pak MW membuat Mas Bahrul tidak berdaya. Ia makin terpuruk. Laporannya tidak bisa ditindalanjuti. Dalihnya, kurang bukti dan tak ada saksi.”

“Terus?”

“Setelah beberapa waktu menumpang hidup di rumah saudaranya, Mas Bahrul terkabarkan depresi berat, sebelum diketahui menghilang entah ke mana. Konon, beberapa orang pernah melihat dia sedang ngamen di sebuah pasar kecamatan dan beberapa rumah makan di luar kota.”

“Terus?”

“Terus njenengan teruskan sendiri. Mas kan pengarang.” Berkata begitu sambil tersenyum genit dengan gegas Nduk meninggalkanku, menuju ke tempat cucian piring.

Beberapa saat aku termangu-mangu di meja makan. Sendirian. Terbayang wajah Mas Bahrul dalam riasan penari kuda lumping. Kupejamkan mata. Begitu cepat hidup dan kehidupan berubah. Tak terduga. Kemarin petinggi desa, sekarang pengamen jalanan. Kemarin berumah tingkat, tidur di kamar ber-AC bertilam bersih dan empuk, kini gelandangan, tidur di alam terbuka beralas lembar kardus dan kertas koran.

“Ayo salat isya dulu, Mas.”

Nduk bersiap wudu dari keran air di samping kamar mandi. Aku diam, pura-pura tidak mendengar.

“Kalau masih penasaran tentang kisah hidup Mas Bahrul, teruskan sendiri. Njenengan kan pengarang.” Nduk tertawa.

Aku mengangguk dan tertawa. “Ya, esok, lusa, tulat, atau entah kapan, akan kutulis kisah hidup Mas Barhrul menjadi cerita pendek, Nduk,” kataku dalam hati. (28)

 

Mlati Lor, 2019

Mukti Sutarman Espe, penulis dan pegiat literasi, mengelola tajug.net, tinggal di Kudus