Cerpen Hendy Pratama (Medan Pos,15 Desember 2019)

Pada Suatu Pagi Ketika Eros Mati ilustrasi Istimewa
Pada Suatu Pagi Ketika Eros Mati ilustrasi Istimewa

Aku tidak percaya, bahwa Eros itu ada. Tentu saja, ketika seorang kawan baikku datang padaku hanya untuk mengatakan, bahwa tatkala manusia jatuh cinta, muncullah anak kecil bersayap yang merentangkan busur panahnya, lantas membidiknya ke arah dua sejoli itu. Bagiku, itu hanyalah mitos belaka.

“Kau mesti memercayainya. Tengok, siapa yang menumbuhkan benih asmara? Lalu, ketika kau menolak mitologi Eros sama halnya dengan menolak sebuah agama baru, apakah kau tidak pernah jatuh cinta?” selidik Muna, kawanku tersebut.

Aku bukan berarti tidak pernah jatuh cinta. Justru, kekafiranku terhadap Eros tumbuh ketika aku mulai patah hati. Dulu, aku mencintai Elena. Aku tidak tahu, mengapa aku dapat menaruh hati pada perempuan jelita itu. Orang bilang bahwa cinta tidak butuh alasan. Aku sepakat, lantaran Elena tidak menuntut beragam alasan padaku.

“Yang butuh alasan itu hanyalah meninggalkan, bukan mencintai.” Begitu ucap Elena pada suatu pagi ketika kami kencan di sebuah taman kota.

Mendengar ucapannya itu, aku lantas berpikir; orang-orang bijak tidak memercayai suatu alasan tentang mengapa manusia harus mencintai. Mungkin, aku dapat menambahkan bahwa cinta tidak memandang rupa, tak butuh materi, tak perlu waktu, tanpa bujuk rayu, sonder teori—cinta bisa tumbuh tanpa rumus-rumus matematika yang mencekik leher dan memukul kepalamu. Dan, bahkan sonder pula memerlukan Eros!

Tentu saja, aku tidak mengutarakan isi pikiranku itu pada Elena. Bagiku, ia cukup tahu bahwa aku selalu ada untuknya. Ada ketika hari-harinya temaram, ada tatkala perempuan itu laksana bunga beranjak gugur. Dan, nyatanya aku berhasil membuat senyumnya merekah.

“Lalu, bagaimana dengan kehidupanmu? Seandainya kau memang dilahirkan untuk menemani hari-hariku, bagaimana dengan harimu sendiri?”

Pada suatu pagi ketika Elena menanyakan hal itu padaku, aku tersenyum. Sembari mengatakan bahwa aku tidak peduli terhadap hari-hariku.

“Hari-hariku telah kau genapkan melalui hari-harimu. Ketika kau bahagia, pasti aku juga merasakan kehangatan itu. Dan, pada saat kau bersedih, aku seperti menjumpai hujan pada sepasang mataku,” timpalku pada Elena dan seketika itu, ia tersenyum lembut.

Selanjutnya, hari-hari kami berjalan baik. Aku dan Elena sering bertemu di sebuah taman kota, lalu melakukan perbincangan. Kadang kala, bibirku mendarat ke pipi Elena dan ia jadi putri malu. Aku juga pernah bertamu ke rumahnya demi merencanakan pernikahan. Aku memanglah percaya, bahwa cinta tidak membutuhkan apapun. Tapi, tanpa restu, cinta hanyalah tanaman tanpa bunga dan mati ketika dunia tak lagi berarti.

“Elena tidak makan batu. Tentu saja, kau pastilah tahu itu. Maka, kenapa kau tidak mencari pekerjaan yang terkubur dalam mimpi-mimpimu itu,” sindir Ibu Elena pada suatu pagi ketika hasrat menikahi Elena telah menapaki puncak kejantananku.

Elena bukan tidak mau meyakinkan ibunya. Perempuan jelita itu mengatakan bahwa aku merupakan pahlawan bagi hari-harinya.

“Ia rela tidak memperhatikan hari-harinya demi hari-hariku. Ia membuatku menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia ketika hampir kuputuskan bunuh diri. Hidupku tak ubahnya serupa seekor sapi dan ia menjadikanku menyerupai dewi,” tegas Elena.

Namun, pernyataan Elena tak lebih dari sekadar angin semata. Bagaimana pun aku memperjuangkan hari-hari seorang dewi, aku tetaplah takluk pada kehidupan. Betapa kami merupakan manusia dan manusia tidaklah makan sebongkah batu. Aku pun akhirnya pergi, membawa seluruh remah-remah harapan. Dan, cinta yang telah jadi bangkai ini.

“Lebih baik kau cari pekerjaan dan datang lagi pada Ibu Elena,” saran Muna, kami di sebuah taman kota, berkawan remah sinar matahari. “Kau bisa menjadi juru parkir atau kuli panggul di sebuah pasar yang ramai.”

Langit berangsur temaram. Sekawanan burung terbang landai, mencari reranting untuk mereka hinggapi. Angin berkesiur, menusuk lemah kulitku bagai jarum-jarum berupaya menjahit segua luka. Dan, matahari melakukan aba-aba, sebelum lantas melompat ke barat bagai sejumput harapan tentang Elena yang kini telah temaram.

“Apakah kau masih memercayai Eros?” tanyaku, memecah hening petang.

Muna terbelalak, sebelum pada akhirnya menggangguk. Sepasang tangannya sigap memangku dagunya. Kerling matanya menyilaukan kegundahanku.

“Aku pikir, kau mesti memercayai dewi cinta itu,” sambut Muna, matanya bersauh dalam riak lautan mataku. “Penyebabmu putus dengan Elena tidak lain karena kau tidak memercayai Eros. Dewi cinta itu enggan melepas anak panah ke arah kalian. Maka, ketika kalian bercumbu pada suatu malam, Eros justru menancapkan panah kebencian.”

Aku terdiam untuk beberapa saat demi mendengarkan pernyataan Muna. Dedaunan riuh terkena gelombang angin dan satu per satu gugur.

“Pertimbangkanlah saranku,” bisik Muna, melayukan telingaku.

Malam ini, bakal menjadi malam terpanjang bagiku. Sesuatu seperti masuk ke dalam pikiranku dan seketika, kuseret Muna ke tempat remang; di mana Tuhan tidak akan pernah menemukan kami. Tentu saja, kawanku itu tidak pernah menduga dan mengumpat diriku, bahwa aku tak hanya enggan memercayai Eros, melainkan juga Tuhan!

Dan, ketika pagi berlabuh ke ufuk timur, dengan gontai, aku melangkah menuju tepi jalan. Kemejaku lusuh dan sedikit terbuka. Rambutku menyerupai serabut nyiur. Kepalaku mungkin saja telah kupendam di dasar tanah semalam, bersama dengan segala pikiran buruk mengenai Eros, Muna, dan juga Elena.

Aku berhenti di tengah jalan sembari berteriak, “Telah kubunuh Eros menggunakan belati Tuhan. Hingga, hari-hari ke depan, tak akan pernah ada lagi sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebab, mereka telah mati. mereka mati… mereka telah mati!” ***

 

/Kota Gadis, 2019

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Heliofilia merupakan buku kumpulan cerpen perdananya.