Cerpen Artie Ahmad (Kedaulatan Rakyat, 15 Desember 2019)

Nyonya Dini ilustrasi Jos - Kedaulatan Rakyat (1)
Nyonya Dini ilustrasi Jos/Kedaulatan Rakyat 

DI bawah rindangnya pohon walisongo yang rimbun, Nyonya Dini duduk seorang diri. Tak ada sesiapa pun yang menemaninya duduk siang itu. Tapi itu jauh lebih baik dirinya. Sudah cukup lama Nyonya Dini kurang menikmati keramaian. Ia jauh lebih menikmati sendiri.

Nyonya Dini bukannya tak mengerti bahwa hidup akan terus berubah. Berjalan seiring berubahnya zaman. Ia telah cukup lama menjalani kehidupan, perubahan-perubahan yang konon seiring berkembangnya peradaban cukup ia pahami. Tapi layaknya manusia yang telah melewati masa yang begitu permai, tentu ia menyesalkan banyak hal. Cerobong-cerobong asap pembuangan dari pabrik-pabrik yang menjamur, sungai-sungai yang tak lagi jernih lantaran segala macam limbah dibuang ke sana, kerusakan-kerusakan seperti itulah yang kerap ia sesali.

Nyonya Dini duduk sembari menggenggam pulpen dan sebuah buku catatan. Buku catatan bersampul merah polos. Ia telah membawa buku itu ke mana-mana. Ia begitu gemar mencatat, menulis apa saja. Hal-hal yang telah lewat namun tak ingin dilupa selalu ia catat baik-baik. Nama-nama orang yang ditemuinya dan tak ingin dilupa kebaikan, ia catat dengan terang. Nyonya Dini tak ingin melewatkan apa yang telah ia lewati, segala macam hal yang dianggap berjasa dalam hidupnya selalu ia catat dan ia simpan. Nyonya Dini memang sangat senang mencatat apa saja lantaran baginya menulis adalah napas, sebagian dari dirinya yang tak mungkin ia lepas.

Di bawah rindangnya pokok-pokok walisongo itu, Nyonya Dini masih termangu-mangu. Lembaran baru di buku catatannya masih kosong. Ia sendiri heran, mengapalah hari ini ia tak bisa menulis seperti biasa.

“Aku telah mencapai apa yang kuinginkan. Duduk di sini, di bawah rindangnya pepohonan. Lalu mengapalah aku tak bisa menulis sebuah catatan kecil hari ini?” gumamnya perlahan sembari menatap buku catatan yang terbuka. Ia mulai mengingat-ingat hal apa saja yang pernah ia temui beberapa waktu yang lalu. Sekelebat ingatan bermain di kepalanya.

Ia menuliskan betapa terkejutnya tatkala sesampainya di bandara Jakarta, ia bertemu dengan seorang pembacanya. Nyonya Dini memanglah hidup untuk menulis, setidaknya itulah yang ia inginkan. Lantaran tulisan tulisannya pula, orang-orang mengenal dirinya.

Aku sampai di bandara hari itu, dan seseorang memanggil namaku. Dipeluknya aku secara tiba-tiba dan keterkejutanku tak bisa kubendung. Ia rupanya salah satu pembaca buku-bukuku. Berkali-kali ia mengatakan bahwa sungguh terharu bisa berjumpa denganku di tempat dan waktu yang tak ia duga.’

Nyonya Dini menuliskan itu sembari tertawa kecil. Tangannya mulai menulis di catatan bersampul merah miliknya. Ingatannya mulai bermain-main. Catatan yang awalnya sekelumit saja, berubah menjadi panjang. Nyonya Dini menuliskan tentang pertemuan-pertemuan yang tak terduga dengan kawan ataupun orang yang baru dikenal.

Pena di tangannya masih menari-nari. Ia tuliskan pula kejadian-kejadian yang sesungguhnya tak ia kehendaki.

‘Taman kecil di samping kamarku begitu kurawat dengan baik. Tetapi tupai-tupai yang datang dari luar kerap mengacaukan tanaman. Mereka begitu doyan memakan tali ijuk pengikat bunga anggrek. Anggrek-anggrekku yang kusayang kerap merana lantaran ulah mereka!’

Nyonya Dini memang kurang menyukai tupai yang kerap masuk ke taman miliknya. Ia bahkan sudah lupa berapa kali bertemu tupai saat mengacau tanaman di taman bunga. Sesungguhnya Nyonya Dini sendiri sangat mencintai binatang. Ia merawat ikanikan emas kecil di kolam teratai. Dulu, ia bahkan memiliki beberapa ekor kucing yang teramat disayangi.

Nyonya Dini masih duduk di bawah rindangnya pohon sembari menulis. Ia menulis tentang pertemuan-pertemuan. Lembar demi lembar catatannya penuh. Sebelum ia mengakhiri catatannya, Nyonya Dini menulis sebaris kalimat lagi.

‘Betapa pertemuan itu selalu membuat bahagia, meski tak sepenuhnya.’

Nyonya Dini memang hanya menuliskan tentang pertemuan-pertemuan, ia urung menuliskan perihal perpisahan. Baginya, perpisahan itu menyakitkan dan kesedihan seharusnya memang tak perlu diperlihatkan. ❑- o

 

Untuk Eyang Nh. Dini yang setahun lalu pergi ke tempat paling nyaman. Kenangan akan selalu lekat di pikiran dan hati semua orang. 4 Desember 2019.

 

Artie Ahmad, lahir di Salatiga 21 November 1994. Ia menulis cerita pendek dan novel. Saat ini tinggal di Yogyakarta.