Cerpen Rosni Lim (Analisa, 15 Desember 2019)

Hog Cholera ilustrasi Renjaua Siahaan - Analisa (1).jpg
Hog Cholera ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Selina lagi pusing. Edinda, putra semata wayangnya yang duduk di bangku SMA, sudah seminggu lebih tak berselera makan. Biasanya, putranya itu akan makan dengan lahap nasi yang dihidangkan di atas meja. Persoalannya sepele saja, lauk ikan yang merupakan sahabat Edinda setiap hari, lagi “menghilang” dari piringnya.

“Ma…, aku mau makan ikan…, ikan…, ikan…!” demikianlah Edinda berseru lantang hampir setiap hari semenjak “sahabatnya” itu tak ada lagi di piringnya.

Selina mendekati putranya, membelai punggungnya perlahan.

“Sabar ya, Nak, sementara kita belum bisa makan ikan. Coba saja daging ayam dan telur yang dibeli Papa untukmu ini. Sama enaknya juga,” bujuk Selina.

Edinda cemberut di atas kursi makan. Ditekukkan punggungnya ke belakang seperti orang patah semangat. Bibirnya mendower dan keningnya berkerut.

“Sudah berapa hari makan ayam dan telur terus, Ma? Ayam dan telur…, terus! Ogah, ah! Aku mau makan ikan, Ma!”

“Sabar ya, Nak. Masih banyak orang yang tak dapat makan. Kita harus bersyukur makan dengan lauk ayam dan telur yang enak ini,” kata Selina memberi nasihat.

“Sampai kapan, Ma? Sampai kapan aku tak boleh makan ikan?” tanya Edinda.

“Enggak tahu, barangkali setengah tahun atau setahun enggak makan ikan juga enggak apa-apa. Bukankah selama enam belas tahun usiamu kamu sudah makan ikan hampir tiap hari? Baru seminggu saja enggak makan ikan sudah begini.”

“Hah? Aku mana bisa tahan sampai setahun!” Edinda menjerit layaknya anak kecil.

“Cepatlah, Ma, belikan aku lauk ikan di tempat jual nasi bungkus! Aku mau makan ikan sekarang!” perintah remaja itu.

Selina bergerak menjauh. Keki hatinya membujuk putra semata wayangnya itu dengan kata-kata halus tapi tak juga mempan. Tak mungkinlah dimarahi anaknya itu hanya gara-gara minta lauk ikan enggak dikasih. Yang bisa dilakukan Selina adalah berjalan menjauh dan duduk di sofa. Tak mempedulikan lagi ocehan anaknya.

Menyadari usahanya meminta lauk ikan tak dipenuhi Selina, Edinda pun dengan tak bersema­ngat menyantap nasi di piringnya yang berlaukkan ayam dan telur bulat. Makannya tak habis, masih bersisa nasi sedikit dan ayam ditambah kuning telur yang disisihkan seperti untuk esok hari.

“Habiskanlah, Nak! Makan kok enggak bersih?” tegur Selina.

“Gimana mau jadi orang kaya kelak? Kamu tahu, orang kaya itu kalau makan selalu bersih dan habis, enggak bersisa.”

Edinda tak menghiraukan kata-kata Selina. Selina menggeleng-gelengkan kepalanya, membereskan piring Edinda dan melap meja. Membawa piring itu ke dapur dan mencucinya. Sambil membilas piring, Selina berpikir tentang pertanyaan Edina. Sampai kapan dia tak makan ikan? Tanpa ikan bagi Edinda, seperti sayur tanpa garam. Hambar.

Semua ini gara-gara bangkai babi yang terkena virus hog cholera dibuang ke sungai oleh orang-orang yang tak berpikir panjang. Seharusnya mereka menyerahkan babi-babi itu kepada pemerintah untuk dikuburkan, begitulah yang Selina lihat di berita-berita internet. Ribuan babi yang tekena virus hog cholera atau flu babi dikubur hidup-hidup ke dalam lubang besar. Babi-babi itu berdesakan di dalam satu lubang.

Entah kenapa ada yang tega membuangnya langsung ke sungai. Tindakan itu bukan menimbun bibit penyakit, melainkan menyebarkan. Air sungai tercemar oleh bangkai babi yang ribuan ekor dibuang sembarangan. Desas-desus berita di internet, bangkai-bangkai babi itu kemudian dimakan ikan-ikan dan ikan-ikan itu dikonsumsi manusia.

“Sementara jangan makan ikan dululah,” begitu kata Selina pada ibunya saat berkunjung ke rumah nenek Edinda.

“Enggak apa-apalah. Sungai-sungai itu mana ada ikan yang besar, yang ada ikan kecil-kecil sebesar jari kelingking,” kata ibu Selina. “Ikan bawal, dencis, dan lain-lain yang biasa dimakan Edinda itu kan ikan laut.”

“Iya, Bu, tapi air sungai itu bermuara ke laut. Ikan-ikan itu akan mengalir ke laut,” kata Selina sok tahu. Padahal benaknya sibuk berpikir, apakah ikan air sungai bisa bercampur dengan ikan air laut? Bukankah air tawar dan air asin tak bisa bercampur?

“Sampai di batas laut ikan itu tak bisa masuk,” kata ibu Selina lebih sok tahu lagi. “Ikan sungai tak bisa masuk ke laut,” kata perempuan tua yang sudah berusia 86 tahun itu.

“Makanlah ikan bawal, enggak apa-apa,” kata ibu Selina lagi. “Kasihan Edinda tak berselera makan tanpa lauk ikan dan meminta setiap hari. Aku saja tiap hari makan ikan, bahkan hari Minggu lalu pergi makan babi panggang di rumah makan babi panggang. Enggak apa-apa kok sampai sekarang.”

Hati Selina pun mencair. Sepertinya memang enggak apa-apa makan ikan. Selina pun mendengar kata-kata ibunya, menggoreng ikan bawal 3 ekor untuk makan siang dan makan malam Edinda keesokan harinya.

Malamnya hujan turun lagi. Selama seminggu ini hujan terus menerus mengguyur Kota Medan. Sebelum hujan, angin kencang berembus menerbangkan debu-debu dan pasir-pasir di atas tanah. Setelah hujan, selokan-selokan penuh dengan air dan banjir pun terjadi karena air hujan yang tercurah terlambat diantisipasi sungai dan selokan.

Air hujan itu juga membanjiri garasi rumah Selina. Suara hujan terus terdengar malam itu, Selina bersama suaminya dan anaknya tidur dengan nyenyak di dalam kamar tidur mereka yang di samping garasi. Entah kuman-kuman apa yang dibawa oleh air hujan yang bercampur air parit itu, terhirup oleh Edinda.

Seperti biasanya setiap tahun, bila musim hujan dan cuaca dingin, putra Selina itu akan menderita flu, hidung beringus. Sudah belasan tahun seperti itu. Kata dokter spesialis, Edinda ada alergi cuaca dingin.

Esoknya, Selina menghidangkan lauk ikan untuk Edinda. Edinda pun makan dengan senang sepulang sekolah. Malamnya juga. Hari Rabu itu Edinda pulang sekolah dengan wajah dan tubuh lemas.

“Kenapa, Edinda? Ayo, makanlah,” panggil Selina yang sudah menyiapkan satu piring nasi di meja. “Hari ini lauknya bukan ikan, tapi ayam dan parkedel.”

“Aku tak berselera makan,” kata Edinda.

“Ayolah, makan,” Selina terus mendesaknya.

Edinda pun mendekati kursi dan makan dengan terpaksa. Kelihatan sekali dia berusaha menghabiskan nasi di piringnya seperti yang disuruh Selina. Akhirnya tetap bersisa sedikit. “Aku tak sanggup lagi, Ma. Sudah makan begitu banyak. Tak sanggup lagi,” kata Edinda sambil berjalan ke belakang mencuci tangannya lalu buru-buru duduk di sofa sambil bersandar lemas.

“Kenapa?” Selina merasa heran. Sedari pulang sekolah tingkah Edinda sedikit aneh. Selina mendekati putranya dan memegang bahunya. Dilihatnya wajah Edinda yang seperti kurang sehat. Dirabanya keningnya dan tengkuknya. “Lho, badanmu panas, Nak. Kamu demam, ya?” tanya Selina kaget.

“Sudah dari tadi di sekolah, Ma, aku menggigil. Kadang kakiku dingin, kadang panas,” kata Edinda.

“Aduh, kamu kok enggak bilang dari tadi?” kata Selina. Buru-buru dia berjalan mendekati lemari makan, mencari satu bungkus plastik dan mengeluarkan satu tablet obat demam. Disuruhnya Edinda makan obat itu. Edinda menurut. Beberapa jam kemudian Edinda berkeringat dan merasa lebih baikan. Malamnya demam lagi. Terpaksa keesokan harinya Edinda minta izin tak masuk sekolah karena sakit.

Sehari beristirahat di rumah, Edinda merasa baikan lalu ke sekolah lagi 2 hari. Malam Minggu itu tubuhnya demam lagi dan menggigil. Bahkan disertai batuk-batuk serak yang berkepanjangan. Merasa bising mendengar suara batuknya, Selina pun membawanya ke dokter umum.

“Sudah berapa hari demam?” tanya dokter.

“Tiga hari, Dok,” kata Selina. “Hari Kamis demam, Jumat agak baikan, lalu Sabtu ini demam lagi.”

Edinda pun berbaring di ranjang pasien. Diperiksa tekanan darahnya oleh suster, normal 110/80 dan suhu tubuhnya, demam 38,1 derajat celcius.

“Ada sakit perut? Ada sakit dada saat batuk? Ada keluhan lain selain batuk, flu, demam, sakit tenggorakan?”

“Tidak ada,” jawab Edinda.

“Begini ya, saya kasih resep obat antibiotik, obat demam, flu, dan batuk untuk dimakan tiga hari. Kalau tak sembuh juga, di tubuh muncul bintik-bintik merah atau mimisan di hidung, saya sarankan segera cek darah, takutnya demam berdarah,” kata dokter.

Selina mengangguk.

Obat itu pun dimakan Edinda. Hari Minggu dan Senin Edinda masih demam dan lemas. Terpaksalah bolos sekolah lagi.

Senin malam, Edinda merasa agak baikan dan berbaring di ranjang bersama mamanya.

“Ma, Ma, aku tahu kenapa aku bisa demam dan sakit selama beberapa hari ini,” kata Edinda sambil berbisik. Tubuhnya tidur menyamping menghadap mamanya.

“Iya, kenapa?” tanya Selina.

“Karena aku makan ikan….”

“Eh, kayaknya enggak, deh. Papa pun makan ikan yang sama denganmu, tapi Papa kok enggak apa-apa? Nenek pun makan ikan tiap hari, tapi enggak apa-apa juga. Kok kamu yang lain?”

“Iya, Ma, kenapa aku saja yang sakit?”

“Barangkali ikannya protes ke kamu, selama belasan tahun ini kamu makan dia terus tiap hari. Sekali-sekali enggak makan, kenapa, sih?” jawab Selina sekenanya.

“Aku sudah sembuh, Ma. Besok aku mau makan ikan yang diternak itu, yang ada di kolam pancing. Suruh Papa belikan dong, Ma. Ikan Nila yang di kolam pancing. Aku juga mau makan leng hong kien yang di restoran, siomay ayam, mi rebus, mi pansit, sate lontong, dan….”

Edinda melirik Selina. Mamanya itu sudah mengejapkan mata dengan tubuh menggigil. Barusan tadi Selina mengukur suhu tubuhnya, 38,6 derajat celcius. Mau tak mau Selina makan satu tablet obat paracetamol 500 mg. Karena dia memang sudah tak tahan lagi. Kepalanya sakit sebelah, tubuhnya menggigil, terasa panas dingin, dan seluruh tulang nyeri tak bertenaga.

Selina tak makan ikan seperti Edinda. Kok dia bisa tiba-tiba sakit juga? Laporan dari Edinda keesokan harinya, ada 10 murid di kelasnya yang tak masuk hari itu karena sakit. Bahkan ada yang sampai diinfus di rumah sakit.

Cuaca di bulan November ini terus menerus hujan. Kadang angin kencang menerbangkan debu-debu dan pasir-pasir di jalanan hingga terhirup manusia. Malamnya hujan deras mengguyur, mengakibatkan rumah-rumah kebanjiran. Air selokan alias air parit yang jorok dan bau ikut menggenang di jalanan, di garasi, di halaman, bahkan sampai ke dalam rumah. Membawa ribuan bibit penyakit yang terhirup manusia.

Ah, dengan cuaca begini saja sudah banyak yang sakit, apalagi ditambah bangkai-bangkai babi yang terkena hog cholera dibuang sembarangan ke sungai. Bukankah air sungai yang tercemar itu akan ikut meluap saat hujan deras dan menggenangi jalanan atau halaman rumah? Kuman-kuman yang membawa bibit penyakit itu akan terhirup  manusia dan menyebabkan sakit.

Sampai kapan semua ini akan berlangsung? pikir Selina.

 

Medan, November 2019.