Cerpen Dewandaru Ibrahim Senjahaji (Radar Banyumas, 15 Desember 2019)

Harusnya Aku Ke Sini Bersamamu, Pram ilustrasi Radar Banyumas
Harusnya Aku Ke Sini Bersamamu, Pram ilustrasi Radar Banyumas

Malam minggu, gerimis menderu. Suasana dingin sekaligus hangat bagi remaja yang sedang merayakan cinta. Di depan gedung bioskop yang paling top, seorang tukang parkir berdiri mengatur motor yang ditunggangi dua pasang sejoli. Mereka menempel erat, seperti sepasang kekasih yang bertemu setelah lama terpisah dan seolah akan berpisah lagi.  Sebuah pemandangan yang indah dan menyegarkan. Drama yang nyata. Kuharap film yang akan kutonton lebih dari sekedar romansa. Film yang diangkat dari novel terkenal. Novel tentang kemanusiaan, tentang sejarah dan perlawanan, yang membuatnya menjadi terlarang. Novelnya Pram, Pramoedya Ananta Toer, seorang laki-laki yang panggilannya mirip dengan panggilanku padamu, Pram, Pramitha.

Perlahan aku turun dari motor bututku, menaruh helm sambil menghisap keretek yang hampir habis. Aku melangkah menggendong tas lusuh menuju pintu masuk. Kulihat perempuan cantik penjual tiket sedang sibuk melayani pengunjung. Usianya mungkin lulus SMA, usia yang muda bagi seorang pekerja. Dari wajahnya terlihat tenang, mungkin setelah pengunjung masuk studio, ia sudah janjian dijemput dan diantar pulang pacar.  Di sudut yang lain kulihat perempuan dengan tubuh  jangkung berdiri sibuk mengecek tiket di samping pintu ruang tunggu. Wajahnya ayu dengan tersenyum ia mempersilahkan pengunjung. Akan tetapi, sepertinya ia agak agak sedikit memendam sebal.

Berdatangan orang-orang masuk ke bioskop, bergandengan tangan dan melecuti angan angan. “Ini malam minggu waktu yang syahdu untuk laki-laki dan perempuan menebus rindu.” Barangkali begitu gerutunya dalam hati sambil menyobek karcis sekaligus menyobek kekesalannya sendiri.

“Ini malam minggu,” gumamku, barangkali setelah perempuan-perempuan itu selesai bertugas, selesai pula penyiksaan yang tandas. Aku tersenyum padanya, menggendong tas lusuhku sebagai pengganti memegang tanganmu, memasuki ruang tunggu dan menikmati waktu.

Aku menunggu pintu studio dibuka, di kursi baris yang sinis. Awalnya di sekitarku tak ada siapa-siapa. Kulihat pamflet-pamflet film gagah menempel dan cantik di tembak lampu sorot. Tak lama, duduklah berpasang-pasangan asmara. Laki-laki dengan pacarnya, perempuan dengan pacarnya, tante-tante dengan keponakannya yang ia sewa, om-om dengan keponakan cantiknya yang ia sewa. Aku duduk di tengah mereka merayakan kesendirian yang merdeka sambil memangku tas lusuhku sebagai pengganti aku duduk berdampingan denganmu.

Pintu studio dibuka. Para pengunjung berdiri, Lengan-lengan bergandengan, jari-jari saling menggenggam, lalu berjalan memasuki ruangan. Aku berdiri, merogoh saku jaketku dan berjalan seperti preman, sambil berharap semoga film ini tak mengecewakan. Aku sudah rela datang sendirian, dengan dua tiket. Satu untukku dan satu lagi untukmu yang tiba-tiba berkabar bahwa kau tak bisa datang. Untunglah kubawa tas lusuhku sebagai pengganti aku menggandeng tanganmu. Penjaga studio memandu pengunjung untuk duduk di kursi sesuai nomor. Aku duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursimu, yang kini diduduki tasku.

Lampu redup, adegan dimulai aku akan menikmati khayalan yang aku berharap khayalan itu sama dengan khayalanku. Pemeran utama muncul, mengucapkan sebuah puisi. Penonton bersorak sorak. Sebisa mungkin aku tidak teriak, puisi yang diucapkan itu kata-kata yang sering diucapkan remaja untuk menipu lawan jenisnya.

Ah, barangkali ini hanya pemanis agar penonton tertarik di awal adegan.”

Adegan berlanjut kepada adegan saling memandang antara laki-laki dan perempuan.  Wajah mereka semakin dekat, laki-laki menyuapi perempuan dengan puisi lagi perempuan mengunyah puisi itu tanpa berpikir lagi. Penonton bersorak-sorai  meneriaki kenangannya masing-masing pada dua bibir yang saling bersaing. Tangan mereka saling menggenggam. Beberapa saling berpandangan menahan malu dan syahdu. Kulirik tasku di kursi yang seharusnya kau duduki. “Sial, ini film horror, harusnya aku menonton bersamamu ” pikirku.

Aku mencoba bersabar dan tetap berpikir baik bahwa ini hanya gimik supaya penonton tertarik. Namun, hampir setengah jalan, laju film tak ada perubahan. Masalah mulai muncul ketika pemeran utama terpojok, wajah layar menjadi tegang jari-jari kembali saling menggenngam, lengan-lengan kembali bergandengan, dan pundak-pundak menjadi berat oleh kepala-kepala yang tak kuasa menahan manja. “Ah aku benar-benar sial ini film horor gumamku harusnya aku ke sini bersamamu,” gumam dalam hatiku sambil memalingkan muka saat ada adegan perempuan diperkosa.

Hingga hampir akhir, ternyata adegan masih sama. Masih saja adegan soal romansa yang membuat jari-jari saling menggengam, lengan-lengan kembali bergandengan, dan pundak-pundak dipenuhi kepala kekasih. film itu ditutup dengan segala macam romansa dan umbul-umbul cinta yang kalah. Sebagian penonton sedih, sebagian penonton bahagia sebab bisa bersandar dengan lama di pundak kekasihnya. Aku sedih, sebab harusnya kau ada di sini. Harusnya kau melihat semua ini, Pram.

Lampu terang, penonton perlahan meninggalkan studio sambil jari-jari mereka tetap saling menggengam, lengan-lengan tetap bergandengan, dan pundak-pundak tetap menjadi sandaran kepala kekasihnya. Sebagian dari mereka kecewa, sebagian lainnya tetap bahagia bisa menikmati film dengan mesra. Akhirnya aku pulang membawa malam yang panjang wajah pemeran itu dan wajahmu masih berputar di kepalaku. Ini film horror, harusnya aku kesini bersamamu. Biar kita sama-sama tahu bahwa ketidakberdayaan adalah sesuatu yang mengerikan dan paling pilu.

“Ini film horror, harusnya aku kesini bersamamu, Pram!” ucapku kesal.

Kulangkahkan kakiku menuju lahan parkir yang gelap oleh berpasang-pasang asmara. Masih setia kugendong tas lusuhku sebagai ganti aku menggandeng tangamu. Pada jarak tujuh langkah sebelum sampai di motor, kurogoh saku celanaku. Kutengok telfon genggamku, ada tujuh panggilan tak terjawab dan puluhan whatsapp yang belum dibuka. Ternyata Khafid, kawanku pelakunya. Kulihat pesannya:

Ru, kau di mana?

Ru, ini penting!

Cepatlah pulang, Pram telah menghilang!

Kudengar kabar dari kawan-kawan, semenjak pukul delapan malam Pram menghilang! Aku terdiam. Ini film horror, harusnya aku kesini bersamamu, Pram!

 

Purwokerto, 2019