Cerpen Usep Romli HM (Republika, 15 Desember 2019)

Elegi Seekor Anjing ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Elegi Seekor Anjing ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Anjing kepunyaan Mang Kandi, hanya anjing kampung biasa. Bukan anjing ras keturunan hebat. Cuma temuan tak sengaja. Terjepit pada tanaman pagar batas kebun. Tampak kesakitan dan lelah saat ditemukan. Mungkin semalam anak anjing itu di sana. Suaranya merengek pelan waktu itu.

Hati-hati, Mang Kandi mengambilnya. Dibawa ke gubuk. Diletakkan di tanah. Tergolek lemah. Mang Kandi teringat pada kisah yang dituturkan Mama Ajengan Babakan Cibantar, waktu pengajian majelis taklim Jumat lalu. Tentang seorang lelaki menolong seekor anjing kelaparan. Entah karena Mama Ajengan Babakan Cibantar pandai berkisah, entah karena kisahnya menarik. Mang Kandi ingat terus. Begini kata Mama Ajengan Babakan Cibantar:

“Seorang lelaki berjalan jauh. Merasa sangat kehausan. Kebetulan menemukan sumur. Sayang, tak bertimba. Terpaksa harus bersusah-payah turun. Hingga berhasil menyauk air dengan sepatunya. Minum beberapa teguk. Ketika tiba lagi ke atas, ada seekor anjing. Menjilat-jilat pinggiran lubang sumur. Sekadar melepas dahaga. Badannya telungkup tanpa daya. Napasnya putus-putus. Nyaris sekarat.

“Wah, anjing ini bernasib seperti aku tadi. Wajib kutolong, sebelum direnggut maut,” kata lelaki itu. Buru-buru ia turun lagi ke lubang sumur. Menyauk air dengan sepatunya, dan penuh susah-payah naik lagi dia ke atas. Mendapat air cukup banyak, anjing itu segera meminumnya pelan-pelan. Lelaki itu turun lagi. Mengambil air dengan sebelah sepatunya agar anjing itu dapat minum sekenyangnya.

Setelah minum air empat sepatu, anjing itu tampak mulai segar-bugar. Sudah dapat berdiri. Matanya bening. Menatap lelaki itu. Mungkin mengucapkan terima kasih telah ditolong.

Para sahabat Kangjeng Nabi yang menyimak kisah itu dari Abu Hurairah, bertanya:

‘Apakah kita mendapat ganjaran dari menolong hewan seperti anjing, ya Ra sulullah?’

Jawab Kangjeng Nabi:

‘Setiap perbuatan baik kepada makhluk bernyawa mendapat ganjaran besar dari Allah SWT.’”

Mang Kandi juga tertarik oleh ganjaran besar, tapi tak menjadi tujuan utama. Yang penting, menyelamatkan dulu anak anjing yang merana itu.

“Masalah ganjaran, terserah Gusti Allah,” begitu Mang Kandi bergumam. Ia membuat lipatan daun pisang berbentuk mangkuk. Lalu diisi air teh dari teko. Anak anjing itu meminumnya penuh nafsu. Mungkin, seperti anjing yang meminum air sumur dari sepatu lelaki pengembara dalam kisah Mama Ajengan Babakan Cibantar itu.

“Lapar juga? Nah, ini nasi dan tulang ikan asin. Makanlah!”

Bungkusan daun berisi dua kepal nasi dan bubuk tulang ikan asin diangsurkan ke depan anak anjing yang baru selesai minum. Anak anjing itu langsung melahapnya setelah dibaui.

Benar-benar anak anjing itu kelaparan. Entah berapa lama terjepit pohon pagar.

“Mungkin semalaman. Kemarin waktu pulang sore dari kebun, belum ada,” gumam Mang Kandi yang kembali meneruskan sisa pekerjaan, memotongi ranting-ranting pohon albasia.

Setelah makan, anak anjing berlari-lari kecil di sekitar gubuk kemudian meringkuk dekat tungku api unggun.

Ketika Mang Kandi membereskan peralatan, siap-siap pulang, anak anjing itu bangkit. Berputar-putar dekat kaki Mang Kandi. Ingin menjilat-jilatkan lidahnya sebagai tanda terima kasih. Tapi, Mang Kandi mengusirnya. Ia tahu, mulut anjing berliur itu najis. Najis berat. Najis mugholadoh. Untuk membersihkannya, harus diseretu (dibersihkan). Dicuci dengan air tujuh kali dan diolesi tanah satu kali.

Hari amat panas. Tengah-tengah musim kemarau panjang. Langit tanpa awan. Ada suara burung ungkut-ungkut di kejauhan. Bersahutan dengan suara burung bultok. Diselingi jeritan elang samar-samar. Ketiga hewan itu sama-sama merindukan tetes-tetes air.

Keluar dari kebun, Mang Kandi merasakan panas menyengat, tapi anak anjing yang mengikutinya acuh tak acuh saja. Lari-lari ke sana kemari. Sebentar-sebentar, meninggalkan diri di belakang. Sebentar-sebentar, jauh mendahului. Menciumi segala yang menarik perhatiannya. Sambil mempermainkan ekornya dan menatap kepada Mang Kandi. Seperti ingin berkata-kata. Meminta izin untuk ikut serta.

“Akan kucoba pelihara. Ya, hitung-hitung menolong. Kasihan jika tak ada yang mengurus. Nanti mati telantar,” bisik Mang Kandi dalam hati.

Anak anjing itu seperti mafhum. Ia menggonggong kecil. Seperti mengucapkan terima kasih. Beberapa kali berputar mengelilingi kaki Mang Kandi. Tapi, tak mencoba menjilat-jilat lagi. Takut diusir seperti tadi.

Tiba di rumah, Mang Kandi menjatuhkan badan ke atas emper balai-balai. Kemudian, berteriak kepada istrinya yang sedang sibuk di dapur:

“Icih, masih ada air minum? Aku haus!”

“Air bekal tadi habis?” Bi Icih muncul. Membawa nyiru berisi beras yang akan ditampi. “Ih… ih… Ada anak anjing… si… si!”

“Biarkan…akan kupelihara… Mana air minum?”

“Anak anjing dari mana?”

“Dari kebun. Kunamai Si Timu. Lumayan, untuk mengusir musang pencuri ayam yang banyak berkeliaran di sini.”

“Anjing itu najis….” Bi Icih melangkah ke belakang. Mengambil air minum.

“Najis kalau dielus-elus. Asal jangan kena air liurnya saja,” kata Mang Kandi.

Bi Icih datang lagi. Mengangsurkan air minum. Mang Kandi meneguknya. Kemudian, mencurahkan sisanya ke atas tempurung. Diberikan kepada Si Timu, yang segera meminumnya penuh nafsu.

“Nah, nanti kamu tidur di kolong emper ini, ya, tapi harus selalu siaga,” kata Mang Kandi.

Si Timu menggonggong kecil. Menjawab omongan Mang Kandi.

Hingga dua tahun kemudian, tubuh Si Timu sehat, besar, dan kekar. Tak kalah oleh tampilan anjing herder, yang suka dipamerkan dalam acara tivi. Lincah dan trengginas. Cepat menggonggong jika ada sesuatu yang mencurigakannya.

Pohon jambu di sudut halaman rumah Mang Kandi tak pernah lagi diranjah anak-anak. Buahnya yang masih muda, sempat matang menjadi buah-buah besar dan masak. Banyak yang berserakan di tanah, sisa gigitan kelelawar. Malah, anak-anak sering menemukan buah jambu ranum tergeletak. Belum sempat dibawa terbang kalong yang kabur ketakutan digonggong Si Timu.

Sering mengikuti Mang Kandi ke kebun. Atau Bi Icih ke sawah. Malah, jika Mang Kandi ke masjid, juga suka ikut. Tapi suka diusir, disuruh pulang. Malu sama orang lain.

Akhir-akhir ini, Si Timu suka berulah jika mendengar suara azan. Ia suka menggonggong keras dan panjang. Bagai ingin menyaingi suara speaker. Gonggongannya itu bersamaan dengan suara muazin berhenti dulu, akan mengucapkan kalimat lanjutan. Mang Kandi sangat heran. Tatkala merespons suara azan, Si Timu tampak sangat khusyuk. Menghadap ke arah suara. Jika azan selesai, beberapa jenak Si Timu duduk tegak. Bagai ikut mengucapkan doa setelah azan.

Beberapa orang yang menyaksikan tingkah Si Timu ketika mendengar azan berseloroh. Mungkin, Si Timu titisan Kitmir, anjing yang setia menyertai tujuh pemuda Ashabul Kahfi.

“Wuah, titisan anjing Ashabul Kahfi apa!”

Mang Kandi suka membentak orang yang berseloroh itu. Namun, kadang-kadang, ingin juga mengiyakan.

Apalagi, menyaksikan kelakuan Si Timu sehari-hari. Beda dengan anjing-anjing lain. Makan tidak sembarangan. Hanya mau memakan ransum yang diberikan Mang Kandi atau Bi Icih saja. Tak pernah memakan bangkai temuan atau menangkap hewan lain. Kepada musang yang akan mencuri ayam juga, cuma menggonggong saja. Menakut-nakuti. Tak pernah mengejar atau menangkapnya.

“Aneh, anjing tahu halal-haram.”

Mang Kandi sering menepis pikiran tak keruan soal Si Timu. Apalagi, membanding-bandingkannya dengan Kitmir, anjing Ashabul Kahfi yang suci itu. Jauh sekali.

“Memang suka khusyuk menyimak azan karena sering mendengar saja. Dan, ia menyukai iramanya. Apalagi, jika yang azan Ceng Imron, santri Kudang, kalau kebetulan pulang kampung. Bahkan, suara azan Aki Amud, yang tak merdu dan kurang mantap ucapannya, tetap disimak khusyuk oleh Si Timu.”

Soal Si Timu suka menggonggong pan jang mengikuti suara azan, oleh seseorang, pernah diadukan kepada Ustaz Burhan. Dianggap mengganggu dan melecehkan. Ustaz Burhan menjawab sambil tertawa-tawa: “Biarlah. Anggap saja menyindir kita sendiri, yang suka mengabaikan suara azan. Padahal, suara azan bergaung dari mana-mana.”

Pendapat Ustaz Burhan, disetujui Mama Ajengan Babakan Cibantar:

“Biarlah,” kata Mama kepada pengadu. “Anggap saja pengganti suara hiruk-pikuk yang tak pernah berhenti selama terdengar azan. Diganti dengan khusyuknya Si Timu.”

Namun, selama sepekan terakhir, Si Timu murung. Lesu tak bersemangat pada waktu-waktu seharusnya azan. Karena, sekarang suara azan tak boleh lagi terdengar keras dan jauh ke luar. Cukup di dalam masjid saja. Begitu peraturan pemerintah.

Si Timu resah gelisah setiap waktu azan subuh, lohor, magrib dan isya, yang kini tak terdengar lagi. Ia sering berputar-putar tak keruan sambil mengeluarkan suara nelangsa. Badannya mengurus. Geraknya lamban. Gonggongannya lenyap.

“Ah Timu… Timu….. Kau mabuk kepayang suara azan dari speaker,” Mang Kandi geleng-geleng kepala, ketika suatu pagi menemukan jasad Si Timu membangkai di kolong emper.

Bi Icih rebak air mata. Penuh duka menatap piarannya sudah terbujur kaku.

“Mari Icih, bantu menggali lubang di belakang. Cepat kita kubur Si Timu sebelum dikerubungi lalat.” Mang Kandi yang sudah membawa pacul dan besi penggali mengajak istrinya yang masih termangu-mangu menahan isak. ■

 

Usep Romli HM. Lebih dikenal sebagai sastrawan Sunda. Pemenang Penghargaan Rancage 2010 untuk sastra berkat kumpulan cerpen berjudul Sanggeus Umur Tunggang Gunung, dan Hadiah Rancage terkait kontribusi terhadap bahasa dan sastra Sunda. Mendapat piagam Asrul Sani untuk kesetiaan menulis dari NU Online (2014). Usep Romli HM lahir di Garut, Jawa Barat, pada 16 April 1949. Dia mengelola Pesantren Budaya Raksa Sarakan, yang bergerak di bidang pendidikan, pengayoman anak asuh, dan perbaikan lingkungan.