Cerpen Komala Sutha (Medan Pos, 15 Desember 2019)

Di Tepi Rindu ilustrasi Istimewa
Di Tepi Rindu ilustrasi Istimewa

“Ternyata kamu tengah bersandiwara! Kamu mau menikamku dari belakang, kan? Pintar sekali kamu!” Arya berapi-api. Matanya penuh bara. Dini mendesah pelan. Hatinya mengalir seperti air tenang. Tak menanggapi amarah cowok yang berada di sampingnya. Lalu, beberapa kali ia menelan ludah. Mencoba menetralisir suara. Berusaha menenggelamkan ketenangan pada Arya dengan cara dirinya tetap bersikap seolah tak ada apa-apa dan tak ingin ada apa-apa.

“Sandiwara apa… maksudmu?” Dini menekan suaranya setenang mungkin. Matanya yang bening melirik Arya yang sedikit-sedikit mendengus.

“Sandiwara cinta!” ujar Arya keras. Dua orang yang tengah duduk di bangku yang tak jauh, menoleh. “Emang sandiwara radio!”

“Kenapa kamu menyimpulkan aku bersandiwara?” suara Dini tetap lembut, tapi tak mampu menyejukkan hati Arya yang kini makin membara. Dengan penuh kekesalan, Arya memungut kerikil kecil di atas rumput yang terinjak sepatunya, lalu melemparkan, tepat di atas kolam yang airnya tak jernih. Plung!!!

“Sudahlah!” Arya berdiri. “Aku tak mau menjelaskannya! Dan kamu pun tak perlu minta penjelasan! Dan perlu kamu ingat, jangan sampai aku benar-benar membencimu!”

Dengan gusar, Arya melangkahkan kaki lebar-lebar. Angin siang berhembus dengan lembut. Jam manis yang melingkar di pergelangan tangan Dini menunjukkan pukul empatbelas. Tak lebih dan tak kurang.

Dini masih duduk di atas bangku, di taman yang jarang pengunjungnya. Disusutnya sedikit keringat yang mengucur dari dahinya. Lalu memperhatikan punggung Arya yang kian menjauh, entah mau pergi kemana.

Dihelanya napas sesaat. Menengadahkan kepala ke atas. Menatap hari yang tak begitu panas. Siang yang cukup ramah. Semilir angin pun tak juga berhenti. Dia tak habis mengerti dengan cowok itu. Beberapa hari terakhir bertingkah aneh. Selalu marah-marah di hadapan Dini dengan berbagai alasan. Dini yang menduakan cinta, Dini yang main api dengan cowok lain dan sekarang… Arya menuduhnya telah bersandiwara, punya niat buruk dan mau menikam dari belakang. Dini tak merasa satu pun dengan yang dituduhkan Arya. Kenapa Arya menuduh sejauh itu? Berkali-kali Dini dihujam pertanyaan.

Selama seminggu, Arya tak pernah menemui Dini lagi di taman. Tak ada sms apalagi telepon. Walau diterpa rindu, Dini menahan untuk tak mendahului menelepon ataupun sekedar mengirimkan sebaris sms.

Dua minggu, tiga minggu, empat minggu, berminggu-minggu, Dini tak mendengar kabarnya. Tak seperti sebelumnya. Sebelumnya, sebelum Arya sering marah-marah, tak pernah seharipun mereka putus komunikasi. Sms, telepon bahkan ketemu di taman kota ini. Bercanda penuh suka. Ah, begitu indah bila Dini ingat itu. Dini tak bisa menebak, akankah Arya kembali? Kembali dengan candanya, dengan cintanya dan ungkapan sayangnya.

Namun, Dini akan tetap menunggunya di sini. Menanti Arya. Dini yakin, Arya akan datang ke sini, ke taman ini, walaupun Dini tak bisa memastikan kapan.

“Hei!” seseorang mengagetkan Dini. “Melamun aja!”

Dini mesem. “Belum pulang?”

Si penjual aqua menggeleng. “Kak Dini… aku liat Kak Arya barusan.”

“O ya?” Dini terperanjat. Sudah dua bulan Dini tak melihat cowok itu. Entah dimana. Entah bagaimana perasaan Arya saat ini padanya. Apakah masih menuduh semua yang dituduhkannya?

“Lagi di minimarket! Sama…”

“Sama siapa?” buru Dini tak sabar. Kerinduannya meluap. Walaubagaimanapun, sampai detik ini, ia masih menyayangi Arya. Ah, Arya… gumam Dini dalam hatinya.

“Tuh!” ekor mata si penjual aqua berusia limabelas tahun itu, melirik ke sebrang jalan. Sertamerta Dini pun mengalihkan perhatiannya. Menatapa Arya yang….

Mata Dini terasa perih. Arya menghampirinya sambil menggamit mesra lengan cewek cantik berlesung pipit.

“Hai, Din…” senyum Arya terlihat dipaksakan. “Kenalin, ini Tamara, cewek aku…”

Dini terperangah. Ditatapnya mata Arya. Mata yang dilihat terakhir penuh api kemarahan, kini berubah. Penuh cinta. Cinta yang bukan untuk Dini.

“Cantik ya, cewek aku, Din?”

Tanpa menunggu hitungan detik, Dini berlari, meninggalkan Arya yang tertawa penuh kemenangan. ***

 

Bandung, 24 November 2019

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam majalah dan koran  di antaranya Femina, Hadila, Potret, majalahAnak Cerdas,  Beat Chord Music, Mayara, Manglé, SundaMidang, Kandaga, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Tribun Kaltim, Denpasar Post, Lampung Post, SoloPos, Kedaulatan Rakyat, Merapi, Padang Ekspres, Malang Post, Metrans, Galura, Kabar Priangan, Radar Tasik, Sunda Urang, Warta Sunda, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, dan tulisan lainnya tergabung dalam beberapa buku solo dan puluhan buku antologi cerpen serta puisi.