Cerpen B. B. Soegiono (Koran Tempo, 14-15 Desember 2019)

Adam Willy dan Sebuah Luka di Tubuh Keluarganya ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo (2).jpg
Adam Willy dan Sebuah Luka di Tubuh Keluarganya ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

35 tahun // daku terlantar // mengumpat rindu dalam gorong-gorong bangunan // atap rumah / menyeberang pulau jauh // menembus dinding kapal terakhir kita // siapa anak kecil bersembunyi di kamarmu? // pegang bunga teluki / kering / di kantong bajunya // memburu mimpi kalap // menatap genting bolong / dan wanita menangis / tanpa suami // [1].

Apa kau masih ingat dengan puisi yang kau tulis tanpa judul; di atas selembar kertas warna kayu-kemudian diselipkan di bawah laci tua di kamarmu? Hingga setelah sekian lama, seorang cleaning service menemukan dan memberikannya kepadaku. Jika diizinkan, aku juga masih ingin bertanya: Siapa nyawa dalam kertas yang kau kotori dengan abjad berdarah itu? Luka di dalamnya tampak begitu bengkak, dan tak bisa kubayangkan jika semua menimpaku.

“Aku tidak ingat!”

“Apakah untuk anak dan istrimu?”

“Aku tidak ingat!”

Setiap pertanyaan kau benturkan dengan jawaban yang serupa. Hingga aku menyerah, dan hanya menyuguhkan sepiring roti dan segelas susu hangat yang diletakkan di atas meja; di sampingmu. Kau menunduk tanpa sepatah kata pun keluar dari tenggorokan maupun mulut. Setelah satu jam terdiam, tiba-tiba angin mendorong pintu belakang secara perlahan. Sorot cahaya dari pintu yang terbuka sekitar tiga puluh senti; menyapa, seolah-olah mengira kau tertidur dan ingin membangunkannya.

Baca juga: Salju Turun Lebih Awal di Tempat Ini – Cerpen Umi Salamah (Koran Tempo, 07-08 Desember 2019)

Ketika kau kembali menatap wajahku, kulihat dua bola mata berkekaca dan gelembungan embun jatuh dari pipi yang lembap. Mungkin kau mengingat kenangan semasa muda, sewaktu masih menjabat sebagai wartawan dan redaktur budaya di berbagai surat kabar, termasuk di Harian Rakyat. Atau bahkan, ketika masuk dalam lingkar ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) sekitar tahun 1962-1965, sebelum kembali pada dunia pertamamu-yang kau dalami di Berlin.

“Adam, bulan Mei ini kau harus ke Vietnam!”

“Kenapa begitu?”

“Kau harus meliput perang yang sedang terjadi di sana.”

Pada bulan yang telah ditentukan, kau benar-benar harus pergi meninggalkan tanah kelahiran, beserta anak dan istrimu. Namun, sebelum berangkat, kau terlebih dulu memberikan mereka hadiah, berupa kalung emas kembar bermata nilam, dengan uang sesisa gaji bulanan yang kau tabung di dalam saku kemeja warna hitam; terlipat di lemari pojok ruang tamu, selama setahun. Kemeja itu juga kau gunakan sebagai baju terakhir yang bisa istrimu lihat di hari istimewa ulang tahun pernikahan kalian, sebelum berangkat ke negara yang dijuluki Vietnam rose [2] untuk meliput situasi Perang Indocina Kedua yang sedang berlangsung.

Baca juga: Tulisan di Pintu Kamar Mandi Nomor Dua – Cerpen Sukron Hadi (Koran Tempo, 30 November-01 Desember 2019)

Mora tiba-tiba mengejar dari dalam rumah, sambil berteriak, “Ayah!” mendatangimu yang telah hampir hilang ditelan ujung gang. Kau menoleh ke arah belakang, menunggunya yang berlari sambil melepas tangis. Air mata berguguran dari ujung dagu. Kau katakan kepadanya, “Mora tak boleh menangis! Ayah hanya pergi sebentar untuk bekerja. Agar saat ulang tahunmu nanti, ayah bisa membelikan boneka yang sangattttt…….besarrrrr! Mora mau?” ia mengangguk kuda. Terpaksa. Kedua bola matanya tak berani menatap. Ingin menolak. “Jika nanti ayah sudah pulang. Kira-kira Mora mau apa? Mau ke mana? Katakan! Pasti ayah turuti!” pintamu, sambil menjinjit sepasang alis, seolah-olah ingin menelannya ke dalam muara tatapanmu. “Mora tidak mau apa-apa dan tidak mau ke mana-mana. Jika suatu saat ayah benar-benar pulang. Mora hanya ingin melihat ayah dan ibu kembali menemani tidur malam Mora dan memeluk Mora. Mora takut kalau cuma berdua sama ibu, kan kata ayah, dulu sebelum negara ini merdeka, para penjajah sering menculik anak kecil dan istri orang untuk dijadikan budak dan disiksa setiap hari. Mora takut ayah! Takut ketika Mora dan ibu tidur ada yang menculik!”

Kau jawab semua keluh kesah anakmu yang risau dalam dekap kedua lengan. “Tidak ada penculik! Sekarang sudah merdeka!” tegasmu, sambil sejenak menidurkan bibir di keningnya. Setelah itu, kau kembali berjalan kaki. Menempuh jalan panjang, menuju Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Memakan waktu yang tidak sebentar, karena jembatan itu berada di Sumatera Selatan, sedang kau harus berjalan dari Sumatera Utara, berbekal harap di depan ujung gang ada transportasi umum yang bisa mengantar.

***

Baca juga: Kisah Ganjil tentang Pria Pemadam Kebakaran – Cerpen Tommy Duang (Koran Tempo, 23-24 November 2019)

Langit tiba-tiba hitam pekat, mengantarmu memuja dewi malam [3] di atas tanah Peking. Di sanalah kau bertemu dan bergabung dengan kawan-kawan dari Indonesia yang sedang menghadiri Hari Nasional Tiongkok pada 1 Oktober 1965. Sebelum siaran berita meledak. Melolong seperti jeritan anjing yang tergorok lehernya di tengah malam. Tanah airmu berduka, sebuah peristiwa berdarah menyantapi seluruh rakyat, karena perbedaan arus dan ideologi politik. Buruh, tukang becak, kuli batu, pedagang pasar, musnah! Tersantap peristiwa itu tanpa sisa. Semua seakan menjadi hal yang sangat mustahil di pikiranmu, mengira yang terjadi hanyalah mimpi paling buruk yang kau alami sepanjang usia. Bahkan paspor milikmu dan kawan-kawan yang lain dirampas penguasa baru di tanah yang kau titipkan kepada anak dan istrimu. Kau terjebak bersama mereka di negeri orang.

Saat itulah kau benar-benar kecewa dengan orang-orang sekitar. Memilih menjadi orang yang sangat tertutup. Penyendiri. Bahkan sering ketika jam 00.00 malam, teman samping kamarmu mendengar kau berteriak dan memukul tembok berulang-ulang dengan sangat keras. Ketika seorang datang mendobrak pintu kamarmu. Pada saat itu juga kedua tangan telah berbungkus darah, berlulur air mata yang banjir dari kedua pipi yang keriput, dirundung rasa bersalah atas perpisahan tanpa perceraian. Kau merasa sangat hina dan keji, menelantarkan anak dan istrimu. Yang tak pernah kau bayangkan sewaktu meminta pamit di teras depan rumah. Sebelum pada akhirnya, waktu yang menghakimi perceraian kalian.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Lima tahun kemudian, kau memutuskan keluar dari Tiongkok, sempat beberapa lama kau tinggal di Moskow, kemudian pindah ke Jerman, lalu menetap di Amsterdam sejak tahun 1988. Aku tak bisa bayangkan ketika penderitaan dan semua ketersiksaan menggerogoti kehidupanmu selama bertahun-tahun. Sampai tak mau menerima dan menemui orang-orang yang datang. Mata yang bening menjadi keruh, warna-warna menyala di kedua bola matamu rusak, kecuali ingatan yang tetap tajam menembus dinding laut perseberang, tanpa sebuah kapal sampai di dermaga dan di rumah.

Setelah dua belas tahun kau tinggal di Amsterdam, seorang perempuan cantik bersama suaminya mengetuk pintu kamarmu. Kau tidak membukanya, termasuk aku yang berada di dapur juga tidak berani membukakan pintu untuk mereka, tanpa seizinmu. Namun tetap! Perempuan itu terus-menerus memanggil, sambil menyebutkan nama:

“Permisi, saya Mora. Apakah ada orang di dalam?”

Baca juga: Selamat Pagi Nona Magpie – Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 November 2019)

Mendengar namanya, kau seakan-akan ingin terjun dari ranjang kamar. Membelah kedua tirai ke tiap ujung sisi pintu. Kau geretak kedua kaki tuamu ke sumber suara perempuan yang memanggil dari luar. Kau terkejut, kuyu, lalu pingsan ke dekap sepasang suami-istri yang tak kukenali. Perempuan itu menjelaskan tentang jati dirinya, dari mana ia berasal, dan ada maksud apa mencarimu-aku pun tak mengira bahwa ia adalah…. Dan memintaku merawat dan membawamu pulang ke Tanah Airnya.

***

Tepat pukul 02.00 WIB dinihari, kapal feri mengantar ke tepi dermaga Pelabuhan Belawan, kemudian ke Terminal Peti Kemas, menuju gang kecil di depan rumah yang telah kau tinggalkan selama tiga puluh lima tahun. Raut wajahnya meledak bahagia, menatapmu meneguk segelas air putih yang kau ambil dari meja ruang tamu. Ia berbisik lirih, kemudian membawa ke hutan di belakang sebuah rumah. Menuntunmu, sembari menghubungi perempuan yang tak bisa aku tahu siapa. Yang kudengar dari percakapan terakhirnya: Ibu, Mora sudah bersama ayah. Ibu sudahi dulu mencari kayu, kita bertemu di pohon beringin tempat biasa kita bercerita tentang ayah. Lalu, ia memutus sambungan itu, dan terus melangkah ke arah utara, seperti yang telah disepakati di dalam telepon.

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

Ia mengawasimu dari arah belakang. Namun setelah melewati rerimbun semak yang begitu tebal, justru ia tidak terlihat lagi. Tiba-tiba menghilang. Kau yang tidak menyadari kepergiannya, tetap mengira bahwa ia masih membuntutimu. Kau semakin dekat dengan pohon beringin besar yang tadi ia maksud. Sementara dari arah utara, perempuan tua seperti yang ada di dalam foto KTP (kartu tanda penduduk) yang sempat kulihat di atas sofa; bernama Halyani, berjalan, sambil membawa seikat kayu. Tepat di sisi kiri batang pohon yang sangat besar, ia berhenti dan beristirahat. Sedang kau diam baliknya. Kalian berdua seakan-akan saling menunggu sesuatu. Sementara aku hanya bisa mengawasi dari jauh di balik semak.

Satu jam berlalu. Tetap tidak ada yang datang ke bawah naung pohon tempat kalian bersandar, menikmati pundak-pundak akar yang menjorok keluar tanah. Lelah pun usai, peluh pun kering. Kalian kembali melangkah, meninggalkan persandaran ke tujuan masing-masing. Sempat sejenak saling menatap. Hanya, di antara kalian tidak ada yang berani untuk menyapa. Dengan sekujur tubuh yang penuh keriput dan kulit yang terlipat-lipat melebihi tulang-membutakan mata dan ingatan kalian.

Baca juga: Kutuk Banaspati; Empat Cerita pada Satu Malam – Cerpen Muhammad Nanda Fauzan (Koran Tempo, 12-13 Oktober 2019)

Halyani berjalan cukup jauh. Dan persis seperti kejadian sebelumnya; ia menghilang di balik semak tempat perempuan tadi lenyap. Anehnya, di sekitar tanah semak-semak itu begitu banyak bercak darah dan masih basah. Sedang kau yang tidak mengetahui dua kejadiannya, tetap saja berjalan ke dalam hutan. Mengeluarkan sebuah kertas dari dalam kantong celana kananmu. Kertas lusuh, berisi catatan puisi yang kau tulis dari Amsterdam. Yang seharusnya sekarang kau bacakan di hadapan anak dan istrimu, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kalian yang ke-35 tahun.

Di balik halaman yang berisi puisi, kau tulis:

DICARI! ORANG HILANG

Jika ada yang mengetahui keberadaan sepasang perempuan (anak dan ibunya) bernama Mora dan Halyani, segera menghubungi saya ke alamat ini!

Baca juga: Dari Tour de France hingga Hemingway – Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 05-06 Oktober 2019)

Lalu meminta pisau yang masih amis di tanganku. Untuk ditancapkan ke batang pohon sebagai penyanggah kertas puisimu. Sejak saat itulah, kau tak pernah tahu ke mana hilangnya anak dan istrimu. Jika pun ada yang membunuh, siapa pelakunya? Di mana mayatnya dikuburkan? Sering kau bertanya-tanya pada dirimu sendiri. Dan kau baru menemukan jawabannya sekarang, setelah selesai membaca kalimat terakhir ini: aku pembunuh mereka.

 

Bali, 2019

 

Catatan:

[1] Puisi penulis (refleksi dari kehidupan nyata tokoh).

[2] Vietnam rose (mawar Vietnam), julukan nama penyakit kelamin akibat adanya tentara musuh yang menyalurkan kebutuhan biologis kepada perempuan-perempuan Vietnam secara tidak terkendali sewaktu perang terjadi.

[3] Dewi Malam adalah julukan pada bulan, karena keindahan sinarnya seperti cantiknya seorang dewi yang terpancar pada waktu malam hari.

 

B. B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, Jawa Timur, 11 Oktober 1996. Kini mengembara di Singaraja, Bali—menjadi seorang penyair. Ia juga menulis cerpen dan esai. Tulisan-tulisannya pernah termuat di berbagai media massa Indonesia: cetak maupun elektronik. Dia merupakan salah satu pendiri Jaringan Sosial Budaya, sebuah platform yang mengintegrasi gerakan sosial, kesusastraan, tempat berproses kreatif, tempat berkesenian (tradisional dan kontemporer). Juga menerbitkan buletin setiap bulan bersama “Lentera Bayuangga”, yang berisikan tulisan tentang sosial-budaya.