Cerpen Radja Sinaga (Analisa, 11 Desember 2019)

Mononoke ilustrasi Alwie - Analisa (1)
Mononoke ilustrasi Alwie/Analisa 

Aku ditemukan Tokega ketika musim gugur berlangsung. Pohon-pohon menanggalkan daunnya amat pasrah. Udara menjadi lebih dingin. Dan daun-daun yang tanggal di musim ini, harus lebih tabah untuk mengakhiri hidupnya.

Ia menemukanku di sebuah jalan menuju rumahnya. Yang hanya sekitar seratus meter bila ingin ke taman. Membujur lemas dengan luka cakaran di bagian kiriku. Bulu-bulu hitamku penuh dengan darah yang mengering.

Saat musim gugur di kota ini, Kyoto, orang-orang akan pergi ke berbagai tempat. Melihat lamat-lamat detik-detik ranggasnya daun-daun. Namun Tokega dan istrinya yang tengah hamil tua lebih memilih merawatku. Dan mempersiapkan segala keperluan kelahiran.

Mulanya, Tokega dan istrinya terkejut di awal kesadaranku. Ketika kukatakan bahwa aku bukanlah seekor kucing dan seharusnya mereka tak memungutku di jalan. Begitu berbahaya untuk seorang manusia berinteraksi langsung denganku. Terlebih lagi dari dulu aku tak pernah percaya kepada manusia.

Di hari pertama ketika tubuhku telah membaik. Tokega menyuruhku untuk menjaga istrinya. Di saat ia hendak pergi bekerja. Aku pikir ia gila. Berbicara kepadaku seorang mononoke dan lebih-lebih mengaturku. Mereka tak tahu bahwa bisa saja aku memakan mereka. Memakan untuk memulihkan kekuatanku.

Istrinya, di waktu itu, begitu ketakutan. Istrinya lebih banyak terdiam di kamar. Sekali-sekali ia keluar, mencuri pandang dan melihatku terbaring santai di bawah pohon yang terletak di taman pribadi sebelah kanan rumah ini. Tetapi aku memilih untuk memejamkan mataku. Aku tak ingin ketakutannya membuncah. Ketakutan itu juga membuat dirinya tak memasak untuk makan malam nanti.

Mereka memperlakukanku layaknya manusia. Memberikanku tempat yang setara saat mereka makan. Memandikanku sehari sekali di saat Tokega pulang kerja. Memberikanku satu kamar yang dulunya dijadikan gudang. Bahkan istrinya sempat membuat pakaian untukku. Katanya, ia membuatnya karena melihat sisa bahan jahitannya masih bersisa dari membuat pakaian anaknya. Namun kukatakan: mononoke mana yang memakai pakaian?

“Apa yang membuatmu terluka parah waktu itu?” tanya Tokega di suatu malam sehabis makan.

Aku terdiam sejenak, hingga semilir angin di musim gugur lewat di tengah-tengah kekosongan kami membuatku berkata, namun tak benar-benar sempurna. Kukatakan kepadanya: aku bertarung dengan salah satu mononoke sepertiku. Mononoke yang dapat bertransformasi menjadi manusia. Dan bila bertarung akan menampakkan wujudnya; serigala. Untuk asal mengapa pertarungan itu terjadi, aku juga tak mengingatnya, sambungku.

“Lalu apakah kau mengalahkannya?”

Aku hanya memandang wajahnya. Lalu kembali menatap ke arah langit-langit rumah. Seraya Tokega meminta maaf. Suasana menjadi hening. Dan itu semua salahku karena tak dapat mengatur pola pembicaraan ini.

“Apa kalian tak takut kepadaku?” tanyaku kemudian untuk membalas rasa bersalah itu.

Tokega dan istrinya hanya tersenyum. Lalu mereka mengelus-elus punggungku. “Aku suka bulumu,” kata istri Tokega. “Begitu hitam,” sambung Tokega.

***

“Sudah berapa lama kau hidup Kara?” tanya istri Tokega kepadaku di suatu petang hari dan di tempat yang sama sewaktu tubuhku membaik.

“Kara?” tanyaku heran.

“Ah maaf, kemarin malam kami berdebat dengan Tokega untuk nama anak kami. Aku mengatakan bahwa Kara tampaknya bagus. Namun ia menolaknya. Maaf, aku terlalu bersemangat untuk hari kelahirannya.”

“Aku tak pernah mempunyai hitungan pasti telah berapa lama aku hidup, itu tak bermanfaat. Tapi aku telah hidup ratusan tahun, ya ratusan tahun, mungkin.”

“Selama ratusan tahun itu, apakah kau hidup sendiri?”

“Kami mononoke tak seperti manusia yang harus hidup berdampingan. Kami tak selemah kalian. Kesendirian bukanlah sesuatu yang harus disingkirkan dari hidup kami.”

Istri Tokega kemudian berkelakar kecil. Dan aku tahu kelakar itu dibuat-buatnya semata untuk mengurangi kecanggungannya atas pertanyaan barusan.

Dan di malam harinya, sehabis makan malam, Tokega mengajakku keluar rumah.

“Hei, tak baik meninggalkan istrimu sendirian dalam keadaan hamil tuanya,” kataku kepadanya. Tapi Tokega begitu yakin dan bersikuku.

“Ini tak akan lama, tenanglah, lagi pula dia mengizinkan, ayo!

Di bawah remang-remang lampu jalanan. Sekitar lima belas menit berjalan kaki. Tokega memberhentikan langkahnya. Di sini, pertama kali aku menemukanmu, katanya. Aku keheranan. Ia mengajakku keluar hanya untuk ini? Ah sudahlah, lebih baik kita pulang. Udara di luar semakin dingin, kataku.

***

Aku harus mengakuinya. Selama ratusan tahun, diriku hanya mengenal bertarung dengan sesama mononoke dan juga memakan manusia untuk menambah kekuatanku. Aku melakukannya semata untuk mengisi kekosongan di hidupku. Yah, setidaknya dengan begitu aku bisa melanjutkan hidup, meski yang ada hanya kehampaan.

Selama satu setengah bulan, kurang lebih. Aku bersama Tokega dan istrinya. Dalam kurun waktu itu, aku merasa bahwa diriku bukan lagi mononoke. Dan juga bukanlah seekor kucing. Mungkin, ini bisa dikatakan sebagai kehampaan dan ini lebih mengerikan sebelum mereka menemukanku.

Aku terus mengulang-ulang peristiwa itu di rumah sakit. Menjaga diriku tetap terjaga dengan bekas luka yang masih kubiarkan menganga. Kulihat Tokega terduduk lemas di lantai. Setelah dokter mengumumkan istrinya dan kandungan di dalamnya tak dapat diselamatkan.

Dunia menjadi hitam baginya. Tokega menangis sepecah-pecahnya. Tak ada yang menenangkannya. Ibunya telah lama tanggal saat ia dan istrinya belum genap menikah setahun. Ia juga tak tahu siapa ayahnya. Di kota ini, ia tak memiliki keluarga.

Sekelebat kemudian gawainya berdering. Suara paraunya dan sesekali terbata-bata menjawab pertanyaan dari gawai itu. Aku tak tahu siapa yang meneleponnya. Tetapi seketika tangisnya yang mulai mereda kembali bergejolak setelah ia mengatakan kondisi istrinya.

Aku harus menenangkannya. Tapi apakah aku bisa? Apakah ia masih menerimaku? Setelah semua ini: Ichiro, mononoke berwujud serigala, menemukan tempatku. Ketika Tokega mengajak diriku keluar untuk memperlihatkan tempat ia menemukanku. Secercah bayangan menabrakku dengan keras dan cepat. Kupaksakan mataku yang sayup melihat untuk memperjelas bayangan apa yang menabrakku.

“Memang benar-benar merepotkan bukan, teman. Tak kuduga kau hidup bersama manusia. Mengikuti jejakmu hingga membawaku kemari. Tapi sia-sia aku menyiksa wanita hamil itu hanya untuk mendapatkan jawaban di mana dirimu. Jika rupanya kau berada di sini.”

Tokega bangkit dan berlari meninggalkanku setelah Ichiro membual. Aku meneriakinya. Tapi ia abai. Dan terus berlari. Hingga tubuhnya tak kelihatan lagi.

Sekarang, aku tak memiliki waktu untuk mengejar Tokega. Di depanku harus kuselesaikan masa lalu yang masih membayangiku. Tubuhku membesar. Bulu-bulu hitamku menyala bak api dalam tungku besar dan terus disirami minyak.

***

Lantas setelah itu, bagaimana menurutmu wahai pembaca? Apakah pantas aku menenangkannya? Tentu tidak, bukan? Hingga kuputuskan, lebih baik, masuk ke dalam kamar istrinya yang telah ditinggalkan dokter tersebut. Aku menggunakan kekuatanku untuk menyembunyikan diriku darinya sewaktu aku lewat di depannyacara yang sama kupakai kepada orang-orang yang ada di rumah sakit ini. Kulihat tubuh istrinya seperti batu. Lantas aku naik ke atas perutnya. Kuperhatikan wajahnya mulai pucat.

Sebagai mononoke, yang dapat memberikan roh. Barangkali, ini yang pantas. Sekaligus menebus semua kesalahanku. Maka aku melangkah maju. Tepat di atas dadanya yang tak lagi berdegup. Sekelebat bayangan tampak. Pintu terbuka. Dan kulihat Tokega hendak masuk. Aku mundur ke posisi semula. Dan mempertahankan kekuatanku.

Dengan sendu dan tangisan, ia mencium kening istrinya. Lantas ia pergi. Menghilang di balik pintu. Namun ia meninggalkan air matanya di wajah istrinya. Kemudian aku maju tepat di atas dadanya. Aku akan memberikan roh ini. Bulu-buluku yang hitam legam menyala seperti kobaran api. Lampu-lampu kamar operasi berkedip-kedip. Beberapa peralatan medis yang dingin berjatuhan. Tempat tidur yang kunaiki bergetar dan rodanya berdecit.

Namun di saat terakhir tinggal memasuki tubuhnya aku berpikir apakah ini yang diperlukan? Bila pun kuberikan kehidupanku kepadanya, itu hanya kehampaan. Memang tubuhnya masih sama, tapi di dalamnya bukan lagi dirinya. Sebagai manusia yang terlahir lemah, mana mungkin bisa hidup dengan mencintai kekosongan. Maka aku langkahkan tubuhku menuju wajahnya. Lantas kujilat wajahnya, layaknya seekor kucing. Dan kuurungkan niatku. Barangkali di tahun yang mendatang ia temukan wanita seperti istrinya, walau mungkin itu mustahil, sebab dari semuanya: memulai adalah langkah yang sulit. Atau bisa saja di tahun yang mendatang, ia habiskan hidupnya sampai mati dengan sendiri, sebab cinta itu kekal dan tak berwujud.

Dan aku keluar dari rumah sakit itu. Menjauhi Tokega dan Kyoto. Berjalan tanpa tujuan. Dengan luka yang gemerlap. Mataku makin sayup. Namun sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang, kuingatkan: jangan pernah membawa pulang ku­cing hitam dengan luka cakaran di sebelah kiri!

 

Note:

Mononoke: Dapat dikatakan roh, monster, hantu, setan. Atau juga spiritual dalam sastra klasik Jepang dan agama rakyat.