Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Desember 2019)

Benny Arnas - Lakonhidup dot Com Fix.jpg

Sebagaimana para pengarang yang kerap tak dapat membedakan tenggat (dateline) dan ujung-tenggat (deadline) atau penyair yang semaunya saja menerakan kata “sayang” atau “kasih” karena menurutnya “cinta” terlalu umum digunakan—seakan-akan kata-kata itu adalah tiga saudara kembar yang tak memiliki keistimewaan masing-masing, ketika membincangkan kreativitas berbasis potensi daerah, hal yang sama pun kerap terjadi: kita bisa kapan saja mengatakan “lokalitas” dan menggantinya dengan “kearifan lokal” dua menit kemudian dan merevisinya lagi dengan “local genuines” beberapa detik ke depan—demi kepentingan variasi bunyi semata!

Lokalitas adalah sesuatu yang terus diproduksi suatu daerah dalam jangka waktu tertentu hingga lahirnya sebuah tatanan hidup. Lokalitas hadir dan menyaru dalam banyak sendi kehidupan: dongeng, cara makan, bentuk rumah, pertanian dan perkebunan, watak masyarakat, mata pencaharian, kuliner, istilah, dan lain-lain. Cerita tentang dewi-dewi yang bersemayam di Gua Napalicin, rumah panggung yang pernah lestari, sebagian masyarakat yang  rutin menyadap karet tiap permulaan waktu Duha, atau gulai tempoyak yang lebih jamak disebut gulai jeghuk, dan lain sebagainya, adalah lokalitas yang masih ada di Muratara. Lokalitas itu bisa saja bertambah daftarnya ketika ada yang mencari tahu atau bahkan meneliti dan menemukan bahwa perempuan lintas-usia di desa-desa gemar berbaris di tangga rumahpanggung tiap petang karena saling mencari kutu adalah pengisi waktu luang favorit menunggu Magrib tiba, kaum laki-laki biasa ngopi di kedai-kedai menjelang zuhur karena di atas pukul 1 siang adalah waktu yang mustajab untuk tidur siang dan melewatkannya adalah sebuah kerugian, atau ditemukan banyaknya perkumpulan anak muda yang suka sekali menulis dan menyenandungkan syair dala, bahasa setempat dengan iringan gitar tunggal berirama batanghari sembilan di bantaran Sungai Rawas, dan seterusnya dan seterusnya.

Lalu apakah hal-hal di atas, hal-hal yang hidup dan lestari di tengah masyarakat Muratara itu, mengandung faedah yang bisa membuat masyarakatnya hidup sejahtera dan bahagia? Tentu saja jawabannya tidak serta-merta tersedia. Ini bukan tentang urusan perspektif, tapi lebih pada seperti apa kita memberdayakannya untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh dan berkembangnya proses kreatif sesuai dengan kepentingan—pun misalkan kepentingan itu bernama Kesejahteraan dan Kebahagiaan.

Yang pertama-tama harus dipetakan adalah bahwa semua yang ada di muka bumi ini pada mulanya adalah ladang terbuka bebas nilai. Di masa prasejarah, manusia bisa hidup hanya dengan makan dan minum apa pun yang ditemui di perjalanan seraya terus mengasah sensitivitas tentang baik-buruknya rasa dan manfaat hewan buruan dan tumbuhan yang dimakan dengan mengenali ciri fisik melalui indra-indra biologis. Di masa ini, budaya hidup nomaden pun lahir dan berkembang. Maka, kehidupan nomaden dengan segala hal yang melekat padanya—telanjang seharian, menggunakan teriakan dengan volume dan langgam tertentu untuk berkomunikasi, saban hari membawa tombak dan batu, makan rusa atau babi yang dibakar dalam api unggun, dll. pun menjadi lokalitas yang melekat padanya. Namun, ketika manusia mulai begitu sangat menyukai sesuatu (baca: hewan dan tumbuhan tertentu) dan merasa sangat rugi apabila berpisah dengannya, lahirlah Revolusi Pertanian yang membuat gandum, padi, ubi jalar, kentang, anggur, pisang, ayam, babi, bebek, sapi, anjing, dan kucing, terdomestikasi alias mendapat perhatian dan perlakuan khusus untuk dipelihara sedemikian rupa, baik atas tujuan dikonsumsi, jadi pengusir hama, atau sekadar untuk disayang-sayangi. Keadaan ini membuat “ladang terbuka” itu tak lagi bebas nilai. Hidup nomaden pun mulai ditinggalkan. Manusia mulai mengenal rumah, kebun, ladang, hewan ternak, tanaman hias, dan sejenisnya dan sejenisnya. Kehidupan tanpa sekat itu pun menghasilkan terminologi baru: kehidupan berkelompok, bukan bersama. Maka, banyaknya pohon pinang yang menjulang di petak lahan tertentu, populasi sapi dan ayam yang lebih banyak daripada hewan yang tak terdomestikasi, kebiasaan penduduk membangun rumah yang beratapkan rumbia, atau kebiasaan makan nasi dengan gulai umbut kelapa (karena kelapa banyak ditanam), atau masyarakat yang gemar berladang dan pulang ketika matahari tak memberi manusia bayangan di tengah hari, pun menjadi lokalitas kala itu.

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Lokalitas, kerap kali dipandang sesuatu yang khas atau genuine atau yang hanya dimiliki oleh suatu daerah, padahal lokalitas adalah hal-hal yang membumi di suatu daerah, lintasbidang, lintasurusan. Artinya, lokalitas tak berkait-singgung dengan apa pun yang hanya terdapat di daerah tersebut. Ia memang bisa saja sesuatu yang hanya terdapat di daerah itu, misalnya budaya tabot di Bengkulu atau seruit di Lampung atau Silampari di Limatara atau perkebunan khusus belimbing di daerah Merasi atau peternakan domba di Matamata, tapi ia juga bisa sesuatu yang menjadi ciri khas di beberapa daerah, misal kuliner tempoyak yang terdapat di Sumsel dan Jambi atau rumahtinggi yang terdapat di beberapa daerah di sebagian besar daerah Melayu, atau kebiasaan membaca buku yang kental di Finlandia dan Islandia, atau menjamurnya kedai kopi di Paris dan Belitung, atau kegemaran bermain catur bakda isya di Moskow dan New Delhi.

Kita kerap lupa, lokalitas adalah kata benda abstrak dari lema “lokal” yang berarti daerah atau bersifat kedaerahan. Jadi ia tidak merujuk pada genuinitas alias kekhasan yang hanya dimiliki suatu daerah. Ketika, misalnya di Muratara penduduknya gemar mengonsumsi sandwich di berbagai kesempatan, hal itu tak serta-merta membuatnya batal sebagai lokalitas hanya karena penduduk Auckland dan Amsterdam juga melakukan hal serupa.

Kearifan Lokal?

Selain tidak atau belum duduknya definisi lokalitas, kita pula kadang kala serta-merta melompat ke kebiasaan berbahasa yang xenoglosofik, yaitu mencampuradukkan kata atau bahasa yang kita belum pahami benar maknanya ke dalam percakapan dan teks sehari-hari. Salah satu yang acap terjadi adalah menyamakan pengertian lokalitas (locality), kearifan lokal (local wisdoms), dan  ciri khas lokal (local genuines). Artinya, setelah uraian tentang lokalitas di atas, seyogyanya kita bisa melihat bahwa Lokalitas adalah himpunan besar yang mengandung dua himpunan kecil yang mungkin saja beririsan, yaitu Lokalitas yang Mengandung Kearifan dan Lokalitas yang Mengandung Kekhasan. Lokalitas yang arif bisa saja merupakan lokalitas yang khas, atau sebaliknya, sebagaimana lokalitas yang tidak arif bisa saja merupakan lokalitas yang khas atau sebaliknya.

Perkebunan kelapa sawit yang mendiami sebagian wilayah suatu daerah, diakui atau tidak, akhirnya menjadi lokalitas yang tidak khas (sebab di daerah lain pun perkebunan semacam itu banyak ditemukan). Apakah ia bernilai kearifan? Tergantung kepentingan. Ya, tergantung kepentingan, bukan tergantung semacam cara pandang. Perusahaan sawit akan memandangnya sebagai kearifan sebab menurut klaimnya, keberadaan perkebunan itu menyerap tenaga kerja setempat, membuat suatu daerah berkontribusi dalam industri minyak kelapa sawit nasional, sekaligus memanfaatkan lahan-lahan yang kurang/tidak produktif menjadi lebih bernilai ekonomi. Sebagian penduduk melihatnya sebagai lokalitas yang tidak arid, sebab perkebunan itu menggusur lahan dan ladang pertanian yang produktif, mengambil paksa pekarangan mereka, atau menyilakan perusahaan menjadi benalu di lahan mereka yang subur sebab sebagian besar tenaga kerjanya ternyata masih “diimpor” dari luar daerah. Pegiat lingkungan juga melihatnya nyaris setali tiga uang dengan apa yang dilihat penduduk, misal; sawit adalah salah satu jenis tanaman yang rakus unsur hara sehingga membunuh tanaman lain yang mungkin saja diperlukan penduduk untuk hidup atau limbah nonbuah tanaman sawit relatif lebih sulit terurai sehingga akan mengonggok menjadi sampah organik yang tidak produktif.

Keberadaan Gua Napalicin di Muaratara adalah lokalitas khas karena hanya terdapat di daerah tersebut. Penduduk sekitar yang mendapatkan berkah karena dagangan mereka laris dibeli wisatawan akan melihatnya sebagai kearifan lokal. Budayawan yang kecewa melihat pemerintah yang mengelolanya sebagai tujuan wisata semata, bukan kawasan budaya yang memiliki pakem-pakem pemeliharaannya, akhirnya akan melihat keberadaan gua itu sebagai lokalitas yang tidak arif.

Dan seterusnya dan seterusnya.

Jika sudah begitu, begitu banyak hal yang bisa ditulis, sebab lokalitas itu sejatinya berada dekat sekali denganmu, sehari-hari “mengaliri” darahmu. Arif atau tidaknya lokalitas, itu perkara yang lain.